Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2015

Meninjau Ulang Kebijakan Pendidikan & Studi Kasus Modul “Islam Rahmatan Lil ’Alamin”

Oleh: Irfan Ramdhan Wijaya (Abu Naveed)  (Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Pemikiran Islam UIKA Bogor) :: Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisa Kebijakan Pendidikan Nasional ::            Dinul Islam adalah din yang komperhensif mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. [1] Dan di antara hal paling mendasar yang telah dirumuskan Islam adalah tentang hakikat manusia dan tujuan hidupnya. Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu mengemban tugas agung sebagai khalifat[an] fil ardhi [2] , merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah yakni menjadi hamba-Nya, beribadah kepada-Nya [3] :    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Al-Dz â riy â t [51]: 56)             Dan untuk mewujudkan tujuan yang agung tersebut, Islam pun memerhatikan aspek pendidikan sebagai aspek krusial dalam pembentukan kepribadian manusia

Praktik Pelet: Sihir & Benda Perantaraannya (Kajian Hadits Bagian II)

Irfan Abu Naveed (Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia ) Di zaman ini, dalam kehidupan di bawah naungan sistem rusak Demokrasi, di antara bencana kemungkaran yang menimpa para pemuda dan pemudi adalah praktik sihir pelet. Praktik sihir ini menimpa para pemuda dan pemudi yang berpedoman “cinta ditolak, dukun bertindak”. Suatu kemungkaran yang membuahkan kemungkaran-kemungkaran lainnya; kemungkaran praktik sihir pelet, kemungkaran menzhalimi pihak lain (objek yang menjadi korban sihir) dan kemungkaran pacaran atau lebih dari itu. Pelet termasuk sihir, dan ia sudah ada di zaman jahiliyyah yang diwakili oleh istilah al-tiwalah dalam hadits shahih: «إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ» “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan tiwalah itu syirik” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi) [1] Sihir Terwujud dengan Perantara Sihir terwujud dengan suatu wasilah atau perantaraan, hal itu diisyaratkan dalam QS. Al-Falaq

Praktik Pelet: Sihir & Hukumnya (Kajian Hadits Bagian I)

Irfan Abu Naveed (Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia ) Di zaman ini, di antara bencana kemungkaran yang menimpa para pemuda dan pemudi adalah praktik sihir pelet. Praktik sihir ini menimpa para pemuda dan pemudi yang berpedoman “cinta ditolak, dukun bertindak”. Suatu kemungkaran yang membuahkan kemungkaran-kemungkaran lainnya; kemungkaran praktik sihir pelet, kemungkaran menzhalimi pihak lain (objek yang menjadi korban sihir) dan kemungkaran pacaran atau lebih dari itu. Pelet termasuk sihir, dan ia sudah ada di zaman jahiliyyah yang diwakili oleh istilah al-tiwalah dalam hadits shahih: «إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ» “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan tiwalah itu syirik” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi) [1]             Hal itu berdasarkan penjelasan sebagai berikut: Pengertian Al-Tiwalah Al-Tiwalah berasal dari kata kerja tawala ( تول ) [2] , dalam Kitâb al-‘Ayn disebutkan: التِّوَ