Skip to main content

Keharaman Uang Transaksi di Antara Pelacur, Pelanggan dan Germo



Dalam Islam, baik pelacur maupun pelanggannya, termasuk germonya wajib dikenakan sanksi karena sama-sama berserikat dalam kemaksiatan. 

Keharaman uang yang diterima oleh sang pelacur pun termasuk ke dalam hadits ini:

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari bahwa Rasûlullâh -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarang harga anjing, upah bagi pelacur dan upah bagi tukang ramal (dukun):

نَهَى النَّبِيُّ  عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
"Nabi -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarang upah dari hasil penjualan anjing, upah pelacuran dan upah dari perdukunan." (HR. al-Bukhârî, Muslim, al-Tirmidzi & Abu Dawud)

Rasûlullâh -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarangnya karena ia adalah upah yang diambil dengan jalan yang batil yakni berzina, sehingga jelas diharamkan Islam, di sisi lain keharaman zina pun didasari dalil-dalil qath'iyyah.

Uang yang dikeluarkan oleh sang pelanggan lelaki hidung belang pun termasuk tabdziir.

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (٢٧)
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu saudara-saudara syaitan dan syaitan sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 26-27)

Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Imam asy-Syafi’i berkata: 
التَّبْذِيرُ إِنْفَاقُ الْمَالِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَلَا تَبْذِيرَ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ. 
“Pemborosan adalah mengeluarkan harta di jalan yang batil, dan tidak ada pemborosan jika (dikeluarkan) dalam kebaikan.” [1]

Al-Qurthubi lalu menjelaskan bahwa ini merupakan pendapat jumhur al-‘ulama. Lalu menukil Asyhab menukil dari Imam Malik: 
التَّبْذِيرُ هُوَ أَخْذُ الْمَالِ مِنْ حَقِّهِ وَوَضْعِهِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَهُوَ الْإِسْرَافُ، وَهُوَ حَرَامٌ
“Pemborosan adalah harta yang diperoleh secara haq namun dikeluarkan di jalan yang batil, hal itu tindakan melampaui batas (al-isrâf) dan hukumnya haram.” [2]

Menakwilkan ayat di atas, al-Hafizh Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) pun berkata:
إنّ المفرّقين أموالهم في معاصي الله المنفقيها في غير طاعته أولياء الشياطين
“Sesungguhnya orang yang mubadzdzir yakni orang-orang yang mengeluarkan harta mereka dalam kemaksiatan kepada Allah, di luar keta’atan pada-Nya itulah sekutu-sekutu syaithan.” [3]

Adapun sang germo, maka jelas ia berserikat memakan harta dengan cara yang batil; dari hasil berserikat dalam kemaksiatan. []

Notes:
[1] Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, Cet. II, 1384 H, juz 10, hlm. 247.
[2] Ibid.
[3] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz 17, hlm. 430.

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam