13 Mei 2015

Keharaman Uang Transaksi di Antara Pelacur, Pelanggan dan Germo



Dalam Islam, baik pelacur maupun pelanggannya, termasuk germonya wajib dikenakan sanksi karena sama-sama berserikat dalam kemaksiatan. 

Keharaman uang yang diterima oleh sang pelacur pun termasuk ke dalam hadits ini:

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari bahwa Rasûlullâh -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarang harga anjing, upah bagi pelacur dan upah bagi tukang ramal (dukun):

نَهَى النَّبِيُّ  عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
"Nabi -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarang upah dari hasil penjualan anjing, upah pelacuran dan upah dari perdukunan." (HR. al-Bukhârî, Muslim, al-Tirmidzi & Abu Dawud)

Rasûlullâh -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarangnya karena ia adalah upah yang diambil dengan jalan yang batil yakni berzina, sehingga jelas diharamkan Islam, di sisi lain keharaman zina pun didasari dalil-dalil qath'iyyah.

Uang yang dikeluarkan oleh sang pelanggan lelaki hidung belang pun termasuk tabdziir.

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (٢٧)
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu saudara-saudara syaitan dan syaitan sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 26-27)

Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Imam asy-Syafi’i berkata: 
التَّبْذِيرُ إِنْفَاقُ الْمَالِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَلَا تَبْذِيرَ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ. 
“Pemborosan adalah mengeluarkan harta di jalan yang batil, dan tidak ada pemborosan jika (dikeluarkan) dalam kebaikan.” [1]

Al-Qurthubi lalu menjelaskan bahwa ini merupakan pendapat jumhur al-‘ulama. Lalu menukil Asyhab menukil dari Imam Malik: 
التَّبْذِيرُ هُوَ أَخْذُ الْمَالِ مِنْ حَقِّهِ وَوَضْعِهِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَهُوَ الْإِسْرَافُ، وَهُوَ حَرَامٌ
“Pemborosan adalah harta yang diperoleh secara haq namun dikeluarkan di jalan yang batil, hal itu tindakan melampaui batas (al-isrâf) dan hukumnya haram.” [2]

Menakwilkan ayat di atas, al-Hafizh Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) pun berkata:
إنّ المفرّقين أموالهم في معاصي الله المنفقيها في غير طاعته أولياء الشياطين
“Sesungguhnya orang yang mubadzdzir yakni orang-orang yang mengeluarkan harta mereka dalam kemaksiatan kepada Allah, di luar keta’atan pada-Nya itulah sekutu-sekutu syaithan.” [3]

Adapun sang germo, maka jelas ia berserikat memakan harta dengan cara yang batil; dari hasil berserikat dalam kemaksiatan. []

Notes:
[1] Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, Cet. II, 1384 H, juz 10, hlm. 247.
[2] Ibid.
[3] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz 17, hlm. 430.