05 Oktober 2015

Balaghah Ayat Perintah Dakwah (QS. Âli Imrân [3]: 104)

-Kajian Kutub & Hasil Diskusi dengan Mishri Doktor Balaghah Al-Azhar Kairo Mesir Mengenai QS. Âli Imrân [3]: 104-


Oleh: Irfan Abu Naveed

الحمدلله القائل: {وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين القائل: خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Al-Qur’an al-Karim merupakan kalam Ilahi yang mengandung samudera ilmu dan petunjuk. Setiap upaya keras untuk memahaminya dengan membacanya, mempelajarinya dan mentadaburinya merupakan bagian dari upaya meniti jalan petunjuk, bagaimana bisa diamalkan jika paham saja tidak? Karena petunjuk tersebut merupakan cahaya dalam kegelapan yang mesti disingkap dari segala tabir, sehingga cahayanya menerangi jalan kita dalam kegelapan, terlebih dalam kehidupan di bawah sistem kehidupan yang rusak saat ini, sistem rusak Demokrasi. Allâh al-Musta’ân.
Sesungguhnya al-Qur’an bagaikan apa yang dituturkan dalam sya’ir:
كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه * يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا
كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها * يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا
“Bagaikan rembulan kemanapun engkau berpaling memerhatikannya * memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”
“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya * yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”[1]

Salah satunya memahami firman Allah dalam QS. Âli Imrân ayat 104. Allah SWT berfirman:
{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}
 “Dan hendaklah ada di antara kamu jama’ah yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)
            Dimana para ulama, termasuk al-‘Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani menjadikan ayat ini sebagai dasar berdirinya gerakan dakwah berideologi Islam, Hizbut Tahrir, bagaimana kita memahami penggalian dalil tersebut? Sebelum mengulas kajian tafsir atas ayat ini, maka penyusun mengawalinya dengan pembahasan ayat dalam tinjauan ilmu balaghah untuk memahami makna-makna dan pesan-pesan mendalam di balik ungkapan-ungkapan ayat yang agung ini, serta keindahannya ungkapannya. 
             Dan ayat ini pun sebenarnya menjadi gambaran dari tupoksi utama jama'ah dakwah dan menjadi salah satu tolak ukur untuk mengukur suatu jama'ah, dan untuk memahami keagungan ayat ini sebagai gambaran dari tupoksi jama'ah dakwah, alangkah baiknya kita memahaminya dari sudut pandang balaghah sebelum tafsirnya:                     

Pasal I
Kandungan Balaghah dalam Ayat Ini
Ada sebuah pernyataan menarik yang hingga saat ini terus memotivasi penyusun untuk mendalami al-Qur’an. Penyusun pernah berdialog dengan salah seorang doktor balaghah dari al-Azhar Kairo (Mesir), Dr. Hesham el-Shanshouri, dosen tafsir dan bahasa arab di tempat kami berkhidmat[2]. Dalam diskusi mengenai tafsir dan balaghah ayat-ayat al-Qur’an, ia mengungkapkan kalimat yang menjadi motivasi bagi penyusun untuk terus mengkaji dan mendalami samudera hikmah dalam ayat-ayat al-Qur’an, ia menuturkan:
لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ
“Setiap huruf dari huruf-huruf al-Qur’an mengandung berbagai rahasia (kandungan makna).”
Dan salah satu upaya memahami keagungan ayat al-Qur’an adalah dengan menyingkap kandungan balaghah dalam ayat-ayat al-Qur’an, salah satunya kandungan balaghah dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, yang kian meyakinkan kita pada keagungan al-Qur’an dan kandungannya, baik dari tinjauan ilmu ma’âni (علم المعاني), ilmu bayân (علم البيان) maupun ilmu badî’ (علم البديع), dan diantaranya bisa dijabarkan sebagai berikut:

Tinjauan Ilmu Ma’âni:
Pertama, Menggunakan Bentuk Îjâz bi al-Hadzf
·         Pengertian Îjâz
            Bentuk îjâz merupakan pengungkapan makna-makna dengan lafazh yang ringkas dan cukup menyampaikan pada maksud yang dituju[3], baik berupa pengungkapan makna-makna dengan lafazh yang ringkas tanpa ada bagian yang dihilangkan namun cukup menyampaikan pada maksud (îjâz qishar) atau dengan menghilangkan pengungkapan sesuatu baik satu kata, kalimat atau lebih (îjâz hadzf) disertai adanya petunjuk yang memperjelas bentuk ungkapan yang dihilangkan tersebut.[4] Bentuk ini merupakan salah satu pengejewantahan dari ungkapan:
خير الكلام ما قلّ ودلّ
”Sebaik-baiknya perkataan adalah perkataan yang sedikit serta cukup menjadi petunjuk.”[5]
·         Bentuk Îjâz dalam Ayat Ini: Îjâz Hadzf
Dalam ayat ini terdapat dua bentuk îjâz hadzf:
Pertama, Pada kalimat (ولتكن منكم أمة) didalamnya terdapat bentuk îjâz hadzf yang maksud lengkapnya adalah ungkapan (ولتكن منكم أمة داعية)[6], bahwa makna atau maksud dari kata umat dalam ayat tersebut adalah (أمة داعية) yakni ummat yang berdakwah, sebagaimana diistilahkan Imam Abu al-Su’ud (w. 982 H) dalam tafsirnya[7]. Atau dalam istilah Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) yakni ummatun du’âtun (أمة دعاة).[8]
Kedua, Bentuk îjâz hadzf dalam kalimat (يدعون إلى الخير), yang maksudnya adalah (يدعون الناس إلى الخير), karena objek yang didakwahi (diseru) kepada al-khayr dalam ayat tersebut adalah umat manusia (الناس) namun kata (الناس) mahdzûf (dihilangkan) setelah kata yad’ûna dalam ungkapan (يدعون إلى الخير).[9] Imam Abu al-Su’ud (w. 982 H) pun menegaskan dalam tafsirnya bahwa maf’ûl (objek) dalam ayat ini dihilangkan (mahdzûf) yakni lafazh al-nâs (manusia).[10]
            Dan bentuk îjâz hadzf ini dalam pembahasannya berfaidah lebih menguatkan makna yang dikehendaki daripada penyebutannya secara lengkap.[11]

Kedua, Menggunakan Bentuk Al-Ithnâb yang Menunjukkan Keutamaan Dakwah atau Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
·         Pengertian Al-Ithnâb
Namun tak berhenti pada bentuk al-îjâz, dalam ayat ini pun ada bagian yang menjadi kebalikan dari al-îjâz, yakni al-ithnâb[12] yaitu adanya lafazh-lafazh tambahan yang mengandung suatu maksud atau faidah, dimana penambahan tersebut jika tak ada faidahnya maka tidak diperlukan. Al-Ithnâb (الإطناب) sebagaimana disebutkan dalam al-Balâghah al-Wâdhihah yakni:
الإطنابُ زيادَةُ اللفْظِ عَلَى المَعنَى لفائدةٍ
”Al-Ithnâb yaitu penambahan lafazh atas makna untuk faidah tertentu.[13]
            Dan bentuk ithnaab dalam ayat ini berupa penyebutan kata yang khusus setelah kata yang umum (dzikr al-khâsh ba’da al-’âm).
·         Bentuk Penyebutan Kata yang Khusus Setelah Kata yang Umum (Dzikr al-Khâsh Ba’da al-’Âm)
Dan salah satu bentuk Ithnâb dalam ilmu al-ma’âni adalah dzikr al-khâsh ba’da al-‘âm (ذكر الخاص بعد العام) atau dalam istilah lainnya yang semakna yang disebutkan pada ulama yakni ’athf al-khâsh ’alâ al-’âm (عطف الخاص على العام) dan bentuk inilah yang kita temukan dalam ayat yang agung tersebut.
Imam Jalaluddin al-Qazwaini al-Syafi’i (w. 739 H) ketika membahas (ذكر الخاص بعد العام) menyebutkan QS. Âli Imrân [3]: 104 sebagai salah satu contohnya,[14] hal serupa dijelaskan oleh Imam Syihabuddin al-Alusi (w. 1270 H) yang menuturkan:
وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ من باب عطف الخاص على العام إيذانا بمزيد فضلهما على سائر الخيرات
”Kalimat (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ) termasuk pembahasan penautan hal yang khusus setelah hal yang umum yang menunjukkan keutamaan keduanya atas beragam bentuk kebaikan.”[15]
Ditegaskan pula oleh Imam Abu al-Su’ud (w. 982 H) dalam tafsirnya,[16] Syaikh Abdul Muta’al al-Sha’idi[17] (w. 1391 H) dalam Bughyat al-Îdhâh[18], Dr. Ahmad Mathlub al-Rifa’i dalam Asâlîb Balâghah[19] dan Dr. ’Abdul ’Aziz ’Atiq[20] (w. 1396 H) dalam ‘Ilm al-Ma’ânî.[21]
Yakni menyebutkan kalimat ”menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ)” yang merupakan salah satu bagian dari kata al-khayr (kebaikan, al-Islam) yang merupakan bentuk umum yang disebutkan sebelumnya dalam ayat. Imam Ibnu al-Atsir al-Kâtib (w. 637 H) menjelaskan karena menyuruh kepada yang ma’ruf termasuk bagian dari menyeru kepada kebaikan (al-khayr; al-Islam), karena menyuruh kepada yang ma’ruf itu khusus sedangkan kebaikan itu umum, maka setiap perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf merupakan kebaikan, namun tidak setiap kebaikan itu artinya menyuruh kepada yang ma’ruf, karena kebaikan (al-khayr) itu luas cakupannya.[22]
Faidah Dzikr al-Khâsh Ba’da al-’Âm dalam Ayat Ini
Lalu apa faidahnya? Dalam ilmu balaghah bentuk ungkapan penyebutan kata yang khusus setelah yang umum diungkapkan untuk menunjukkan keutamaan yang khusus (لإبراز أهميته)[23], penekanan atas pentingnya kedudukan perkara yang khusus tersebut (للتنبيه على فضل الخاص)[24] atau dengan kata lain ayat ini menunjukkan keutamaan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar atas segala bentuk kebaikan (لإظهار فضلهما على سائر الخيرات)[25]. Yakni seakan-akan ia bukan dari bagian keumumannya (sehingga disebutkan secara khusus, ada spesialisasi).[26]
Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) dalam tafsirnya pun menegaskan bahwa bentuk perincian ini menjadi bentuk penguatan (مبالغة في البيان).[27] Bertolak dari pemahaman tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran termasuk seutama-utamanya kebaikan. ShadaqaLlâhul ’Azhîm.
            Ragam gaya pengungkapan ithnâb ini, dengan penambahan lafazh-lafazh atas makna dalam balaghah menghiasi perkataan kian baik dan indah, dan dalam al-Qur’an yang seperti ini sangat banyak dengan ragam ungkapan.[28] Dan perincian ini jika semakin diperdalam maka semakin mengagumkan dan sudah semestinya kita terdorong untuk terus memperdalam, sehingga kian memahami dan terdorong untuk optimal mengamalkannya, Allah al-Musta’ân.

Ketiga, Menggunakan Gaya Bahasa Qashr
Secara etimologi, al-qashr yakni al-habs (kurungan).[29] Sedangkan secara istilah, qashr yaitu pengkhususan sesuatu dengan perkara lainnya dengan beragam gaya pengungkapan qashr yang telah diketahui[30]
            Dan dalam ayat ini berdasarkan hasil diskusi penulis dengan doktor balaghah dari al-Azhar, bentuk qashr diketahui dari keberadaan kata tunjuk (ism al-isyârah) berupa kata (أُولَٰئِكَ), setelah penyebutan sifat dari ummatun yakni yang menyeru kepada al-khayr, dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, yang dikhususkan dengan sifat al-muflihûn (yang beruntung).
            Imam Abu al-Su’ud dalam tafsirnya menuturkan bahwa lafazh (أُولَٰئِكَ) merupakan kata tunjuk yang kembali kepada kata ummat dalam ayat ini, yang artinya menyifati mereka dengan sifat yang utama dan keistimewaan yang sempurna dengan sifat tersebut.[31] Ia mengatakan:
{وَأُوْلئِكَ} إشارةٌ إلى الأمة المذكورة باعتبار اتصافِهم بما ذُكر من النعوتِ الفاضلةِ وكمالِ تميُّزِهم بذلك
”( وأولئك) merupakan kata tunjuk pada kata ummat yang disebutkan (dalam ayat ini) dengan pesan penyifatan atas mereka dengan apa yang disebutkan berupa sifat yang utama dan sempurnanya keistimewaan mereka dengan hal tersebut.”
Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam ayat ini terkandung qashr, tepatnya yakni jenis qashr al-shifat ‘alâ al-mawshûf (قصر الصفة على الموصوف)[32] dalam kalimat (أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ). Atau dalam penjelasan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili (w. 1436 H) yakni mengkhususkan sifat al-falâh (beruntung) kepada mereka.[33]
Dalam kalimat ini, seakan dihilangkan sifat yang disebutkan sebelumnya setelah kata (أُولَٰئِكَ) yakni diringkas dalam kata (الْمُفْلِحُونَ).[34]
·         Faidah Gaya Bahasa Qashr
Qashr berfaidah sebagai penegasan (tawkîd)[35], meringkas perkataan, dan menguatkan pengaruhnya dalam benak pikiran, sebagaimana diungkapkan Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi dalam al-Balâghah al-Muyassarah.[36] Dr. Abdul Fatah dalam kitab Min Balâghat al-Hadîts al-Syarif pun menegaskan:
والقصر يأتي لتأكيد المعاني ودفع الشك
”Dan al-qashr berfungsi untuk menguatkan makna dan menampik keraguan.”[37]
            Dan dalam ayat ini, qashr tersebut berfaidah menguatkan kedudukan mereka yang menyeru kepada al-Islam, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran dengan predikat beruntung, yakni menjadi golongan yang beruntung. Ini merupakan pujian yang sangat agung dan janji dari Allah ’Azza wa Jalla yang Maha Agung.

Keempat, Menggunakan Bentuk Ungkapan Al-Musnad wa al-Musnad Ilayh
            Setiap kalimat (jumlah mufîdah) dalam bahasa arab tak terlepas dari musnad dan musnad ilayh. Dan yang menjadi poros utamanya adalah al-musnad ilayh (sandaran yang menjadi pokok dan asas kalimat).[38] Misalnya dalam perkataan قام زيدٌ yaitu Zaid berdiri, yang menjadi musnad ilayh (pokok kalimat) adalah Zaid dan musnad-nya adalah kata berdiri (al-qiyâm), maka yang menjadi asas atau poros kalimat adalah Zaid (al-musnad ilayh) karena kita menggantungkan perbuatan berdiri (al-musnad) kepada pelakunya, yakni Zaid.
            Begitu pula dalam ayat di atas, yakni dalam ungkapan (أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ)[39]. Dalam ayat ini terdapat bentuk al-musnad ilayh yang diketahui dari kata tunjuk (ism al-isyârah) kata أُولَٰئِكَ yakni kata tunjuk jauh yang berarti ”mereka”, faidah darinya adalah sebagai bentuk pengagungan (تعظيمه بالبعد)[40] atau menunjukkan kekhususannya, tingginya kedudukannya dan keluhuran posisinya (لتعينه ولبعد منزلته وعلوا مكانته)[41]. Bentuk ini sama seperti ungkapan (ذلك الكتاب) dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2, dimana kata dzâlika merupakan kata tunjuk (ism al-isyârah) yang menunjukkan arti jauh.[42] Imam Abu al-Su’ud pun menegaskan bahwa kata tunjuk yang menunjukkan jauh yakni ’mereka’ (أولئك) dalam ayat ini menunjukkan tingginya tingkatan posisi mereka dan luhurnya kedudukan mereka dalam hal keutamaan.[43]
            Yakni bentuk pengagungan atas mulianya kedudukan mereka yang menyeru kepada al-khayr, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran.

Keempat, Menggunakan Bentuk Al-Fashl
            Di dalam ayat ini pun terdapat penegasan bentuk fashl, berupa kata ganti (dhamiir) kata (هم) dalam ayat setelah kata (أولئك) yang berfaidah menguatkan dan menegaskan kedudukannya dan mengkhususkan al-musnad (المفلحون) untuk al-musnad ilayhi (أولئك). [44] Atau dengan kata lain, semakin menguatkan pengkhususan sifat ”mereka yang beruntung” (المفلحون) kepada mereka yang menyeru kepada al-khayr, dan menyuruh kepada yang ma’ruf serta melarang dari yang mungkar.
            Imam Abu al-Su’ud pun dalam tafsirnya menjelaskan:
{هُمُ المفلحون} أي هم الأخصاء بكمال الفلاحِ وهم ضميرُ فصلٍ يفصِلُ بين الخبر والصفةِ ويؤكد النسبةَ ويفيد اختصاصَ المسندِ بالمسند إليه       
(هم المفلحون) yakni mereka yang dikhususkan dengan sempurnanya keberuntungan, dan kata hum adalah kata ganti fashl yang memisahkan antara khabar dan shifat, dan menegaskan penisbatannya dan berfaidah sebagai pengkhususan al-musnad (المفلحون) kepada al-musnad ilayh (أولئك).”[45]

Tinjauan Ilmu Bayân:
Menggunakan Shighat Hakikat Bukan Majaz
            Menurut Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, ayat ini tersusun dari bentuk shighat hakikat bukan majaz (kiasan). Dimana bentuk ini menurut Imam Ibnu Faris (w. 395 H) yang paling banyak kita temukan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan sya’ir-sya’ir arab,[46] sebagaimana hal itu pun dinukil oleh al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H).[47]
Dr. Muhammad bin Sa’ad mengungkapkan:
انتظم نسق الآية الكريمة من صيغ الحقيقة
”Pola ayat yang mulia ini tersusun dari shighat hakikat.”[48]
            Hakikat, secara terminologi sebagaimana dijelaskan Ibnu Faris al-Qazwaini (w. 395 H):
الكلام الموضوع موضِعَه الذي ليس باستعارة ولا تمثيل، ولا تقديم فيه ولا تأخير
”Perkataan yang kontennya tidak menggunakan bentuk isti’ârah, tidak pula tamtsiil (tasybiih), taqdiim dan tidak pula ta’khiir.[49]
Dan kita temukan bahwa kata ummat, al-khayr, al-ma’ruuf, al-munkar, al-muflihuun dalam ayat ini termasuk shighat hakikat, bukan majâz dan yang semisalnya. Karena majâz merupakan kebalikan dari hakikat.[50] Maka bisa kita simpulkan bahwa shighat dalam ayat ini tidak mengandung al-tasybîh, al-isti’ârah, al-majâz, al-kinâyah, akan tetapi sebagaimana asal-usul katanya yakni hakikat sebagaimana dijelaskan  Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H):
اللفظ المستعمل فيما وضع له أصلا 
”Lafazh yang digunakan sebagaimana asal usul katanya.”[51]
            Dan mengenai hal ini, akan penulis uraikan pada pembahasan tafsir ayat ini.

Tinjauan Ilmu Badî’:
Menggunakan Bentuk Al-Thibâq & Al-Muqâbalah
Salah satu bentuk yang mempercantik dan memperindah perkataan adalah bentuk thibâq, ia termasuk bentuk maknawi (المحسنات المعنوية)[52] yang menjadi gambaran keindahan balaghah dan paling tinggi dan kaya nilainya.[53] Ia termasuk seni ungkapan yang berantonim (فنون التضاد).[54]
Pertama, Bentuk al-Thibâq, yakni:
الجمع في الكلام الواحد بين الشيء وضده أو مقابله
”Terkumpulnya dalam suatu perkataan antara sesuatu dengan kebalikannya.”[55]
Dalam ayat ini kita temukan bentuk al-thibâq antara dua kata benda: antara (المعروف) dan (المنكر), dan antara dua kata kerja: antara (يأمرون) dan (ينهون).[56]
Kedua, Bentuk al-Muqâbalah, yakni muqâbalat itsnayn bi itsnayn[57], menurut sebagian ulama balaghah, sebagaimana disebutkan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhayli, al-muqâbalah ini termasuk jenis khusus dari al-thibâq dengan pengertian:
أن يؤتي في الكلام بلفظين متواليين أو أكثر، ويؤتي بأضدادها على الترتيب
”Tersusunnya dalam suatu perkataan dua lafazh atau lebih yang berkaitan, lalu ada kata-kata kebalikannya secara berurutan.”[58]
            Dalam ayat ini, yakni ada pada kalimat (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ), sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhayli[59], yakni antara al-amr bil ma’rûf dan al-nahy ’an al-munkar dalam satu ayat.[60]

اللهم اجعلنا من الذين يستمعون القول ويتبعون أحسنه، اللهم آمين.
والله أعلم بالصواب




[1] Abu al-Qâsim bin Muhammad Al-Râghib Al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Makkah: Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, juz I, hlm. 3.
[2] Kulliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât al-Islâmiyyah STIBA Ar-Râyah Sukabumi, Jawa Barat.
[3] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, hlm. 92.
[4] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 50; Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, hlm. 92.
[5] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 50.
[6] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, Sabkat al-Alûkah, cet. I, 1431 H/2010, juz I, hlm. 506.
[7] Abu al-Su’ud al-‘Imadi Muhammad bin Muhammad, Irsyâd al-‘Aql al-Salîm Ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Karîm, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, juz II, hlm. 67.
[8] Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Umar al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb (al-Tafsîr al-Kabîr), Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. III, 1420 H, juz VIII, hlm. 314.
[9] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, juz I, hlm. 506.
[10] Abu al-Su’ud al-‘Imadi Muhammad bin Muhammad, Irsyâd al-‘Aql al-Saliim Ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Kariim, juz II, hlm. 67.
[11] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 51.
[12] Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 52.
[13] Mushthafa Amin dkk, Al-Balâghah al-Wâdhihah: al-Bayân wa al-Ma’ânî wa al-Badî’, Dâr al-Ma’ârif, 1999, hlm. 206; Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 52.
[14] Abu al-Ma’ali Jalaluddin al-Qazwaini al-Syafi’i, Al-Îdhâh fî ‘Ulûm al-Balâghah, Ed: Muhammad ‘Abdul Mun’im, Beirut: Dâr al-Jîl, Cet. III, t.t., juz III, hlm. 200.
[15] Syihabuddin Mahmud bin ‘Abdullah al-Alusi, Ruuh al-Ma’ânii fii Tafsiir al-Qur’ân al-‘Azhiim wa al-Sab’u al-Matsanii, Ed: Ali Abdul Bari, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1415 H, juz II, hlm. 237.
[16] Abu al-Su’ud al-‘Imadi Muhammad bin Muhammad, Irsyâd al-‘Aql al-Saliim Ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Kariim, juz II, hlm. 67.
[17] Salah seorang Syaikhul Azhar Kairo, wafat 1391 H/1971.
[18] Abdul Muta’al al-Sha’idi, Bughyat al-Îdhâh li Talkhîsh al-Miftâh fî ‘Ulûm al-Balâghah, Maktabat al-Âdâb, cet. XVII, 1426 H/2005, juz II, hlm. 348.
[19] Doktor balaghah dari al-Azhar; Dr. Ahmad Mathlub al-Nashiri al-Rifa’i, Asâlîb Balâghah, Kuwait: Wikâlat al-Mathbû’ât, cet. I, 1980, juz I, hlm. 233.
[20] Penulis kitab Dîwan ’Atiq.
[21] Dr. ‘Abdul ‘Aziz ‘Atiq, ‘Ilm al-Ma’ânî, Beirut: Dâr al-Nahdhah al-‘Arabiyyah, cet. I, 1430 H/2009, hlm. 190.
[22] Abu al-Fath Nashrullah bin Muhammad al-Jazari (Ibnu al-Atsir al-Kâtib), Al-Jâmi’ al-Kabîr fî Shinâ’at al-Manzhûm Min al-Kalâm wa al-Mantsûr, Ed: Mushthafa Jawwad, Mathba’ah al-Majma’ al-‘Ilmi, 1375 H, juz I. hlm. 210.
[23] Lihat penjelasan mengenai faidah dari dzikr al-khâsh ba’da al-‘âm; ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. II, 1427 H/2006, hlm. 43.
[24] Abu al-Ma’ali Jalaluddin al-Qazwaini al-Syafi’i, Al-Îdhâh fî ‘Ulûm al-Balâghah, juz III, hlm. 200; Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd.
[25] Mahmud Shafi, Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, Damaskus: Dâr al-Rasyiid, cet. III, 1416 H, juz. IV, hlm. 266-267; Abu al-Su’ud al-‘Imadi Muhammad bin Muhammad, Irsyâd al-‘Aql al-Saliim Ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Kariim, juz II, hlm. 67. Lihat pula penjelasan dalam catatan kaki kitab Tafsîr al-Kasyf fî Haqâ’iq at-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh at-Ta’wîl karya Imam Abu al-Qasim Jarullah Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari yang di-ta’liq oleh Khalil Ma’mun, hlm. 187.
[26] Abu al-Ma’ali Jalaluddin al-Qazwaini al-Syafi’i, Al-Iidhâh fii ‘Ulûm al-Balâghah, juz III, hlm. 200.
[27] Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Umar al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb (al-Tafsîr al-Kabîr), juz VIII, hlm. 315.
[28] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 53.
[29] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, Ed: Dr. Yusuf al-Shamaili, Al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Cet. I, 1999, hlm. 165; Abdul Muta’al al-Sha’idi, Bughyat al-îdhâh Li Talkhîsh al-Miftâh, Cet. VIII, juz II, hlm. 3.
[30] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, Riyâdh: Jâmi’atul Imâm Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 73.
[31] Abu al-Su’ud al-‘Imadi Muhammad bin Muhammad, Irsyâd al-‘Aql al-Saliim Ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Kariim, juz II, hlm. 67.
[32] Ini termasuk bahasan ilmu ma’ani dalam ilmu balaghah; Abdul Muta’al al-Sha’idi, Bughiyyatul Îdhâh li Talkhîsh al-Miftâh fî ‘Ilm al-Balâghah, juz. II, hlm. 3:
قصر الصفة على الموصوف هو ما لا تتجاوز فيه الصفة موصوفها
[33] Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhayli, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Dar al-Fikr, cet. II, 2003, juz. IV, hlm. 353.
[34] Bahjat Abdul Wahid al-Syaikhali, Balâghatul Qur’ân al-Karîm fî al-I’jâz: I’râban wa Tafsîran Bi I’jâz, Amman: Maktabah Dandis, cet. I, 1422 H, jilid II, hlm. 140.
[35] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, hlm. 71.
[36] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, Beirut: Dâr Ibn Hazm, Cet. II, 1432 H/2011, hlm. 37
[37] Dr. Abdul Fattah Lasyin, Min Balâghat al-Hadîts al-Syarîf, hlm. 34.
[38] Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 25.
[39] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, hlm. 506.
[40] Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 27.
[41] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, hlm. 506.
[42] Seperti yang dijelaskan oleh guru-guru penulis dalam beberapa kesempatan kajian tafsir yang penulis simak.
[43] Abu al-Su’ud al-‘Imadi Muhammad bin Muhammad, Irsyâd al-‘Aql al-Salîm Ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Karîm, juz II, hlm. 67.
[44] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, hlm. 506.
[45] Abu al-Su’ud al-‘Imadi Muhammad bin Muhammad, Irsyâd al-‘Aql al-Salîm Ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Karîm, juz II, hlm. 68.
[46] Ahmad bin Faris al-Qazwaini al-Razi, Al-Shâhibi fii Fiqh al-Lughah al-‘Arabiyyah wa Masâ’ilihâ wa Sunan al-‘Arab fii Kalâmihâ, Mathba’ah Muhammad ‘Ali Baydhun, cet. I, 1418 H/1997, hlm. 149.
[47] ‘Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, Al-Muzhir fii ‘Uluum al-Lughah wa Anwâ’ihâ, Ed: Fu’ad ‘Ali Manshur, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1418 H/1998, juz I, hlm. 281.  
[48] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, hlm. 506.
[49] Ahmad bin Faris al-Qazwaini al-Razi, Al-Shâhibi fii Fiqh al-Lughah al-‘Arabiyyah wa Masâ’ilihâ wa Sunan al-‘Arab fii Kalâmihâ, hlm. 149.
[50] ‘Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, Al-Muzhir fii ‘Uluum al-Lughah wa Anwâ’ihâ, juz I, hlm. 282; Abu Ibrahim Ishaq bin Ibrahim al-Farabi, Mu’jam Diiwân al-Adab, Ed: Dr. Ahmad Mukhtar, Kairo: Mu’assasat Dâr al-Sya’b, juz III, hlm. 348.  
[51] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H/1988, hlm. 183.
[52] Yakni bentuk hiasan keindahannya kembali kepada pemaknaannya, meski terkadang mencakup lafazh-nya pula; Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Badî’), Kulliyyat al-Aadaab: Jaami’at Thantha, 1427 H/2006, hlm. 10.
[53] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 84.
[54] Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Badî’), hlm. 28.
[55] Dalam bahasan ilmu badî’, Mushthafa Amin mendefinisikan al-thibâq (الطباق):
الطباق: الجمع بين الشيء وضده في الكلام.
Lihat: Mushthafa Amin dkk, Al-Balâghah al-Wâdhihah: al-Bayân wa al-Ma’ânî wa al-Badî’, hlm. 281.
[56] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, Sabkat al-Alûkah, cet. I, 1431 H/2010, juz I, hlm. 506.
[57] Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Badii’), hlm. 28.
[58] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhayli, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, juz. IV, hlm. 353; Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Badii’), hlm. 28.
[59] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhayli, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, juz. IV, hlm. 353.
[60] Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Badî’), hlm. 28. Lihat pula; Mahmud Shafi, Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, juz. IV, hlm. 267.