01 Oktober 2015

Pemikiran Pendidikan Al-Qadhi Ibnu Jama’ah (W. 733 H) (Sebuah Pengantar)

Oleh: Irfan Abu Naveed
(Mhs Pascasarjana Pendidikan & Pemikiran Islam UIKA Bogor)

Sejarah kehidupan umat manusia dan kebangkitannya tak terlepas dari ilmu dan sejarah tokoh-tokohnya, dan di antara tokoh-tokoh yang berperan penting dalam proses kebangkitan umat ini adalah tokoh-tokoh yang memberikan sumbangsih besar di bidang pendidikan. Bahkan nama mereka pun harum hingga hari ini seharum karya besar yang mereka persembahkan kepada umat yang agung ini, banyak sekali nama yang menorehkan tinta emas sejarah peradaban Islam dengan ilmunya mengenai pendidikan, namun sedikit di antaranya –sebagaimana disebutkan Dr. ’Abdullah ’Abd al-Da’im-: Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H), Ibn Khaldun (w. 808 H), Muhammad bin Sahnun (w. 256 H), Al-Tsa’alabi (w. 427 H), Ibn Miskawaih (w. 412 H), al-Hafizh Ibn ’Abd al-Barr (w. 463 H), Al-Zarnuji (w. 571 H),  Al-’Almawi, Al-Thusi (w. 673 H), al-Subki (w. 771 H), Zaynuddin bin Ahmad al-Syami (w. 966 H)[1], Ibn Abi Zayd (w. 386 H), Al-Qabisi (w. 403 H), Ibn al-Hajj (w. 737 H) -rahimahumuLlâh-.
Dari sekian banyak deretan nama harum nan agung tersebut, ada ulama yang juga terkenal besar sumbangsih pemikirannya di bidang pendidikan, beliau adalah Badruddin Ibn Jama’ah (w. 733 H) dengan karya masterpiece-nya, Tadzkirat al-Sâmi’ wa al-Mutakallim fî Adab al-’Âlim wa al-Muta’allim. Ibnu Jama’ah, menurut Dr. ’Abd al-Amir Syamsuddin, merupakan ”akbar al-asmâ’” penyandang nama besar dalam deretan ulama tarbiyyah yang juga ahli fikih setelah masa Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H). Beliau salah seorang ahli fikih, murabbi yang paling terkenal meletakkan risalah-risalah khusus mengenai pendidikan setelah Imam Abu Hamid al-Ghazali, khususnya pada rentang kurun waktu abad ke-7 H.[2]
Maka mengkaji sejarah pemikirannya merupakan bagian dari menapaki jejak khazanah pemikiran di bidang pendidikan yang amat berharga. Sesungguhnya mereka adalah pewaris para nabi, yang tidak mewariskan harta benda namun sesuatu yang jauh lebih berharga, sesuatu yang tidak akan lapuk di makan zaman, yang manfaatnya bisa menembus dari Barat hingga ke Timur dari Utara ke Selatan, dan ketika ia dimanfaatkan oleh orang banyak maka pahalanya mengalir sebagai pembendaharaan yang takkan pernah kering meski pewaris nabi ini sudah tiada tinggal nama, itulah ilmu yang bermanfaat. Cukuplah al-Qur’an dan al-Sunnah menjadi saksi atas keutamaan mereka, di antaranya:
{فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}
Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 7)
            Ayat yang agung ini memerintahkan mereka yang tidak tahu untuk bertanya kepada para ahli ilmu (ulama).
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ} 
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fâthir [35]: 28)
Ayat ini mengandung pujian khusus bagi para ulama sebenar-benarnya ulama, dengan ungkapan qashr, dengan ciri menggunakan perangkat pengecualian yang mengandung faidah pengkhususan yakni kata (إنما), karena jika dihilangkan kata tersebut maka hilanglah pengkhususan tersebut.[3] Al-Hafizh Abu Ja’far al-Thabari (w. 310 H) dalam tafsirnya pun menjelaskan:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah sehingga menghindari siksa-Nya dengan keta’atannya kepada Allah hanyalah ulama (orang-orang berilmu), dengan kemampuannya mengetahui apa yang dikehendaki-Nya dari sesuatu apapun, dan bahwa ia pun melakukan apa yang dikehendaki-Nya, karena dengan ilmu atasnya ia yakin terhadap siksa-Nya atas kemaksiatan kepada-Nya; sehingga ia merasa takut terhadap siksa-Nya. [4]
Imam Abu Bakar al-Jashshash (w. 370 H) pun menegaskan bahwa di dalam ayat tersebut terdapat penjelasan pujian terhadap keutamaan ilmu dan bahwa ilmu menyampaikan kepada rasa takut kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya, karena barangsiapa mengetahui Kemahatunggalan Allah dan Keadilan-Nya berdasarkan petunjuk-petunjuk dari-Nya menyampaikannya kepada rasa takut kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya.[5]
Allah ’Azza wa Jalla berfirman mengenai orang-orang beriman dan beramal shalih:
{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ}
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)
            Menggabungkan kedua ayat di atas, Abu Bakar al-Jashshash lalu menuturkan:
“Informasi bahwa sebaik-baiknya makhluk adalah ia yang takut terhadap Rabb-nya, dan Allah menginformasikan dalam ayat-Nya bahwa orang-orang yang berilmu di sisi Allah mereka lah yang takut terhadap-Nya, maka hasil dari dikumpulkannya dua ayat ini bahwa orang berilmu mereka adalah sebaik-baiknya makhluk Allah.”[6]
Dan menilik sejarah kehidupan dan pemikiran para ulama merupakan bagian dari upaya meniti jalan mereka, menjadi seseorang yang disebutkan al-’Allamah al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w. 204 H) sebagai harfa ’ilm[in] dalam sya’irnya:
تَعَلَّمْ ما استطعتَ تكُنْ أَمِيرا * ولا تَكُن جاهلاً تبقى أَسِيرا
تَعَلَّمْ كلَّ يومٍ حَرْفَ عِلْم * تَرَ الجُهَّالَ كُلُّهُم حَمِيرا
Belajarlah dengan segenap kemampuanmu maka engkau akan menjadi pemimpin (yang terdepan-pen.) # Dan janganlah engkau menjadi orang yang bodoh tetap menjadi orang yang tertawan (tidak berkembang-pen.).”
Belajarlah kalian setiap hari huruf demi huruf ilmu # engkau akan melihat orang-orang bodoh mereka semua adalah orang pandir.”[7]
            Relevansinya, para ulama yang menulis mengenai konsep ilmu, pendidikan ini ibarat menuliskan apa yang memang melekat pada kehidupan mereka, menjadi pengalaman yang mereka lalui dari sejak menuntut ilmu hingga menjadi seorang ahlinya. Maka mengkaji pemikiran pendidikan yang dituangkan para ulama ini merupakan hal yang sangat relevan dan dibutuhkan oleh mereka yang hendak meniti jalan ilmu seperti mereka. Sesuatu yang berbeda tentunya, jika pemikiran pendidikan ini dikaji dari seseorang yang sama sekali bukan ahlinya dan tidak berkecimpung di dalamnya, atau dari mereka yang tidak beriman kepada Allah Al-’Alîm, maka profesionalisme dalam pemikiran pendidikan ini bisa dikatakan wilayah yang dikuasai oleh para ulama, dan dalam kesempatan ini, pemikiran pendidikan al-Qadhi al-’Allamah Badruddin Ibnu Jama’ah (w. 733 H) yang akan disajikan.
            Al-Qadhi Badruddin Ibnu Jama’ah pun menjelaskan bahwa apa yang dituliskan dalam kitabnya ini merupakan hasil dari kajian mendalam bi fadhliLlâhi Ta’âlâ:
وجمعت ذلك مما اتفق في المسموعات، أو سمعته من المشايخ السادات، أو مررت به في المطالعات، أو استفدته في المذاكرات، وذكرته محذوف الأسانيد والأدلة؛ كيلا يطول على مطالعه أو يمله
Dan aku telah mengumpulkan ini semua dari apa yang sejalan dengan hal-hal yang telah aku simak, atau aku dengar dari para syaikh yang mulia, atau dari apa yang telah aku dapati dari penela’ahan-penela’ahan, atau dari apa yang aku ambil manfaat dalam nasihat-nasihat pengingat, lalu aku menyebutkannya dengan dihilangkan sanad hadits dan dalil-dalil rincinya; agar tidak memperpanjang waktu dalam menela’ahnya atau agar tidak menjenuhkan.”[8]
            Di sisi lain, kitab monumental karya al-Qadhi Badruddin Ibnu Jama’ah ini merupakan karya yang memadukan antara kepakaran beliau terhadap syari’at (fikih), tarbiyyah dan adab, sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbit kitab ini:
Pertama, Dari sisi kandungan ilmu syari’at (fikih): di dalam kitab ini terdapat penjelasan sebagian hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan peserta didik dan pendidik, di antaranya dengan menyebutkan sebagian kaidah-kaidah syar’iyyah, tafsir, penjelasan-penjelasan ilmiah, hadits dan atsar.
Kedua, Dari sisi kandungan tarbiyyah dan adab: di dalam kitab ini terkandung ajaran mengenai adab, metode pengajaran tidak khusus bagi peserta didik dan pendidik saja, tapi juga dikaitkan dengan pembahasan asas-asas syar’iyyah yang menunjukkan bahwa syari’at Din kita ini dengan kesesuaiannya pada setiap masa dan di tempat manapun.
Ketiga, Dari sisi sejarah dan sosial kemasyarakatan: jika kita meninjau kitab ini atas kondisi kehidupan dan pendidikan di masa Ibnu Jama’ah hidup, khususnya kondisi madrasah-madrasah, tata cara pengaturan waktu, tata cara penulisan buku-buku dan pengeditannya, termasuk konsepsi perhatian terhadap pemikiran kemasyarakatan ketika itu sebagaimana yang diungkapkan dalam kitab ini dalam bentuk besarnya perhatian penulisnya terhadap kondisi kejiwaan setiap individu pada level keilmuan dan status sosialnya.
Maka mengkaji pemikiran pendidikan al-Qadhi Badruddin Ibnu Jama’ah merupakan hal yang urgen, terlebih di tengah-tengah kondisi saat ini yang dilanda krisi kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Ilmu itu sendiri merupakan perantara yang memperkenalkan seorang hamba terhadap jalan menuju Rabb-nya, dan banyak dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah yang menyebutkan keutamaannya dan mengangkat derajat ahlinya. Dan ilmu ini seperti lainnya yang merupakan syi’ar Islam yang memiliki pilar-pilar, dan itu adalah adab-adabnya. Para sahabat, tabi’in dan para ulama pun bersaksi atas keutamaan adab. Ibnu ’Abbas r.a., sebagaimana diriwayatkan al-Ashbahani dalam al-Muntakhab-nya, mengatakan:
اُطْلُبْ الْأَدَبَ فَإِنَّهُ زِيَادَةٌ فِي الْعَقْلِ، وَدَلِيلٌ عَلَى الْمُرُوءَةِ
“Pelajarilah adab karena sesungguhnya adab menguatkan akal, dan petunjuk atas kehormatan.[9]
Abu Abdullah al-Balkhi mengatakan:
أَدَبُ الْعِلْمِ أَكْثَرُ مِنْ الْعِلْمِ  
“Adab ilmu lebih banyak daripada ilmu itu sendiri.”[10]
            Imam Abdullah Ibnul Mubarak mengungkapkan bahwa seseorang tidak menjadi mulia dengan suatu jenis ilmu selama tidak menghiasi ilmunya dengan adab.[11] Ibnul Mubarak pun mengungkapkan bahwa keimanan itu memiliki 5 pilar benteng: Pertama, Keyakinan. Kedua, Keikhlasan. Ketiga, Pengamalan kewajiban-kewajiban. Keempat, Pengamalan berbagai hal yang disunnahkan. Kelima, Memelihara adab. Selama seorang hamba memelihara adab-adab dan berpegang teguh padanya maka syaithan tidak akan memiliki harapan di dalamnya. Dan jika ia meninggalkan adab-adab, maka syaithan akan merusak dalam hal pengamalan berbagai kesunnahan, lalu dalam hal kewajiban-kewajiban, kemudian dalam hal keikhlasan, hingga sampai pada masalah keyakinan, waLlâhu a’lam.[12] Ahnaf bin Qays berkata bahwa adab adalah cahaya akal, sebagaimana api dalam kegelapan adalah cahaya bagi penglihatan.[13] Sebagian orang bijak pun menegaskan bahwa tidak ada adab kecuali dengan akal dan tidak ada akal kecuali dengan adab.[14] Dan tentang adab dan ruang lingkupnya, banyak disajikan oleh Badruddin Ibnu Jama’ah dalam kitabnya tersebut.





[1] Dr. ‘Abdullah ‘Abd al-Da’im, Al-Tarbiyyah ‘Abr al-Târîkh Min al-‘Ushûr al-Qadîmah Hattâ Awâ’il al-Qurn al-‘Isyrîn, Beirut: Dâr al-‘Ilm Lil Malâyîn, Cet. V, 1984, hlm. 229-260; Dr. ‘Abd al-Amir Syamsuddin, Al-Fikr al-Tarbawi ‘Inda Ibn Jamâ’ah, Beirut: Al-Syirkah al-‘Âlamiyyah Lil Kitâb, Cet. I, 1990, hlm. 12.
[2] Dr. ‘Abd al-Amir Syamsuddin, Al-Fikr al-Tarbawi ‘Inda Ibn Jamâ’ah, hlm. 12.
[3] Dr. Abdullah al-Hamid dkk, Silsilat Ta’lîm al-Lughah al-‘Arabiyyah: Al-Balâghah wa an-Naqd, KSA: Jâmi’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, hlm. 69.
[4] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz XX, hlm. 462.
[5] Ahmad bin ‘Ali Abu Bakar al-Râzi al-Jashshash al-Hanafi, Ahkâm al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, 1405 H, juz. V, hlm. 246-247.
[6] Ahmad bin ‘Ali Abu Bakar al-Râzi al-Jashshash al-Hanafi, Ahkâm al-Qur’ân, juz. V, hlm. 247.
[7] ’Abdurrahman al-Mushthawi, Dîwân al-Imâm al-Syâfi’i, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, Cet. III, 1426 H, Qafiyyatur-Râ’, hlm. 55.
[8] Badruddin Ibnu Jama’ah, Tadzkirat al-Sâmi’ wa al-Mutakallim fî Adab al-‘Âlim wa al-Muta’allim, Beirut: Dâr al-Basyâ’ir al-Islâmiyyah, Cet. III, 1433 H, hlm. 33.
[9] Syamsuddin Abu al-‘Awn Muhammad bin Ahmad al-Safarini, Ghidzâ’ al-Albâb fî Syarh Manzhûmat al-Âdâb, Mesir: Mu’assasat Qurthubah, Cet. II, 1414 H/1993, juz I, hlm. 36.
[10] Muhammad bin Muflih al-Maqdisi al-Hanbali, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, ‘Âlam al-Kutub, juz III, hlm. 552; Muhammad bin Ahmad al-Safarini, Ghidzâ’ al-Albâb fî Syarh Manzhûmat al-Âdâb, juz I, hlm. 36.
[11] Al-Hakim menyebutkannya dalam kitab Târîkh-nya; Syamsuddin Abu al-‘Awn Muhammad bin Ahmad al-Safarini, Ghidzâ’ al-Albâb fî Syarh Manzhûmat al-Âdâb, juz I, hlm. 36.
[12] Muhammad bin Muflih al-Hanbali, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, juz III, hlm. 552.
[13] Ibid.
[14] Ibid.