30 September 2015

Serial Bantahan Atas Kaum Liberal Mengenai LGBT (Kajian Hadits) (Bag. III)

Irfan Abu Naveed
(Staff STIBA Ar-Raayah, Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia)

Islam merupakan ajaran yang agung memuliakan manusia dengan ajaran-ajarannya yang mulia, dan memperingatkan mereka dari segala keburukan, kemungkaran dan perbuatan keji. Dan mengenai perbuatan keji laki-laki yang mendatangi laki-laki dari duburnya, telah jelas penyimpangannya, dan itu ditunjukkan dalam hadits-hadits yang mulia Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, salah satunya:

Teks & Takhrij Hadits:
            Dari Ibnu ’Abbas –radhiyallâhu ’anhu-, berkata: ”Rasulullahshallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«لا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا»
“Allah tidak akan melirik laki-laki yang mendatangi laki-laki lainnya atau mendatangi perempuan pada duburnya.” (HR. Ibnu Hibban, al-Tirmidzi dll)[1]

Penjelasan Mufradat

Pertama, Pengertian al-dubur. Imam al-Syawkai (w. 1250 H) menjelaskan:
الدُّبُرُ فِي أَصْلِ اللُّغَةِ اسْمٌ لِخِلَافِ الْوَجْهِ
”Al-Dubur asal bahasanya adalah kata benda kebalikan dari wajah (bagian depan), tidak dikhususkan dengan saluran pengeluaran.”[2]
            Al-Syawkani pun menukil dalil firman Allah ’Azza wa Jalla:
وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ
”Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu.” (QS. Al-Anfâl [8]: 16)

Kedua, Kata atâ dalam hadits ini adalah kiasan dari jimak atau hubungan seksual.
            Maka para ulama pun menukil dalil ini sebagai dalil keharaman hubungan homoseksual laki-laki, hubungan seksual dengan perempuan dari duburnya. Diantaranya al-Hafizh al-Dzahabi (w. 748 H) dalam kitab al-Kabâ’ir[3], dan Imam Muhammad bin al-Husain al-Ajurri al-Baghdadi (w. 360 H) dalam kitab Dzamm al-Liwâth (tercelanya perbuatan liwâth), Imam al-Thibi (w. 743 H) dalam kitab Syarh Misykât al-Mashâbîh[4] dan lainnya.

Faidah Hadits
Imam al-Mala’ al-Qari’ (w. 1041 H) menjelaskan bahwa pandangan tersebut adalah pandangan rahmat dan pemeliharaan. Dan yang dimaksud mendatangi laki-laki yakni pada duburnya.[5] Imam al-Shan’ani (w. 1182 H) pun menegaskan bahwa dalam masalah ini tidak ada ruang ijtihad di dalamnya terlebih penyebutan ancaman dalam hadits ini tidak perlu diketahui dengan ijtihad[6], karena sesungguhnya masalah ini hukumnya jelas.
Penyifatan Allah tidak akan ’melihatnya’, yang berarti jauh dari rahmat dan pemeliharaan-Nya sudah cukup menunjukkan adanya celaan atas perbuatan dalam hadits yang mulia di atas. []




[1] HR. Ibnu Hibban menshahihkannya dalam Shahih-nya (X/267, hadits 4418) Syu’aib al-Arna’uth mengatakan: “Hadits ini sanadnya kuat memenuhi syarat Muslim”; Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (III/461, hadits 1165) ia mengatakan: “Hadits ini hasan gharib”; Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (IV/251), Al-Bazzar dalam Musnad-nya (XI/380, hadits 5212); Al-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubrâ’ (VIII/197, hadits 8952) Imam Ibn Daqiq al-‘Iid dalam Al-Ilmâm (II/660, hadits 1290) menyebutkan bahwa para perawinya tsiqah/shahih; Abu Ya’la dalam Musnad-nya (IV/266, hadits 2378) Husain Salim: “Hadits hasan”; Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Shaghîr (III/54, hadits 2482); Al-Tibrizi dalam Misykât al-Mashâbîh (II/953, hadits 3195).
[2] Muhammad bin ‘Ali al-Syawkani al-Yamani, Nayl al-Awthâr, Ed: ‘Ishamuddin al-Shibabathi, Mesir: Dâr al-Hadîts, Cet. I, 1413 H/1993, juz VI, hlm. 238.
[3] Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, Al-Kabâ’ir, Ed: al-Sayyid al-‘Arabi, Al-Manshurah: Dâr al-Khulafâ’, Cet. I, 1416 H/1995, hlm. 56.
[4] Syarfuddin al-Husain bin Abdullah Al-Thibi, Al-Kâsyif ’An Haqâ’iq al-Sunan Syarh Misykât al-Mashâbîh, Riyadh: Maktabah Nazzâr Mushthafâ al-Bâz, Cet. I, 1417 H, juz VII, hlm. 2038.
[5] Abu al-Hasan al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, Cet. I, 1422 H, juz VI, hlm. 2351.
[6] Muhammad bin Isma’il al-Amir al-Shan’ani, Subul al-Salâm, Maktabah Mushthafa al-Bâbi al-Halabi, Cet. IV, 1379 H/1960, juz III, hlm. 138.

Filosofi Pentingnya Metode & Pendekatan Pendidikan Islam

Irfan Abu Naveed
(Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam UIKA Bogor)

Pertama, Pentingnya memahami metode dan pendekatan pendidikan Islam ini, sama pentingnya seperti ketika seseorang ditanya mengenai ayat yang agung ini:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا} 
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. Al-Tahrîm [66]: 6)
              Al-Hafizh Ibn al-Jawzi ketika menafsirkan ayat ini menukil atsar ’Ali bin Abi Thalib –radhiyallâhu ’anhu- yang berkata:

علِّموهم وأدِّبوهم
“Ajari dan didiklah mereka.” [1]
Pertanyaan mendasarnya, “how to teach?” Yakni bagaimana cara mendidik mereka sehingga sampai kepada inti menjaga atau memelihara diri dan mereka (keluarga) terhindari dari dosa dan kemaksiatan yang balasannya siksa api neraka?[2] Pertanyaan dan jawaban tersebut tentu berkenaan erat dengan metode dan pendekatan pendidikan Islam.
Dan menariknya, al-Qur’an dan al-Sunnah secara tersurat dan tersirat sebenarnya sudah menjelaskan metode dan pendekatan pendidikan. Dan metode atau pendekatan pendidikan itu sendiri sangat penting untuk dipahami karena bagian dari proses pendidikan yang merupakan komponen utama penentu output pendidikan dan output ini merupakan salah satu tolak ukur mengukur keberhasilan pencapaian tujuan akhir pendidikan.
Dan pentingnya mempelajari metode dan pendekatan pendidikan adalah bagian dari anjuran proses pendidikan dalam hadits ini: Dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ’anhu-, ia berkata: “Aku mendengar Nabi shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ
Sesungguhnya ilmu hanya bisa diraih dengan cara belajar. (HR. Al-Thabrani dan lainnya)[3]
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani mengomentari hadits ini menjelaskan: “(Yakni ilmu) yang diambil dari para nabi dan para pewaris mereka (para ulama) dengan cara belajar.”[4]
Teks hadits di atas pun menggunakan redaksi qashr (pengkhususan), dimana dalam tinjauan ilmu balaghah; hadits ini menegaskan bahwa ilmu hanya bisa diraih dengan proses belajar. Namun, proses belajar dalam konteks hadits ini tak terbatas pada pembelajaran formal di lembaga pendidikan.
Dalam struktur keilmuan, memahami metode dan pendekatan pendidikan Islam ini pun bisa diasumsikan sebagai bagian dari apa yang disebutkan Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i sebagai harfa ’ilm[in] dalam sya’irnya:
تَعَلَّمْ ما استطعتَ تكُنْ أَمِيرا * ولا تَكُن جاهلاً تبقى أَسِيرا
تَعَلَّمْ كلَّ يومٍ حَرْفَ عِلْم * تَرَ الجُهَّالَ كُلُّهُم حَمِيرا
Belajarlah dengan segenap kemampuanmu maka engkau akan menjadi pemimpin (yang terdepan-pen.) # Dan janganlah engkau menjadi orang yang bodoh tetap menjadi orang yang tertawan (tidak berkembang-pen.).”
Belajarlah kalian setiap hari huruf demi huruf ilmu # engkau akan melihat orang-orang bodoh mereka semua adalah orang pandir.”[5]

Kedua, Di sisi lain tanpa proses pendidikan, manusia akan tersesat dalam kelamnya kebodohan dan gelapnya kebutaan, sehingga hidup bagaikan binatang ternak bahkan lebih sesat daripada binatang ternak, hal itu sebagaimana diisyaratkan dalam ayat yang agung ini:

{وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ}
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’râf [7]: 179)
            Kata-kata yang berkenaan dengan akal dan pancaindera dalam ayat ini menggunakan kata kerja al-mudhâri’, mengisyaratkan adanya proses. Menafsirkan ayat ini, al-Hafizh Abu Ja’far al-Thabari (w. 310 H) menuturkan:
(Mereka seperti binatang) mereka yang masuk jahannam, seperti binatang ternak, yakni binatang yang tidak bisa memahami perkataan yang disampaikan padanya, tidak memahami apa yang diperlihatkan kepadanya berupa hal-hal yang berguna atau tidak berguna baginya, dan tidak bisa berpikir dengan qalbunya berupa kebaikan bedanya dengan keburukan sehingga bisa memisahkan keduanya, maka Allah menyerupakan mereka dengan binatang-binatang tersebut, ketika mereka tidak memikirkan apa-apa yang mereka lihat dengan pandangan mata mereka berupa hujjah-hujjah atas kebenaran-Nya, dan tidak berpikir atas apa yang mereka dengar dari ayat-ayat Kitab Suci-Nya. Kemudian Allah berfirman: (Bahkan mereka lebih sesat), mereka adalah orang-orang kafir yang masuk jahannam, paling kuat berpalingnya dari kebenaran, dan paling kokoh di jalan kebatilan daripada binatang-binatang itu, karena binatang-binatang tersebut tidak ada pilihan baginya dan tidak bisa membedakan (baik dan buruk-pen) yang dengannya sehingga ia bisa memilih dan membedakan, sesungguhnya binatang-binatang tersebut hanyalah objek sasaran, di sisi lain mereka mau melarikan diri dari hal-hal yang membahayakan, dan mencari makanan yang sesuai bagi diri mereka. Dan mereka yang Allah sifati dengan sifat dalam ayat ini, dengan potensi dari kemampuan memahami, akal yang mampu membedakan antara yang bermanfaat dan berbahaya, namun mereka meninggalkan apa-apa yang mengandung kebaikan bagi dunia dan akhiratnya, bahkan malah mencari apa-apa yang mengandung bahaya bagi mereka, maka binatang-binatang ternak tersebut lebih terjaga dari mereka, maka mereka lebih sesat daripada binatang-binatang ternak, sebagaimana Rabb kita Yang Maha Terpuji menyifati mereka dengannya.”[6]
            Dari penjelasan panjang lebar berharga dari al-Hafizh al-Thabari di atas, kita menemukan bahwa melupakan potensi akal untuk berpikir, dan pancaindera untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya dimana akal dan pancaindera merupakan dua potensi manusia untuk menjalani proses pendidikan, dan mengabaikan potensinya untuk pendidikan diri dan orang lain merupakan hal berbahaya dan bisa dikatakan tercela, itulah yang diisyaratkan pula al-Hafizh Ibn ‘Abd al-Bar al-Andalusi (w. 463 H) dalam sya’irnya:
أأخي إن من الرجال بهيمة * في صورة الرجل السميع المبصر
فطن لكل مصيبة في مالــه * وإذا يصاب بدينه لـم يشعــر
“Wahai saudaraku, diantara manusia ada bagaikan binatang # Dalam rupa seseorang yang mampu mendengar nan berwawasan”
“Ia peka atas setiap musibah yang menimpa harta bendanya # Namun jika musibah menimpa agamanya tiada terasa.”[7]
            Bahayanya pun seperti ungkapan dalam bait-bait Iliya Abi Madhi -yang lantas dibantah oleh Syaikh Fathi Salim dalam salau satu kitab khusus-, bait-bait yang menggambarkan kondisi pemuda yang tenggelam dalam kejahilan:
جئتُ لا أعلم من أين * ولكني أَتيْتُ
ولقد أبصرتُ طريقًا * قُدَّامي فَمَشَيْتُ
وسَأبقى سَائرًا * شِئْتُ هذا أم أَبَيْتُ
كيف أَبصرتُ طريقي * كيف جِئتُ
لستُ أدري
ولماذا لستُ أدري * لستُ أدري
Aku telah datang namun entah dari mana # Tapi aku telah tiba”
Sungguh telah kulihat sebuah jalan # dihadapanku maka aku berjalan”
Dan aku tetap seseorang yang berjalan # aku kehendaki hal ini atau aku enggan”
Dan bagaimana kulihat jalanku # bagaimana tibanya diriku”
Aku tak tahu”
Dan mengapa aku tak tahu # aku tak tahu”[8]

Ketiga, Memahami filosofi metode dan pendekatan pendidikan Islam bisa dikatakan sebagai bagian dari upaya memahami salah satu unsur penting pendidikan Islam itu sendiri, dan memahami pendidikan Islam adalah salah satu upaya untuk memahami komperhensifitas ajaran Islam. Karena Islam, sebagaimana dijelaskan para ulama di antaranya al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani:
“Islam adalah din yang Allah turunkan kepada Sayyidina Muhammad shallallâhu ’alayhi wa sallam-, untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Pencipta-Nya, dirinya sendiri dan sesama manusia. Hubungan manusia dan Pencipta-Nya mencakup akidah dan peribadahan-peribadahan; hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup akhlak, makanan dan pakaian; hubungan manusia dengan sesama manusia mencakup mu’amalah, dan hukum-hukum persanksian. Maka Al-Islam adalah ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan.”[9]
Maka memahami metode dan pendekatan pendidikan Islam merupakan hal urgen dan mendesak, karena itu semua satu kesatuan yang tak bisa dipisah-pisahkan (sistem) dari pendidikan Islam dan pendidikan Islam merupakan bagian dari sistem Islam, seperti sebuah kendaraan roda empat yang terdiri dari berbagai komponen penting; dari mulai hal terluar (body) hingga unsur-unsur kecil yang menunjang mesin seperti baut, aki, tangki bahan bakar dan lain sebagainya yang tak bisa dianggap sepele. Prof. Dr. ’Abdul Karim Bakkar pun menegaskan bahwa pendidikan itu sendiri adalah bagian dari sistem kehidupan yang tidak berdiri sendiri baik sisi ideologi, ekonomi, akhlak, dan lainnya.[10] Dan ia merupakan uslub (cara) untuk membentuk seorang insan sejak permulaan masa pertumbuhan.[11]
Jika memahami ajaran Islam termasuk konsep pendidikan dalam Islam hukumnya wajib, maka memahami sarana yang mengantarkan pada tujuan pendidikan Islam pun hukumnya wajib. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam kaidah syar’iyyah:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Apa-apa yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.[12]           
            Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra (w. 458 H) ketika menjelaskan kaidah ini menuturkan bahwa jika Allah sudah memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan suatu perbuatan dan Allah mewajibkannya, di sisi lain apa yang diperintahkan tersebut tidak akan tercapai kecuali dengan melakukan hal lainnya; maka wajib atasnya setiap perbuatan jika tidak akan terpenuhi pelaksanaan suatu kewajiban kecuali dengannya.[13]
            Dan sebagaimana diungkapkan Imam al-Qarafi (w. 684 H) yang berkata:
وجوب الوسائل تبع لوجوب المقاصد
Wajibnya sarana-sarana mengikuti wajibnya tujuan-tujuan.”[14]
            Pendidikan Islam bertujuan membentuk peserta didik yang berkepribadian Islam, jika hal itu tak bisa terwujud kecuali dengan menerapkan metode dan pendekatan pendidikan Islam, maka melaksanakan metode dan pendekatan pendidikan Islam ini pun hukumnya wajib, dan mendalaminya hukumnya wajib secara kifayah.
والله أعلم بالصواب



[1] Jamaluddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jawzi, Zâd al-Muyassar fî ’Ilm at-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Kitâb al-Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid IV, hlm. 310.
[2] Ungkapan dalam ayat ini menggunakan uslub majâz.
[3] HR. Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabîr (XIX/395, hadits 929) dari Mu’awiyyah bin Abu Sufyan (Al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dalam Al-Fath (I/161), Badruddin al-’Aini dalam al-’Umdah (II/42), Al-Qashthalani dalam al-Irsyâd (I/168), dan Dr. Mushthafa al-Bugha’ menyebut sanad hadits ini hasan).
[4] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz I, hlm. 161; Mahmud bin Ahmad Badruddin al-’Ayni, ’Umdah al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, juz II, hlm. 42; Muhammad bin Isma’il ’Izzuddin al-Shan’ani, Al-Tanwîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabah Dâr al-Salâm, Cet. I, 1432 H, juz IV, hlm. 185.
[5] ’Abd al-Rahman al-Mushthawi, Dîwân al-Imâm al-Syâfi’i, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Cet. III, 1426 H, Qafiyyatur-Râ’, hlm. 55.
[6] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz XIII, hlm. 280-281.
[7] Ibn ‘Abd al-Bar al-Andalusi, Bahjatul-Majâlis wa Unsul-Majâlis, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, jilid I, hlm. 169.
[8] Dr. Abdullah al-Khathir, Al-Iltizâm bi al-Islâm: Marâhîl wa ‘Uqbât, Majallatul Bayân, Cet. I, 1420 H, hlm. 10-11.
[9] Al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim, Nizhâm Al-Islâm, Beirut: Dar al-Ummah, 1953, hlm. 34.
[10] Prof. Dr. ‘Abdul Karim Bakkar, Hawla al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah, Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. III, 1432 H, hlm. 17.
[11] Ibid, hlm. 20.
[12] Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra, Al-‘Iddatu fii Ushûl al-Fiqh, Ed: Dr. Ahmad bin ‘Ali, Cet. II, Tahun 1410 H, juz. II, hlm. 419; Sulaiman bin ‘Abdul Qawiy bin al-Thufi Najmud Din, Syarh Mukhtashar al-Rawdhah, Mu’assasatur Risalah, Cet. I, Tahun 1407 H, juz I, hlm. 314; Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Cet. I, Tahun 1411 H, juz. II, hlm. 88.
[13] Ibid.
[14] Abu al-‘Abbas Syihabuddin Ahmad al-Qarafi, Al-Furûq: Anwâr al-Burûq fî Anwâi al-Furûq, ‘Alam al-Kutub, juz I, hlm. 166.

Filosofi Pentingnya Sistem Pendidikan Berbasis Al-Qur’an dan Al-Sunnah (Al-Islam)


Irfan Abu Naveed
(Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan & Pemikiran Islam UIKA Bogor)

Pendidikan merupakan hal yang utama dalam kehidupan, ia adalah asas membina masyarakat dan sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan dalam pergulatan.[1] Dan pendidikan yang benar menjadi kunci tingginya suatu peradaban umat manusia. Luar biasanya al-Qur’an al-Karim dan al-Sunnah al-Syarifah pun berbicara mengenai pendidikan, termasuk karakteristik manusia terdidik yang setidaknya diwakili istilah ulul albâb yang tidak kurang disebutkan sebanyak 16 kali dalam al-Qur’an, dan di antaranya ditafsirkan oleh Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- dalam hadits-haditsnya yang mulia. Dan hal itu kian menjadi penting karena kedudukan al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjadi pedoman hidup manusia. Terlebih berangkat dari keprihatinan mendalam atas berbagai permasalahan yang mencoreng dunia pendidikan di negeri ini, maka sudah semestinya kita kembali merevitalisasi pendidikan Islam, hal itu karena Islam adalah solusi yang datang dari Rabb Semesta Alam.
Maka mengkaji dan menerapkan sistem pendidikan berbasis al-Qur’an dan al-Sunnah setidaknya dilatarbelakangi poin-poin penting berikut ini:
Pertama, Tidak ada satu huruf pun dalam al-Qur’an yang tidak bermakna, setidaknya hal itulah yang tersurat dalam ungkapan para pakar sastra arab, baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-, keagungannya tak disangsikan lagi terbukti dari masa Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- hingga saat ini, dimana al-Qur’an telah menarik perhatian banyak umat manusia karena ungkapan dan kandungan pesan-pesannya yang agung dari Allah Rabb Alam Semesta. Dr. Samih ’Athif Al-Zayn menuturkan:
القرآن هو الكتاب المنزل بلفظ عربي معجز، وحيًا تلقاه الرسول محمد-صلى الله عليه وسلم-. وهو كلام الله تعالى، نزل به الروح الأمين جبريل -عليه السلام- بألفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجة لمحمد -صلى الله عليه وسلم-على أنه رسول الله، وليكون مرجعًا للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته. وهو المدوَّن بين دفتَي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا نقلاً متواترًا.
Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan bahasa arab yang unggul[2], wahyu yang diterima oleh Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam-, dan ia adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla, turun melalui perantaraan Al-Rûh Al-Amîn Jibril –’alayhis salâm- dengan lafazh berbahasa arab dan makna-makna yang murni, sebagai bukti bahwa Muhammad  adalah utusan Allah, dan rujukan bagi manusia mengambil petunjuk dengan petunjuknya, dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya, tersusun di antara lembaran-lembaran mushhaf, diawali Surat al-Fatihah, ditutup dengan Surat An-Nâs, dan dinukil kepada kita secara mutawatir.”[3]

Salah seorang Dosen Tafsir (seorang doktor di bidang ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar) di tempat penyusun bekerja[4], Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshoury ketika kami berdiskusi mengenai ilmu balaghah dan tafsir al-Qur’an menuturkan:
لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ
“Setiap huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung pelbagai rahasia (kandungan makna).”
Maka tak heran jika ahli sastra arab Quraisy yang tetap mati dalam kekafiran, Al-Walid bin al-Mughirah pun tak mampu menyangkal keagungan ungkapan al-Qur’an sehingga ia tak kelu untuk berkata:
والله ما منكم رجل أعرف بالأشعار مني ولا أعلم برجزه وقصيده مني والله ما يشبه الذي يقوله شيئًا من هذا، والله إن لقوله الذي يقوله لحلاوة وإن عليه لطلاوة
“Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian (Bangsa Quraysi) yang lebih mengenal sya’ir-sya’ir dariku, dan tidak ada pula yang lebih mengetahui rajaz dan qashid-nya selain diriku, Demi Allah tidak ada satupun dari apa yang dibaca Muhammad menyerupai ini semua, Demi Allah sesungguhnya ungkapan yang disampaikannya sangat manis dan apa yang dituturkannya sangat indah.”[5]

            Padahal al-Walid bin Al-Mughirah adalah orang yang tidak beriman dan keras pada kekafirannya. I’jaz al-Quran itu terdapat dalam al-Quran itu sendiri. Orang yang telah mendengarkan Al-Qur’an, dan mendengarnya hingga hari kiamat akan terus merasa kagum dengan kekuatan daya tarik dan balaghah-nya, walaupun hanya sekedar mendengar satu kalimat saja dari al-Quran.[6] Dan penyusun tegaskan bahwa di antara ungkapan yang menarik untuk diperhatikan adalah frase ulul albâb yang disebutkan 16 kali dalam al-Qur’an, jumlah yang tidak sedikit dan menunjukkan bahwa frase ini penting untuk dipahami. Dimana frase ini merupakan salah satu frase yang menunjukkan karakteristik manusia yang beradab dan berperadaban, dan itu di gambarkan al-Qur'an. 
Kedua, Kedudukan al-Qur’an al-Karim merupakan petunjuk hidup manusia yang shâlih likulli makânin wa zamânin (sesuai di setiap tempat dan waktu) dan tanpanya manusia akan hidup tersesat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
{وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
            Makna frase (تبيانًا لكل شيء) adalah apa-apa yang dibutuhkan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh ath-Thabari[7], Imam ats-Tsa’labi[8], Imam Abu Bakr al-Jazairi[9] dan selain mereka dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an.
Maka sudah pasti kedudukan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia yang shâlih likulli makânin wa zamânin (sesuai di setiap tempat dan waktu) dan tanpanya manusia akan hidup tersesat. Dan salah satu kandungan al-Qur’an mengenai pendidikan adalah karakteristik manusia terdidik (ulul albâb), yang sudah semestinya dipelajari, ditela’ah, ditafakuri, ditadaburi dan diaplikasikan dalam kehidupan, waLlâhul Musta’ân.
Al-Qur’an merupakan pedoman utama hidup manusia, tanpa petunjuknya manusia berada dalam kegelapan, terlebih dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah seperti di zaman ini, dan sesungguhnya ia bagaikan apa yang dituturkan dalam sya’ir yang disebutkan Imam al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, hlm. 3:
كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه * يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا
كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها * يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا
“Bagaikan rembulan memalingkan perhatianmu memerhatikannya # memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”
“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya # yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”
Ketiga, Pendidikan yang terbukti berhasil membangkitkan suatu generasi yang sebelumnya berada dalam kegelapan jahiliyyah bisa bangkit memimpin peradaban umat manusia, ialah peradaban Islam yang dibangun oleh Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- dan para sahabatnya. Dan sang pendidik, Nabiyullah Muhammad al-Mushthafa shallallâhu ’alayhi wa sallam-, dan yang dididik yakni para sahabat –radhiyallâhu ’anhum- jelas dipuji oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam ayat-ayat-Nya yang agung. Tentang sang pendidik al-Mushthafa shallallâhu ’alayhi wa sallam-, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 21)
Allah yang memberikan pujian, menunjukkan kebenaran pihak yang dipuji, karena Allah al-’Alîm yang Maha Benar tidak mungkin keliru dalam menilai hamba-Nya, dimana Dia memberikan predikat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ’alayhi wa sallam- sebagai uswah hasanah (teladan yang baik) bagi kita, yang disebut Imam al-Baghawi (w. 516 H) sebagai qudwah shâlihah (panutan yang shalih).[10]
Di sisi lain, Allah ’Azza wa Jalla pun memuji para sahabat dalam firman-Nya:
{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allâh.” (QS. Al-Tawbah [9]: 100)
            Pujian tersebut hanya ditujukan kepada para sahabat. Sebab, makna ayat tersebut menunjukkan maksud ini.[11] Pujian ini ditujukan kepada mereka semuanya, dimana orang yang dipuji Allâh pasti benar dan Allâh takkan salah dalam memberikan pujian pada hamba-hamba-Nya.[12] Dari ’Abdullah radhiyallâhu ’anhu-, ia berkata: :
«خَيْرُ أُمَّتِي الْقَرْنُ الَّذِينَ يَلُونِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baiknya generasi umatku adalah generasiku, kemudian setelahnya, dan setelahnya.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban, dll)[13]

Para ulama pun bersepakat bahwa sebaik-baiknya generasi adalah generasi Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- dan para sahabat.[14] Maka jelas bahwa Allah ’Azza wa Jalla telah memuji sang pendidik dan yang telah dididik, sejarah pun mencatat bahwa tidak ada prestasi pendidikan yang lebih agung daripada prestasi yang ditorehkan Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- yang mampu mengubah masyarakat yang sebelumnya tenggelam dalam gelapnya jahiliyah menjadi masyarakat yang bangkit dengan Islam.
Keempat, Kedudukan al-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam setelah al-Qur’an al-Karim, ia pun disifati sebagai hikmah disandingkan setelah al-Qur’an al-Karim:
{هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ}
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan al-Hikmah (Al-Sunnah), dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2)
Sulthanul Ulama ’Izzuddin bin ’Abdissalam (w. 660 H) [15] dan Imam al-Nasafi (w. 710 H)[16] menafsirkan al-hikmah dalam ayat tersebut yakni al-sunnah. Di sisi lain, apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- mengandung jawâmi’ al-kalim, dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu-, Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَبَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الأَرْضِ، فَوُضِعَتْ فِي يَدَيَّ
“Aku diutus dengan jawâmi’ al-kalim, dan ditolong dengan adanya rasa takut (pada musuh), dan ketika aku tertidur didatangkan kepadaku kunci-kunci pembendaharaan bumi, dan diletakkan pada kedua tanganku.” (HR. Muslim, al-Bukhari dll)[17]
Yang dimaksud dengan jawâmi’ al-kalim bahwa Allah mengumpulkan bagi beliau shallallâhu ’alayhi wa sallam- banyak hal yang tertulis dalam kitab-kitab sebelumnya dalam satu atau dua hal saja.[18] Yakni sabda beliau shallallâhu ’alayhi wa sallam- sedikit kata-katanya namun penuh dengan makna.[19] Artinya ringkas padat penuh makna. Dan mengkaji hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- secara mendalam untuk memetik buah manis pendidikan darinya termasuk ke dalam keumuman hadits Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ    
“Sesungguhnya ilmu hanya bisa diraih dengan cara belajar.” (HR. Al-Thabrani dan Abu Nu’aim)[20]
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani mengomentari hadits ini menjelaskan: “(Yakni ilmu) yang diambil dari para nabi dan para pewaris mereka (para ulama) dengan cara belajar.”[21]
Dan penelitian merupakan salah satu proses pembelajaran, dimana di antara penjabarannya adalah mengkaji hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- yang dianugerahi jawâmi’ al-kalim untuk meraih intisari konsep pendidikan sebaik-baiknya generasi umat terbaik (khayr al-qurûn); baik yang tersurat maupun tersirat. Dan kita sebagaimana dituturkan sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan lainnya:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[22]
Maka mengkaji, menela’ah, memahami dan merealisasikan sistem pendidikan Islam berbasis al-Qur’an dan al-Sunnah yang dipraktikkan oleh Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- merupakan hal yang urgen dan mendesak.






[1] Anwar Al-Jundi, Al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah Hiya al-Ithâr al-Haqîqiy li al-Ta’allum, Kairo: Dâr al-Anshâr.
[2] Yakni mampu mengalahkan bantahan-bantahan atau tantangan-tantangan kaum penentang (kuffar) atasnya.
[3] Dr. Samih ‘Athif az-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr al-Kitâb al-Mishri, Cet. I, 1410 H, hlm. 308.
[4] Kulliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât Al-Islâmiyyah – Jâmi’atur-Râyah.
[5] Al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim an-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. VI, 1424 H, jilid I, hlm. 170.
[6] Ibid.
[7] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, jilid XVII, hlm. 278.
[8] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim ats-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37
[9] Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar al-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabiir, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, Cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.
[10] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, Dâr Thayyibah, Cet. IV, 1417 H, hlm. 420.
[11] Abu al-Barakat ’Abdullah bin Ahmad Al-Nasafi, Tafsiir al-Nasafi (Madârik al-Tanzîl wa Haqâ’iq al-Ta’wiil), Ed: Yusuf ’Ali Badawi, Beirut: Dâr al-Kalam al-Thayyib, Cet. I, 1419 H/1998, juz I, hlm. 705.
[12] Hafidz Abdurrahman MA, Diskursus Islam Politik dan Spiritual, Bogor: Al-Azhar Press, Cet. II, 1428 H.
[13] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (VII/184, hadits 6560); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (XVI/206, hadits 7223); Al-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubrâ’ (X/373, hadits 11750).
[14] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, Cet. II, 1392 H, juz XVI, hlm. 84.
[15] ’Izzuddin ’Abdul ’Aziz bin ’Abdussalam, Tafsîr al-Qur’ân, Ed: Dr. ’Abdullah bin Ibrahim,  Beirut: Dâr Ibn Hazm, Cet. I, 1416 H/1996, juz III, hlm. 317.
[16] Abu al-Barakat ’Abdullah bin Ahmad Al-Nasafi, Tafsîr al-Nasafi (Madârik al-Tanzîl wa Haqâ’iq al-Ta’wîl), juz III, hlm. 480.
[17] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (II/64, hadits 1104); al-Bukhari dalam Shahiih-nya (III/1087, hadits 2815); Ibnu Hibban dalam Shahiih-nya (XIV/277, hadits 6363); dan lainnya.
[18] Ibnu Bathal Abu al-Hasan ’Ali bin Khalaf, Syarh Shahîh al-Bukhâri, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, Cet. II, 1423 H/2003, juz IX, hlm. 535.
[19] Abu Zakariya bin Syarf al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, juz V, hlm. 5.
[20] HR. Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabîr (XIX/395, hadits 929) dari Mu’awiyyah bin Abu Sufyan (Al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dalam Al-Fath (I/161), Badruddin al-’Aini dalam al-’Umdah (II/42), Al-Qashthalani dalam al-Irsyâd (I/168), dan Dr. Mushthafa al-Bugha’ menyebut sanad hadits ini hasan) & Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliyâ’ (V/174) hadits dari Abu Darda’.
[21] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz I, hlm. 161; Mahmud bin Ahmad Badruddin al-’Ayni, ’Umdah al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, juz II, hlm. 42; Muhammad bin Isma’il ’Izzuddin al-Shan’ani, Al-Tanwîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabah Dâr al-Salâm, Cet. I, 1432 H, juz IV, hlm. 185.
[22] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadriib al-Râwi fii Syarh Taqriib al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.