13 Mei 2015

Perumpamaan Luar Biasa: Orang-Orang yang Lebih Sesat Daripada Binatang Ternak




Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’râf [7]: 179)

Menafsirkan ayat ini yang agung ini, al-Hafizh Abu Ja’far al-Thabari (w. 310 H) menuturkan:

(أولئك كالأنعام)، هؤلاء الذين ذرأهم لجهنم، هم كالأنعام، وهي البهائم التي لا تفقه ما يقال لها، ولا تفهم ما أبصرته لما يصلح وما لا يَصْلُح، ولا تعقل بقلوبها الخيرَ من الشر، فتميز بينهما. فشبههم الله بها، إذ كانوا لا يتذكَّرون ما يرون بأبصارهم من حُججه، ولا يتفكرون فيما يسمعون من آي كتابه. ثم قال:(بل هم أضل)، يقول: هؤلاء الكفرة الذين ذَرَأهم لجهنم، أشدُّ ذهابًا عن الحق، وألزم لطريق الباطل من البهائم، لأن البهائم لا اختيار لها ولا تمييز، فتختار وتميز، وإنما هي مسَخَّرة، ومع ذلك تهرب من المضارِّ، وتطلب لأنفسها من الغذاء الأصلح. والذين وصفَ الله صفتهم في هذه الآية، مع ما أعطوا من الأفهام والعقول المميِّزة بين المصالح والمضارّ، تترك ما فيه صلاحُ دنياها وآخرتها، وتطلب ما فيه مضارّها، فالبهائم منها أسدُّ، وهي منها أضل، كما وصفها به ربُّنا جل ثناؤه.

“(Mereka seperti binatang) mereka yang masuk jahannam, seperti binatang ternak, yakni binatang yang tidak bisa memahami perkataan yang disampaikan padanya, tidak memahami apa yang diperlihatkan kepadanya berupa hal-hal yang berguna atau tidak berguna baginya, dan tidak bisa berpikir dengan qalbunya berupa kebaikan bedanya dengan keburukan sehingga bisa memisahkan keduanya, maka Allah menyerupakan mereka dengan binatang-binatang tersebut, ketika mereka tidak memikirkan apa-apa yang mereka lihat dengan pandangan mata mereka berupa hujjah-hujjah atas kebenaran-Nya, dan tidak berpikir atas apa yang mereka dengar dari ayat-ayat Kitab Suci-Nya. Kemudian Allah berfirman: (Bahkan mereka lebih sesat), mereka adalah orang-orang kafir yang masuk jahannam, paling kuat berpalingnya dari kebenaran, dan paling kokoh di jalan kebatilan daripada binatang-binatang itu, karena binatang-binatang tersebut tidak ada pilihan baginya dan tidak bisa membedakan (baik dan buruk-pen) yang dengannya sehingga ia bisa memilih dan membedakan, sesungguhnya binatang-binatang tersebut hanyalah objek sasaran, di sisi lain mereka mau melarikan diri dari hal-hal yang membahayakan, dan mencari makanan yang sesuai bagi diri mereka. Dan mereka yang Allah sifati dengan sifat dalam ayat ini, dengan potensi dari kemampuan memahami, akal yang mampu membedakan antara yang bermanfaat dan berbahaya, namun mereka meninggalkan apa-apa yang mengandung kebaikan bagi dunia dan akhiratnya, bahkan malah mencari apa-apa yang mengandung bahaya bagi mereka, maka binatang-binatang ternak tersebut lebih terjaga dari mereka, maka mereka lebih sesat daripada binatang-binatang ternak, sebagaimana Rabb kita Yang Maha Terpuji menyifati mereka dengannya.”[*]

Catatan Kaki:
[*] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz XIII, hlm. 280-281.