Skip to main content

Serial Bantahan Atas Kaum Liberal Mengenai LGBT (Kajian Hadits) (Bag. III)

Irfan Abu Naveed
(Staff STIBA Ar-Raayah, Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia)

Islam merupakan ajaran yang agung memuliakan manusia dengan ajaran-ajarannya yang mulia, dan memperingatkan mereka dari segala keburukan, kemungkaran dan perbuatan keji. Dan mengenai perbuatan keji laki-laki yang mendatangi laki-laki dari duburnya, telah jelas penyimpangannya, dan itu ditunjukkan dalam hadits-hadits yang mulia Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, salah satunya:

Teks & Takhrij Hadits:
            Dari Ibnu ’Abbas –radhiyallâhu ’anhu-, berkata: ”Rasulullahshallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«لا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا»
“Allah tidak akan melirik laki-laki yang mendatangi laki-laki lainnya atau mendatangi perempuan pada duburnya.” (HR. Ibnu Hibban, al-Tirmidzi dll)[1]

Penjelasan Mufradat

Pertama, Pengertian al-dubur. Imam al-Syawkai (w. 1250 H) menjelaskan:
الدُّبُرُ فِي أَصْلِ اللُّغَةِ اسْمٌ لِخِلَافِ الْوَجْهِ
”Al-Dubur asal bahasanya adalah kata benda kebalikan dari wajah (bagian depan), tidak dikhususkan dengan saluran pengeluaran.”[2]
            Al-Syawkani pun menukil dalil firman Allah ’Azza wa Jalla:
وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ
”Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu.” (QS. Al-Anfâl [8]: 16)

Kedua, Kata atâ dalam hadits ini adalah kiasan dari jimak atau hubungan seksual.
            Maka para ulama pun menukil dalil ini sebagai dalil keharaman hubungan homoseksual laki-laki, hubungan seksual dengan perempuan dari duburnya. Diantaranya al-Hafizh al-Dzahabi (w. 748 H) dalam kitab al-Kabâ’ir[3], dan Imam Muhammad bin al-Husain al-Ajurri al-Baghdadi (w. 360 H) dalam kitab Dzamm al-Liwâth (tercelanya perbuatan liwâth), Imam al-Thibi (w. 743 H) dalam kitab Syarh Misykât al-Mashâbîh[4] dan lainnya.

Faidah Hadits
Imam al-Mala’ al-Qari’ (w. 1041 H) menjelaskan bahwa pandangan tersebut adalah pandangan rahmat dan pemeliharaan. Dan yang dimaksud mendatangi laki-laki yakni pada duburnya.[5] Imam al-Shan’ani (w. 1182 H) pun menegaskan bahwa dalam masalah ini tidak ada ruang ijtihad di dalamnya terlebih penyebutan ancaman dalam hadits ini tidak perlu diketahui dengan ijtihad[6], karena sesungguhnya masalah ini hukumnya jelas.
Penyifatan Allah tidak akan ’melihatnya’, yang berarti jauh dari rahmat dan pemeliharaan-Nya sudah cukup menunjukkan adanya celaan atas perbuatan dalam hadits yang mulia di atas. []




[1] HR. Ibnu Hibban menshahihkannya dalam Shahih-nya (X/267, hadits 4418) Syu’aib al-Arna’uth mengatakan: “Hadits ini sanadnya kuat memenuhi syarat Muslim”; Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (III/461, hadits 1165) ia mengatakan: “Hadits ini hasan gharib”; Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (IV/251), Al-Bazzar dalam Musnad-nya (XI/380, hadits 5212); Al-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubrâ’ (VIII/197, hadits 8952) Imam Ibn Daqiq al-‘Iid dalam Al-Ilmâm (II/660, hadits 1290) menyebutkan bahwa para perawinya tsiqah/shahih; Abu Ya’la dalam Musnad-nya (IV/266, hadits 2378) Husain Salim: “Hadits hasan”; Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Shaghîr (III/54, hadits 2482); Al-Tibrizi dalam Misykât al-Mashâbîh (II/953, hadits 3195).
[2] Muhammad bin ‘Ali al-Syawkani al-Yamani, Nayl al-Awthâr, Ed: ‘Ishamuddin al-Shibabathi, Mesir: Dâr al-Hadîts, Cet. I, 1413 H/1993, juz VI, hlm. 238.
[3] Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, Al-Kabâ’ir, Ed: al-Sayyid al-‘Arabi, Al-Manshurah: Dâr al-Khulafâ’, Cet. I, 1416 H/1995, hlm. 56.
[4] Syarfuddin al-Husain bin Abdullah Al-Thibi, Al-Kâsyif ’An Haqâ’iq al-Sunan Syarh Misykât al-Mashâbîh, Riyadh: Maktabah Nazzâr Mushthafâ al-Bâz, Cet. I, 1417 H, juz VII, hlm. 2038.
[5] Abu al-Hasan al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, Cet. I, 1422 H, juz VI, hlm. 2351.
[6] Muhammad bin Isma’il al-Amir al-Shan’ani, Subul al-Salâm, Maktabah Mushthafa al-Bâbi al-Halabi, Cet. IV, 1379 H/1960, juz III, hlm. 138.

Comments

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.