17 Agustus 2015

Serial Bantahan Atas Kaum Liberal Mengenai LGBT (Kajian Hadits) (Bag. II)



Hadits (II): Sesuatu yang Dikhawatirkan Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-

Islam merupakan ajaran yang agung memuliakan manusia dengan ajaran-ajarannya yang mulia, dan memperingatkan mereka dari segala keburukan, kemungkaran dan perbuatan keji. Dan mengenai perbuatan keji laki-laki yang mendatangi laki-laki dari duburnya, telah jelas penyimpangannya, dan itu ditunjukkan dalam hadits-hadits yang mulia Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, salah satunya hadits:
«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ»
“Sesungguhnya yang paling dikhawatirkan dari apa-apa yang aku khawatirkan atas umatku adalah perbuatan Kaum Luth.” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, al-Hakim dll)[1]

Penjelasan Mufradat
            Dalam hadits ini, terdapat peringatan pada kalimat (إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ) yaitu:
Pertama, Diawali dengan kata inna (sesungguhnya) yang merupakan penegasan atau penekanan (tawkîd) atas informasi yang disampaikan.
Faidah keberadaan penegasan (tawkîd) dalam tinjauan ilmu balaghah (’ilm al-ma’âni) menafikan keraguan atas kebenaran informasi yang disampaikan dalam hadits ini.[2] Yakni kekhawatiran Nabi –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- kepada umatnya melakukan perbuatan keji Kaum Luth.
Kedua, Kata akhwaf menunjukkan sesuatu yang paling dikhawatirkan, karena kata akhwafu (yang paling aku takutkan) dalam bahasa arab merupakan bentuk tafdhîl (superlatif).
            Imam al-Mala’ al-Qari (w. 1041 H), Imam Nuruddin al-Sindi (1138 H) dan Imam al-Mubarakfuri (w. 1353 H) menjelaskan bahwa kata akhwaf termasuk kata benda superlatif yang bermakna objek pekerjaan (al-maf’ûl).[3] Maka dalam hadits di atas maknanya adalah sesuatu yang paling dikhawatirkan.
Imam al-Thibi (w. 743 H), dinukil pula oleh al-Mala’ al-Qari dan al-Mubarakfuri, menjelaskan bahwa Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- menyematkan kata af’alu pada kata yang berkedudukan sebagai bentuk umum yang disifati dengan suatu sifat menunjukkan bahwa jika berbagai hal yang mengkhawatirkan ditelusuri maka di antaranya ada hal mengkhawatirkan lebih daripada yang lainnya, dimana tidak ada yang lebih mengkhawatirkan daripada perbuatan Kaum Luth.[4] Imam Nuruddin al-Sindi (1138 H) menjelaskan bahwa ia adalah perbuatan yang paling banyak menimbulkan kekhawatiran dan paling keras bahayanya dari berbagai perkara yang aku (Nabi –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-) takutkan atas umatku.[5]
Dan apa makna di balik penyematan sesuatu yang dikhawatirkan ini kepada Kaum Luth? Karena kaum ini yang pertama kali melakukan perbuatan keji liwâth. Imam al-Manawi (w. 1031 H) menjawabnya dengan menjelaskan bahwa pelajaran darinya sebagai pengungkapan atas kedudukan mereka yang melakukan perbuatan tersebut pertama kali dan hal itu adalah seburuk-buruknya perbuatan.[6]

Faidah Hadits
Kekhawatiran Nabi –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- dalam hadits di atas sudah cukup menggambarkan bahwa ia bukanlah sesuatu yang baik melainkan sesuatu yang buruk. Apakah Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- akan mengkhawatirkan sesuatu yang baik?! Padahal beliau diutus Allah ’Azza wa Jalla sebagai teladan bagi umat manusia yang mengajari manusia kebaikan dan memperingatkan mereka dari keburukan. Tentu saja apa yang beliau risaukan adalah perkara keburukan yang menimpa umatnya, dan itu telah ditegaskan Allah ’Azza wa Jalla dalam firman-Nya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. Al-Tawbah [9]: 28)
Al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) ketika menakwilkan ayat ini menjelaskan:
(عزيز عليه ما عنتم) أي: عزيز عليه عنتكم، وهو دخول المشقة عليهم والمكروه والأذى (حريص عليكم) حريص على هُدَى ضُلالكم وتوبتهم ورجوعهم إلى الحق
”(عزيز عليه ما عنتم) yakni terasa berat baginya penderitaan kalian; yakni adanya kesulitan, hal yang dibenci dan gangguan kepada mereka, (حريص عليكم) yakni perhatian terhadap petunjuk atas kesesatan kalian; serta taubat dan kembalinya mereka kepada kebenaran.”[7]
Dan Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- telah menunjuki kita bahwa perbuatan laki-laki cenderung dan melampiaskan syahwatnya pada laki-laki adalah perbuatan keji yang terlaknat. Siapakah yang layak dipercaya? Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- atau kaum liberal yang menyesatkan manusia dari jalan Allah dan Rasul-Nya?
Maka hadits ini cukup menunjukkan bahwa penyaluran seksual homo laki-laki mendatangi laki-laki merupakan penyimpangan, bukan sesuatu yang sejalan dengan fitrah manusia. []




[1] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (23/317, hadits 15093); Ibnu Majah dalam Sunan-nya (II/856, hadits 2563); al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (VII/273, hadits 4989); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (IV/397, hadits 8057) ia menyatakan: “Sanadnya shahih” meski al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya dan al-Dzahabi menyetujuinya; al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/58, hadits 1457), Abu Isa mengatakan: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Uqail bin Abi Thalib dari Jabir bin ‘Abdillah r.a.” Al-Manawi dalam Al-Taysîr (I/309) mengatakan sanadnya hasan.
[2] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, KSA: Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ûd al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 39.
[3] Abu al-Hasan al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, Cet. I, 1422 H/2002, juz VI, hlm. 2348; Abu al-‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz V, hlm. 19; Muhammad bin ‘Abdul Hadi Nuruddin al-Sindi, Hasyiyah al-Sanadi ‘Alâ Sunan Ibn Mâjah, Beirut: Dâr al-Jîl, juz II, hlm. 118.
[4] Syarfuddin al-Husain bin Abdullah Al-Thibi, Al-Kâsyif ’An Haqâ’iq al-Sunan Syarh Misykât al-Mashâbîh, Riyadh: Maktabah Nazzâr Mushthafâ al-Bâz, Cet. I, 1417 H, juz VIII, hlm. 2526.
[5] Muhammad bin ‘Abdul Hadi Nuruddin al-Sindi, Hasyiyah al-Sanadi ‘Alâ Sunan Ibn Mâjah, juz II, hlm. 118.
[6] Abdurra’uf bin Tajul ’Arifin al-Manawi al-Qahiri, Al-Taysîr bi Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabah al-Imâm al-Syâfi’i, Cet. III, 1408 H, juz I, hlm. 309.
[7] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H/2000, juz XIV, hlm. 584.