Skip to main content

Kesesatan Sekularisme dalam Penjelasan Dr. Samih 'Athif al-Zayn



KESESATAN SEKULARISME (ASAS DEMOKRASI) & PERTENTANGANNYA DENGAN PRINSIP ISLAM: AL-DIN WAD-DAWLAH 
Pernyataan Syaikh Dr. Samih 'Athif al-Zayn
Mutarjim: Irfan Abu Naveed

"Adapun slogan pemisahan agama dari negara, sesungguhnya slogan ini hanya 'sesuai' untuk Dunia Barat yang merumuskan berbagai pandangan dan sistem peraturan yang menjadi tujuan mereka, yakni untuk menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pihak gereja dan penguasa, dan menghentikan perselisihan keduanya di tangan raja. Hal ini tidak pantas bagi kaum muslimin dengan alasan apapun, karena agama mereka adalah Islam dan negara mereka tidak boleh tegak kecuali di atas asas Islam, maka tidak boleh memisahkan antara Islam sebagai agama dan Negara Islam sebagai kekuasaan. Baik tegaknya pemerintahan di atas asas Islam maupun wajib adanya Negara Islamiyyah . Dan mustahil kaum muslimin bisa hidup seperti kaum muslimin tanpa negara yang dinaungi Islam, namun eksistensi dan keberadaan mereka hidup secara islami. Lantas, bagaimana kita bisa memisahkan antara agama Islam dan Negara Islamiyyah, padahal ada perintah-perintah Allah SWT kepada kaum muslimin yang mewajibkan atas mereka menegakkan pemerintahan yang sesuai dengan syari'at agama mereka? Bukankah al-Qur'an al-Karim adalah kitab suci yang diturunkan Rabb Semesta Alam dan Dia menjelaskan di dalamnya kaidah-kaidah pemerintahan dalam al-Dawlah al-Islaamiyyah? Kita membaca ayat-ayat dalam al-Qur'an yang agung ini batasan kriteria sistem pemerintahan (dalam Islam) dalam firman-Nya: 
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ 
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah." (QS. Al-Maa'idah [5]: 49)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (QS. Al-Maa'idah [5]: 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maa'idah [5]: 45)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Maa'idah [5]: 47)

Dan kita harus menyimak penegasan ilahiy, dan tuntutan yang penuh dengan peringatan dan penekanan untuk perhatian bahwa hukum di antara manusia tidak boleh tegak kecuali di atas keadilan, berdasarkan firman Allah SWT: 
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ 
"(Sesungguhnya Allah menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (QS. Al-Nisaa' [4]: 58)

Kemudian sudah semestinya kita berharap (termasuk golongan yang diseru) seruan yang ditujukan kepada orang-orang beriman yang menyeru mereka untuk mena'ati Allah, Rasul-Nya dan mena'ati pemimpin (pemerintah) yang menerapkan manhaj Allah SWT di muka Bumi berdasarkan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (QS. Al-Nisaa' [4]: 59)

Lihat: 
Syaikh Dr. Samih 'Athif al-Zayn, Nizhaam Al-Islaam, Beirut: Dar al-Kutub, Cet. I, 1409 H/ 1989.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.