12 Agustus 2015

Makna “Islam Rahmatan lil Alamin” Menurut Penjelasan Para Ulama Mu’tabar



Irfan Abu Naveed[1]

Download PDF: File

Al-Islam, ialah Din yang mulia dan memuliakan manusia, turun dari Dzat Yang Maha Mulia, Allah -Subhânahu wa Ta'âlâ-, ia hadir dengan berbagai keunggulannya, sebagaimana ia pun tegak dengan berbagai karakteristiknya. Namun saat ini kita menemukan pendistorsian (tahrîf) atas nash-nash syari’ah sebagai dalih atas pemahaman sesat menyesatkan, pengaburan ajaran Islam dengan istilah-istilah yang mengkotak-kotakan Islam dan penyimpangan makna di balik istilah yang disematkan pada Islam. Salah satunya syubhat di balik ungkapan ”Islam Rahmatan Lil ’Alamin”. Dimana realitasnya istilah ini seringkali dijadikan dalih kaum liberal dalam menyebarkan syubhat seakan Islam membenarkan paham kufur pluralisme, kebebasan beragama, dan pengkotak-kotakan Islam dengan antitesisnya ”Islam fundamental” atau ”Islam radikal” yang mereka adakan dan maknai sendiri secara zhalim untuk menstigma negatif gerakan-gerakan Islam yang memperjuangkan penegakkan al-Islam, sehingga ia menjadi dalih mendistorsi dan mereduksi ajaran Islam serta menjegal perjuangannya. Ini pun menunjukkan standar ganda mereka yang bisa ’rahmat’ dengan asas pluralisme terhadap kekufuran dan penganutnya namun tidak bagi umat Islam yang memperjuangkan syari’at Islam kaaffah dalam kehidupan.

Meluruskan Pemahaman Berdasarkan Penjelasan Ulama Mu’tabar
Allah -Subhânahu wa Ta'âlâ- berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
”Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)
Kata al-rahmah adalah mashdar dari kata kerja rahima[2], dan ia berkedudukan sebagai tujuan pengutusannya (maf’ûl li ajlihi) atau sebagai keterangan (hâl) bahwa Muhammad -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- adalah al-rahmah[3] yang menguatkan kedudukan beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- (mubâlaghah)[4], dan dalam konteks penggunaan istilah ini Al-Raghib al-Ashfahani menguraikan bahwa ia terkadang berkonotasi al-riqqah (kelembutan) atau berkonotasi al-ihsân (kebajikan).[5] Atau al-khayr (kebaikan) dan al-ni’mah (kenikmatan).[6] Maka ia termasuk satu lafazh yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak)[7] yang pemaknaannya ditentukan indikasi lainnya.[8]
Memahami makna ayat di atas, diperjelas firman-Nya:
وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
”Dan tidaklah engkau mengharap Al-Qur’an diturunkan kepadamu, melainkan sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Qashash [28]: 86)
            Lihat pula QS. Al-’Ankabût [29]: 51, dimana keduanya memperjelas tidaklah Allah mengutus Muhammad -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- kecuali sebagai rahmat bagi ciptaan-Nya dengan apa-apa yang terkandung dalam al-Qur’an al-Karim ini.[9] Yakni kebaikan yang terkandung dalam ajaran-ajaran-Nya. Para ulama mu’tabar pun menjelaskan rahmat dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-. Di antaranya ulama nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H):
وما أرسلناك يا أشرف الخلق بالشرائع، إلّا رحمة للعالمين أي إلّا لأجل رحمتنا للعالمين قاطبة في الدين والدنيا 
”Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”[10]
            Imam ’Izzuddin bin ’Abdissalam (w. 660 H) menafsirkan kata rahmat[an] dalam ayat ini sebagai hidâyat[an] yakni petunjuk[11], yang tentunya petunjuk dari risalah Islam yang diemban Nabi -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-. Sejalan dengan Imam al-Nasafi, Imam al-Baydhawi pun menegaskan bahwa beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- menjadi rahmat karena diutus dengan apa yang menjadi sebab kebahagiaan manusia dan kebaikan bagi kehidupan dunia dan tempat kembalinya kelak.[12] Imam Al-Zamakhsyari (w. 538 H) menjelaskan bahwa Allah mengutus Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- sebagai rahmat bagi semesta alam karena ia datang dengan apa-apa yang akan membuat mereka bahagia jika mengikutinya.[13]
Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) pun menyatakan rahmat tersebut mencakup kehidupan agama dan dunia; bagi agama karena beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- turun menyeru manusia kepada jalan kebenaran dan pahala, mensyari’atkan hukum-hukum dan membedakan antara halal dan haram. Dan yang mengambil manfaat (hakiki) dari rahmat ini adalah siapa saja yang kepentingannya mencari kebenaran semata, tidak bergantung kepada taqlid buta, angkuh dan takabur, berdasarkan indikasi dalil[14]:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى
”Katakanlah: ”Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan.” (QS. Fushshilat [41]: 44)
            Dan bagi kehidupan dunia karena manusia terhindar dari banyak kehinaan dan ditolong dengan keberkahan din-Nya ini.[15] Maka inti penafsiran di atas kian menjadi jelas ketika kita memerhatikan firman-Nya:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
            Makna frase (تبيانًا لكل شيء) adalah apa-apa yang dibutuhkan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Thabari[16], Imam al-Tsa’labi[17], Imam Abu Bakr al-Jazairi dan lainnya. Abu Bakar al-Jazairi menjelaskan bahwa kedudukan al-Qur’an sebagai hud[an] yakni petunjuk dari segala kesesatan dan rahmat[an] yakni rahmat khususnya bagi mereka yang mengamalkan dan menerapkannya bagi diri sendiri dan di dalam kehidupan sehingga rahmat tersebut bersifat umum di antara mereka.[18]
            Dan tak samar kewajiban menegakkan syari’at Islam kâffah (totalitas) dalam QS. 2: 208. Maka Islam adalah rahmat bagi semesta alam dengan ajaran-ajarannya, Islam adalah rahmat dengan syari’at shaum (QS. 2: 183) sebagaimana ia pun rahmat (kebaikan hakiki) dengan keseluruhan syari’atnya; syari’at qishash (QS. 2: 178) dan syari’at jihad dalam QS. 2: 216 dimana ayat ini dan QS. 21: 107 pun menjadi dalil kaidah syar’iyyah:
حيثما يكون الشرع تكون المصلحة
”Dimana tegak syari’at maka akan ada kemaslahatan.”[19]
Maka penegakkan seluruh ajaran Islam yang menjadi satu kesatuan sistem kehidupan yang merupakan kebaikan hakiki bagi seluruh sendi kehidupan. Sebaliknya banyak dalil al-Qur’an dan al-Sunnah yang mengecam orang yang berpaling dari ajaran-Nya (QS. 20: 124) atau mengimani sebagian dan mengkufuri sebagian lainnya dari ajaran-Nya (QS. 2: 285).
Kedua sisi ini tergambar pula dalam ayat ini:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’râf [7]: 96)
Lantas, masih adakah celah mereduksi atau mengaburkan kewajiban penerapan Islam kâffah di balik ungkapan ’Islam Rahmat[an] lil ’Âlamîn’?
             
Khilafah & Penegakkan Syari’ah
Islam tak tegak sempurna kecuali dengan tegaknya al-Khilâfah ’ala Minhâj al-Nubuwwah, ia sebagaimana pujian khusus (qashr) dari Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya hanya al-imam (khalifah) yang laksana perisai, dimana umat akan diperangi di belakangnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Muslim, dll)
Dan ia sebagaimana kesaksian para ulama pewaris para nabi, hingga al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) pun bertutur:
ولولا السلطان لأكل الناس بعضهم بعضاً      
“Jika seandainya tiada al-sulthân (al-khalifah) maka sungguh manusia akan menzhalimi satu sama lain.”[20]
Dan bi fadhliLlâh, Islam pun menjadi mercusuar peradaban umat manusia selama rentang waktu +14 abad lamanya di bawah panji Khilafah hingga sampai di nusantara. Ialah thariqah syar’iyyah menegakkan syari’ah seluruhnya; memelihara jiwa, harta dan kehormatan umat di bawah kekuasaannya; menyebarkan risalah mulia ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad yang menjadi politik luar negerinya; menjadi simbol persatuan umat di bawah liwâ’ dan râyahnya. Maka pentingnya kedudukan Khilafah dan kewajiban menegakkannya tersirat dan tersurat dalam khazanah ilmu para ulama madzhab seluruhnya. Hingga salafunâ al-shâlih berijma’ mendahulukan pengangkatan khalifah atas pemakaman jenazah semulia-mulia makhluk-Nya, Muhammad al-Mushthafa -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-, dan kita sebagaimana dituturkan sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan lainnya:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[21]
Maka kian terang benderang bahwa rahmat[an] lil ’âlamîn adalah buah tegaknya syari’at Islam kâffah dalam kehidupan yang tegak sempurna dalam naungan al-Khilâfah ’ala Minhâj al-Nubuwwah, bukan selainnya yang memecah belah kaum muslimin dan merampas kemuliaannya, benarlah ’Umar bin al-Khaththab r.a yang berkata:
إِنَّا قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلامِ فَلَنْ نَبْتَغِيَ الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ
”Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka kami takkan pernah mencari kemuliaan dengan selainnya.”[22] []



[1] Syabab HTI Sukabumi, Mudir Ma’had al-Mu’tashim Billah & Staff Kulliyyatusy Syari’ah.
[2] Abu Manshur Muhammad bin Ahmad, Tahdzîb al-Lughah, Beirut; Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, Cet.I, 2001, (V/34)
[3] Abu al-Baqa’ al-‘Akbari, Al-Tibyân fî I’râb al-Qur’ân, Syirkatu ‘Isa al-Halb,  (II/929)
[4] Abul ‘Abbas Syihabuddin al-Halabi, Al-Durr al-Mashûn fî ‘Ulûm al-Kitâb al-Maknûn, Damaskus: Dâr al-Qalam (VIII/214)
[5] Al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, (I/253-254)
[6] Lihat QS. Yûnus [10]: 21; Ibrahim Mushthafa, dkk, Al-Mu’jam al-Wasîth, Dâr al-Da’wah, (I/335)
[7] ‘Abdul Halim Muhammad Qunabis, Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah, Beirut: Maktabah Lubnân, 1986, (hlm. 55)
[8] Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, dkk, Mu’jam Lughatil Fuqahâ’, Beirut: Dâr an-Nafâ’is, Cet.II, 1988, (I/430)
[9] Muhammad al-Amin a-Syanqithi, Adhwâ’ al-Bayân, Dâr ‘Âlam al-Fawâ’id, (IV/869)
[10] Muhammad bin ‘Umar Nawawi, Marâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1417 H, (II/62)
[11] ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam, Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ibn Hazm, Cet.I, 1996, (II/341)
[12] Nashiruddin al-Baydhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts, Cet.I, 1418 H, (IV/62)
[13] Abul Qasim al-Zamakhsyari, al-Kasyâf, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, Cet. III, 1407 H, (III/138)
[14] Muhammad bin ‘Umar al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts, Cet.III, 1420 H, (XXII/193)
[15] Ibid.
[16] Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, (XVII/278)
[17] Ahmad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, (VI/37)
[18] Jabir bin Musa Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar at-Tafâsîr, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm, Cet. V, 1424 H, (III/138-139)
[19] Ahmad al-Mahmud, al-Da’watu ilal Islâm (I/255); Muhammad Isma’il, al-Fikr al-Islâmiy (I/48).
[20] Abu al-Faraj Ibn al-Jawzi, Âdâb al-Hasan al-Bashri, Dâr al-Nawâdir, Cet. III, 1428 H, (I/58)
[21] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadriib al-Râwi fii Syarh Taqriib al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Ed: Muhammad Abu al-Fadhal, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.
[22] Abu Abdullah al-Hakim, Al-Mustadrak, Kairo: Dar al-Haramain, 1417 H, (I/120)