11 Agustus 2015

Serial Bantahan Atas Kaum Liberal Mengenai LGBT (Kajian Hadits) (Bag. I)



سدوم 
Hadits (I): Laknat Bagi Pelaku Perbuatan Liwâth (Hubungan Homoseksual)

Irfan Abu Naveed
(Staff STIBA Ar-Raayah, Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia)
Islam merupakan ajaran yang agung memuliakan manusia dengan ajaran-ajarannya yang mulia, dan memperingatkan mereka dari segala keburukan, kemungkaran dan perbuatan keji. Dan mengenai perbuatan keji laki-laki yang mendatangi laki-laki dari duburnya, telah jelas penyimpangannya, dan itu ditunjukkan dalam hadits-hadits yang mulia Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, salah satunya hadits:
Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«لَعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ»
Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dll)[1]
Dalam hadits di atas, kecaman Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- diulang sebanyak tiga kali yang merupakan penekanan (tawkîd) atas kecaman tersebut, dan faidahnya menafikan keraguan atas kebenaran informasi adanya kecaman tersebut.[2] Dan kata la’ana mashdarnya adalah al-la’nu yakni al-ta’dzîb (siksaan)[3], Imam al-Azhari (w. 370 H) memaknai (لعنه الله) yakni Allah menjauhkannya.[4] Al-Hafizh Ibn al-Atsir (w. 606 H) menjelaskan:
وَأَصْلُ اللَّعْن: الطَّرْد والإبْعاد مِنَ اللهِ، وَمِنَ الخَلْق السَّبُّ والدُّعاء
“Asal kata al-la’nu: terhempas dan terjauhkan[5] dari Allah, dan dari makhluk-Nya berupa celaan dan do’a keburukan.[6]
Dan makna yang lebih rinci, sebagaimana dijelaskan Imam al-Raghib al-Ashfahani bahwa orang yang terlaknat itu terhempas dan terjauhkan masuk ke dalam jalan kemurkaan, dan laknat dari Allah berupa siksa di akhirat, dan di dunia terputus dari rahmat dan taufik-Nya.[7]
Adanya ancaman keras berupa kata laknat jelas mengandung pesan tercelanya perbuatan tersebut, ia termasuk tarhîb dari Allah ’Azza wa Jalla atas pelakunya, dalam ilmu ushul fikih kata ini pun menjadi indikasi keharaman perbuatan tersebut. Bahkan indikasi bahwa ia termasuk dosa besar. Al-Qadhi ’Iyadh (w. 544 H) menjelaskan:
وقد استدلوا لما جاءت به اللعنة أنه من الكبائر  
“Dan sungguh para ulama telah berdalil bahwa hal-hal dimana kata laknat menyertainya maka ia termasuk dosa besar.[8]
Dan makna hadits ini, dinukil al-Qadhi ’Iyadh yakni azab yang menjadi konsekuensi atas dosanya tersebut, pertama dengan menjauhkannya dari surga dan memasukkannya ke dalam siksa neraka hingga Allah mengeluarkannya darinya (bagi yang masih ada keimanan dalam hatinya-pen). Dan maknanya yakni dijauhkan, namun tidak seperti laknat kepada orang-orang kafir dengan sejauh-sejauhnya dari rahmat-Nya. Dan makna laknat dari malaikat yakni do’a laknat malaikat atas perbuatannya, dan bisa jadi makna laknatnya ini malaikat tidak mendo’akan kebaikan dan tidak memohonkan ampunan baginya dan menjauh darinya dan mengeluarkannya dari kumpulan orang-orang beriman yang mereka mohonkan ampunan.[9]
Penjelasan di atas, merupakan salah satu dari sekian banyak argumentasi syar'i yang jelas membatalkan 'pembelaan' (penyesatan) kaum Liberal yang sesat menyesatkan atas perbuatan keji praktik homoseksual. Kecaman-kecaman yang diungkapkan secara jelas dalam hadits di atas, jelas mengandung celaan yang berfaidah pada kejelasan keharamannya dalam Islam. []






[1] Hadits shahih, Ahmad dalam Musnad-nya (I/127), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (53), al-Thabrani (11546), dishahihkan al-Hakim (IV/356), namun dihasankan oleh Syu’aib al-Arna’uth.
[2] Dalam bahasan balaghah, ilmu al-ma’âni, keberadaan kata-kata tawkîd (penegasan) ini berfaidah menafikan keraguan. Lihat: Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, hlm. 39.
[3] Abu ‘Abdurrahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi al-Bashri, Kitâb Al-‘Ayn, Ed: Dr. Mahdi al-Makhzhumi, Dâr wa Maktabah al-Hilâl, juz II, hlm. 141.
[4] Muhammad bin Ahmad al-Azhari al-Haruri, Al-Zâhir fii Ghariib Alfâzh al-Syâfi’i, Ed: Dr. Muhammad Jabr, Kuwait: Wizârah al-Awqâf wa al-Syu’uun al-Islâmiyyah, Cet. I, 1399 H, juz I, hlm. 335.
[5] Lihat pula: Abu al-Qasim Mahmud bin ’Amru al-Zamakhsyari, Asâs al-Balâghah, Ed: Muhammad Basil, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Cet. I, 1419 H, juz II, hlm. 171.
[6] Majduddin Abu al-Sa’adat al-Mubarak bin Muhammad (Ibn al-Atsir), Al-Nihâyah fii Ghariib al-Hadiits wa al-Atsar, Ed: Thahir Ahmad al-Zawi, Beirut: al-Maktabah al-’Ilmiyyah, 1399 H, juz IV, hlm. 255.
[7] Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafâ al-Bâz, suku kata (لعن), jilid II, hlm. 581.
[8] ‘Iyadh bin Musa Abu al-Fadhl al-Sabati, Syarh Shahiih Muslim (Ikmâl al-Mu’lim bi Fawâ’id Muslim), juz IV, hlm. 486.
[9] Ibid, hlm. 487-488.