18 Agustus 2015

Hukum Menyerupai Lawan Jenis dalam Islam & Batasannya (Kajian Hadits)



Islam dengan ajarannya memuliakan manusia agar senantiasa di atas rel fitrahnya, di antaranya tergambar dalam larangan Islam terhadap perbuatan laki-laki berpakaian menyerupai perempuan, dan perempuan menyerupai laki-laki. Larangan dalam hal ini mencakup pakaian dan sikap. Islam, sebagaimana dijelaskan al-Qadhi Taqiyyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, telah memerintahkan agar pakaian perempuan berbeda dengan pakaian laki-laki. Demikian pula sebaliknya, pakaian laki-laki berbeda dengan pakaian perempuan. Islam telah melarang satu sama lain untuk saling menyerupai (tasyabbuh) dalam berpakaian, karena adanya pengkhususan atau pembedaan satu dari yang lainnya, seperti masalah menghiasi sebagian anggota tubuh tertentu.[1]

Dalil-Dalil Hadits
Hadits ke-1: Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyaLlâhu 'anhu-:

«لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرَأَة تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ»
“Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan, dan perempuan mengenakan pakaian laki-laki. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Abu Dawud)[2]
            Imam al-Manawi (w. 1031 H) menukil penjelasan al-Hafizh al-Nawawi bahwa keharaman kaum laki-laki menyerupai kaum perempuan dan sebaliknya, bisa dipahami jika haram (menyerupai) dalam hal berpakaian maka (menyerupai lawan perempuan) dalam hal gerak tubuh, diam dan apa yang dilakukannya dengan anggota-anggota badan dan suara maka lebih tercela dan lebih buruk lagi, maka haram bagi seorang laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya dalam hal berpakaian dikhususkan dengannya orang yang menyerupai, bahkan dianggap fasik pelakunya karena ada kecaman atasnya berupa laknat. Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud di sini bukan hakikat laknat melainkan suatu penolakan semata agar siapa saja yang mendengar larangan ini menahan diri dari perbuatan seperti itu dan hal itu pun mengandung kedudukan sebagai seruan untuk menjauhinya.[3]
Dan dikatakan pula bahwa jika al-Mushthafa -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- melaknat pelaku maksiat maka hal itu sebagai peringatan bagi mereka sebelum melakukan perbuatan yang terlarang tersebut, sehingga jika mereka menurutinya maka beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- memohonkan ampunan baginya dan menyeru mereka untuk bertaubat, adapun siapa saja yang berbuat durhaka kepadanya maka laknat beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- baginya merupakan pendidikan atas perbuatan tersebut.[4]
Dan kata la’ana mashdar-nya adalah al-la’nu yakni al-ta’dzîb (siksaan), Imam al-Azhari (w. 370 H) memaknai (لعنه الله) yakni Allah menjauhkannya.  Al-Hafizh Ibn al-Atsir (w. 606 H) menjelaskan:
وَأَصْلُ اللَّعْن: الطَّرْد والإبْعاد مِنَ اللهِ، وَمِنَ الخَلْق السَّبُّ والدُّعاء
“Asal kata al-la’nu: terhempas dan terjauhkan  dari Allah, dan dari makhluk-Nya berupa celaan dan do’a keburukan.” (Al-Nihâyah fii Ghariib al-Hadiits wa al-Atsar (IV/255)).

Hadits ke-2: Dari Ibnu ’Abbas -radhiyaLlâhu 'anhu-:

«لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ، وَالْمُتَرَجِّلاتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: " أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ " فَأَخْرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلانًا، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلانًا» 
“Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- melaknat al-mukhannatsîn dari kaum laki-laki, dan al-mutarajjilât dari kaum perempuan, dan beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda: “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian.” Maka Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- mengeluarkan si fulan, dan ‘Umar mengeluarkan si fulan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Abu Dawud)[5]
            Hadits ini jelas mengecam al-mukhannatsîn yakni kaum laki-laki yang menyerupai kaum perempuan. Imam Ibnu Bathal (w. 449 H) bahwa perintah beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- untuk mengeluarkan mereka menunjukkan penolakan terhadap siapa saja yang dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi agama dan dunia.[6] Dr. Mushthafa Dib al-Bugha[7] menjelaskan bahwa makna perintah (أخرجوهم) yakni jangan ajak mereka baik perempuan maupun laki-laki masuk ke dalam rumah kalian, karena masuknya mereka ke dalam rumah menyebabkan kerusakan di dalam rumah.[8]

Hadits ke-3: Dari Ibnu Abi Mulaikah -radhiyaLlâhu 'anhu-:

«قِيلَ لِعَائِشَةَ - رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: إِنَّ امْرَأَةً تَلْبَسُ النَّعْلَ. قَالَتْ: لَعَنَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الرَّجُلَةَ مِنَ النِّسَاءِ»
“Dikatakan kepada ‘Aisyah r.a.: “Sesungguhnya ada seorang perempuan yang mengenakan sandal (sandal laki-laki). ‘Aisyah r.a. berkata: “Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- melaknat menyerupai laki-laki dari kaum perempuan.” (HR. Abu Dawud)[9]
            Hadits-hadits di atas, jelas mengandung indikasi keharaman laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya dalam hal berpakaian dan cara berbicara, dengan kecaman berupa kata laknat yang menjadi indikasi keharaman. Namun keharaman tersebut tidak mencakup pemikiran dan pendapat. Imam al-Mala’ al-Qari (w. 1014 H) ketika menjelaskan hadits riwayat Abu Dawud di atas mengatakan bahwa sandal yang dimaksud adalah sandal yang dikhususkan bagi kaum laki-laki, dan al-rajulata (min al-nisâ’) penjelasan untuk kata al-rajulah, karena huruf tâ’ di dalamnya menunjukkan maksud penyifatan yakni penyerupaan dalam hal berbicara dan berpakaian seperti laki-laki, dan disebutkan bahwa ’Aisyah -radhiyaLlâhu 'anhâ- menyerupai laki-laki dalam hal pendapat, yakni pendapatnya seperti pendapat kaum laki-laki, maka penyerupaan dalam hal pendapat dan keilmuan tidaklah tercela.[10]

Nilai Pendidikan dalam Hadits
1.      Peringatan dari Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- dengan menggunakan model pendekatan tarhîb atas suatu kemungkaran, dan kata laknat dalam hadits-hadits di atas sudah cukup menjadi peringatan keras dari Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- yang wajib diperhatikan.
2.      Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- memberikan standarisasi penilaian baik buruknya menyerupai lawan jenis, maka penyifatan buruk atas laki-laki yang menyerupai perempuan (atau sebaliknya) dengan sifat terlaknat menjadi standar penilaian kita bahwa hal tersebut tercela, maka kaum laki-laki yang menyerupai perempuan dalam hal berpakaian dan berbicara termasuk dalam kategori hadits-hadits di atas.
3.      Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- dalam hadits-hadits di atas melakukan pendekatan preventif yang melarang laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya, sehingga memelihara fitrah laki-laki dan perempuan senantiasa di atas fitrahnya tersebut, tidak menyalahi fitrahnya.
4.      Penegasan identitas diri sebagai laki-laki atau perempuan, tidak ada jenis kelamin (gender) yang ketiga; keduanya berbeda dari sisi berpakaian dan bersikap dengan perincian aturan yang memiliki perbedaan, namun sama di hadapan Allah ’Azza wa Jalla sebagai hamba-Nya dan dianugerahi potensi akal yang sama-sama berfungsi.
5.      Penanaman fitrah karakter laki-laki sebagai laki-laki, dan perempuan sebagai perempuan yang keduanya saling melengkapi.

Peran Penguasa dalam Penegakkan Sanksi Hukum Islam
            Penegakkan sanksi hukum Islam (’uqûbât) bagi pelaku kejahatan (kriminil) merupakan zawâjir (preventif) dan jawâbir (kuratif). Disebut pencegah (preventif) adalah karena dengan diterapkannya sanksi, orang lain yang akan melakukan kesalahan yang sama dapat dicegah sehingga tidak muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama, hal ini sebagaimana yang dinyatakan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 179. Disamping itu, juga bisa mencegah dijatuhkannya hukuman di akhirat. Adapun yang dimaksud dengan pemaksa (kuratif), adalah agar orang yang melakukan kejahatan, kemaksiatan atau pelanggaran tersebut bisa dipaksa untuk menyesali perbuatannya. Dengan begitu, akan terjadi penyesalan selama-lamanya atau tawbatan nasûhah. Dan dalam kasus ini, pelakunya wajib dikenai sanksi hukum Islam.



[1] Taqiyyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Al-Nizhâm al-Ijtimâ’i fii al-Islâm, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. IV, 1424 H, hlm. 80-81.
[2] Hadits shahih: HR. Ahmad dalam Musnad-nya (XIV/61, hadits 8309); Abu Dawud dalam Sunan-nya (IV/104, hadits 4100); Ibnu Hibban dalam Shahiih-nya (XIII/63, hadits 5751), Syu’aib al-Arna’uth mengatakan: “Sanadnya Shahih memenuhi syarat Muslim.” Al-Manawi dalam Faydh al-Qadiir (V/269) menuturkan: “Al-Hakim berkata: “Sesuai syarat Muslim”, dan al-Dzahabi menyetujuinya dalam al-Talkhiish dan al-Dzahabi berkata dalam al-Kabaa’ir: “Sanadnya shahih”, dan al-Nawawi berkata dalam al-Riyaadh: “Sanadnya shahih.”
[3] ‘Abdurra’uf bin Tajul al-‘Arifin al-Manawi, Faydh al-Qadiir Syarh al-Jaami’ al-Shaghiir, juz V, hlm. 269.
[4] ‘Abdurra’uf bin Tajul al-‘Arifin al-Manawi, Faydh al-Qadiir Syarh al-Jaami’ al-Shaghiir, juz V, hlm. 269; Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Baari Syarh Shahiih al-Bukhaari, juz XII, hlm. 82; ‘Iyadh bin Musa Abu al-Fadhl al-Sabati, Syarh Shahiih Muslim (Ikmâl al-Mu’lim bi Fawâ’id Muslim), Ed: Dr. Yahya Isma’il, Mesir: Dâr al-Wafâ’, Cet. I, 1419 H, juz V, hlm. 500.
[5] Hadits shahih: HR. Ahmad dalam Musnad-nya (III/443, hadits 1982), Syu’aib al-Arna’uth: “Hadits ini shahih menurut syarat syaikhayn (al-Bukhari dan Muslim)”; al-Bukhari dalam Shahiih-nya (V/2207, hadits 5547); Abu Dawud dalam Sunan-nya (IV/438, hadits 4932)
[6] Ibnu Bathal Abu al-Hasan ’Ali bin Khalaf, Syarh Shahiih al-Bukhâri, juz VIII, hlm. 469; Abu ’Abdurrahman Syarf al-Haq al-’Azhiim Abadi, ’Awn al-Ma’buud Syarh Sunan Abi Daawud. Beirut: Daar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Cet. II., 1415 H, juz XI, hlm. 105, beliau mengatakan mahmuud (terpuji).
[7] Dekan fakultas hadits Jaami’ah Damaskus.
[8] Dalam komentarnya atas Shahiih al-Bukhaari, juz V, hlm. 2207.
[9] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (IV/105, hadits 4101), al-Mala’ al-Qari dalam Mirqaat al-Mafaatih (VII/2836) menyebutkan: “Hadits ini sanadnya hasan.
[10] Abu al-Hasan al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtiih Syarh Misykât al-Mashâbiih, Beirut: Dâr al-Fikr, Cet. I, 1422 H, juz VII, hlm. 2836.