05 Mei 2015

Catatan Dakwah: Komersialisasi Dunia Ghaib, Ancaman Neoliberalisme, Dakwah Hingga Khilafah.


Oleh: Irfan Abu Naveed

B
anyak tayangan televisi yang mengkomersilkan aurat wanita, ia jadi andalan yang menarik rating dunia hiburan; dari mulai sinetron remaja, acara balapan motor dunia, tinju hingga masuk ke film-film porno yang dibumbui horor (atau sebaliknya ya? Sepertinya tidak), hingga dunia ghaib pun tak luput dari "komersialisasi". Lihatlah tayangan-tayangan yang menghadirkan orang-orang yang tidak normal (paranormal) yang katanya bisa menerawang, melihat alam ghaib, mengatakan di sini ada kuntilanak, di sana ada genderuwo, di situ ada ini dan itu; yang tidak dilihat oleh orang normal tapi anehnya yang tidak normal ini diundang masuk tv dan sepertinya dibayar mahal asal pinter mengarang cerita.
Meski jelas ganjil mengganjal pikiran, dan jauh dari kata normal dan tepatnya irrasional, dan menyebarkan khurafat (berita bohong) membahayakan akidah umat tapi toh acara semacam itu sepertinya menarik para kapitalis untuk mengkomersilkannya; dijadikan sebagai program acara hiburan, dan bisa beredar mendapatkan izin tayang; ini efek domino dari tegaknya sistem kehidupan kapitalistik, tersebarnya paham kapitalisme dan neoliberalisme.
Tersebarnya kemungkaran ini setidaknya timbul dari sebab-sebab mendasar yang saling terkait:
1.      Sebagian masyarakat yang diam, dan malah menggandrungi acara-acara ganjil seperti itu hingga ratingnya tinggi,
2.      Rating yang tinggi menarik perhatian para kapitalis yang menghalalkan segala cara yang penting penuhi pundi-pundi uang,
3.      Diamnya penguasa dalam sistem Demokrasi atas kemungkaran, bahkan malah memberikan izin beredarnya acara-acara film porno horor dan program-program komersialisasi dunia ghaib ("lulus sensor"),
4.      Diamnya sebagian ulama, asatidz dan da'i dari kewajiban:
Pertama, memahamkan umat terhadap kemungkaran tersebut dan bahaya kapitalisme serta neoliberalisme yang mengancam kehidupan umat secara luas,
Kedua, menegakkan al-amr bil ma'ruf wa an-nahy 'an al-munkar kepada masyarakat dan penguasa yang menegakkan kemungkaran,
Ketiga, menegakkan kekhilafahan Islam yang menegakkan syari'at Islam kaaffah, memelihara akidah umat, dan memberantas kemungkaran.
Dalam kajian-kajian akidah, ruqyah syar'iyyah, alam jin, perdukunan yang saya hadiri, seringkali saya jelaskan bahwa permasalahan tersebarnya khurafat mengenai alam jin, sihir, perdukunan, tak sekedar terkait masalah akidah (dakwah tauhid), tapi wajib pula mengupayakan tegaknya syari'at Islam kaaffah sebagai konsekuensi tauhid, dengan menegakkan al-khilafah di atas manhaj kenabian yang berfungsi menyelenggarakan pendidikan umat berbasis akidah islam, menegakkan ekonomi yang tegak di atas asas Islam, menegakkan sanksi bagi para dukun/tukang sihir dan yang mendukung mereka.
Jika kita tela'ah pembahasan para ulama salaf dan khalaf ketika berbicara mengenai perdukunan, tukang sihir pun tak hanya membahas dari sisi akidah semata (tidak pada bab akidah saja) tapi juga tersebar dalam kutub fiqh yang membahas bahasan bab 'uqubah (sanksi) dalam Islam. Hal itu bisa kita temukan dalam kutub fiqh lintas madzhab. Lalu jika sekedar dibaca namun tak diperjuangkan untuk diamalkan apakah tak takut kutub tersebut akan menjadi hujjah 'alaynaa?! 
Di sisi lain, penerapan syari'at Islam kaaffah tak bisa terwujud sempurna kecuali dengan tegaknya al-Khilafah, maka menegakkan, mewujudkan al-Khilafah pun hukumnya wajib. Salah satu kaidah yang mendasarinya adalah kaidah syar’iyyah:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Apa-apa yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.”[1]
Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra (w. 458 H) ketika menjelaskan kaidah ini menuturkan bahwa jika Allah sudah memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan suatu perbuatan dan Allah mewajibkannya, di sisi lain apa yang diperintahkan tersebut tidak akan tercapai kecuali dengan melakukan hal lainnya; maka wajib atasnya setiap perbuatan jika tidak akan terpenuhi pelaksanaan suatu kewajiban kecuali dengannya.[2]
Dan sebagaimana diungkapkan Imam al-Qarafi (w. 684 H) yang berkata:
وجوب الوسائل تبع لوجوب المقاصد
“Wajibnya sarana-sarana mengikuti wajibnya tujuan-tujuan.”[3]
Maka tidak ada pilihan kecuali memperjuangkan tegaknya kekhilafahan Islam yang menegakkan syari'at Islam kâffah. Allah al-Musta'ân []






[1] Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra, Al-‘Iddatu fî Ushûl al-Fiqh, Ed: Dr. Ahmad bin ‘Ali, Cet. II, Tahun 1410 H, juz. II, hlm. 419; Sulaiman bin ‘Abdul Qawiy bin al-Thufi Najmud Din, Syarh Mukhtashar al-Rawdhah, Beirut: Mu’assasatur Risalah, Cet. I, Tahun 1407 H, juz I, hlm. 314; Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Cet. I, Tahun 1411 H, juz. II, hlm. 88.
[2] Ibid.
[3] Abu al-‘Abbas Syihabuddin Ahmad al-Qarafi, Al-Furûq: Anwâr al-Burûq fî Anwâ’i al-Furûq, ‘Âlam al-Kutub, juz I, hlm. 166.