09 Juli 2015

Pengantar Memahami Surat al-Qadr (Laylatul Qadr)


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.”

(QS. Al-Qadr [97]: 1-5)

Pengantar
            Al-Qur’an merupakan pedoman utama hidup manusia, tanpa petunjuknya manusia berada dalam kegelapan, terlebih dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah seperti di zaman ini. Dan tidak ada satupun dari huruf al-Qur’an yang tak bermakna, dan ajaran-ajaran di dalamnya mengandung hikmah yang luar biasa. Allah SWT berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
Makna frase (تبيانًا لكل شيء) adalah apa-apa yang dibutuhkan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Thabari[1], Imam al-Tsa’labi[2], Imam Abu Bakr al-Jazairi[3] dan selain mereka dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an. Sesungguhnya al-Qur’an bagaikan apa yang dituturkan dalam sya’ir:
كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه # يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا
كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها # يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا
“Bagaikan rembulan memalingkan perhatianmu memerhatikannya # memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”
“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya # yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”[4]
Dimana keagungan al-Qur’an (i’jaaz-nya) pun mencakup kandungan bahasa dan ungkapannya, maka tak mengherankan jika para pakar sastra arab, termasuk dari kalangan kaum kafirin salah satunya al-Walid bin al-Mughirah dari kalangan musyrikin Quraysi tak bisa memungkirinya dengan berkata:
“Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian (Bangsa Quraysi) yang lebih mengenal sya’ir-sya’ir dariku, dan tidak ada pula yang lebih mengetahui rajaz dan qashid-nya selain diriku, Demi Allah tidak ada satupun dari apa yang dibaca Muhammad menyerupai ini semua, Demi Allah sesungguhnya ungkapan yang disampaikannya sangat manis dan apa yang dituturkannya sangat indah.”[5]
Salah seorang dosen tafsir dan balaghah di STIBA ar-Raayah dari Mesir, Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshouri al-Mishri, ketika kami berdiskusi mengenai tafsir al-Qur’an ia menuturkan:
لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ
“Setiap huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung pelbagai rahasia (kandungan makna).”[6]
            Salah satu surat al-Qur’an yang sangat agung kandungannya, mencakup kandungan pesan dan ungkapannya adalah QS. Al-Qadr [97]: 1-5.

Penjelasan Umum
Pertama, Istilah Laylatul Qadr
            Apa itu malam laylatul qadr? Imam al-Raghib al-Ashfahani mengatakan:
أي: ليلة قيضها لأمور مخصوصة
 “Yakni suatu malam dimana Allah menentukan di dalamnya urusan-urusan tertentu.”[7]
            Imam Mujahid menyebut laylatul qadr ini sebagai laylatul hukm (malam keputusan)[8], Ibnu Qutaybah (w. 276 H) pun menegaskan bahwa ia laylatul hukm, seakan-akan Allah menetapkan di dalamnya berbagai hal.[9] Dimana di dalamnya terdapat kebaikan dalam segala hal hingga terbitnya fajar.[10]
            Hal serupa dinyatakan oleh al-Hafizh Abu Ja’far al-Thabari (w. 310 H):
وهي ليلة الحُكْم التي يقضي الله فيها قضاء السنة ؛ وهو مصدر من قولهم: قَدَرَ الله عليّ هذا الأمر، فهو يَقْدُر قَدْرا
“Malam tersebut merupakan laylatul hukm (malam keputusan) dimana Allah memutuskan di dalamnya qadha’ yang terjadi selama setahun, dan kata qadr adalah mashdar dari perkataan arab: Allah telah memutuskan perkara ini atas diriku, yakni yaqduru – qadr[an].[11]

Kedua, Lebih baik daripada seribu bulan.
            Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan dalam ayat ini bahwa laylatul qadr lebih baik daripada seribu bulan, ada apa di balik seribu bulan? Imam Mujahid (w. 104 H) mengatakan:
بَلَغَنِي أَنَّهُ كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ رَجُلٌ لَبِسَ السِّلَاحَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَلْفَ شَهْرٍ فَلَمْ يَضَعْهُ عَنْهُ فَذَكَرَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ فَعَجِبُوا مِنْ قُوَّتِهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ} [القدر: ٣] يَقُولُ اللَّهُ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ تِلْكَ الْأَلْفِ شَهْرٍ الَّتِي لَبِسَ ذَلِكَ الرَّجُلُ فِيهَا السِّلَاحَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَمْ يَضَعْهُ عَنْهُ "
“Telah sampai kepadaku bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan kasus Bani Israil dimana seorang pria membawa senjatanya di jalan Allah (jihad) selama seribu bulan dan ia tidak meletakkannya, lalu Rasulullah SAW menyebutkan kisah ini kepada para sahabatnya dan mereka terkagum-kagum atas kekuatannya, maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat: “Laylatul qadr itu lebih baik daripada seribu bulan.” Allah berfirman bahwa laylatul qadr itu lebih baik bagi kalian daripada waktu seribu bulan dimana pria tersebut membawa senjata di jalan Allah dan tak pernah meletakkannya.”[12]
            Namun para ulama berbeda pendapat dalam menakwilkan “lebih baik daripada seribu bulan”, ini sebagaimana diungkapkan al-Hafizh al-Thabari:
Pendapat pertama: Bahwa amal perbuatan di malam laylatul qadr itulah yang lebih baik daripada amal perbuatan selama seribu bulan di luar waktu tersebut, sebagian ulama ahli ta’wil berpendapat:
العمل في ليلة القدر بما يرضي الله، خير منَ العمل في غيرها ألف شهر 
“Amal perbuatan di malam laylatul qadr berupa hal-hal yang Allah ridhai, lebih baik daripada beramal di waktu-waktu selainnya selama seribu bulan.”[13]
            Ini merupakan pendapat Imam Mujahid, ‘Amru bin Qays.[14]
Pendapat kedua: Bahwa malam laylatul qadr ini lebih baik daripada seribu bulan, bukan amal perbuatan di dalamnya, ini merupakan pendapat Qatadah.[15]

Ketiga, Malam diturunkannya keseluruhan al-Qur’an ke langit dunia. 
            Hal tersebut sebagaimana penjelasan Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubayr, al-Sya’bi, sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Abu Ja’far al-Thabari (w. 310 H), dimana ia pun mengatakan:
إنا أنزلنا هذا القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا في ليلة القَدْر
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an ini secara keseluruhan ke langit dunia ketika laylatul qadr.[16]

Penjelasan Tambahan

Pertama, Pengulangan kata laylatul qadr
Imam al-Kirmani (w. 505 H) menukil perkataan penya’ir:
لا أرى الموت يسبق الموت حتى # نغص الموت ذا الغنى والفقيرا
“Tidaklah aku melihat kematian mendahului kematian lainnya hingga # kematian itu menakuti orang yang kaya raya dan orang yang faqir harta.”
            Maka pernyataan dengan kata al-mawt (kematian) disebutkan sebanyak tiga kali sebagai bentuk penekanan.[17]
            Pengulangan ini menunjukkan adanya penegasan (ta’kiid), terlebih ayat ini pun di awali dengan salah satu huruf ta’kiid, yakni kata inna. Dalam tinjauan ilmu balaghah, keberadaan semua penegasan (ta’kîd) seperti ini berfaidah menegasikan atau menafikan segala bentuk pengingkaran terlebih keraguan.[18]

Kedua, Pemilihan kata anzala (mashdarnya: inzaal) dan perbedaannya dengan kata nazzala (mashdarnya: tanziil). Salah seorang ulama pakar bahasa abad ke-4 H, Imam Al-Hasan bin 'Abdullah Abu Hilâl al-’Askari[19] pun menjelaskan dalam kitab al-Furûq al-Lughawiyyah:
الفرق بين الانزال والتنزيل: قال بعض المفسرين: الانزال: دفعي، والتنزيل: للتدريج.
“Perbedaan antara al-inzaal dan al-tanziil: sebagian ulama ahli tafsir berkata: al-inzaal sifatnya dorongan langsung (turun keseluruhan secara langsung), sedangkan al-tanziil: untuk menunjukkan proses secara bertahap.”[20]
            Imam Abu Hilal al-‘Askari pun menjadikan QS. al-Qadr: 1 sebagai contoh ayat yang menggunakan kata anzala (anzalayunzilu-inzaal[an]) bermakna turun keseluruhan secara langsung, ia pun menegaskan:
فإن المراد إنزاله إلى سماء الدنيا، تم تنزيله منجما على النبي صلى الله عليه وآله في ثلاث وعشرين كما وردت به الروايات.(اللغات).
“Maka sesungguhnya yang dimaksud darinya adalah turunnya al-Qur’an  keseluruhan ke langit dunia, kemudian turun secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama dua puluh tiga tahun sebagaimana riwayat-riwayat telah menyebutkannya.”[21]

Ketiga, Penguatan atas kedudukan Jibril a.s. hal tersebut dapat ditemukan pada ayat ke-4 dari surat ini:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”
            Kata malaa’ikat adalah ’âm (umum) dan Jibril a.s. adalah khâsh (khusus) bagian dari malaikat, maka dalam tinjauan ilmu balaghah ini termasuk dzikr al-khâsh ba’da al-‘âm (ذكر الخاص بعد العام), yakni menyebutkan yang khusus setelah yang umum, faidahnya ini menunjukkan keutamaan yang khusus (لإبراز أهميته)[22], penekanan atas pentingnya kedudukan perkara yang khusus tersebut (للتنبيه على فضل الخاص)[23].
Pertanyaan mendasarnya, "Bagaimana kita menerapkan hukum-hukum al-Qur'an dan al-Sunnah (Al-Islam kaaffah) dalam kehidupan?"

Download File:



[1] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, juz XVII, hlm. 278.
[2] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim ats-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37
[3] Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar at-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabiir, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, Cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.
[4] Abu al-Qâsim bin Muhammad Al-Râghib Al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, juz I, hlm. 3.
[5] Taqiyuddin bin Ibrahim An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, jilid I, hlm. 170.
[6] Salah seorang Dosen Tafsir (seorang doktor di bidang ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar) di tempat penyusun bekerja di Kuliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât Al-Islâmiyyah – Jâmi’atur-Râyah.
[7] Abu al-Qâsim bin Muhammad Al-Râghib Al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, juz II, hlm. 511.
[8] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz XXIV, hlm. 532.
[9] Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaybah, Ghariib al-Qur’aan, Ed.: Sa’id al-Lahham, hlm. 463.
[10] Ibid.
[11] Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, juz XXIV, hlm. 531-532.
[12] Abu al-Hajjaj Mujahid bin Jabr, Tafsiir Mujâhid, Ed.: Dr. Muhammad ‘Abdussalam, Mesir: Dar al-Fikr al-Islamiy al-Haditsah, Cet. I, 1410 H, hlm. 740.
[13] Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, juz XXIV, hlm. 533.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, juz XXIV, hlm. 531.
[17] Taj al-Qurra’ Mahmad bin Hamzah al-Kirmani, Asraar al-Tikraar fii al-Qur’aan, Ed.: ‘Abdul Qadir, Dar al-Fadhilah, hlm. 252.
[18] Tim Pakar, Al-Balâghah wa an-Naqd, Riyâdh: Jâmi’atul Imâm Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 38-39.
[19] Ia adalah Al-Imâm al-Adîb al-Lughawi Al-Hasan bin 'Abdullah bin Sahal bin Sa'îd bin Yahyâ bin Mahrân al-'Askari.
[20] Abu Hilâl al-‘Asykari, Al-Furûq al-Lughawiyyah, Kairo: Dâr al-‘Ilm wa ats-Tsaqâfah, 1418 H.
[21] Ibid.
[22] Lihat penjelasan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil mengenai faidah dari dzikr al-khâsh ba’da al-‘âm dalam at-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr, hlm. 43.
[23] Tim Pakar, Al-Balâghah wa an-Naqd.