26 Mei 2015

Kesesatan Sekularisme dalam Penjelasan Dr. Samih 'Athif al-Zayn



KESESATAN SEKULARISME (ASAS DEMOKRASI) & PERTENTANGANNYA DENGAN PRINSIP ISLAM: AL-DIN WAD-DAWLAH 
Pernyataan Syaikh Dr. Samih 'Athif al-Zayn
Mutarjim: Irfan Abu Naveed

"Adapun slogan pemisahan agama dari negara, sesungguhnya slogan ini hanya 'sesuai' untuk Dunia Barat yang merumuskan berbagai pandangan dan sistem peraturan yang menjadi tujuan mereka, yakni untuk menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pihak gereja dan penguasa, dan menghentikan perselisihan keduanya di tangan raja. Hal ini tidak pantas bagi kaum muslimin dengan alasan apapun, karena agama mereka adalah Islam dan negara mereka tidak boleh tegak kecuali di atas asas Islam, maka tidak boleh memisahkan antara Islam sebagai agama dan Negara Islam sebagai kekuasaan. Baik tegaknya pemerintahan di atas asas Islam maupun wajib adanya Negara Islamiyyah . Dan mustahil kaum muslimin bisa hidup seperti kaum muslimin tanpa negara yang dinaungi Islam, namun eksistensi dan keberadaan mereka hidup secara islami. Lantas, bagaimana kita bisa memisahkan antara agama Islam dan Negara Islamiyyah, padahal ada perintah-perintah Allah SWT kepada kaum muslimin yang mewajibkan atas mereka menegakkan pemerintahan yang sesuai dengan syari'at agama mereka? Bukankah al-Qur'an al-Karim adalah kitab suci yang diturunkan Rabb Semesta Alam dan Dia menjelaskan di dalamnya kaidah-kaidah pemerintahan dalam al-Dawlah al-Islaamiyyah? Kita membaca ayat-ayat dalam al-Qur'an yang agung ini batasan kriteria sistem pemerintahan (dalam Islam) dalam firman-Nya: 
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ 
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah." (QS. Al-Maa'idah [5]: 49)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (QS. Al-Maa'idah [5]: 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maa'idah [5]: 45)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Maa'idah [5]: 47)

Dan kita harus menyimak penegasan ilahiy, dan tuntutan yang penuh dengan peringatan dan penekanan untuk perhatian bahwa hukum di antara manusia tidak boleh tegak kecuali di atas keadilan, berdasarkan firman Allah SWT: 
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ 
"(Sesungguhnya Allah menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (QS. Al-Nisaa' [4]: 58)

Kemudian sudah semestinya kita berharap (termasuk golongan yang diseru) seruan yang ditujukan kepada orang-orang beriman yang menyeru mereka untuk mena'ati Allah, Rasul-Nya dan mena'ati pemimpin (pemerintah) yang menerapkan manhaj Allah SWT di muka Bumi berdasarkan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (QS. Al-Nisaa' [4]: 59)

Lihat: 
Syaikh Dr. Samih 'Athif al-Zayn, Nizhaam Al-Islaam, Beirut: Dar al-Kutub, Cet. I, 1409 H/ 1989.