30 August 2015

Meninjau Ulang Kebijakan Pendidikan & Studi Kasus Modul “Islam Rahmatan Lil ’Alamin”

Oleh: Irfan Ramdhan Wijaya (Abu Naveed) 
(Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Pemikiran Islam UIKA Bogor)
:: Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisa Kebijakan Pendidikan Nasional ::

           Dinul Islam adalah din yang komperhensif mengatur seluruh sendi kehidupan manusia.[1] Dan di antara hal paling mendasar yang telah dirumuskan Islam adalah tentang hakikat manusia dan tujuan hidupnya. Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu mengemban tugas agung sebagai khalifat[an] fil ardhi[2], merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah yakni menjadi hamba-Nya, beribadah kepada-Nya[3]:
  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Al-Dzâriyât [51]: 56)
            Dan untuk mewujudkan tujuan yang agung tersebut, Islam pun memerhatikan aspek pendidikan sebagai aspek krusial dalam pembentukan kepribadian manusia menjadi hamba Allah yang bertakwa, dengan kepribadian Islam (al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah) yang disebutkan Taqiyuddin al-Nabhani mencakup pola pikir dan pola kecendrungan jiwanya.[4] Tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 pun menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.[5]
Namun, sebagaimana dituturkan oleh Prof. Dr. Ahmad Tafsir, efektivitas UU No. 20 Tahun 2003 ini khususnya apakah akan menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa, akan sangat ditentukan oleh peraturan turunannya yaitu peraturan pemerintahnya (PP), selanjutnya surat keputusan menterinya (SKM), serta juknisnya.[6] Namun jika kita mengevaluasi mengenai kebijakan pendidikan Islam (sekolah umum tingkat dasar dan menengah, serta PT) yang dirumuskan oleh pemerintah dimana untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa hanya bisa diwujudkan dengan pendidikan Islam, maka nampaknya tujuan tersebut masih jauh panggang daripada api, hal itu dilihat dari beberapa poin berikut:
Pertama, kedudukan pendidikan Islam yang masih diposisikan sebagai subsistem pendidikan nasional, itu pun tercakup umum dalam pendidikan keagamaan, semisal dalam UU No. 20 Thn 2003 Tentang Pendidikan Nasional, Bab VI, Bagian Kesembilan (Pendidikan Keagamaan), Pasal 30, Ayat (1) dan (2).[7] Artinya ia hanya diatur oleh PP dengan segala konsekuensinya. Baik dalam masalah pendanaan maupun manajemen. Hal itu pun berimbas pada hal yang cukup krusial yakni pendidikan Islam hanya diambil sebagai nilai substantif kebijakan pendidikan nasional.
Kedua, Kurikulum dan modul pembelajaran yang tidak mendukung tujuan pendidikan Islam dan pendidikan nasional; hal itu terbukti dari keberadaan mata pelajaran dan mata kuliah yang bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam semisal pelajaran teori evolusi dalam mata pelajaran bilogi tingkat pendidikan menengah, pelajaran yang mendukung praktik riba (perhitungan bunga) di tingkat menengah dan perguruan tinggi dan lain sebagainya. Hal itu berpotensi membentuk split personality (kepribadian yang timpang) dalam diri peserta didik. Dengan kata lain, kurikulum pendidikan umum dengan turunannya masih bercorak liberal.
Di sisi lain dengan kebijakan pendidikan Islam yang diposisikan sebagai subsistem pendidikan nasional, pendidikan agama Islam berbentuk mata pelajaran agama di sekolah-sekolah umum dan berbentuk mata kuliah agama di perguruan tinggi umum. Dan dalam pelaksanaannya, pendidikan agama ini menempati porsi sangat minim sekitar 2 SKS saja, 2 jam pelajaran dalam seminggu.

Studi Kasus: Kebijakan Kemenag dalam Isu Islam Nusantara & Penerbitan Modul “Islam Rahmatan Lil ’Alamin
            Dan Kementrian Agama sebagai pihak yang berwenang mengelola pendidikan kegamaan berdasarkan PP No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, Pasal I Ayat 2, dipertegas Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2015 Tentang Kementrian Agama, Pasal 3 (g)[8] akhir-akhir ini cukup gencar dalam mengembangkan isu Islam Nusantara”, dimana istilah Islam Nusantara itu sendiri tak serta merta hadir tanpa kritik, istilah ini dikritisi oleh sebagian ulama sebagai istilah yang justru menimbulkan syubhat dan rentan disalahtafsirkan. Hal itu terlihat dari anggaran penelitian yang disayembarakan Kemenag melalui DIKTIS bertema Islam Nusantara” dalam surat resminya.[9]
Kemenag pun melalui institusi Direktorat PAI yang diamanahi pengelolaan dan pembinaan PAI, telah lama concern dalam pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dengan mengembangkan wacana Islam rahmatan lil alamin”[10], baru-baru ini menerbitkan modul pelatihan pembelajaran Islam rahmatan lil `alamin untuk siswa sekolah umum tingkat SD, SMP, SMA dan SMK.[11] Modul ini disusun dari tanggal 2 s.d. 4 Mei 2015, sebagai tindak lanjut serius Dit. PAI dari pengiriman para calon pendidik (guru agama) dari berbagai kota untuk mengikuti kegiatan short course metodologi pembelajaran dari Religious Education, Oxford University, Inggris. Artinya modul tersebut dipersiapkan berikut model pendidiknya untuk tujuan terkait. Dimana modul tersebut terkait dengan penyampaian substansi materi dan metodologi pembelajarannya. Kemenag, diwakili oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin menyatakan: “Modul ini modul pelatihan agar bagaimana nanti guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai paradigma yang sama terkait substansi materi ajar dan metodologi penyampaiannya,” kata Lukman Hakim, Selasa (11/8) saat peluncuran modul tersebut di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.[12]
Secara umum, isi modul pelatihan ini berupa konsep PAI berbasis rahmatan lil `alamin, penyusunan rencana pembelajaran (RPP) PAI multimetode, langkah-langkah penerapan metode pembelajaran dan praktik pembelajaran PAI menggunakan multimetode bernuansa multikultural dan nilai-nilai humanistik. Dalam kesempatan lain, Direktur PAI, Dr. Amin Haedari pada acara yang dilaksanakan di Serpong, Banten menyatakan:Setelah para guru PAI dilatih, mereka nantinya akan memiliki keunggulan dalam proses pembelajaran, sehingga siswa pun memiliki pemahaman Islam sebagai agama yang rahmatan lil `alamin, berpikir luas dan mampu hidup berdampingan secara damai di tengan masyarakat yang multikultur.[13]
Dalam laporan portal Kemenag RI (6/5/2015), rencananya modul final akan dideseminasikan ke guru-guru PAI di Indonesia melalui program percontohan (pilot project). Ada 8 provinsi yang ditunjuk sebagai percontohan implementasi modul pelatihan yakni Provinsi Aceh, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Penunjukkan daerah sendiri melalui pertimbangan tertentu terkait dengan permasalahan yang berhubungan dengan konteks multikultural yang kerap terjadi. Setelah 8 provinsi tersebut akan dilanjutkan ke provinsi-provinsi lain disertai pendampingan.
Jika ditelusuri lebih jauh, modul ini erat kaitannya dengan proyek deradikalisasi yang menanamkan nilai-nilai universal kebebasan yang diberi label HAM, pemahaman tentang toleransi yang kebablasan, hukum jihad, hudud dan khilafah yang disalahtafsirkan[14]. Kemenag sendiri menyatakan bahwa penyusunan modul ini merupakan cara untuk merespon kebutuhan terhadap output pendidikan yang bersifat Islam damai, dimana term Islam damai”, Islam rahmatan lil alamin”, Islam Nusantara” seringkali dimaknai dengan makna absurd dan lebih jauh lagi digunakan untuk mereduksi ajaran Islam itu sendiri. Padahal term Islam rahmatan lil ’alamin adalah Islam yang tegak dengan penerapan akidah dan syari’at kâffah sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.[15] Bukan tanpa alasan, mengingat isu terorisme, opini dikotomisasi antara istilah Islam fundamentalisme dan antitesisnya, Islam rahmatan lil ’alamin telah menjadi proyek yang massif dilancarkan Amerika dan kaum liberal di negeri ini untuk memecah belah kaum muslimin, khususnya pasca tragedi WTC 9/11.[16]

Tanggung Jawab Pemerintah dalam Penyelenggaraan Pendidikan
            Islam telah menetapkan penyelenggaraan pendidikan sebagai bagian dari kewajiban pemerintah (penguasa) atas rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhârî, Muslim dll)[17]
Imam al-Baghawi (w. 516 H) menjelaskan makna al-râ’i dalam hadits ini yakni pemelihara yang dipercaya atas apa yang ada padanya, Nabi SAW memerintahkan mereka dengan menasihati apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan memperingatkan mereka dari mengkhianatinya dengan pemberitahuannya bahwa mereka adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka al-ri’âyah: adalah memelihara sesuatu dan baiknya pengurusan.[18] Dimana di antara bentuknya adalah pemeliharaan atas urusan-urusan rakyat dan perlindungan atas mereka.[19] Dan pendidikan Islam, jelas menjadi salah satu kebutuhan primer bagi rakyat, yang mesti diperhatikan oleh pemerintah mencakup pendanaan, sarana prasarana, panduan sistem kurikulum yang mendukung pendidikan Islam dan pengawasan terkait. []




[1] Taqiyyuddin al-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, Beirut: Daar al-Ummah, Cet. VI, 1422 H/2001, hlm. 69
[2] Dr. H. A. Rahmat Rosyadi, Pendidikan Islam Dalam Persepektif Kebijakan Pendidikan Nasional, Bogor: IPB Press, Cet. IV, 2014, hlm. 41.
[3] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islami, Bandung: Remaja Rosdakarya, Cet. II, 2013, hlm. 64.
[4] Al-Qadhi Taqiyyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet VI, 1424 H, juz I, hlm. 11.
[5] UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Salinan)
[6] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islami, hlm. 78.
[7] Ibid.
[8] Salinan Perpres RI No.83, Tahun 2015, hlm. 3.
[9] Lihat dalam Portal Kemenag RI: pendis.kemenag.go.id. Istilah Islam Nusantara pun menuai kontroversi dan dikritik oleh para ulama (lihat: nugarislurus.com, 9/7/2015). Surat resmi: diktis.kemenag.go.id, 20/8/2015.
[10] Portal Kemenag RI: pendis.kemenag.go.id (6/5/2015). Tentang term “Islam Rahmatan Lil ‘Alamin” penyusun telah menulis artikel terkait yang diterbitkan oleh Majalah Islam “Al-Wa’ie” (media politik dan dakwah) edisi No. 180, Tahun XV, 1-31 Agustus 2015, dan bisa dilihat di situs www.hizbut-tahrir.or.id.
[11] Modul ini dikritisi oleh sebagian umat Islam dan ormas Islam, di antaranya Hizbut Tahrir Indonesia. Juru Bicara MHTI, Iffah Ainur Rochmah menyebutkan bahwa modul harus dihentikan, modul tersebut merupakan upaya pengaburan bahkan penyesatan ajaran Islam melalui program deradikalisasi, mediaumat.com, 19/8/2015.
[12] Lihat: mediaumat.com, 19/8/2015.
[13] Portal Kemenag RI: pendis.kemenag.go.id (6/5/2015).
[14] Lihat: mediaumat.com, 19/8/2015.
[15] Muhammad bin ‘Umar Nawawi, Marâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1417 H, juz II, hlm. 62.
[16] Sebagaimana pemaparan para pakar dan ulama Islam atas isu-isu terkait selama ini.
[17] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (VI/2611, hadits 6719); Muslim dalam Shahîh-nya (VI/7, hadits 4751); Abu Dawud dalam Sunan-nya (III/91, hadits 2930); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (X/342, hadits 4490).
[18] Ibnu Mas’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, Beirut: Al-Maktab al-Islami, Cet. II, 1403 H, juz X, hlm. 61.
[19] Ibid.

25 August 2015

Praktik Pelet: Sihir & Benda Perantaraannya (Kajian Hadits Bagian II)


Irfan Abu Naveed
(Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia)
Di zaman ini, dalam kehidupan di bawah naungan sistem rusak Demokrasi, di antara bencana kemungkaran yang menimpa para pemuda dan pemudi adalah praktik sihir pelet. Praktik sihir ini menimpa para pemuda dan pemudi yang berpedoman “cinta ditolak, dukun bertindak”. Suatu kemungkaran yang membuahkan kemungkaran-kemungkaran lainnya; kemungkaran praktik sihir pelet, kemungkaran menzhalimi pihak lain (objek yang menjadi korban sihir) dan kemungkaran pacaran atau lebih dari itu.
Pelet termasuk sihir, dan ia sudah ada di zaman jahiliyyah yang diwakili oleh istilah al-tiwalah dalam hadits shahih:
«إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ»
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan tiwalah itu syirik” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi)[1]

Sihir Terwujud dengan Perantara
Sihir terwujud dengan suatu wasilah atau perantaraan, hal itu diisyaratkan dalam QS. Al-Falaq [113]: 4:
{وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ}
Dan dari keburukan para tukang sihir perempuan yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS. Al-Falaq [113]: 4)
            Kata al-‘uqad yakni ikatan buhul-buhul menunjukkan suatu benda yang dipakai para tukang sihir sebagai perantaraan sihir.
Dan berdasarkan hadits riwayat ‘Aisyah –radhiyallâhu ‘anhâ-: Telah menceritakan kepada kami al-Humaidi telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Urwah dari Ayahnya dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ-, ia berkata:
مَكَثَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-  كَذَا وَكَذَا يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَأْتِي أَهْلَهُ وَلَا يَأْتِي قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَالَ لِي ذَاتَ يَوْمٍ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِي أَمْرٍ اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَتَانِي رَجُلَانِ فَجَلَسَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رِجْلَيَّ وَالْآخَرُ عِنْدَ رَأْسِي فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي مَا بَالُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ يَعْنِي مَسْحُورًا قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ قَالَ وَفِيمَ قَالَ فِي جُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ تَحْتَ رَعُوفَةٍ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَجَاءَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-  فَقَالَ هَذِهِ الْبِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ وَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ فَأَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-  فَأُخْرِجَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ فَهَلَّا تَعْنِي تَنَشَّرْتَ فَقَالَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-  أَمَّا اللهُ فَقَدْ شَفَانِي وَأَمَّا أَنَا فَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا قَالَتْ وَلَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حَلِيفٌ لِيَهُودَ
“Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam- tetap termenung seperti ini dan ini, sehingga beliau dibuat seakan-akan telah melakukan sesuatu terhadap istrinya padahal beliau tidak melakukannya.” ‘Aisyah melanjutkan; "Sampai di suatu hari beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah kamu telah merasakan bahwa Allâh telah memberikan fatwa (menghukumi) dengan apa yang telah aku fatwakan (hukumi)? Dua orang laki-laki telah datang kepadaku, lalu salah seorang dari keduanya duduk di kakiku dan satunya lagi di atas kepalaku. Kemudian orang yang berada di kakiku berkata kepada orang yang berada di atas kepalaku; “Kenapakah laki-laki ini?" temannya menjawab; "Dia terkena sihir.' Salah seorang darinya bertanya; “Siapakah yang menyihirnya?" temannya menjawab; “Labid bin Al-A'sham.” Salah satunya bertanya: “Dengan benda apakah dia menyihir?" temannya menjawab; "Dengan seladang mayang kurma dan rambut yang terjatuh ketika disisir yang diletakkan di bawah batu dalam sumur Dzarwan." Kemudian Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam- mendatanginya, lalu bersabda: "Inilah sumur yang diperlihatkan kepadaku, seakan-akan pohon kurmanya bagaikan kepala syetan dan seolah-olah airnya berubah bagaikan rendaman pohon inai." Lalu Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam- memerintahkan untuk mengeluarkannya, kemudian barang tersebut pun dikeluarkan. Aisyah berkata; "aku bertanya; "Wahai Rasûlullâh, tidakkah anda menjampinya (meruqyahnya)?" maka Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam- menjawab: "Tidak, sesungguhnya Allâh telah menyembuhkanku dan aku hanya tidak suka memberikan kesan buruk kepada orang lain dari peristiwa itu." Aisyah berkata; “Labid bin A'sham adalah seorang laki-laki dari Bani Zuraiq yang memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi.” (HR. al-Bukhârî & Muslim, dan lainnya)
            Para ulama pun ketika menjelaskan hadits al-tiwalah pun menunjukkan sihir pelet yang menggunakan benda perantaraan. Pakar bahasa Imam Ibnu Manzhur menyifatinya dengan sihir yang terwujud dengan suatu benda perantara dalam penjelasannya:
ضَرْب مِنَ الخَرَز يُوضَعُ للسِّحْر فتُحَبَّب بِهَا المرأَةُ إِلى زَوْجِهَا، وَقِيلَ: هِيَ مَعَاذَة تُعَلَّق عَلَى الإِنسان
“(Al-Tiwalah) sejenis permata yang berlubang-lubang (manik-manik) yang diletakkan untuk mempraktikkan sihir sehingga dengannya seorang perempuan dicintai suaminya, dan dikatakan: ia sejenis benda perlindungan yang digantungkan pada tubuh seseorang.”[2]
Imam al-Syaukani (w. 1250 H) mengatakan:
شَيْءٌ يَصْنَعُهُ النِّسَاءُ يَتَحَبَّبْنَ إلَى أَزْوَاجِهِنَّ، يَعْنِي مِنْ السِّحْرِ. قِيلَ: هِيَ خَيْطٌ يُقْرَأُ فِيهِ مِنْ السِّحْرِ أَوْ قِرْطَاسٌ يُكْتَبُ فِيهِ شَيْءٌ
“Sesuatu yang dibuat oleh kaum perempuan agar mendapatkan cinta para suaminya, yakni termasuk sihir, dikatakan: ia adalah tali buhul yang dibacakan padanya mantra sihir, atau kertas yang dituliskan di dalamnya sesuatu (sihir).”[3]
            Lebih rinci lagi, Imam al-Mala’ al-Qari (w. 1014 H) menjelaskan:
(وَالتِّوَلَةَ): نَوْعٌ مِنَ السِّحْرِ قَالَ الْأَصْمَعِيُّ: هِيَ مَا يُحَبَّبُ بِهِ الْمَرْأَة إِلَى زَوْجِهَا ذَكَرَهُ الطِّيبِيُّ، أَوْ خَيْطٌ يُقْرَأُ فِيهِ مِنَ السِّحْرِ، أَوْ قِرْطَاسٌ يُكَعَّبُ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ السِّحْرِ لِلْمَحَبَّةِ أَوْ غَيْرِهَا
“(Al-Tiwalah): sejenis sihir, Imam al-Asma’i mengatakan: “Ia adalah sesuatu dimana dengannya seorang perempuan dicintai oleh suaminya, Imam al-Thibi pun menyebutkan hal tersebut, atau suatu tali buhul yang dibacakan di dalamnya suatu mantra sihir, atau kertas yang dikotak-kotakkan di dalamnya sejenis mantra sihir untuk menimbulkan rasa cinta atau tujuan lainnya.”[4]
            Kasus yang saya temukan, benda perantara sihir pelet biasanya berupa foto objek (korban) yang dituliskan padanya mantra-mantra sihir pelet dan nama korban serta nama pelaku sihir, seperti pada gambar di atas.
         Berdasarkan hadits riwayat ‘Aisyah r.a. di atas pun terdapat isyarat bahwa upaya untuk menghancurkan sihir yang paling utama adalah dengan menghancurkan benda yang menjadi perantara sihir, hal tersebut sebagaimana dijelaskan para ulama dan pakar, di antaranya Dr. Muhammad Yusuf al-Jurani dalam kitab al-Ruqyah al-Syar’iyyah min al-Kitâb wa al-Sunnah al-Nabawiyyah. Untuk kasus benda sihir seperti foto di atas, maka ruqyah kertas dan foto tersebut lalu dimusnahkan dengan cara disobek dan dibakar, tidak boleh dibuang begitu saja.

Wahai Para Istri & Suami: Inilah ‘Sihir’ Sejati Nan Syar’i
            Imam Syaukani (w. 1250 H) ketika membahas mengenai al-tiwalah pun menyampaikan nasihat yang bagus untuk para suami dan istri:
فَأَمَّا مَا تَحَبَّبُ بِهِ الْمَرْأَةُ إلَى زَوْجِهَا مِنْ كَلَامِ مُبَاحٍ كَمَا يُسَمَّى الْغَنْجُ وَكَمَا تَلْبَسُهُ لِلزِّينَةِ أَوْ تُطْعِمُهُ مِنْ عَقَارٍ مُبَاحٍ أَكْلُهُ أَوْ أَجْزَاءِ حَيَوَانٍ مَأْكُولٍ مِمَّا يُعْتَقَدُ أَنَّهُ سَبَبٌ إلَى مَحَبَّةِ زَوْجِهَا لَهَا لِمَا أَوْدَعَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ مِنْ الْخِصِّيصَةِ بِتَقْدِيرِ اللَّهِ لَا أَنَّهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِذَاتِهِ. قَالَ ابْنُ رَسْلَانَ: فَالظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا جَائِزٌ لَا أَعْرِفُ الْآنَ مَا يَمْنَعُهُ فِي الشَّرْعِ
“Dan adapun hal-hal yang menjadikan seorang suami mencintai istrinya berupa perkataan yang mubah yang dinamakan al-ghanzu (rayuan) dan istri memakai perhiasan (pakaian indah, dll) atau istri menyajikan makanan berupa suplemen yang mubah yang suami makan, atau bagian-bagian daging hewan yang dimakan yang diyakini menjadi sebab tumbuhnya cinta suaminya bagi sang istri berupa hal-hal dimana Allah meletakkan di dalamnya khasiat dengan ketetapan-Nya tidak karena ia berpengaruh dengan sendirinya. Ibnu Ruslan pun mengatakan: “Dan yang tampak bahwa hal tersebut (hal-hal yang mubah di atas untuk meraih cinta suami/istri) diperbolehkan, aku tidak mengetahui saat ini hal itu terlarang dalam tinjauan syara’.”[5]
            Maka dianjurkan menggunakan kata-kata rayuan, parfum yang disukai pasangan (suami/istri) yang dipakai istri di hadapan suaminya di rumahnya dan sebaliknya, dan lain sebagainya dalam hal-hal yang diperbolehkan syara’. Inilah ajaran Islam dengan segala kebaikannya, mengajarkan kita memisahkan antara yang haq dan batil. Wallâhu a’lam bish-shawâb []

Bersambung kajian solusi...





[1] HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (II/1166, hadits 3530); Abu Dawud dalam Sunan-nya (hadits 3885); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (XIII/456, hadits 6090) Syu’aib al-Arna’uth berkata: “Para perawinya perawi tsiqah, perawi shahih.”; al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (IX/588, hadits 19604).
[2] Ibnu Manzhur al-Anshari, Lisân al-‘Arab, juz XI, hlm. 81.
[3] Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani al-Yamani, Nayl al-Awthaar, juz VIII, hlm. 243.
[4] ‘Ali bin Muhammad Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, Cet. I, 1422 H/2002, juz VII, hlm. 2878.
[5] Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani al-Yamani, Nayl al-Awthaar, juz VIII, hlm. 244.

Praktik Pelet: Sihir & Hukumnya (Kajian Hadits Bagian I)



Irfan Abu Naveed
(Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia)

Di zaman ini, di antara bencana kemungkaran yang menimpa para pemuda dan pemudi adalah praktik sihir pelet. Praktik sihir ini menimpa para pemuda dan pemudi yang berpedoman “cinta ditolak, dukun bertindak”. Suatu kemungkaran yang membuahkan kemungkaran-kemungkaran lainnya; kemungkaran praktik sihir pelet, kemungkaran menzhalimi pihak lain (objek yang menjadi korban sihir) dan kemungkaran pacaran atau lebih dari itu.
Pelet termasuk sihir, dan ia sudah ada di zaman jahiliyyah yang diwakili oleh istilah al-tiwalah dalam hadits shahih:
«إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ»
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan tiwalah itu syirik” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi)[1]
            Hal itu berdasarkan penjelasan sebagai berikut:

Pengertian Al-Tiwalah
Al-Tiwalah berasal dari kata kerja tawala (تول)[2], dalam Kitâb al-‘Ayn disebutkan:
التِّوَلةُ، ويقال: التُّوَلة: التعاويذ  
“Al-Tiwalah, dikatakan pula: al-tuwalah: perlindungan-perlindungan.[3]
Imam Al-Jauhari (w. 393 H) dan Imam Ibnu Manzhur (w. 711 H) menukil Imam Ibn al-A’rabi:
فلانا لذو تولات، إذا كان ذا لُطْفٍ وتَأَتٍّ حتّى كأنه يسحر صاحبه 
“Seseorang pemilik tuwalât, apabila ia adalah pemilik kelembutan hingga seakan-akan menimbulkan sihir bagi pemiliknya.”[4]
Adapun secara terminologi, Abdullah bin Mas’ud –radhiyallâhu ‘anhu- ketika ditanya mengenai al-tiwalah menjawab:
«شَيْءٌ يَصْنَعُهُ النِّسَاءُ يَتَحَبَّبْنَ إِلَى أَزْوَاجِهِنَّ»
“Sesuatu yang diperbuat oleh kaum perempuan agar para suami mencintai mereka.”[5]
Abu 'Ubaid al-Qasim al-Baghdadi (w. 224 H) dalam kitab Gharîb al-Hadîts, menukil Imam al-Asma’i:
وَهُوَ الَّذِي يحبِّب الْمَرْأَة إِلَى زَوجهَا  
“Al-Tiwalah itu sesuatu yang menjadikan seorang suami mencintai istrinya.[6]
            Abu ‘Ubaid merinci bahwa al-tiwalah itu syirik dan ia (berkenaan dengan) rasa cinta dan ia termasuk sihir, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
{فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِه بَين الْمَرْء وزوجه}  
“Dan mereka berlajar dari keduanya apa-apa yang dengannya mereka memisahkan antara seseorang dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)[7]
            Abu Ibrahim Ishaq bin Ibrahim al-Farabi (w. 350 H) pun menyebutkan bahwa al-tiwalah ini termasuk salah satu jenis sihir,[8] hal yang sama disebutkan oleh Imam Al-Azhari (w. 370 H) dalam Tahdzîb al-Lughah[9], Imam al-Khaththabi (w. 388 H) dalam Gharîb-nya[10] dan Ma’âlim al-Sunan[11], Imam al-Jauhari (w. 393 H) dalam al-Shihâh[12], al-Hafizh Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) dalam Gharîb-nya[13] dan para ulama lainny yang saling menguatkan.
            Dan lebih jauh lagi mungkin saja terjadi dari lelaki kepada seorang perempuan atau perempuan kepada lelaki, dan dilakukan untuk perbuatan keji merebut suami atau istri orang lain seperti yang terjadi di zaman ini. Imam al-Syaukani (w. 1250 H) pun mengisyaratkan hal tersebut dalam penjelasannya mengenai al-tiwalah:
مِنْهُ يَتَحَبَّبُ بِهِ النِّسَاءُ إلَى قُلُوبِ الرِّجَالِ. أَوْ الرِّجَال إلَى قُلُوبِ النِّسَاءِ
“Diantaranya sesuatu yang membuat kaum wanita mendapatkan hati kaum pria atau kaum pria mendapatkan hati kaum wanita.”[14]
Pada penjelasan ini, kita menemukan realitas di zaman ini, sihir pelet berupa susuk yang dimasukkan ke dalam tubuh dengan perantaraan gaib (sihir) dan pembacaan mantra-mantra tertentu disertai laku ritual khusus sebelum pemasangannya, maka bagi siapa saja yang memasang susuk dengan cara-cara gaib dari dukun, wajib segera bertaubat dan tidak boleh kembali lagi kepada sang dukun, berobat dengan ruqyah syar’iyyah.
            Ibnu Faris (w. 395 H) pun menjelaskan hal serupa:
 ما تجعله المرأة في عنقها تتحسنُ به عند زوجها
“Sesuatu dimana seorang perempuan meletakkannya pada lehernya hingga ia tampak indah dengan perantaraannya bagi suaminya.[15]
            Yakni tampak indah; cantik dan menarik dalam pandangan mata suaminya dengan cara sihir. Hal yang sama dijelaskan oleh al-Fairuz Abadi (w. 817 H) dalam al-Qâmûs al-Muhîth.[16]
Dari penjelasan-penjelasan di atas, maka jelas bahwa al-tiwalah ini sejenis sihir yang saat ini dikenal dalam bahasa kita dengan istilah pelet, sesuatu yang dipakai untuk mempengaruhi perasaan; menimbulkan rasa cinta dan atau sebaliknya pada objek sihir tersebut; memisahkan seorang istri dari suaminya, yang tadinya cinta jadi benci, lalu cinta pada pelaku sihir pelet.            Dan sihir, terwujud dengan suatu perantaraan, maka pelet yang termasuk sihir jelas menggunakan perantaraan.

Hukum Sihir Pelet Al-Tiwalah
            Para ulama bersepakat bahwa mempraktikkan ilmu sihir itu hukumnya haram, karena banyak sekali dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah yang mendasarinya. Namun, secara spesifik al-Sunnah pun mengharamkan jenis sihir pelet yang disebut al-tiwalah. Kata syirk[un] dalam hadits ini menjadi indikasi tegas bahwa perbuatan tersebut diharamkan syari’at. Sihir itu sendiri termasuk tujuh perkara yang membinasakan berdasarkan hadits dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam- bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ
“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan.”
            Para sahabat bertanya: “Apa itu wahai Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam-?” Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam- menjawab:
الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ
“Menyekutukan Allah, mempraktikkan sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali karena alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan pertempuran (jihad) dan menuduh perempuan-perempuan baik-baik yang beriman.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Hibban dll)[17]
            Maka jelas, hadits di atas mengandung kecaman keras terhadap perbuatan sihir, termasuk sihir jenis pelet. Makna al-mûbiqât yakni al-muhlikât (hal-hal yang membinasakan).[18]
Al-Hafizh Ibnu al-Atsir (w. 606 H) mengatakan bahwa al-tiwalah:
مَا يُحبّب الْمَرْأَةَ إِلَى زوْجها مِنَ السِّحْرِ وَغَيْرِهِ، جَعَلَهُ مِنَ الشِّرْكِ لِاعْتِقَادِهِمْ أَنَّ ذَلِكَ يُؤَثِّرُ ويَفْعل خِلَافَ مَا قَدَّرَهُ اللَّهُ تَعَالَى.
 “Sesuatu yang membuat suami mencintai istrinya, ia termasuk sihir dan lainnya, Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam- menjadikannya sebagai bagian dari kesyirikan karena keyakinan mereka bahwa hal tersebut berpengaruh dan terlaksana menyelisihi apa-apa yang Allah takdirkan.”[19]
            Penjelasan di atas pun disebutkan Imam Badruddin al-‘Aini al-Hanafi (w. 855 H) dalam kitab ‘Umdat al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri.[20] Dan Imam al-Baihaqi (w. 458 H) menjelaskan bahwa al-tiwalah:
هُوَ الَّذِي يُحَبِّبُ الْمَرْأَةَ إِلَى زَوْجِهَا، هُوَ مِنَ السِّحْرِ وَذَلِكَ لَا يَجُوزُ 
 “Adalah sesuatu yang menjadikan seorang suami mencintai istrinya, dan ia termasuk sihir dan hukumnya tidak boleh (haram).”[21]
            Apa makna syirik dalam hadits ini? Imam al-Mala’ al-Qari pun merinci:
وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ كُلُّهَا بَاطِلَةٌ بِإِبْطَالِ الشَّرْعِ إِيَّاهَا، وَلِذَا قَالَ: (شِرْكٌ) : أَيْ: كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا قَدْ يُفْضِي إِلَى الشِّرْكِ إِمَّا جَلِيًّا وَإِمَّا خَفِيًّا. قَالَ الْقَاضِي: وَأُطْلِقَ الشِّرْكُ عَلَيْهَا إِمَّا لِأَنَّ الْمُتَعَارَفَ مِنْهَا فِي عَهْدِهِ مَا كَانَ مَعْهُودًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ مُشْتَمِلًا عَلَى مَا يَضْمَنُ الشِّرْكَ، أَوْ لِأَنَّ اتِّخَاذَهَا يَدُلُّ عَلَى اعْتِقَادِ تَأْثِيرِهَا وَهُوَ يُفْضِي إِلَى الشِّرْكِ.
“Seluruh perkara tersebut (al-ruqâ’, al-tamâ’im dan al-tiwalah) batil berdasarkan larangan syara’ atasnya, karena Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam- bersabda: (syirik) yakni masing-masing darinya terkadang mengantarkan pada kesyirikan sama saja apakah secara jelas atau tersembunyi. Al-Qadhi berkata: “Disebut syirik bisa jadi karena yang umum diketahui dari hal-hal tersebut pada masa beliau –shallallâhu ‘alayhi wa sallam- adalah hal-hal yang umum dikenal pada masa jahiliyyah dimana hal tersebut mengandung hal kesyirikan, atau bisa jadi karena perbuatan mengambil bagian darinya menunjukkan keyakinan terhadap pengaruhnya yang mengantarkan pada kesyirikan.”[22]
            Ancaman syirik dan termasuk tujuh perkara yang membinasakan dalam hadits-hadits di atas menunjukkan indikasi tegas keharaman mempraktikkan sihir.[23]

Wallâhu a’lam bish-shawâb []




[1] HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (II/1166, hadits 3530); Abu Dawud dalam Sunan-nya (hadits 3885); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (XIII/456, hadits 6090) Syu’aib al-Arna’uth berkata: “Para perawinya perawi tsiqah, perawi shahih.”; al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (IX/588, hadits 19604).
[2] Abu al-Husain Ahmad bin Faris al-Qazwaini al-Râzi, Mu’jam Maqâyîs al-Lughah, Ed: Abdussalam Muhammad Harun, Dâr al-Fikr, 1399 H/1979, juz I, hlm. 359; Abu Abdurrahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Kitâb al-‘Ayn, Ed: Dr. Mahdi al-Makhzumi dkk, Dâr wa Maktabah al-Hilâl, juz VIII, hlm. 135; Abu al-Fadhl Jamaluddin Ibnu Manzhur al-Anshari, Lisân al-‘Arab, Beirut: Dâr Shâdir, Cet. III, 1414 H, juz XI, hlm. 81.
[3] Abu Abdurrahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Kitâb al-‘Ayn, juz VIII, hlm. 135.
[4] Abu Nashr Isma’il bin Hamad al-Jauhari al-Farabi, al-Shihâh Tâj al-Lughah, Ed: Ahmad Abdul Ghafur, Beirut: Dâr al-‘Ilm, Cet. IV, 1407 H/1987, juz IV, hlm. 1645; Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, juz XI, hlm. 81.
[5] Diriwayatkan Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (XIII/456, hadits 6090), Syu’aib al-Arna’uth berkata: “Para perawinya perawi tsiqah, perawi shahih.”
[6] Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam al-Baghdadi, Gharîb al-Hadîts, Ed: Dr. Muhammad Abdul Mu’id, Hiderabad: Mathba’ah Dâ’irat al-Ma’ârif al-‘Utsmâniyyah, Cet. I, 1384 H/1964, juz IV, hlm. 50.
[7] Ibid (IV/329).
[8] Abu Ibrahim Ishaq bin Ibrahim al-Farabi, Mu’jam Dîwân al-Adab, Ed: Dr. Ahmad Mukhtar ‘Umar, Kairo: Mu’assasat Dâr al-Sya’b, 1424 H/2003, juz III, hlm. 346.
[9] Abu Manshur Muhammad bin Ahmad bin al-Azhari al-Haruri, Tahdzîb al-Lughah, Ed: Muhammad ‘Iwadh, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts, Cet. I, 2001, juz XIV, hlm. 228.
[10] Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad al-Khaththabi, Gharîb al-Hadîts, Ed: Abdul Karim Ibrahim, Dâr al-Fikr, Cet. I, 1402 H/1982, juz II, hlm. 270.
[11] Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad al-Khaththabi, Ma’âlim al-Sunan Syarh Sunan Abi Dâwud, Halb: al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1351 H/1932, juz IV, hlm. 226.
[12] Abu Nashr Isma’il bin Hamad al-Jauhari al-Farabi, al-Shihâh Tâj al-Lughah, juz IV, hlm. 1645.
[13] Jamaluddin Abu al-Faraj ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad al-Jauzi, Gharîb al-Hadîts, Ed: Dr. Abdul Mu’thi, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1405 H/1985, juz I, hlm. 113.
[14] Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani al-Yamani, Nayl al-Awthaar, Ed: ‘Ishamuddin al-Shibabathi, Mesir: Daar al-Hadiits, Cet. I, 1413 H/1993, juz VIII, hlm. 243.
[15] Abu al-Husain Ahmad bin Faris al-Qazwaini al-Râzi, Majmal al-Lughah, Ed: Zuhair Abdul Muhsin, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. II, 1406 H/1986, juz I, hlm. 152.
[16] Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Fairuz Abadi, Al-Qâmûs al-Muhîth, Ed: Tim Maktabah Tahqîq al-Turâts, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. VIII, 1426 H/2005, juz I, hlm. 971. 
[17] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (I/64, hadits 175); al-Bukhari dalam Shahîh-nya (III/1017, hadits 2615); Abu Dawud dalam Sunan-nya (III/74, hadits 2876); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (XII/371, hadits 5561).
[18] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi al-Syafi’I, Syarh al-Sunnah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth dkk, Damaskus: al-Maktab al-Islâmi, Cet. II, 1403 H/1983, juz I, hlm. 86.
[19] Majduddin Abu al-Sa’adat al-Mubarak bin Muhammad al-Syaibani Ibnu al-Atsir, Al-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts wa al-Atsar, Ed: Thahir Ahmad al-Zawi dkk, Beirut: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1399 H/1979, juz I, hlm. 200.
[20] Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad Badruddin al-‘Aini al-Hanafi, ‘Umdat al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, juz 21, hlm. 273.
[21] Abu Bakar Ahmad bin al-Husain al-Khurasani al-Baihaqi, Al-Sunan al-Kubrâ’, Ed: Muhammad Abdul Qadir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. III, 1424 H/2003, juz IX, hlm. 588.
[22] Ibid.
[23] Lihat pembahasan al-Qarâ’in dalam kitab ushul: ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Taysîr al-Wushuul ilâ al-Ushuul, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. III, 1421 H/2000, hlm. 19-26.