30 September 2015

Filosofi Pentingnya Sistem Pendidikan Berbasis Al-Qur’an dan Al-Sunnah (Al-Islam)


Irfan Abu Naveed
(Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan & Pemikiran Islam UIKA Bogor)

Pendidikan merupakan hal yang utama dalam kehidupan, ia adalah asas membina masyarakat dan sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan dalam pergulatan.[1] Dan pendidikan yang benar menjadi kunci tingginya suatu peradaban umat manusia. Luar biasanya al-Qur’an al-Karim dan al-Sunnah al-Syarifah pun berbicara mengenai pendidikan, termasuk karakteristik manusia terdidik yang setidaknya diwakili istilah ulul albâb yang tidak kurang disebutkan sebanyak 16 kali dalam al-Qur’an, dan di antaranya ditafsirkan oleh Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- dalam hadits-haditsnya yang mulia. Dan hal itu kian menjadi penting karena kedudukan al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjadi pedoman hidup manusia. Terlebih berangkat dari keprihatinan mendalam atas berbagai permasalahan yang mencoreng dunia pendidikan di negeri ini, maka sudah semestinya kita kembali merevitalisasi pendidikan Islam, hal itu karena Islam adalah solusi yang datang dari Rabb Semesta Alam.
Maka mengkaji dan menerapkan sistem pendidikan berbasis al-Qur’an dan al-Sunnah setidaknya dilatarbelakangi poin-poin penting berikut ini:
Pertama, Tidak ada satu huruf pun dalam al-Qur’an yang tidak bermakna, setidaknya hal itulah yang tersurat dalam ungkapan para pakar sastra arab, baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-, keagungannya tak disangsikan lagi terbukti dari masa Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- hingga saat ini, dimana al-Qur’an telah menarik perhatian banyak umat manusia karena ungkapan dan kandungan pesan-pesannya yang agung dari Allah Rabb Alam Semesta. Dr. Samih ’Athif Al-Zayn menuturkan:
القرآن هو الكتاب المنزل بلفظ عربي معجز، وحيًا تلقاه الرسول محمد-صلى الله عليه وسلم-. وهو كلام الله تعالى، نزل به الروح الأمين جبريل -عليه السلام- بألفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجة لمحمد -صلى الله عليه وسلم-على أنه رسول الله، وليكون مرجعًا للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته. وهو المدوَّن بين دفتَي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا نقلاً متواترًا.
Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan bahasa arab yang unggul[2], wahyu yang diterima oleh Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam-, dan ia adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla, turun melalui perantaraan Al-Rûh Al-Amîn Jibril –’alayhis salâm- dengan lafazh berbahasa arab dan makna-makna yang murni, sebagai bukti bahwa Muhammad  adalah utusan Allah, dan rujukan bagi manusia mengambil petunjuk dengan petunjuknya, dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya, tersusun di antara lembaran-lembaran mushhaf, diawali Surat al-Fatihah, ditutup dengan Surat An-Nâs, dan dinukil kepada kita secara mutawatir.”[3]

Salah seorang Dosen Tafsir (seorang doktor di bidang ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar) di tempat penyusun bekerja[4], Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshoury ketika kami berdiskusi mengenai ilmu balaghah dan tafsir al-Qur’an menuturkan:
لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ
“Setiap huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung pelbagai rahasia (kandungan makna).”
Maka tak heran jika ahli sastra arab Quraisy yang tetap mati dalam kekafiran, Al-Walid bin al-Mughirah pun tak mampu menyangkal keagungan ungkapan al-Qur’an sehingga ia tak kelu untuk berkata:
والله ما منكم رجل أعرف بالأشعار مني ولا أعلم برجزه وقصيده مني والله ما يشبه الذي يقوله شيئًا من هذا، والله إن لقوله الذي يقوله لحلاوة وإن عليه لطلاوة
“Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian (Bangsa Quraysi) yang lebih mengenal sya’ir-sya’ir dariku, dan tidak ada pula yang lebih mengetahui rajaz dan qashid-nya selain diriku, Demi Allah tidak ada satupun dari apa yang dibaca Muhammad menyerupai ini semua, Demi Allah sesungguhnya ungkapan yang disampaikannya sangat manis dan apa yang dituturkannya sangat indah.”[5]

            Padahal al-Walid bin Al-Mughirah adalah orang yang tidak beriman dan keras pada kekafirannya. I’jaz al-Quran itu terdapat dalam al-Quran itu sendiri. Orang yang telah mendengarkan Al-Qur’an, dan mendengarnya hingga hari kiamat akan terus merasa kagum dengan kekuatan daya tarik dan balaghah-nya, walaupun hanya sekedar mendengar satu kalimat saja dari al-Quran.[6] Dan penyusun tegaskan bahwa di antara ungkapan yang menarik untuk diperhatikan adalah frase ulul albâb yang disebutkan 16 kali dalam al-Qur’an, jumlah yang tidak sedikit dan menunjukkan bahwa frase ini penting untuk dipahami. Dimana frase ini merupakan salah satu frase yang menunjukkan karakteristik manusia yang beradab dan berperadaban, dan itu di gambarkan al-Qur'an. 
Kedua, Kedudukan al-Qur’an al-Karim merupakan petunjuk hidup manusia yang shâlih likulli makânin wa zamânin (sesuai di setiap tempat dan waktu) dan tanpanya manusia akan hidup tersesat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
{وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
            Makna frase (تبيانًا لكل شيء) adalah apa-apa yang dibutuhkan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh ath-Thabari[7], Imam ats-Tsa’labi[8], Imam Abu Bakr al-Jazairi[9] dan selain mereka dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an.
Maka sudah pasti kedudukan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia yang shâlih likulli makânin wa zamânin (sesuai di setiap tempat dan waktu) dan tanpanya manusia akan hidup tersesat. Dan salah satu kandungan al-Qur’an mengenai pendidikan adalah karakteristik manusia terdidik (ulul albâb), yang sudah semestinya dipelajari, ditela’ah, ditafakuri, ditadaburi dan diaplikasikan dalam kehidupan, waLlâhul Musta’ân.
Al-Qur’an merupakan pedoman utama hidup manusia, tanpa petunjuknya manusia berada dalam kegelapan, terlebih dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah seperti di zaman ini, dan sesungguhnya ia bagaikan apa yang dituturkan dalam sya’ir yang disebutkan Imam al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, hlm. 3:
كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه * يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا
كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها * يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا
“Bagaikan rembulan memalingkan perhatianmu memerhatikannya # memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”
“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya # yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”
Ketiga, Pendidikan yang terbukti berhasil membangkitkan suatu generasi yang sebelumnya berada dalam kegelapan jahiliyyah bisa bangkit memimpin peradaban umat manusia, ialah peradaban Islam yang dibangun oleh Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- dan para sahabatnya. Dan sang pendidik, Nabiyullah Muhammad al-Mushthafa shallallâhu ’alayhi wa sallam-, dan yang dididik yakni para sahabat –radhiyallâhu ’anhum- jelas dipuji oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam ayat-ayat-Nya yang agung. Tentang sang pendidik al-Mushthafa shallallâhu ’alayhi wa sallam-, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 21)
Allah yang memberikan pujian, menunjukkan kebenaran pihak yang dipuji, karena Allah al-’Alîm yang Maha Benar tidak mungkin keliru dalam menilai hamba-Nya, dimana Dia memberikan predikat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ’alayhi wa sallam- sebagai uswah hasanah (teladan yang baik) bagi kita, yang disebut Imam al-Baghawi (w. 516 H) sebagai qudwah shâlihah (panutan yang shalih).[10]
Di sisi lain, Allah ’Azza wa Jalla pun memuji para sahabat dalam firman-Nya:
{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allâh.” (QS. Al-Tawbah [9]: 100)
            Pujian tersebut hanya ditujukan kepada para sahabat. Sebab, makna ayat tersebut menunjukkan maksud ini.[11] Pujian ini ditujukan kepada mereka semuanya, dimana orang yang dipuji Allâh pasti benar dan Allâh takkan salah dalam memberikan pujian pada hamba-hamba-Nya.[12] Dari ’Abdullah radhiyallâhu ’anhu-, ia berkata: :
«خَيْرُ أُمَّتِي الْقَرْنُ الَّذِينَ يَلُونِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baiknya generasi umatku adalah generasiku, kemudian setelahnya, dan setelahnya.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban, dll)[13]

Para ulama pun bersepakat bahwa sebaik-baiknya generasi adalah generasi Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- dan para sahabat.[14] Maka jelas bahwa Allah ’Azza wa Jalla telah memuji sang pendidik dan yang telah dididik, sejarah pun mencatat bahwa tidak ada prestasi pendidikan yang lebih agung daripada prestasi yang ditorehkan Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- yang mampu mengubah masyarakat yang sebelumnya tenggelam dalam gelapnya jahiliyah menjadi masyarakat yang bangkit dengan Islam.
Keempat, Kedudukan al-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam setelah al-Qur’an al-Karim, ia pun disifati sebagai hikmah disandingkan setelah al-Qur’an al-Karim:
{هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ}
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan al-Hikmah (Al-Sunnah), dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2)
Sulthanul Ulama ’Izzuddin bin ’Abdissalam (w. 660 H) [15] dan Imam al-Nasafi (w. 710 H)[16] menafsirkan al-hikmah dalam ayat tersebut yakni al-sunnah. Di sisi lain, apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- mengandung jawâmi’ al-kalim, dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu-, Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَبَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الأَرْضِ، فَوُضِعَتْ فِي يَدَيَّ
“Aku diutus dengan jawâmi’ al-kalim, dan ditolong dengan adanya rasa takut (pada musuh), dan ketika aku tertidur didatangkan kepadaku kunci-kunci pembendaharaan bumi, dan diletakkan pada kedua tanganku.” (HR. Muslim, al-Bukhari dll)[17]
Yang dimaksud dengan jawâmi’ al-kalim bahwa Allah mengumpulkan bagi beliau shallallâhu ’alayhi wa sallam- banyak hal yang tertulis dalam kitab-kitab sebelumnya dalam satu atau dua hal saja.[18] Yakni sabda beliau shallallâhu ’alayhi wa sallam- sedikit kata-katanya namun penuh dengan makna.[19] Artinya ringkas padat penuh makna. Dan mengkaji hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- secara mendalam untuk memetik buah manis pendidikan darinya termasuk ke dalam keumuman hadits Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ    
“Sesungguhnya ilmu hanya bisa diraih dengan cara belajar.” (HR. Al-Thabrani dan Abu Nu’aim)[20]
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani mengomentari hadits ini menjelaskan: “(Yakni ilmu) yang diambil dari para nabi dan para pewaris mereka (para ulama) dengan cara belajar.”[21]
Dan penelitian merupakan salah satu proses pembelajaran, dimana di antara penjabarannya adalah mengkaji hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- yang dianugerahi jawâmi’ al-kalim untuk meraih intisari konsep pendidikan sebaik-baiknya generasi umat terbaik (khayr al-qurûn); baik yang tersurat maupun tersirat. Dan kita sebagaimana dituturkan sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan lainnya:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[22]
Maka mengkaji, menela’ah, memahami dan merealisasikan sistem pendidikan Islam berbasis al-Qur’an dan al-Sunnah yang dipraktikkan oleh Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- merupakan hal yang urgen dan mendesak.






[1] Anwar Al-Jundi, Al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah Hiya al-Ithâr al-Haqîqiy li al-Ta’allum, Kairo: Dâr al-Anshâr.
[2] Yakni mampu mengalahkan bantahan-bantahan atau tantangan-tantangan kaum penentang (kuffar) atasnya.
[3] Dr. Samih ‘Athif az-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr al-Kitâb al-Mishri, Cet. I, 1410 H, hlm. 308.
[4] Kulliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât Al-Islâmiyyah – Jâmi’atur-Râyah.
[5] Al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim an-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. VI, 1424 H, jilid I, hlm. 170.
[6] Ibid.
[7] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, jilid XVII, hlm. 278.
[8] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim ats-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37
[9] Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar al-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabiir, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, Cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.
[10] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, Dâr Thayyibah, Cet. IV, 1417 H, hlm. 420.
[11] Abu al-Barakat ’Abdullah bin Ahmad Al-Nasafi, Tafsiir al-Nasafi (Madârik al-Tanzîl wa Haqâ’iq al-Ta’wiil), Ed: Yusuf ’Ali Badawi, Beirut: Dâr al-Kalam al-Thayyib, Cet. I, 1419 H/1998, juz I, hlm. 705.
[12] Hafidz Abdurrahman MA, Diskursus Islam Politik dan Spiritual, Bogor: Al-Azhar Press, Cet. II, 1428 H.
[13] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (VII/184, hadits 6560); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (XVI/206, hadits 7223); Al-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubrâ’ (X/373, hadits 11750).
[14] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, Cet. II, 1392 H, juz XVI, hlm. 84.
[15] ’Izzuddin ’Abdul ’Aziz bin ’Abdussalam, Tafsîr al-Qur’ân, Ed: Dr. ’Abdullah bin Ibrahim,  Beirut: Dâr Ibn Hazm, Cet. I, 1416 H/1996, juz III, hlm. 317.
[16] Abu al-Barakat ’Abdullah bin Ahmad Al-Nasafi, Tafsîr al-Nasafi (Madârik al-Tanzîl wa Haqâ’iq al-Ta’wîl), juz III, hlm. 480.
[17] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (II/64, hadits 1104); al-Bukhari dalam Shahiih-nya (III/1087, hadits 2815); Ibnu Hibban dalam Shahiih-nya (XIV/277, hadits 6363); dan lainnya.
[18] Ibnu Bathal Abu al-Hasan ’Ali bin Khalaf, Syarh Shahîh al-Bukhâri, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, Cet. II, 1423 H/2003, juz IX, hlm. 535.
[19] Abu Zakariya bin Syarf al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, juz V, hlm. 5.
[20] HR. Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabîr (XIX/395, hadits 929) dari Mu’awiyyah bin Abu Sufyan (Al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dalam Al-Fath (I/161), Badruddin al-’Aini dalam al-’Umdah (II/42), Al-Qashthalani dalam al-Irsyâd (I/168), dan Dr. Mushthafa al-Bugha’ menyebut sanad hadits ini hasan) & Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliyâ’ (V/174) hadits dari Abu Darda’.
[21] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz I, hlm. 161; Mahmud bin Ahmad Badruddin al-’Ayni, ’Umdah al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, juz II, hlm. 42; Muhammad bin Isma’il ’Izzuddin al-Shan’ani, Al-Tanwîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabah Dâr al-Salâm, Cet. I, 1432 H, juz IV, hlm. 185.
[22] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadriib al-Râwi fii Syarh Taqriib al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.