01 Oktober 2015

Permasalahan Utama dalam Wacana Pendidikan Kita (Sebuah Pengantar)

Irfan Abu Naveed
(Mhs Pascasarjana Pendidikan & Pemikiran Islam UIKA Bogor)

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia dimana al-Qur’an dan al-Sunnah memberikan perhatian kepadanya, hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan al-Sunnah yang mengandung ajaran-ajaran luhur pendidikan, termasuk filosofi metode dan pendekatan pendidikan Islam, dan juga metode dan pendekatan pendidikan Islam itu sendiri yang bisa dikembangkan dan diterapkan shâlih li kulli makân[in] wa zamân[in].

Apa Kata Pakar Mengenai Krisis Pendidikan?
            Di sisi lain, kita tak bisa memungkiri bahwa negeri ini sedang dilanda krisis kehidupan, termasuk krisis di bidang pendidikan, sebagaimana diungkapkan para pakar dan praktisi pendidikan dalam penelitian mereka. Dr. Ulil Amri Syafri dalam pendahuluan bukunya[1] menuturkan bahwa dunia Islam pada umumnya, termasuk negeri mayoritas kaum muslimin ini tengah dilanda krisis pendidikan yang menyebabkan kemunduran, namun yang disoroti bukan kemunduran materil melainkan kemunduran dan krisis akhlak, yang ditandai dengan raport merah peserta didik yang terlibat; tawuran, pergaulan bebas hingga free sex, dan lain sebagainya. Hal yang sama diungkapkan oleh Dr. Taufik Abdillah dalam buku Pendidikan Karakter Berbasis Hadits.[2]
Namun dari berbagai pernyataan para ahli yang dinukil oleh Dr. Ulil Amri mengenai akar permasalahan, ada poin penting yang perlu digarisbawahi bahwa krisis pendidikan akhlak ini ditinjau dari aspek eksternal yakni akibat dari massif-nya invasi pemikiran dan tsaqafah Barat ke dunia Islam yang ditandai dengan dominasi worldview Barat dalam konsep pendidikan nasional di Indonesia, dari mulai kurikulum hingga masalah mendasar seperti ketimpangan pendidikan yang berat pada aspek kognitif semata, dikotomi pendidikan (secularistic) dan ukuran kelulusan yang materialistic oriented, hingga sampai kepada permasalahan cabang seperti metode dan pendekatan pendidikan. Sebagian pemikir dan cendekiawan muslim negeri ini menyebut ancaman ini dengan bahasa lugas “liberalisasi pendidikan[3], yakni mewabahnya paham liberalisme dalam sistem pendidikan di negeri ini.
Padahal UU Sisdiknas tahun 1989 dan revisinya tahun 2003 sudah menekankan pentingnya pembangunan karakter anak didik termasuk munculnya kata “iman dan takwa” dalam pasal-pasalnya, namun yang menjadi permasalahan adalah apa yang disebutkan Dr. Ulil Amri yang mengatakan:
“...hampir sebagian besar para konseptor pendidikan Islam masih terjebak dalam epistemologi pendidikan Barat sehingga konsep dan metode yang dihasilkan tetap tidak dapat dilepaskan dalam paradigma keilmuan Barat yang mengambil logika sebagai sumber ilmu.”[4]
Diperkuat pernyataan Prof. Dr. Ahmad Tafsir bahwa kesalahan terbesar dalam dunia pendidikan di Indonesia selama ini adalah para konseptor pendidikan melupakan keimanan sebagai inti kurikulum nasional.[5] Dan lebih jauh lagi masih menurut Ahmad Tafsir, bahwa para pemerhati pendidikan Islam di Indonesia kurang tepat menerjemahkan iman dan takwa” yang dimaksud.[6] Mereka mencoba mengimplikasikan dua kata tersebut dengan kacamata Barat dan melupakan konsep-konsep Islam.[7]
Ironisnya, Barat sebenarnya sudah gagal dari awal ketika ia salah memahami eksistensi manusia[8], atau jati diri manusia itu sendiri sebagai akibat dari pincangnya struktur keilmuan mereka, dimana epistemologi Barat menolak khabar shâdiq (al-wahyu), atau hal-hal metafisik sebagai sumber ilmu, dimana hal ini menjadi perbedaan paling prinsipil antara epistemologi Barat dan Islam. Dan hal itu pula yang menyebabkan Epistemologi Barat mengalami krisis, kebingungan, hingga terpecah-pecah dalam beberapa aliran. Jika pijakan ini saja sudah keliru, maka tidak mengherankan jika mereka gagal pula merumuskan sistem pendidikan yang bisa memanusiakan manusia berada di atas rel fitrahnya; dari mulai asas hingga metode dan pendekatan pendidikan yang diterapkan.
Jika kita flash back, sejarah serangan massif invasi pemikiran Barat di Indonesia memang nyata terbukti adanya dan benar-benar kita rasakan pengaruh buruknya, dibuktikan dalam catatan-catatan cendekiawan muslim di negeri ini yang mengulas secara khusus liberalisasi di Indonesia khususnya di dunia keilmuan, sebut saja buku karya Dr. H. Daud Rasyid, MA yang membantah pemahaman Prof Harun Nasution tentang al-Sunnah berjudul “Sunnah di Bawah Ancaman: Dari Snouck Hurgronje Hingga Harun Nasution”. Dalam bukunya ini dan bukunya yang sejenis berbahasa arab, Dr. Daud Rasyid menjelaskan peranan Harun Nasution dalam liberalisasi IAIN (UIN ketika itu) sekitar tahun 1970-an.
Hal yang sama dicatat oleh Adian Husaini, Ph.D dalam bukunya, Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, beliau memaparkan bahwa sekularisasi pendidikan di negeri ini, khususnya untuk anak SMP sudah terjadi semenjak tahun 1970-an. Hal itu dibuktikan dari tersebarnya ‘khurafat’ dalam buku pelajaran SMP bahwa Mushtafa Kemal adalah pahlawan Turki, begitu pula dengan Teori Darwin dalam pelajaran Biologi. Dan sejak sekitar 20 tahun yang lalu, pemikiran Barat mulai membanjiri studi keislaman (islamic studies) di Indonesia, tepatnya menjangkiti perguruan tinggi Islam, dimana Islam diajarkan dengan persepektif Barat, orientalisme. Dan sekitar dua dekade lalu, banyak sarjana muslim yang mendapat beasiswa untuk belajar Islam di Barat lalu kembali ke negerinya mengemban gagasan dan metodologi Barat dalam studi Islam, isu-isu yang menggugat keotentikan al-Sunnah dan metode hermeneutika untuk menafsirkan al-Qur’an al-Karim, gagasan pluralisme adalah diantara buktinya. Lebih jauh lagi, dunia Islam secara umum pun menghadapi gempuran materialisme, hal itu setidaknya tersirat dari pernyataan al-’Allamah Muhammad al-Khudhar Husain (w. 1377 H/ 1958 M) salah seorang ulama besar, syaikh al-Azhar di masanya[9]:
“Adapun orang-orang yang berpegangteguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai ajaran atheisme (dan yang semisalnya-pen.) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[10]

Catatan Penting!
Semua itu bagian dari perwujudan visi permusuhan abadi Iblis dan para pengikutnya dari golongan jin dan manusia (syaithan):
{قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ}
“Iblis berkata: “Ya Rabb-ku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Al-Hijr [15]: 39)[11]
Poin-poin di atas penting untuk dipahami, maka tidak mengherankan pula jika Dr. Ulil Amri dalam simpulannya menuliskan sebab kegagalan pembentukan karakter peserta didik adalah karena tidak berhasilnya para konseptor pendidikan menekankan pentingnya pendidikan karakter akhlak di lembaga-lembaga pendidikan. Kenyataan ini pun terjadi di lembaga-lembaga yang berlabel Islam. Sebaliknya bahwa jika pendidikan akhlak dibangun berdasarkan worldview yang benar, metode yang tepat, dan praktik integral pada setiap proses pendidikannya, maka bangunan karakter anak didik akan mudah terbentuk, khususnya di lingkungan sekolah.
Di sisi lain, kita pun memahami bahwa berbicara mengenai proses pendidikan, jelas mesti melibatkan peranan pemegang kebijakan (penguasa), kontrol sosial masyarakat (dakwah, lingkungan positif), keluarga (pendidikan sejak dini dan sehari-hari) serta sekolah atau lembaga pendidikan (institusi pendidikan) yang harus bahu membahu menciptakan input dan proses pendidikan yang benar sesuai petunjuk Islam. Dalam lingkungan yang kondusif yakni dalam sistem Islam, al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah yang wajib kita tegakkan.
Di sisi lain, al-Qur’an dan al-Sunnah jauh-jauh hari sudah berbicara mengenai konsep pendidikan mencakup metode dan pendekatan pendidikan, ia bagian dari bangunan Sistem Pendidikan Islam yang sudah semestinya diperhatikan, bagian dari sistem kehidupan Islam yang komperhensif. Dan metode atau pendekatan pendidikan itu sendiri sangat penting untuk dipahami karena bagian dari proses pendidikan yang merupakan komponen utama penentu output pendidikan dan output ini merupakan salah satu tolak ukur mengukur keberhasilan pencapaian tujuan akhir pendidikan. Dalam struktur keilmuan, memahami metode dan pendekatan pendidikan Islam ini bisa diasumsikan sebagai bagian dari apa yang disebutkan al-’Allamah al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i sebagai harfa ’ilm[in] dalam sya’irnya:
تَعَلَّمْ كلَّ يومٍ حَرْفَ عِلْم # تَرَ الجُهَّالَ كُلُّهُم حَمِيرا
 Belajarlah kalian setiap hari huruf demi huruf ilmu # engkau akan melihat orang-orang bodoh mereka semua adalah orang pandir.”[12]
Tanpa proses pendidikan, manusia akan hidup seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat daripada binatang ternak:
{وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ}
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’râf [7]: 179)
            Menafsirkan ayat ini, al-Hafizh Abu Ja’far al-Thabari (w. 310 H) menuturkan:
(Mereka seperti binatang) mereka yang masuk jahannam, seperti binatang ternak, yakni binatang yang tidak bisa memahami perkataan yang disampaikan padanya, tidak memahami apa yang diperlihatkan kepadanya berupa hal-hal yang berguna atau tidak berguna baginya, dan tidak bisa berpikir dengan qalbunya berupa kebaikan bedanya dengan keburukan sehingga bisa memisahkan keduanya, maka Allah menyerupakan mereka dengan binatang-binatang tersebut, ketika mereka tidak memikirkan apa-apa yang mereka lihat dengan pandangan mata mereka berupa hujjah-hujjah atas kebenaran-Nya, dan tidak berpikir atas apa yang mereka dengar dari ayat-ayat Kitab Suci-Nya. Kemudian Allah berfirman: (Bahkan mereka lebih sesat), mereka adalah orang-orang kafir yang masuk jahannam, paling kuat berpalingnya dari kebenaran, dan paling kokoh di jalan kebatilan daripada binatang-binatang itu, karena binatang-binatang tersebut tidak ada pilihan baginya dan tidak bisa membedakan (baik dan buruk-pen) yang dengannya sehingga ia bisa memilih dan membedakan, sesungguhnya binatang-binatang tersebut hanyalah objek sasaran, di sisi lain mereka mau melarikan diri dari hal-hal yang membahayakan, dan mencari makanan yang sesuai bagi diri mereka. Dan mereka yang Allah sifati dengan sifat dalam ayat ini, dengan potensi dari kemampuan memahami, akal yang mampu membedakan antara yang bermanfaat dan berbahaya, namun mereka meninggalkan apa-apa yang mengandung kebaikan bagi dunia dan akhiratnya, bahkan malah mencari apa-apa yang mengandung bahaya bagi mereka, maka binatang-binatang ternak tersebut lebih terjaga dari mereka, maka mereka lebih sesat daripada binatang-binatang ternak, sebagaimana Rabb kita Yang Maha Terpuji menyifati mereka dengannya.”[13]
            Dari penjelasan panjang lebar berharga dari al-Hafizh al-Thabari di atas, kita menemukan bahwa melupakan potensi akal untuk berpikir, dan pancaindera untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya dimana berpikir lahir dari adanya proses pendidikan, merupakan hal yang berbahaya dan bisa dikatakan tercela.
Maka diperlukan sistem pendidikan Islam dalam sistem kehidupan Islam (al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah) yang menyelenggarakan pendidikan Islam bagi peserta didik, membina mereka dengan kurikulum berbasis akidah Islam dalam lingkungan kehidupan yang kondusif di bawah naungan Islam.





[1] Dr. Ulil Amri Syafri, MA, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, Jakarta: Rajawali Press, Cet. I, 2012, hlm. 1-12.
[2] Dr. Taufik Abdillah, MA, Pendidikan Karakter Berbasis Hadits, Jakarta: Rajawali Press, Cet. I, 2014, hlm. 1-13.
[3] Saya ketahui istilah ini dari berbagai literatur, seminar, hingga halqah-halqah ‘ilmiyyah para pakar.
[4] Dr. Ulil Amri Syafri, MA, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, hlm. 5.
[5] Ibid, hlm. 4.
[6] Ibid, hlm. 6.
[7] Ibid, hlm. 6.
[8] Dr. Ulil Amri Syafri, membahas tentang masalah ini dalam bukunya pada halaman 13-16.
[9] Muhammad al-Khudhar Husain, Rasaa’il al-Ishlaah: al-’Ilmaaniyyah wa Dhalaalatu Fashl al-Diin ’an al-Siyaasah, Kairo: Dar al-Istiqamah, cet. I, 1432 H, hlm. 10.
[10] Muhammad al-Khudhar Husain, Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd: Asbâbuhu wa Thabâ’iuhu wa Mafâsiduhu wa Asbâb Zhuhûrihi wa ‘Ilâjuhu, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, Cet. I, 1406 H, hlm. 3-4.
[11] Allah menginformasikan dalam ayat ini bahwa Iblis mengungkapkan berbagai pernyataan visi misi kejinya dengan kata-kata yang diperkuat, yakni menggunakan لام الابتداء ونون التوكيد yaitu penegasan-penegasan yang memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan. Al-Hafizh Ibn al-Jawzi –rahimahullâh- menegaskan: “Maka wajib bagi orang yang berakal untuk mawas diri terhadap musuh yang satu ini (Iblis, syaithan-pen.) yang telah menyatakan permusuhannya semenjak masa Adam a.s. dan ia bersungguh-sungguh mengerahkan segenap waktunya, jiwanya untuk merusak Bani Adam dan Allah telah memperingatkan kita darinya.” (Al-Hafizh Ibn Al-Jawzi, Talbîs Iblîs, Dâr al-Wathan, jilid I, hlm. 203-204)
[12] ’Abd al-Rahman al-Mushthawi, Diiwaan al-Imaam asy-Syaafi’i, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Cet. III, 1426 H, Qafiyyatur-Raa’, hlm. 55.
[13] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz XIII, hlm. 280-281.