03 September 2015

Tata Cara Praktis Meruqyah Mandiri Berdasarkan Sunnah Nabawiyyah (Kajian Hadits-Part. I)


Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
(Penyusun Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia)

Di antara sunnah yang mulia Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- yang kini semakin diperhatikan oleh kaum muslimin bi fadhliLlâhi Ta’âlâ adalah ruqyah syar’iyyah, beliau –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- pun mencontohkan dalam haditsnya yang mulia tata cara praktis melakukan ruqyah mandiri.

Pengertian Ruqyah
            Imam Ibnu Manzhur (w. 711 H) menjelaskan, al-ruqyah bermakna (العُوذة، مَعْرُوفَةٌ) yakni perlindungan, sesuatu yang diketahui. Jamaknya ruqaa.[1] Ibnu Manzhur dan Imam al-Mutharrizi al-Hanafi (w. 610 H) pun merinci:
رَقَى الرَّاقِي رُقْيةً ورُقِيّاً إِذَا عَوَّذَ ونَفَثَ فِي عُوذَتِه
“Seorang peruqyah meruqyah dengan suatu ruqyah dan ruqyah-ruqyah jika ia memohon perlindungan dan menghembuskan nafas dalam do’a perlindungannya.”[2]
            Dari pengertian di atas, kita memahami bahwa ruqyah syar'iyyah tak sekedar pembacaan do'a tapi juga disertai hembusan nafas.

Dalil-Dalil al-Sunnah Praktik Ruqyah Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-
            Banyak hadits-hadits yang menunjukkan pensyari’atan ruqyah syar’iyyah, di antaranya hadits-hadits yang menunjukkan sunnah Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- dalam praktik meruqyah diri sendiri, di antaranya:

Pertama, Dari ‘Aisyah –radhiyaLlâhu ‘anhâ- ia berkata:

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ نَفَثَ فِي يَدَيْهِ، وَقَرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ، وَمَسَحَ بِهِمَا جَسَدَهُ» 
“Bahwa Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- jika hendak menuju pembaringannya, meniupkan nafasnya ke kedua telapak tangannya, dan membaca al-mu’awwidzât (al-Ikhlâsh, al-Falaq dan al-Nâs), dan beliau mengusap tubuhnya dengan kedua tangannya tersebut.” (HR. Al-Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, lafal al-Bukhari)[3]

Catatan: Dalam redaksi hadits riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Abi Syaibah, yakni bil mu’awwidzatayn (al-Falaq dan al-Nâs).

Kedua, Dalam riwayat lainnya dari ‘Aisyah –radhiyaLlâhu ‘anhâ-:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
“Bahwa Nabi shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- jika hendak menuju pembaringannya setiap malam beliau menyatukan kedua tangannya, kemudian meniup dan membacakan pada kedua telapak tangannya: qul huwaLlâhu ahad (QS. Al-Ikhlâsh), qul a’ûdzu bi Rabb al-falaq (QS. Al-Falaq) dan qul a’ûdzu bi Rabb al-nâs (QS. Al-Nâs), kemudian beliau mengusap dengan kedua telapak tangannya dari apa-apa yang mampu beliau sentuh dari anggota tubuhnya, beliau memulai dari kepalanya, wajahnya dan bagian-bagian yang terjangkau, beliau melakukannya tiga kali.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi. Lafal al-Bukhari)[4]

Faidah Hadits
Pertama, Para ulama menjadikan dalil-dalil di atas di antara dalil-dalil syar’iyyah atas praktik ruqyah syar’iyyah, termasuk ruqyah mandiri. Imam Ibnu Bathal (w. 449 H) menjelaskan:
فى حديث عائشة رد قول من زعم أنه لا تجوز الرقى واستعمال العُوذ إلا عند حلول المرض ونزول ما يتعوذ بالله منه، ألا ترى أن النبى (صلى الله عليه وسلم) نفث فى يديه وقرأ المعوذات ومسح بهما جسده، واستعاذ بذلك من شر ما يحدث عليه فى ليلته مما يتوقعه وهذا من أكبر الرقى
“Dalam hadits ‘Aisyah –radhiyaLlâhu ‘anhâ-, terdapat bantahan atas perkataan siapa saja yang mengklaim bahwa tidak boleh melakukan ruqyah dan menggunakan do’a-do’a perlindungan kecuali untuk mengobati penyakit dan menghilangkan apa-apa yang perlu dimintai perlindungan Allah darinya, bukankah engkau melihat bahwa Nabi –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- menghembuskan nafasnya pada kedua telapak tangannya, membaca al-mu’awwidzât lalu mengusap tubuhnya dengannya, dan memohon perlindungan dengannya dari keburukan apa-apa yang bisa saja terjadi padanya di waktu malam, dan ini adalah seagung-agungnya ruqyah.”[5]
            Ketika mengulas hadits kedua di atas, Ibnu Bathal pun memaparkan bahwa perbuatan Nabi –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- menunjukkan (pensyari’atan) ruqyah untuk diri sendiri ketika menderita sakit dan ketika hendak tidur memohon perlindungan (Allah) dengan al-Falaq dan al-Naas karena agungnya keberkahan di dalam ruqyah-ruqyah dengan keduanya, dan berlindung kepada Allah dari segala hal yang mengkhawatirkan ketika tidur.[6] 
         Di sisi lain, banyak dalil-dalil al-Sunnah yang menunjukkan disyari'atkannya ruqyah syar'iyyah, dan penjelasan para ulama, termasuk Syaikhul Ushul 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam akun tanya jawabnya di media sosial: Akun FB.

Kedua, Ayat yang dibaca yakni al-mu’awwidzât. Imam al-Kirmani (w. 786 H) mengatakan bahwa yang dimaksud al-mu’awwidzât yakni al-mu’awwidzatân dan surat al-Ikhlâsh (sebagai bagian darinya) pada umumnya, atau dua surat perlindungan tersebut dan apa-apa yang menyerupai keduanya dari ayat-ayat al-Qur’an, atau sekurang-kurangnya dua surat perlindungan tersebut.[7]
            Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) berkata:
المعوذتان: سورتا { قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ } و { قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ } لأنهما عوذتا صاحبهما، أي: عصمتاه من كل سوء
Al-Mu’awwidzatân: dua surat (QS. Al-Falaq) dan (QS. Al-Nâs) karena keduanya memperlindungkan orang yang mewiridkannya, yakni keduanya membentengi orang yang mewiridkannya dari segala keburukan.”[8]

Ketiga, Pembacaan do’a ruqyah dengan hembusan nafas. Dalam kitab al-Istidzkaar, disebutkan keterangan sebagian ulama yang memakruhkan hembusan nafas, namun hal itu dikoreksi oleh Imam Ibnu ‘Abdul Barr al-Qurthubi (w. 463 H):
وَلَا حُجَّةَ مَعَ مَنْ كَرِهَ ذَلِكَ إِذْ قَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَفَثَ فِي الرُّقَى
“Dan tidak ada hujjah bagi siapa saja yang memakruhkan hembusan nafas, dimana telah tegas dari Nabi shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- bahwa beliau shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- menghembuskan nafas dalam praktik ruqyah-ruqyahnya.”[9]
Al-Hafizh al-Dzahabi (w. 748 H) dan Imam Ibnu Thulun (w. 953 H) mengetengahkan riwayat: ‘Aisyah –radhiyaLlâhu ‘anhâ- ditanya tentang hembusan nafas Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, ia berkata: “Hembusan nafasnya seperti hembusan nafas ketika seseorang memakan kismis.”[10]
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 825 H) menjelaskan:
قال أهل اللغة: النفث: نفخ لطيف بلا ريق
“Pakar bahasa berkata: “al-nafatsu: hembusan nafas yang lembut tanpa mengandung air liur.”[11]
            Tanpa mengandung air liur diungkapkan pula oleh Ibnu Thulun dan al-Hafizh Ibnu al-Jawzi (w. 597 H), dan jika mengandung sedikit air liur disebut al-tafl.[12] Imam al-Qasthalani (w. 923 H) pun mengatakan:
(نفث في يديه) بالمثلثة نفخ كالذي يبصق فقيل لا بصاق فيه فإن كان فهو التفل وقيل هما بمعنى
“(Menghembuskan nafas pada kedua tangannya) yakni sepertiga nafkh (hembusan nafas) yang mengandung sedikit air ludah, dikatakan pula bahwa tidak mengandung air liur di dalamnya, karena jika seperti itu maka ia al-tafl, dikatakan bahwa keduanya sinonim.”[13]
            Dan menghembuskan nafas tersebut setelah pembacaan ruqyah, karena menurut al-Qasthalani, huruf waw dalam hadits pertama di atas tidak menuntut pengurutan.[14] Imam Nuruddin al-Sindi (w. 1138 H) pun mengatakan:
(نَفَثَ فِي يَدَيْهِ وَقَرَأَ) الْوَاوُ لَا تَدُلُّ عَلَى التَّرْتِيبِ فَلَا يُنَافِي تَقْدِيمَ الْقِرَاءَةِ عَلَى النَّفْثِ كَمَا هُوَ الْمُعْتَادُ
“(Menghembuskan nafas pada kedua telapak tangannya kemudian membaca) huruf waw tidak menunjukkan urutan, maka tidak bisa menafikan didahulukannya pembacaan daripada hembusan nafas, sebagaimana hal tersebut menjadi kebiasaannya.”[15]
Imam Badruddin al-‘Aini (w. 855 H) mengatakan bahwa hembusan nafas harus dilakukan setelah pembacaan ruqyah agar sampainya keberkahan al-Qur’an kepada orang yang membaca atau orang yang dibacakan ruqyah.[16]
Artinya meski dalam hadits pertama, hembusan nafas disebutkan sebelum pembacaan al-mu’awwidzât, namun sebenarnya yang dikehendaki adalah pembacaan terlebih dahulu lalu hembusan nafas. Sebagaimana yang diperjelas dalam hadits kedua.

Keempat, Mengusap tubuh yang terjangkau untuk diusap dengan kedua tangan, hal itu sebagaimana penjelasan Imam al-Qasthalani[17] dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani[18] (w. 852 H), berdasarkan penjelasan ‘Aisyah –radhiyaLlâhu ‘anhâ- dalam hadits kedua:
ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ
“Kemudian Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- mengusap dengan kedua tangan bagian tubuh yang mampu untuk dijangkau.”

Kesimpulan
Dari dua hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah –radhiyaLlâhu ‘anhâ- di atas dan penjelasan para ulama terdapat pertunjuk nabawiyyah dalam praktik ruqyah mandiri, diantaranya:
Pertama, Membaca al-Ikhlash, al-Falaq dan al-Nâs (dan ayat-ayat lainnya serta do’a-do’a ruqyah dari al-Sunnah).
Kedua, Menghembuskan nafas atau meniup kedua telapak tangan.
Ketiga, Mengusapkan kedua telapak tangan tersebut pada seluruh area tubuh yang bisa dijangkau, dimulai dari kepala, wajah lalu ke anggota-anggota tubuh yang bisa diusap.
Keempat, Lakukan sebanyak tiga kali.

Download File: Unduh di Sini


[1] Abu al-Fadhl Jamaluddin Ibnu Manzhur al-Anshari al-Afriqi, Lisân al-‘Arab, Beirut: Dâr Shâdir, Cet. III, 1414 H, juz 14, hlm. 332; Nashiruddin bin ‘Abdussayyid bin ‘Ali bin al-Mutharrizi, Al-Mughrib fî Tartîb al-Mu’rib, Halb: Maktabah Usamah bin Zayd, Cet. I, 1979, juz I, hlm. 108.
[2] Ibid.
[3] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (VIII/70, hadits 6319); Ibnu Majah dalam Sunan-nya (V/41, hadits 3875); Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (X/252, hadits 29928)
[4] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (VI/190, hadits 5017); Muslim dalam Shahîh-nya; al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (V/473, hadits 3402); Abu Dawud dalam Sunan-nya (IV/313, hadits 5056); Al-Nasa’I dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (IX/290, hadits 10556)
[5] Ibnu Bathal Abu al-Hasan ‘Ali bin Khalaf, Syarh Shahîh al-Bukhâri, Ed: Abu Tamim Yasir, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, Cet. II, 1423 H/2003, juz X, hlm. 88.
[6] Ibid, juz X, hlm. 252.
[7] Muhammad bin Yusuf Syamsuddin al-Kirmani, Al-Kawâkib al-Darâri fî Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, Cet. II, 1401 H/1981, juz 22, hlm. 134.
[8] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is.
[9] Abu ‘Amar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Barr, Al-Istidzkâr, Ed: Salim Muhammad ‘Atha dkk, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1421 H/2000, juz VIII, hlm. 411.
[10] Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad (Ibnu Thulun) al-Dimasyqi, Al-Thibb al-Nabawi, Riyadh: Dâr ‘Âlam al-Kutub, Cet. I, 1416 H/1995, juz. I. hlm. 302; Syamsuddin Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, Al-Thibb al-Nabawi, Ed: Dr. Muhammad Abdurrahman, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, Cet. I, 1425 H/2004, juz I, hlm. 263.
[11] Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin ‘Ali (Ibnu Hajar al-‘Asqalani), Natâ’ij al-Afkâr fî Takhrîj Ahâdîts al-Adzkâr, Ed: Hamdi Abdul Majid, Dâr Ibn Katsiir, Cet. II, 1429 H/2008, juz III, hlm. 39.
[12] Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad (Ibnu Thulun) al-Dimasyqi, Al-Thibb al-Nabawi, juz. I. hlm. 302; ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad bin al-Jawzi, Kasyf al-Musykil Min Hadîts al-Shahîhayn, Ed: Ali Husain al-Bawwab, Riyadh: Dâr al-Wathan, juz IV, hlm. 289.
[13] Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakr al-Qasthalani al-Mishri, Irsyâd al-Sâri li Syarh Shahîh al-Bukhâri, Mesir: al-Mathba’ah al-Kubrâ’ al-Amîriyyah, Cet. VII, 1323 H, juz IX, hlm. 186.
[14] Ibid.
[15] Abu al-Hasan Nuruddin al-Sindi, Hâsyiyat al-Sindi ‘Alâ Sunan Ibn Mâjah (Kifâyat al-Hâjah fî Syarh Sunan Ibn Mâjah), Beirut: Dâr al-Jîl, juz II, hlm. 443.
[16] Badruddin al-‘Aini Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-Hanafi, ‘Umdat al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, juz 20, hlm. 35;  
[17] Ahmad bin Muhammad al-Qasthalani, Irsyâd al-Sâri li Syarh Shahîh al-Bukhâri, juz IX, hlm. 186.
[18] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Natâ’ij al-Afkâr fî Takhrîj Ahâdiits al-Adzkâr, juz III, hlm. 39.