06 Mei 2015

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat


Pertanyaan
  1. Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris?
  2. Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini?
  3. Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam?
Jawaban
Soal Ke-1:  Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris?
Jawaban
Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah.
Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik -radhiyaLlâhu 'anhu-:
أَنّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ، قَالَ : فَخَرَجَ شِيصًا، فَمَرَّ بِهِمْ، فَقَالَ : مَا لِنَخْلِكُمْ، قَالُوا : قُلْتَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ : أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
”Bahwa Nabi -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: ”Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik.” Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ”Ada apa dengan pohon kurma kalian?” Mereka menjawab: ”Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?” Beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallamlalu bersabda: ”Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim no. 4358, Bab. Wujuub Imtitsaali Maa Qaalahu Syar’an Duuna Maa Dzakarahu Min Ma’aayisy ad-Dunyaa’)
Adalah ’Umar bin al-Khaththab -radhiyaLlâhu 'anhu-, salah seorang sahabat Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- yang dikenal dengan julukan al-Fâruq, yakni pemisah antara kebenaran dan kebatilan dimana karakter ini termasuk salah satu karakteristik golongan ulul albâb. Karakteristik ’Umar ini, tergambar jelas dalam catatan sejarah. Ketika Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- wafat, kaum muslimin termasuk para sahabat mulai keluar dari Jazirah Arab dan mulai berhadapan dengan pemikiran dan peradaban yang kompleks. Di Persia misalnya, Sa’ad bin Abi Waqqas, panglima perang yang dikirim ’Umar ke sana telah menemukan buku-buku filsafat lama sebagai rampasan perang. Dari laporan Ibn Khaldun, Sa’ad, sebenarnya ingin membawa buku-buku tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tapi keinginan beliau ini langsung ditolak oleh ’Umar: “Campakkan buku-buku itu ke dalam air. Jika apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut adalah petunjuk yang besar, maka Allah telah memberikan kepada kita petunjuk-Nya yang lebih besar (al-Qur’an dan as-Sunnah). Jika ia berisi kesesatan, Allah telah memelihara kita dari bencana tersebut.”[1]
Di sini tampak jelas bahwa ’Umar bin al-Khaththab -radhiyaLlâhu 'anhu- berpegang teguh pada wasiat Nabi -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- dalam Haji Wada’:
قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا اعْتَصَمْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا أَمْرًا بَيِّنًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian, selama kalian berpegang teguh kepadanya, selama-lamanya kalian tidak akan tersesat. Ia merupakan perkara yang jelas sejelas-jelasnya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Muslim)[2]
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِيْنِكُمْ فَخُذُوْا بِهِ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيٍ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ
Jika aku telah memerintahkan kamu sesuatu mengenai urusan agamamu, maka ambilah, dan jika aku telah memerintahkan kamu sesuatu mengenai suatu pendapat maka aku hanyalah manusia biasa.” (HR. Muslim)[3]
            Hadits-hadits di atas dijadikan pegangan oleh para sahabat, termasuk ’Umar, sehingga dalam urusan dîn (akidah dan sistem kehidupan) mereka hanya berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, sementara dalam urusan ra’y (pendapat selain akidah dan sistem kehidupan), mereka diberi keleluasaan untuk memilih dan tidak perlu terikat dengan pendapat Rasul -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-. Inilah yang dapat dipahami dari tindakan ’Umar bin al-Khaththab -radhiyaLlâhu 'anhu- ketika beliau mengusulkan pembukuan al-Qur’an kepada Abu Bakr -radhiyaLlâhu 'anhu-, atau ketika ’Umar mengadopsi model pembukuan (dîwân[4]) Persia dan Romawi sebagai aspek teknis (uslûb) administratif dan manajemen[5], sedangkan pada waktu yang sama sistem pemerintahannya termasuk filsafatnya tidak diadopsi.[6] Ini sudah cukup menggambarkan keteladanan dalam memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, dan pemahaman apa yang boleh diadopsi dan apa yang tidak.
Sikap ’Umar terhadap filsafat Yunani tersebut merupakan gambaran dari prinsip ’Umar al-Fâruq -radhiyaLlâhu 'anhu- yang disebutkan al-Hafizh ath-Thabari menuturkan:
نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِاْلإِسْلاَمِ، وَمَتىَ ابْتَغَيْنَا اْلعِزَّ بِغَيْرِ دِيْنِ اللهِ أَذَلَّنَا اللهُ
Kami adalah kaum yang telah dimuliakan oleh Allâh dengan Islam, sehingga kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain agama Allâh, maka Allâh menghinakan kami.”
Memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, serta menghalalkan apa yang dihalalkan Islam dan mengharamkan apa yang diharamkan Islam. Dan sikap as-Salaf ash-Shâlih itulah yang mesti kita teladani, sebagaimana diungkapkan sya’ir:
نبني كما كانت أوائلنا # تبني، ونفعل مثلما فعلوا
Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami # membangun, dan kami bertindak sebagaimana mereka telah bertindak.
Kebolehan mengadopsi Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris karena sifatnya yang universal, tidak terkait dengan worldview atau paradigma yang lahir dari akidah tertentu.
Al-’Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim pun menjelaskan:
والأشكال المدنية التي تنتج عن العلم وتقدمه، والصناعة ورقيها، تكون عامة، ولا تختص بها أمة من الأمم، بل تكون عالمية.
”Bentuk-bentuk produk (madaniyyah) yang dihasilkan dari sains dan perkembangannya, industri dan kemajuannya, bersifat umum, tidak dikhususkan untuk umat tertentu dari umat manusia, akan tetapi bersifat universal.”[7]
            Maka dari itu, Taqiyuddin bin Ibrahim pun menegaskan bahwa menggunakan bentuk-bentuk produk (madaniyyah) dari Barat yang dihasilkan dari sains atau industri tidak ada halangan bagi kita untuk menggunakannya[8], hal itu berbeda dengan bentuk-bentuk madaniyyah yang dihasilkan dari akidah atau paradigma khas peradaban Barat, ia tidak boleh diadopsi misalnya lukisan yang mengandung pornografi yang dianggap dalam peradaban Barat sebagai karya seni.

Soal Ke-2: Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini?
Jawaban
Dekonstruksi secara bahasa bermakna penghancuran, perombakan atau pembongkaran. Berangkat dari definisi konstruksi dalam KBBI Daring: “Susunan (model, tata letak) suatu bangunan..”[9]
Sedangkan epistemologi dalam KBBI Daring didefinisikan sebagai: “epis·te·mo·lo·gi /épistémologi/ n cabang ilmu filsafat tt dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan.”[10] Lebih rinci lagi didefinisikan sebagai: “Pengkajian mendalam dan sistematis terhadap pengetahuan, kriteria-kriteria dalam perolehannya dengan keterbatasan-keterbatasannya serta cara menjustifikasi pengetahuan tersebut.”[11]
Maka istilah dekonstruksi epistemologi bisa dipahami sebagai upaya merombak ulang tatanan sistem keilmuan Islam yang bertujuan untuk meruntuhkan tatanan kehidupan sosial-politik dan keagamaan Islam yang sudah pakem. Jika kita flash back, upaya-upaya desakralisasi al-Qur’an, menggugat otentifikasi as-Sunnah, kodifikasi hukum Islam yang memuat pasal-pasal yang meruntuhkan hukum-hukum Islam yang sudah pakem (baca: qath’iyyah), dimana gagasan itu semua selalu didengung-dengungkan kaum liberal di Indonesia adalah gambaran dari upaya dekonstruksi untuk menghancurkan bangunan epistemologi Islam.
       Maka tak ada keraguan untuk menyatakan bahwa gagasan ini merupakan gagasan yang berbahaya, jika dalam Islam terdapat konsep qath’iy dan zhanniy, baik dalam wilayah tsubût maupun dilâlah[12], maka konsep dekonstruksi ini melibas batas-batas itu semua. Bisa dibayangkan jika dekonstruksi epistemologi Islam ini diadopsi niscaya akan ada banyak keyakinan sesat, pemahaman dan pemikiran rusak yang dijustifikasi.
Misalnya gagasan pluralisme dan gugatan atas pemahaman Islam satu-satunya Din yang benar, jelas bertentangan dengan dalil-dalil qath’iyyah, baik tsubuut maupun dilaalah-nya yang menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya Din yang benar, misalnya dalam ayat-ayat yang agung ini:
  إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Âli Imrân [3]: 19)
Diperkuat firman-Nya:
 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)
            Berdasarkan ayat ini, al-‘Allamah Muhammad al-Amin asy-Syanqithi (w. 1939 H) mengatakan: “Allah telah menjelaskan dalam ayat yang mulia ini bahwa Dia telah menyempurnakan Din-Nya untuk kita, maka Allah tidak akan menguranginya selamanya, maka Din ini tidak membutuhkan tambahan selamanya.”[13]
Ayat ini menjelaskan bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah SWT, sementara yang lain tidak. Ini bisa difahami dari mafhûm mukhâlafah lafadz: “Aku ridhai” yang merupakan kata kerja sifat: “Aku ridhai Islam sebagai agama kamu” yang berarti: “Aku tidak meridhai selain Islam sebagai agama kamu.”[14] Mafhûm ini diperkuat oleh nas berikut ini:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari selain Islam sebagai Diin, maka tidak akan pernah diterima hal itu darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Âli Imrân [3]: 85)
Dan sudah jelas pula bahwa ideologi atau Din selain Islam adalah batil dan tertolak. lafadz: Fa Lan Yuqbala Minhu”  adalah qarînah (indikasi) mendalam maknanya (balîgh), yang menunjukkan tidak diterimanya agama orang kafir yang jelas-jelas kafir (kufran haqîqiyan) karena tidak memeluk Islam sebagai agama, seperti Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, atau musyrik seperti para pengikut agama lain selain Yahudi dan Nasrani. Atau memeluk ideologi lain selain Islam, baik Kapitalisme maupun Sosialisme, ataupun orang yang terlihat memeluk Islam, namun pemikiran, perasaan dan gaya hidupnya tidak berlandaskan Islam. Yang oleh Ibn Abbâs disebut kufran dûna kufrin, ketika menjelaskan tafsir surat al-Mâidah. Dengan demikian semuanya tercakup di dalam ayat tersebut. Sebab, pengertian lafadz: Ghayra al-Islâm  adalah semua ajaran di luar Islam, baik agama maupun mabda' (ideologi). Begitu pula lafadz: Dîn[an] dalam pengertian yang dikehendaki oleh Allah adalah tuntunan hidup yang meliputi urusan dunia dan akhirat, spiritual dan politik yang tidak hanya mengurusi urusan akhirat saja. Disamping itu, lafadz tersebut merupakan isim nakirah, yang mempunyai makna umum (mubham), yang mencakup seluruh pengertian agama, baik dalam wilayah spiritual maupun politik, alias ideologi.[15] Maka konsep pluralisme agama terbantahkan dengan pemahaman mustanîr ini.
Kasus lainnya, upaya desakralisasi al-Qur’an yang diwujudkan dalam gagasan-gagasan gugatan atas teks al-Qur’an (harus tunduk pada kaidah-kaidah sastra arab), otentifikasi al-Qur’an (melibas kemutawatiran teks al-Qur’an), dan gagasan hermeneutika terhadap al-Qur’an. Itu semua bertentangan dengan konsep pakem bahwa al-Qur’an dari segi tsubuut-nya jelas qath’i, keberadaannya didasarkan pada periwayatan mutawatir. Namun dalam gagasan dekonstruksi epistemologi Islam ini pemahaman pakem ini dihancurkan. Dan al-Qur’an sebagai pedoman utama umat ini menjadi sasaran utama dan pertama, sehingga desakralisasi al-Qur’an adalah upaya pertama sebagai jalan bagi mereka untuk menggugat makna-makna pakem dalam al-Qur’an (dilâlah qath’iyyah) sehingga bebas ’menafsirkan’ ajaran al-Qur’an (Islam) sesuai dengan hawa nafsu mereka, yakni kaum sepilis baik tokoh-tokoh liberal dari dalam negeri maupun luar negeri[16], dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan mereka.
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff [61]: 8)
            Maka jelas bahwa gagasan dekonstruksi epistemologi Islam, yang merupakan bagian dari –meminjam tesis Dr. Adian Husaini- ”Konfrontasi Permanen”[17] antara Islam dan peradaban Barat dengan gagasan-gagasannya, adalah gagasan berbahaya yang wajib ditolak dan dibantah secara intelektual.

Soal Ke-3: Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam?
Jawaban
            Memahami Epistemologi Barat tak terlepas dari sejarah filsafat Barat secara umum yang hanya mengakui akal dan pengalaman inderawi sebagai sumber paling otentik dalam meraih ilmu. Secara umum epistemologi Barat menolak khabar shaadiq (al-wahyu), atau hal-hal metafisik sebagai sumber ilmu, dimana hal ini menjadi perbedaan paling prinsipil antara epistemologi Barat dan Islam. Dan hal itu pula yang menyebabkan Epistemologi Barat mengalami krisis, kebingungan, hingga terpecah-pecah dalam beberapa aliran.
Dalam perkembangannya, perbedaan cara pandang diantara para filsuf Barat telah   memunculkan  beberapa  aliran mengenai cara manusia mengetahui sesuatu dengan pendekatannya masing-masing. Ada sejumlah aliran dalam epistemologi Barat:
Pertama, Rasionalisme: aliran yang mengatakan bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang benar dan menjadi dasar bagi pengetahuan ilmiah. Para tokoh aliran ini diantaranya adalah Plato, Rene Descardes, Baruch Spinoza,  dan Gottfried Wilhelm Leibniz.
Kedua, Empirisme: aliran yang  menekankan pentingnya peranan indera sebagai sumber pengetahuan yang utama atau bahkan satu-satunya sumber pengetahuan. Tokoh-tokoh aliran ini adalah John Locke  dan David Hume dari Inggris.
Ketiga, Kritisisme: aliran ini dimotori oleh Imanuel Kant. Kant berpendapat bahwa walaupun seluruh ide dan konsep manusia bersifat apriori sehingga ada kebenaran apriori, namun ide dan konsep apriori hanya dapat diaplikasikan apabila ada pengalaman. Menurutnya, tanpa adanya pengalaman, seluruh ide dan konsep serta kebenaran apriori tidak akan pernah dapat diaplikasikan.
Keempat, Positivisme: Aliran ini digagas oleh August Comte (1798-1857) yang merupakan kelanjutan dari mazhab empirisme.  Positivisme  bermakna hal-hal faktual atau fakta-fakta empirik sehingga obyek pengetahuan  menurut aliran ini adalah obyek yang terindera saja dan menafikan hal-hal yang bersifat metafisik.
Kelima, Intuisionisme: aliran yang mengutamakan hati sebagai sumber pengetahuan yang paling dapat dipercaya dibandingkan sumber lainnya. Di Barat aliran ini dikembangkan oleh Henry Bergson (1859-1941) yang mengatakan bahwa ilmu adalah intuisi yang paling utama (ultimate intuitive).
            Namun jika ditanyakan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan Islam, maka jika kita telusuri lebih jauh memang ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam, pada sisi ketika keduanya menjadikan penelitian empiris sebagai salah satu sumber ilmu sains. Menurut Mulyadi Kartanegara bahwa Epistemologi Barat memandang objek ilmu hanya terbatas pada unsur-unsur yang bersifat fisik dan mengabaikan hal-hal  metafisik sehingga sangat bertentangan dengan epistemologi Islam yang mengakui status ontologis keduanya[18].
            Artinya memang ada irisan, ketika Epistemologi Barat dan Islam sama-sama mengakui bahwa unsur-unsur yang bersifat fisik bisa menjadi sumber ilmu. Banyak dalil-dalil Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk berpikir mengenai alam semesta (hal yang memang terindera), dimana alam semesta  semisal objek Bumi merupakan aspek fisik yang bisa diteliti dengan kajian empiris. Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang benar-benar terdapat ayat-ayat bagi ulil albâb.” (QS. Âli Imrân [3]: 190)
Ada dua kata kunci dalam ayat di atas yang berkaitan dengan aspek epistemologi; yakni kata aayaat yang bisa diartikan tanda, pelajaran dan petunjuk kepada dalil sebagaimana dijelaskan Imam Ar-Raghib al-Ashfahani[19]. Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji mengatakan:
الآية : ج آيات ، ومنه آيات العلامة ,العبرة
Al-Aayah, jamaknya aayaat, diantara maknanya adalah tanda, pelajaran. [20]
Dan frase ulul albaab yang berarti orang-orang yang memiliki akal, yakni mereka yang berpikir. Menafsirkan ayat yang mulia ini, Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:
وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهُنَّ وَلَمْ يَتَدَبَّرْهُنَّ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
Maka celakalah bagi orang yang membacanya namun tidak mentadaburinya, celakah ia, celakah ia.” (HR. Ibn Hibban dalam Shahîh-nya)
            Hadits ini menekankan pentingnya mentadaburi apa yang terkandung dalam ayat yang agung ini, yakni mentadaburi ayat-ayat kauniyyah (alam semesta) sebagai dalil dan argumentasi untuk semakin memperkuat keimanan kepada keberadaan Sang Pencipta, yakni Allah ‘Azza wa Jalla. Mentadaburi ayat-ayat-Nya dan senantiasa mengingat-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Âli Imrân [3]: 191)
Ketika menafsirkan ayat tersebut, al-Hafizh Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) menuturkan: “Pendapat dalam menakwilkan ayat: ((yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi) dan firman-Nya: ((yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk..) merupakan sifat dari ulil albâb[21]
Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- pun telah mencontohkan bagaimana beliau mentadaburi ayat-ayat Allah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ’Abbas -radhiyaLlâhu 'anhu-, ia berkata: “Suatu ketika aku bermalam di rumah bibiku Maimunah, aku mendengar Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- berbincang-bincang bersama istrinya sesaat. Kemudian beliau tidur. Tatkala tiba waktu sepertiga malam terakhir, beliau duduk dan melihat ke langit lalu beliau membaca:
{ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ }
 Lalu beliau berwudhu dan bersiwak, kemudian shalat sebelas raka'at. Setelah mendengar Bilal adzan, beliau shalat dua raka'at kemudian beliau keluar untuk shalat subuh.” (HR. al-Bukhâri)
            Jadi jelas bahwa Islam memandang bahwa alam semesta ini yang terindera (fisik) merupakan salah satu sumber ilmu, petunjuk dan pelajaran. []




[1] Muqaddimah (hlm. 530-531), Ibnu Khaldun; dinukil dari buku Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam (hlm. 15), Muhammad Maghfur W, MA.
[2] Shahîh Muslim, K. al-Hajj, no. 2137.
[3] Ibid, no. 4357.
[4] Diiwân adalah istilah yang berasal dari perkataan Persia, yang diambil sebagai istilah seperti apa adanya, dan dengan maksud yang sama, yaitu arsip yang di dalamnya ditulis nama-nama pegawai dan tentara yang dibayar, berdasarkan urutan-urutan kabilah dan asal masing-masing. Lihat: at-Tarâtib (I/200), al-Kattani.
[5] At-Tarâtib al-Idâriyyah (I/200-202), al-Kattani; dinukil dari buku Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam (hlm. 16), Muhammad Maghfur W, MA.
[6] Muqaddimah (hlm. 530-531), Ibn Khaldun; dinukil dari buku Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam (hlm. 16), Muhammad Maghfur W, MA.
                [7] Taqiyuddin bin Ibrahim, Nizhâm al-Islâm, Beirut: Daar al-Ummah, Cet. VII, 1372 H/ 1953, Bab. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah, hlm. 31.
[8] Ibid, hlm. 32.
[11] Dipaparkan oleh Dr. Dinar Dewi Kania, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) dalam pembahasan Konstruksi Epistemologi Barat.
[12] Pembahasan ini banyak diulas oleh para ulama dalam kutub ushuul al-fiqh mereka. Salah satunya penjelasan-penjelasan al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim dalam kitab asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah yang ditulisnya sebanyak tiga jilid.
[13] Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithi, Al-Islâm Dîn Kâmil, hlm. 3.
[14] KH. Drs. Hafidz Abdurrahman,MA, Diskursus Islam Politik & Spiritual, Bogor: Al-Azhar Press.
[15] Ibid.
[16] Salah satu pentolan mereka adalah Nasir Hamid Abu Zayd dari Mesir.
[17] Dr. Adian Husaini mengajukan tesis dalam pengantar bukunya, Wajah Peradaban Barat, istilah ”Konfrontasi Permanen” sebagai antitesis terhadap teori ”Benturan Peradaban (The Clash of Civilizations)" dari Bernard Lewis yang kemudian disebarluaskan oleh Samuel P. Huntington. Konfrontasi permanen yang dimaksud penulis adalah konfrontasi pada aspek intelektual dimana terdapat perbedaan mendasar antara pandangan hidup Islam dan pandangan hidup Barat, dan bangunan peradaban yang berdiri di atasnya. Konfrontasi di segala bidang baik perdagangan, informasi maupun budaya (tsaqaafah).
[18] Sebagaimana dinukil oleh Dr. Dinar Dewi Kania dalam presentasinya yang berjudul Konstruksi Epistemologi Barat.
[19] Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad ar-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz.
[20] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughatil Fuqahaa’, Beirut: Daar an-Nafaa’is, Cet. II, 1408 H.
[21] Al-Hafizh Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assatur Risaalah, Cet. I, 1420 H, jilid VII, hlm.  474.