15 September 2015

Sosok Khalifah Sebagai Junnah (Perisai) dalam Untaian Kata Nabiyullâh al-Mushthafâ SAW


(Kajian Balaghah dan Kandungan Faidahnya)

Oleh: Irfan Abu Naveed
(Staff STIBA Ar-Raayah, Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan & Pemikiran Islam UIKA Bogor)

Pengantar: Pentingnya Menggali Kandungan Balaghah dalam Hadits Nabi –ShallaLlâhu ’alayhi wa sallam-
Al-Sunnah memiliki kedudukan yang agung dalam Islam, yakni sebagai sumber utama ajaran Islam setelah al-Qur’an al-Karim, ia pun disifati sebagai hikmah disandingkan setelah al-Qur’an al-Karim dalam firman-Nya:
{هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ}
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan al-Hikmah (Al-Sunnah), dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2)
Sulthanul Ulama ’Izzuddin bin ’Abdissalam (w. 660 H)[1] dan Imam al-Nasafi (w. 710 H)[2] menafsirkan al-hikmah dalam ayat tersebut yakni al-sunnah. Di sisi lain, apa yang disampaikan oleh Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- mengandung jawâmi’ al-kalim, dari Abu Hurairah radhiyaLlâhu ’anhu-, Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَبَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الأَرْضِ، فَوُضِعَتْ فِي يَدَيَّ
“Aku diutus dengan jawâmi’ al-kalim, dan ditolong dengan adanya rasa takut (pada musuh), dan ketika aku tertidur didatangkan kepadaku kunci-kunci pembendaharaan bumi, dan diletakkan pada kedua tanganku.” (HR. Muslim, al-Bukhari dll)[3]
Yang dimaksud dengan jawâmi’ al-kalim bahwa Allah mengumpulkan bagi beliau shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- banyak hal yang tertulis dalam kitab-kitab sebelumnya dalam satu atau dua hal saja.[4] Yakni sabda beliau shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- sedikit kata-katanya namun penuh dengan makna.[5] Artinya ringkas padat penuh makna, dan kaya dengan keindahan gaya bahasa yang berfaidah. Di sisi lain, beliau –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- pun dikenal dengan kefasihan berbahasa, dengan didikan kefasihan berbahasa dalam lingkungan terpilih -Bani Sa’ad- selama lima tahun pertama masa kecilnya, Bani Sa’ad adalah salah satu suku di tengah Jazirah Arab yang terpelihara -lingkungannya- dari pengaruh suku-suku lainnya yang tinggal di tepi-tepi Jazirah Arab, dan Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- menghabiskan periode pertama kehidupannya di tengah-tengah mereka, dididik dengan kefashihan berbahasa.[6]
Maka latar belakang bahasa beliau pun memiliki keunggulan, hadits-hadits beliau tinggi nilai kandungannya, bagaikan pembendaharaan harta yang tak ternilai harganya, dan bisa diterus digali untuk diambil intisarinya dengan menggunakan alatnya. Dan salah satu alat tersebut adalah ilmu balaghah, dan hingga kini kita pun menikmati kajian-kajian balaghah para ulama atas hadits-hadits nabawiyyah yang terus menambah khazanah peradaban kaum muslimin, bagaikan air mengalir yang tiada henti-hentinya yang siap sedia mengobati dahaga kita dan menajamkan pandangan kita.
Dan di antara hadits yang perlu diangkat kembali untuk mengingatkan kaum muslimin pada kedudukannya, adalah hadits yang mulia Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- sebagai pujian terhadap sosok penguasa yang dibai’at kaum muslimin untuk menegakkan hukum-hukum Allah, melindungi harta, kehormatan dan darah kaum muslimin, ialah al-Imâm yakni al-Khalifah, berdasarkan sabdanya shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- yang mulia; dari Abu Hurairah –radhiyaLlâhu ’anhu- dari Nabi Muhammad shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-Imâm (khalifah) itu adalah perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dll)
Dalam kitab Ajhizat Dawlat al-Khilâfah disebutkan bahwa di antara kandungan hadits ini, di dalamnya terdapat penyifatan terhadap khalifah bahwa ia adalah junnah (perisai) yakni wiqâyah (pelindung). Dan Rasulullah SAW menyifati bahwa seorang al-Imâm (Khalifah) adalah junnah (perisai), yang artinya mengandung pujian atas keberadaan al-Imâm (Khalifah).[7] Bagaimana kita memahami bahwa ia suatu pujian?

Memahami Hadits Rasulullah ShallaLlâhu ’Alayhi wa Sallam- dalam Tinjauan Ilmu Balaghah
Di antara ilmu yang penting untuk dipahami untuk memahami bahasa hadits, penjelasan dan maknanya adalah ilmu balaghah. Dengan ilmu ini, kita memahami makna kandungan hadits dan faidahnya. Hadits di atas jika kita telusuri setidaknya mengandung hal-hal berikut:
Pertama, Menggunakan Gaya Bahasa Qashr (’Ilm al-Ma’âni)
Secara etimologi, al-qashr yakni al-habs (kurungan).[8] Sedangkan secara istilah, qashr yaitu pengkhususan sesuatu dengan perkara lainnya dengan beragam gaya pengungkapan qashr yang telah diketahui[9], dalam referensi lainnya lebih terperinci yakni:
هو تخصيص أمر بآخر بطريق مخصوص أو، هو: إثبات الحكم لما يذكر في الكلام ونفيه عمّا عداه بإحدى الطرق
”Qashr merupakan pengkhususan suatu hal dengan hal lainnya dengan cara tertentu atau penetapan status (suatu hal) dengan hal yang disebutkan dalam perkataan dan menafikan hal-hal selainnya dengan salah satu metode (pengungkapan qashr).”[10]
Jika kita tela'ah lebih jauh, redaksi hadits al-Imâm di atas dalam ilmu ma’âni (salah satu cabang ilmu balaghah) menggunakan gaya bahasa qashr, dengan menggunakan kata (إِنَّمَا) yang termasuk perangkat qashr, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab balaghah. Ini sama seperti penggunaan lafazh (إِنَّمَا) dalam firman-Nya:
{إِنَّمَا اللهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ}
”Sesungguhnya hanya Allah-lah yang merupakan Tuhan yang Maha Tunggal.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 171)
Dalam kitab al-Balâghah wa al-Naqd dijelaskan: “(Contoh ini) merupakan pengkhususan Dzat Allah ‘Azza wa Jalla bahwa Dia adalah Tuhan Sesembahan yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bantahan atas orang yang mengklaim berbilangnya Tuhan Sesembahan.”[11]
            Lafazh (الله) adalah maqshûr (yang dikhususkan) dan frase (إله واحد) adalah maqshûr ’alayh (yang menjadi kekhususannya).[12] Dan dalam hadits al-Imâm di atas, yang menjadi maqshûr adalah lafazh (الإمام), dan lafazh (جنة) sebagai maqshûr ’alayh.
            Gaya bahasa hadits al-Imâm pun sejenis dengan gaya bahasa qashr QS. Al-Nisâ’ [4]: 171 di atas, yakni jenis qashr mawshûf ’alâ shifah yakni qashr (pengkhususan) kata yang disifati dengan sifatnya dimana letak kata yang disifati berada sebelum sifatnya.[13] Namun qashr di sini tidak berarti membatasi kedudukan dan fungsi al-Imâm pada konteks junnah (perisai pelindung umat) saja, karena ada hadits-hadits lainnya yang mengabarkan mengenai tanggung jawab, kedudukan dan fungsi al-Imâm bagi umat, hal itu sebagaimana ditegaskan Dr. Hesham Mohammed Taha el-Shanshouri al-Mishri[14] dalam diskusi dengan penulis.
Faidah Gaya Bahasa Qashr (إِنَّمَا) dalam Hadits Di Atas
Qashr berfaidah sebagai penegasan (tawkîd)[15], meringkas perkataan, dan menguatkan pengaruhnya dalam benak pikiran, sebagaimana diungkapkan Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi dalam al-Balâghah al-Muyassarah.[16] Dr. Abdul Fatah dalam kitab Min Balâghat al-Hadîts al-Syarif pun menegaskan:
والقصر يأتي لتأكيد المعاني ودفع الشك
”Dan al-qashr berfungsi untuk menguatkan makna dan menampik keraguan.”[17]
Dalam penjelasan mengenai metode pengungkapan qashr, penulis al-Balâghah wa al-Naqd menjelaskan:
أن الأداة التي أفادتِ التخصيصَ هي (إِنَّمَا) ولو حذفْنَاها زَال التخصيصُ
“Bahwa perangkat yang mengandung faidah pengkhususan adalah kata (إنما), karena jika dihilangkan kata tersebut maka hilanglah pengkhususan tersebut.”[18]
Dr. Hesham el-Shanshouri al-Mishri, yang merupakan doktor balaghah dari al-Azhar pun menegaskan hal tersebut kepada penulis dalam diskusi mengenai balaghah hadits di atas. Dan penggunaan redaksi (إنما) dalam tinjauan ilmu balaghah, digunakan dalam konteks dimana pihak yang diseru (kita) sebenarnya tidak jahil (mengetahui) dan tidak mengingkari kandungannya, seakan ia adalah perkara yang sudah ma’lum diketahui secara umum.[19] Bahwa seorang penguasa memang memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang agung tersebut, yakni sebagai perisai, pelindung bagi rakyatnya.

Kedua, Menggunakan Redaksi Tasybîh Bi al-Hadzf (’Ilm al-Bayân).
Secara etimologi, tasybîh yakni tamtsîl (perumpamaan)[20], dikatakan:
هذا شبه هذا ومثيله، وشبهته به أي مثلته به 
”Ini menyerupai yang ini dan menjadi perumpamaannya, dan aku menyerupakan ia dengannya yakni aku mengumpamakannya dengannya.”[21]
Sedangkan secara terminologi, tasybîh yakni penyerupaan (perumpamaan) sesuatu dengan hal lainnya berupa sifat –atau sifat-sifat- yang memiliki irisan (kesamaan) antara keduanya dengan menggunakan salah satu perangkat tasybîh yang diketahui secara umum atau disembunyikan perangkat kata tasybîh-nya[22] untuk maksud tertentu,[23] ini sebagaimana pengertian yang dijelaskan para ulama ahli bayan.[24]
Dalam hadits di atas kita temukan kalimat (الْإِمَامُ جُنَّةٌ), kata junnah berkonotasi sebagai perisai, penghalang, dimana dalam hadits di atas kata ini digunakan untuk menyerupakan kedudukan, tanggung jawab dan fungsi seorang al-Imâm yakni Khalifah dengan sifat tersebut. Dalam ilmu balaghah, hal tersebut merupakan bentuk tasybîh (perumpamaan), termasuk bahasan ilmu bayan, dengan penjelasan:
Pertama, Kata (الإمام) sebagai al-musyabbah yaitu objek yang diserupakan.
Kedua, Kata (جنة) sebagai al-musyabbah bihi yaitu sifat dimana objek diserupakan dengannya.
Ketiga, Kalimat (يقاتل من ورائه ويتقى به) menjadi petunjuk wajh al-syabah dalam hadits ini. Wajh al-Syabah yakni gambaran khusus yang menjadi irisan kesamaan antara al-musyabbah dan al-musyabbah bihi di dalamnya.[25] Dan wajh al-syabah dalam hadits ini  yakni al-himâyah (perlindungan); sebagai pujian atas fungsi dan kedudukan al-Imâm, dimana perlindungan tercakup dalam sifat junnah; umat akan berperang dengan musuh di bawah komandonya dan berlindung (dari musuh) di bawah kekuasaannya.
            Dr. Hesham el-Shanshouri al-Mishri, dalam diskusi dengan penulis menjelaskan bahwa kalimat ini (يقاتل من ورائه ويتقى به) menjadi penjelasan sifat dari kata (جنة) yang merupakan bentuk nakirah (’umum’) sesuai kaidah:
الجمل بعد النكرات صفات
”Kalimat-kalimat setelah kata-kata umum itu sifat.”
            Dan ia menjadi penjelasan dari kata junnah, atau dengan kata lain sebagai petunjuk wajh al-syabah.
Keempat, Perangkat tasybîh dalam hadits ini dihilangkan, yakni tidak menggunakan perangkat kata seperti huruf ”kâf” atau yang semisalnya untuk menunjukkan perumpamaan, sehingga misalnya tidak disebutkan (الإمام كالجنة) tapi (الإمام جنة) saja.
Ketika dihilangkan perangkat tasybîh-nya, maka ia dinamakan tasybîh mu’akkad yakni bentuk tasybîh yang dikuatkan, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan keduanya (al-musyabbah dan al-musyabbah bihi) sesuatu yang menyatu sebagai cara penguatan (mubâlaghah)[26], ini termasuk pembahasan al-îjâz bi al-hadzf (ringkasan padat makna dengan menghilangkan di antara bagiannya) yang berfaidah menguatkan makna penyerupaan. Imam al-Jurjani al-Nahwi (w. 474 H) menjelaskan faidah tasybîh yang menguatkan makna dengan contoh dalam kitabnya, Dalâ’il al-I’jâz,[27] yakni menguatkan pengaruh dalam kandungan makna dan sifat yang terasa sebagai buah dari perumpamaan tersebut[28] meski secara umum faidah dari bentuk tasybîh untuk memperjelas makna yang dimaksud, bentuk penyingkatan dan peringkasan kalimat.[29]
Dr. Yusuf al-Shamaili dalam catatan kakinya atas kitab Jawâhir al-Balâghah menegaskan bahwa tasybîh menempati tempat yang sangat baik dalam ilmu balaghah, hal itu karena ia mengeluarkan sesuatu yang tersembunyi menjadi jelas, mendekatkan yang jauh menjadi dekat, menguatkan makna dan memperjelasnya, menuangkan bentuk penegasan dan keutamaan, menghiasinya dengan kemuliaan dan pujian.[30]
Maka maksud tasybîh dalam hadits ini, untuk menjelaskan kedudukan al-Imâm (بيان حال)[31], yakni kedudukan menjadi perisai yang melindungi umat dari gempuran kaum perusak; dimana umat akan berperang di belakangnya dan berlindung di bawah kekuasaannya.

Evaluasi
Dari ungkapan yang agung hadits di atas, sudah cukup menuntut kita untuk memerhatikan dan mewujudkan sosok Imam (khalifah) ketika ia tiada, karena pujian al-Amîn al-Mushthafâ –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- itu benar (bukan bermanis muka) dan tidak mungkin yang mulia –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- memuji apa yang tidak layak untuk dipuji, karena beliau –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- memerhatikan kebaikan bagi umatnya, sebagaimana beliau –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- pun memperingatkan mereka dari keburukan atasnya berdasarkan bimbingan wahyu Allah ’Azza wa Jalla, dan itu telah ditegaskan Allah ’Azza wa Jalla dalam firman-Nya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. Al-Tawbah [9]: 128)
Al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) ketika menakwilkan ayat ini menjelaskan bahwa (عزيز عليه ما عنتم) yakni terasa berat baginya penderitaan kalian; yakni adanya kesulitan, hal yang dibenci dan gangguan kepada mereka, (حريص عليكم) yakni perhatian terhadap petunjuk atas kesesatan kalian; serta taubat dan kembalinya mereka kepada kebenaran.[32]
Kita temukan Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- mensifati seorang Imam (Khalifah) dengan sifat atau karakteristik khusus yang menjadi salah satu tanggung jawabnya, yakni sebagai sosok pelindung bagi rakyatnya. Faidahnya menjadi pengkhususan kedudukan al-Imâm (khalifah) bahwa ia perisai, pelindung bagi rakyatnya. Dan hal itu jelas menjadi penegasan atas pujian Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- atas fungsi Imam (Khalifah); dimana umat akan menegakkan jihâd fî sabîliLlâh di bawah komandonya dan berlindung di belakang kekuasaannya.
             Lalu masih adakah orang yang mengklaim sebagai seorang muslim namun menyepelekan keberadaan kepemimpinan Islam, khalifah dengan sistem khilafah yang menegakkan hukum-hukum Allah keseluruhannya (kâffah)?! Bukankah hadits di atas cukup sebagai pengingat terhadap pesan pentingnya sosok khalifah setelah berbagai tragedi memilukan yang menimpa kaum muslimin saat ini, sekaligus targhîb dari yang mulia Rasulullah –ShallaLlâhu ’alayhi wa sallam- untuk mewujudkannya?! Allâh al-Musta’ân. []

Download File (Pdf): Makalah








[1] ’Izzuddin ’Abdul ’Aziz bin ’Abdussalam, Tafsîr al-Qur’ân, Ed: Dr. ’Abdullah bin Ibrahim,  Beirut: Dâr Ibn Hazm, Cet. I, 1416 H/1996, juz III, hlm. 317.
[2] Abu al-Barakat ’Abdullah bin Ahmad Al-Nasafi, Tafsîr al-Nasafi (Madârik al-Tanzîl wa Haqâ’iq al-Ta’wîl), Ed: Yusuf ’Ali Badawi, Beirut: Dâr al-Kalam al-Thayyib, Cet. I, 1419 H/1998, juz III, hlm. 480.
[3] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (II/64, hadits 1104); al-Bukhari dalam Shahîh-nya (III/1087, hadits 2815); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (XIV/277, hadits 6363); dan lainnya.
[4] Ibnu Bathal Abu al-Hasan ’Ali bin Khalaf, Syarh Shahîh al-Bukhâri, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, Cet. II, 1423 H/2003, juz IX, hlm. 535.
[5] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, Cet. II, 1392 H, juz V, hlm. 5.
[6] Dr. Abdul Fattah Lasyin, Min Balâghat al-Hadîts al-Syarîf, Riyadh: Syirkat Maktabât ‘Ukâzh, Cet. I, 1402 H/1982, hlm. 15.
[7] Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Ajhizat Dawlat al-Khilâfah fî al-Hukm wa al-Idârah, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. I, 1426 H/2005, hlm. 11.
[8] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, Ed: Dr. Yusuf al-Shamaili, Al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Cet. I, 1999, hlm. 165; Abdul Muta’al al-Sha’idi, Bughyat al-îdhâh Li Talkhîsh al-Miftâh, Cet. VIII, juz II, hlm. 3.
[9] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, Riyâdh: Jâmi’atul Imâm Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 73.
[10] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, hlm. 165; Abdul Muta’al al-Sha’idi, Bughyat al-îdhâh Li Talkhîsh al-Miftâh, juz II, hlm. 3.
[11] Ibid, hlm. 69.
[12] Ibid, hlm. 72.
[13] Ibid, hlm. 73.
[14] Doktor balaghah dari Jâmi’atul Azhar al-Syarîf Kairo, berdiskusi mengenai hadits ini dengan penulis dalam beberapa kesempatan ba’da shalat ‘isya, khususnya tanggal 14/9/2015.
[15] Ibid, hlm. 71.
[16] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, Beirut: Dâr Ibn Hazm, Cet. II, 1432 H/2011, hlm. 37
[17] Dr. Abdul Fattah Lasyin, Min Balâghat al-Hadîts al-Syarîf, hlm. 34.
[18] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, hlm. 70.
[19] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, hlm. 70.
[20] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, hlm. 219.
[21] Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Bayân), 1427 H/2006, hlm. 11.
[22] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd,  hlm. 129.
[23] Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Bayân), hlm. 11.
[24] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, hlm. 219.
[25] Ibid, hlm. 233.
[26] Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Bayân), hlm. 34.
[27] Abdul Qahir bin Abdurrahman bin Muhammad al-Jurjani, Dalâ’il al-I’jâz, Ed: Mahmud Muhammad Syakir, Kairo: Maktabah al-Khanji, Cet. V, 2004, hlm. 425.
[28] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd,  hlm. 126-127.
[29] Dr. Usamah Muhammad al-Buhairi, Taysîr al-Balâghah (‘Ilm al-Bayân), hlm. 11.
[30] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, hlm. 219.
[31] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 59.
[32] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H/2000, juz XIV, hlm. 584.