26 May 2015

Kesesatan Sekularisme dalam Penjelasan Dr. Samih 'Athif al-Zayn



KESESATAN SEKULARISME (ASAS DEMOKRASI) & PERTENTANGANNYA DENGAN PRINSIP ISLAM: AL-DIN WAD-DAWLAH 
Pernyataan Syaikh Dr. Samih 'Athif al-Zayn
Mutarjim: Irfan Abu Naveed

"Adapun slogan pemisahan agama dari negara, sesungguhnya slogan ini hanya 'sesuai' untuk Dunia Barat yang merumuskan berbagai pandangan dan sistem peraturan yang menjadi tujuan mereka, yakni untuk menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pihak gereja dan penguasa, dan menghentikan perselisihan keduanya di tangan raja. Hal ini tidak pantas bagi kaum muslimin dengan alasan apapun, karena agama mereka adalah Islam dan negara mereka tidak boleh tegak kecuali di atas asas Islam, maka tidak boleh memisahkan antara Islam sebagai agama dan Negara Islam sebagai kekuasaan. Baik tegaknya pemerintahan di atas asas Islam maupun wajib adanya Negara Islamiyyah . Dan mustahil kaum muslimin bisa hidup seperti kaum muslimin tanpa negara yang dinaungi Islam, namun eksistensi dan keberadaan mereka hidup secara islami. Lantas, bagaimana kita bisa memisahkan antara agama Islam dan Negara Islamiyyah, padahal ada perintah-perintah Allah SWT kepada kaum muslimin yang mewajibkan atas mereka menegakkan pemerintahan yang sesuai dengan syari'at agama mereka? Bukankah al-Qur'an al-Karim adalah kitab suci yang diturunkan Rabb Semesta Alam dan Dia menjelaskan di dalamnya kaidah-kaidah pemerintahan dalam al-Dawlah al-Islaamiyyah? Kita membaca ayat-ayat dalam al-Qur'an yang agung ini batasan kriteria sistem pemerintahan (dalam Islam) dalam firman-Nya: 
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ 
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah." (QS. Al-Maa'idah [5]: 49)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (QS. Al-Maa'idah [5]: 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maa'idah [5]: 45)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Maa'idah [5]: 47)

Dan kita harus menyimak penegasan ilahiy, dan tuntutan yang penuh dengan peringatan dan penekanan untuk perhatian bahwa hukum di antara manusia tidak boleh tegak kecuali di atas keadilan, berdasarkan firman Allah SWT: 
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ 
"(Sesungguhnya Allah menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (QS. Al-Nisaa' [4]: 58)

Kemudian sudah semestinya kita berharap (termasuk golongan yang diseru) seruan yang ditujukan kepada orang-orang beriman yang menyeru mereka untuk mena'ati Allah, Rasul-Nya dan mena'ati pemimpin (pemerintah) yang menerapkan manhaj Allah SWT di muka Bumi berdasarkan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (QS. Al-Nisaa' [4]: 59)

Lihat: 
Syaikh Dr. Samih 'Athif al-Zayn, Nizhaam Al-Islaam, Beirut: Dar al-Kutub, Cet. I, 1409 H/ 1989.


Sekilas Mengenai Candaan dalam Dialog Keluarga atau Pengajian



Dialog dalam keluarga, yakni dialog hangat yang diselingi canda yang tidak mengandung dusta serta dalam rangka memudahkan sampainya pelajaran itu boleh dilakukan, termasuk dalam pengajian disesuaikan dengan kondisi dan tempatnya.

Jika kita telusuri hadits-hadits Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam-, kita akan menemukan bahwa beliau -shallallâhu 'alayhi wa sallam- terkadang menyampaikan pelajaran dengan sedikit candaan namun tidak mengandung apapun kecuali kebenaran, tidak ada kedustaan di dalamnya. Hal itu misalnya tergambar dalam dialog antara Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam- dengan seseorang yang sudah tua yang bertanya mengenai surga, seperti disebutkan al-Mubarakfuri (w. 1353 H) dalam Tuhfatu al-Ahwadzi, bahwa tidak ada orang tua yang masuk surga (لَا تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَجُوزٌ), dengan maksud bahwa semua orang yang masuk surga akan kembali muda belia. Candaan yang benar, sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: ”Para sahabat berkata: ”Wahai Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam-, sesungguhnya engkau mencandai kami” Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:

إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا
”Sesungguhnya aku tidak akan berkata-kata kecuali kebenaran.” (HR. Al-Tirmidzi dan Ahmad)[1]

Menurut Imam al-Mubarakfuri, makna haqq[an] dalam hadits di atas yakni ’adl[an] (adil, tidak mengandung kezhaliman) dan shidq[an] (benar, jujur atau tidak mengandung kedustaan).[2]

Menjaga Lisan dari Candaan Yang Mengandung Dusta dan Kezhaliman

Hal itu termasuk ke dalam pesan yang mulia dari Rasulullaah -shallallâhu 'alayhi wa sallam-:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari,  Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad & Malik)

Hadits shahih yang mulia di atas telah meletakkan prinsip yang agung dalam berbicara. Tuntutan perintah dalam hadits ini hukumnya wajib, karena mengandung indikasi yang tegas “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir” terhadap kata-kata perintah “maka berkatalah yang baik atau diam.”

Kalimat “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir” merupakan indikasi yang menunjukkan hukum wajib. Al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil menjelaskan:
إذا كان الطلب مقترنًا بالإيمان أو ما يقوم مقامه كأن يكون متبوعًا بـ (من كان يرجو الله واليوم الآخر) فإنها قرينة على الوجوب
“Jika adanya tuntutan tersebut disertai keterangan iman atau yang semakna dengannya. Misalnya kalimat (Barangsiapa yang mengharapkan rahmat Allah dan (tibanya) hari Akhir) maka sesungguhnya kalimat tersebut mengindikasikan hukum wajib.”[3] 

Lafazh “qul” dan “liyashmut” pun termasuk bentuk mufrad yang memberikan arti perintah. Kata “liyashmut” merupakan kata kerja mudhaari’ (sekarang atau yang akan datang) yang disertai laam al-amr (laam perintah). Al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil ketika menjelaskan berbagai ungkapan yang bermakna perintah mengutarakan:
(الفعل المضارع المقترن بلام الأمر (ليفعل
“Kata kerja al-mudhaari’ yang disertai huruf laam perintah.”[4] 

Sama halnya dengan penjelasan Syaikh al-‘Utsaimin ketika menjelaskan shiyaghul amri (lafazh-lafazh perintah), diantaranya:
المضارع المقرون بلام الأمر
“Kata kerja al-mudhaari’ yang disertai laam perintah.”[5] 

Lebih menariknya, al-Hafizh al-Nawawi menjelaskan hadits di atas:
فمعناه أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه، واجبا أو مندوبا فليتكلم . وإن لم يظهر له أنه خير يثاب عليه، فليمسك عن الكلام سواء ظهر له أنه حرام أو مكروه أو مباح مستوي الطرفين . فعلى هذا يكون الكلام المباح مأمورا بتركه مندوبا إلى الإمساك عنه مخافة من انجراره إلى المحرم أو المكروه . وهذا يقع في العادة كثيرا أو غالبا
“Maknanya adalah jika seseorang ingin mengatakan sesuatu, jika didalamnya mengandung kebaikan dan ganjaran pahala, sama saja apakah wajib atau sunnah untuk diungkapkan maka ungkapkanlah. Jika belum jelas kebaikan perkataan tersebut diganjar dengan pahala maka ia harus menahan diri darinya, sama saja apakah jelas hukumnya haram, makruh atau mubah. Dan dalam hal ini perkataan yang mubah dianjurkan untuk ditinggalkan, disunnahkan untuk menahan diri darinya, karena khawatir perkataan ini berubah menjadi perkataan yang diharamkan atau dimakruhkan. Dan kasus kesalahan seperti ini banyak terjadi.”

Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied (w. 702 H) menjelaskan hadits ini:
قوله: "من كان يؤمن بالله واليوم الآخر" يعني من كان يؤمن الإيمان الكامل المنجي من عذاب الله الموصل إلى رضوان الله "فليقل خيراً أو ليصمت" لأنّ من آمن بالله حق إيمانه خاف وعيده ورجا ثوابه واجتهد في فعل ما أمر به وترك ما نهي عنه وأهم ما عليه من ذلك: ضبط جوارحه التي هي رعاياه وهو مسئول عنها كما قال تعالى: {إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً}. وقال تعالى: {مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ}. 
“Sabda Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam-: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir” yakni barangsiapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna terlindung dari ‘adzab Allah dan menyampaikan kepada keridhaan-Nya “maka berkatalah yang baik atau diam” karena barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka di antara tuntutan keimanannya adalah merasa takut terhadap peringatan-Nya, mengharapkan pahala dari-Nya, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan segala hal yang diperintahkan Allah kepadanya dan meninggalkan segala hal yang dilarang-Nya, dan diantara hal yang paling penting: menjaga apa yang ada pada dirinya yang mesti dijaga (dari kemaksiatan-pen.) dan ia bertanggungjawab terhadap itu semua sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.”[6] Dan firman Allah SWT: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.[7][8] 

Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied pun menegaskan:
وآفات اللسان كثيرة، ولذلك قال النبي صلى الله عليه وسلم: "هل يكب الناس في النار على مناخرهم إلا حصائد ألسنتهم". وقال: "كل كلام ابن آدم عليه إلا ذكر الله تعالى وأمر بمعروف ونهي عن منكر". فمن علم ذلك وآمن به حق إيمانه اتقى الله في لسانه فلا يتكلم إلا بخير أو يسكت.
“Dan bahaya lisan itu banyak sekali, oleh karena itu Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam- bersabda: “Tidaklah manusia dijatuhkan ke dalam neraka di atas hidung mereka melainkan akibat lisan-lisan mereka”[9]  dan sabdanya: “Setiap perkataan anak cucu Adam itu membahayakannya (tidak berguna baginya) kecuali berdzikir kepada Allah dan perkataan yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaran”[10]  Maka siapa saja yang mengetahui hal ini dan beriman terhadapnya maka diantara tuntutan keimanannya bertakwa kepada Allah dalam menjaga lisannya, dan tidaklah ia berkata-kata kecuali perkataan baik atau diam.” 

Lebih jelasnya, penulis nukil hadits-hadits yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Tidaklah manusia itu dijatuhkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka melainkan akibat lisan-lisan mereka.” (HR. al-Tirmidzi, Ahmad & Ibn Majah. Ini lafazh al-Tirmidzi. Imam al-Tirmidzi menuturkan: “Hadits ini hasan shahih”)

كُلُّ كَلَامِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لَا لَهُ إِلَّا أَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ أَوْ ذِكْرُ اللَّهِ
"Setiap perkataan anak cucu Adam itu membahayakannya, tidak berguna baginya kecuali perkataan menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran, atau berdzikir kepada Allah." (HR. al-Tirmidzi & Ibn Majah. Imam al-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Muhammad bin Yazid bin Khunais”)

Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied lebih jauh lagi menjelaskan:
وقال بعضهم في معنى هذا الحديث: إذا أراد الإنسان أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيراً محققاً يثاب عليه فليتكلم وإلا فليمسك عن الكلام سواء ظهر أنه حرام أو مكروه أو مباح، فعلى هذا يكون الكلام المباح مأموراً بتركه مندوباً إلى الإمساك عنه مخافة أن ينجر إلى المحرم أو المكروه
“Sebagian ulama berkata dalam menjelaskan hadits ini: “Jika manusia ingin mengatakan suatu perkataan yang mengandung kebaikan memperoleh pahala maka katakanlah, jika selainnya maka ia harus menahan diri darinya sama saja apakah perkataan yang diharamkan, makruh atau mubah. Oleh karena itu, perkataan mubah diperintahkan untuk ditinggalkan, disukai agar menahan diri darinya, lebih ringan daripada peringatan untuk meninggalkan perkataan yang diharamkan atau dihukumi makruh.”

Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”  (QS. Qaaf [50]: 18)

Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied menjelaskan ayat ini:
واختلف العلماء في أنه هل يكتب على الإنسان جميع ما يلفظ به وإن كان مباحاً أو لا يُكتب عليه إلا ما فيه الجزاء من ثواب أو عقاب. وإلى القول الثاني ذهب ابن عباس وغيره، فعلى هذا تكون الآية الكريمة مخصوصة أي: {مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ} يترتب عليه جزاء.
“Dan para ulama berbeda pendapat, apakah dituliskan (dihisab-pen.) seluruh perkataan manusia termasuk perkataan-perkataan yang mubah atau tidak dituliskan perkataannya kecuali perkataan yang mengandung balasan kebaikan atau siksa? Ibn ‘Abbas dan selainnya mengambil pendapat yang kedua. Oleh karena itu, ayat al-Qur’an yang mulia ini bersifat khusus: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”  

Al-Hafizh al-Nawawi bahkan menuliskan satu bab khusus tentang Hifzh al-Lisaan (menjaga lisan) dalam salah satu kitabnya -al-Adzkaar al-Nawawiyyah-, ia berkata:
اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة
“Ketahuilah bahwa setiap mukallaf wajib menjaga lisannya dari setiap perkataan kecuali perkataan yang jelas mengandung kemaslahatan, dan ketika memutuskan untuk tidak berbicara karena lebih bermaslahat, maka disunnahkan untuk menahan diri darinya, karena terkadang ditemukan perkataan mubah mengantarkan kepada keharaman atau makruh, bahkan hal ini merupakan fenomena yang banyak terjadi atau sudah menjadi kebiasaan.”[11] 

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim itu adalah ketika kaum muslimun selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari & Abu Dawud) 

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi -shallallâhu 'alayhi wa sallam- bersabda: 

كُلُّ سُلَامَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ يُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ يُحَامِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ وَدَلُّ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
“Pada setiap ruas tulang ada kewajiban shadaqah. Setiap hari dimana seseorang terbantu dengan tunggangannya yang mengangkat atau mengangkut barang-barangnya di atasnya adalah shadaqah. Ucapan yang baik adalah shadaqah dan setiap langkah yang dilakukan seseorang menuju shalat adalah shadaqah dan orang yang menunjuki jalan adalah shadaqah.” (HR. Al-Bukhari)

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
"Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya dengan sebiji kurma, kalaulah tidak bisa, lakukanlah dengan ucapan yang baik." (HR. Al-Bukhari)

Catatan Kaki:
[1] Hadits hasan; Abu al-‘Alla Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfatu al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ al-Tirmidzi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz. VI, hlm. 108.
[2] Ibid.
[3] Lihat: Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl: Dirâsât fii Ushûl al-Fiqh, Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah – Dar al-Ummah: Beirut - Cet. III: 1421 H/ 2000. 
[4] Ibid.
[5] Lihat: Ushuul al-Fiqh, al-Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin
[6] Lihat: QS. Al-Israa’ [17]: 36
[7] Lihat: QS. Qaaf [50]: 18
[8] Lihat: Syarh al-Arba’iin al-Nawawiyyah fii al-Ahaadiits al-Shahiihah al-Nawawiyyah, Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied. 
[9] HR. Imam Ahmad (5/236 dan 237) dan al-Tirmidzi dalam al-Iman (no. 2616); hadits ini merupakan hadits shahih yang panjang. Adapun Imam al-Tirmidzi memandang bahwa hadits ini hasan shahih.
[10] HR. al-Tirmidzi dalam Al-Zuhd (no. 2412) dari Ummu Habibah r.a.. Abu ‘Isa (Imam al-Tirmidzi) berkata: “Hadits ini hasan gharib, tidak diketahui kecuali dari riwayat Muhammad bin Yazid bin Khunays.”
[11] Lihat: Al-Adzkâr Al-Muntakhabah Min Kalaam Sayyid Al-Abraar –Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam-, Al-Hafizh Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarf al-Nawawi (631-676 H) – Al-Dar al-Mishriyyah al-Lubnaniyyah: Mesir.


18 May 2015

Alamat Kajian & Terapi Ruqyah Syar'iyyah Irfan Abu Naveed M.Pd.I


Irfan Abu Naveed, M.Pd.I 
:: Praktisi & Pembina Ruqyah Syar'iyyah, Penulis Buku Menyingkap Jin dan Dukun Hitam Putih Indonesia

AGENDA RUQYAH:
1- Datang ke tempat ruqyah TIDAK MENDADAK, mesti buat janji agenda ruqyahnya dulu (karena peruqyah tidak stand by di tempat, tinggal di kompleks ustadz STIBA Ar-Raayah Cikembang, Kab. Sukabumi).
2- Via SMS/WA dahulu sebutkan nama, inti permasalahan ke no: 0858 6183 3427. (TIDAK VIA TELPHON)

Alamat Terapi Ruqyah Syar'iyyah:

CIANJUR:

Majelis Ta'lim ash-Shalihun, Pamoyanan, Kab. Cianjur.

Alamat Lebih Lengkap WA/SMS: 0858 6183 3427. (TIDAK VIA TELPHON)


CATATAN:

  • Agenda ruqyah harus buat janji terlebih dahulu, tidak mendadak.
  • Bagi akhwat harus datang dengan mahram dan membawa mukena, berpakaian syar'i bagi muslimah dan tidak boleh bertabarruj (make up tebal dsb).
  • Disarankan membawa air kemasan (untuk air ruqyah), tisu (persiapan jika muntah) dan kantung kresek.

KONTAK KAJIAN RUQYAH SYAR'IYYAH:
Untuk kontak kajian ruqyah syar'iyyah dan praktik ruqyah massal, kontak via SMS dahulu sebutkan nama dan maksud, ke no: 0858 6183 3427 

Info Seputar Kajian Ruqyah & Persoalan Akidah (Ideologis dan Praktis):

Bertolak dari pentingnya kajian persoalan akidah dari sudut pandang ideologis, sekaligus sebagai uslub dakwah ideologis, mencakup materi:

1- Meluruskan syubhat seputar sihir dan perdukunan
2- Meluruskan khurafat seputar alam jin. 
3- Kajian solusi ideologis mengatasi permasalahan sistemik kapitalisme dan komersialisasi perdukunan dan dunia ghaib
4- Kajian solusi praktis teori dan praktik ruqyah syar'iyyah mencakup ruqyah mandiri, orang lain (keluarga, masyarakat) dan tempat serta benda.
5- Praktik ruqyah "massal" atau terbatas.

Alhamdulillah, dari pengalaman di lapangan, antusiasme masyarakat terhadap kajian seperti ini sangat bagus sebagai uslub dakwah penyadaran masyarakat, ditandai dengan kehadiran dan banyaknya pertanyaan di forum.

Kajian al-faqir dan Tim G-Syirah (tim peruqyah syabab):

Irfan Abu Naveed Al-Atsari, M.Pd.I

Usman Abu Fikry

Info Ma'had Du'at al-Furqan (Lembaga Pembinaan ilmu Keislaman, Ruqyah & Terapi Eks Perdukunan):

Link: Info Lembaga Pembinaan

13 May 2015

Keharaman Uang Transaksi di Antara Pelacur, Pelanggan dan Germo



Dalam Islam, baik pelacur maupun pelanggannya, termasuk germonya wajib dikenakan sanksi karena sama-sama berserikat dalam kemaksiatan. 

Keharaman uang yang diterima oleh sang pelacur pun termasuk ke dalam hadits ini:

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari bahwa Rasûlullâh -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarang harga anjing, upah bagi pelacur dan upah bagi tukang ramal (dukun):

نَهَى النَّبِيُّ  عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
"Nabi -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarang upah dari hasil penjualan anjing, upah pelacuran dan upah dari perdukunan." (HR. al-Bukhârî, Muslim, al-Tirmidzi & Abu Dawud)

Rasûlullâh -shallaLLaahu 'alayhi wa sallam- melarangnya karena ia adalah upah yang diambil dengan jalan yang batil yakni berzina, sehingga jelas diharamkan Islam, di sisi lain keharaman zina pun didasari dalil-dalil qath'iyyah.

Uang yang dikeluarkan oleh sang pelanggan lelaki hidung belang pun termasuk tabdziir.

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (٢٧)
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu saudara-saudara syaitan dan syaitan sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 26-27)

Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Imam asy-Syafi’i berkata: 
التَّبْذِيرُ إِنْفَاقُ الْمَالِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَلَا تَبْذِيرَ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ. 
“Pemborosan adalah mengeluarkan harta di jalan yang batil, dan tidak ada pemborosan jika (dikeluarkan) dalam kebaikan.” [1]

Al-Qurthubi lalu menjelaskan bahwa ini merupakan pendapat jumhur al-‘ulama. Lalu menukil Asyhab menukil dari Imam Malik: 
التَّبْذِيرُ هُوَ أَخْذُ الْمَالِ مِنْ حَقِّهِ وَوَضْعِهِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَهُوَ الْإِسْرَافُ، وَهُوَ حَرَامٌ
“Pemborosan adalah harta yang diperoleh secara haq namun dikeluarkan di jalan yang batil, hal itu tindakan melampaui batas (al-isrâf) dan hukumnya haram.” [2]

Menakwilkan ayat di atas, al-Hafizh Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) pun berkata:
إنّ المفرّقين أموالهم في معاصي الله المنفقيها في غير طاعته أولياء الشياطين
“Sesungguhnya orang yang mubadzdzir yakni orang-orang yang mengeluarkan harta mereka dalam kemaksiatan kepada Allah, di luar keta’atan pada-Nya itulah sekutu-sekutu syaithan.” [3]

Adapun sang germo, maka jelas ia berserikat memakan harta dengan cara yang batil; dari hasil berserikat dalam kemaksiatan. []

Notes:
[1] Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, Cet. II, 1384 H, juz 10, hlm. 247.
[2] Ibid.
[3] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz 17, hlm. 430.

Perumpamaan Luar Biasa: Orang-Orang yang Lebih Sesat Daripada Binatang Ternak




Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’râf [7]: 179)

Menafsirkan ayat ini yang agung ini, al-Hafizh Abu Ja’far al-Thabari (w. 310 H) menuturkan:

(أولئك كالأنعام)، هؤلاء الذين ذرأهم لجهنم، هم كالأنعام، وهي البهائم التي لا تفقه ما يقال لها، ولا تفهم ما أبصرته لما يصلح وما لا يَصْلُح، ولا تعقل بقلوبها الخيرَ من الشر، فتميز بينهما. فشبههم الله بها، إذ كانوا لا يتذكَّرون ما يرون بأبصارهم من حُججه، ولا يتفكرون فيما يسمعون من آي كتابه. ثم قال:(بل هم أضل)، يقول: هؤلاء الكفرة الذين ذَرَأهم لجهنم، أشدُّ ذهابًا عن الحق، وألزم لطريق الباطل من البهائم، لأن البهائم لا اختيار لها ولا تمييز، فتختار وتميز، وإنما هي مسَخَّرة، ومع ذلك تهرب من المضارِّ، وتطلب لأنفسها من الغذاء الأصلح. والذين وصفَ الله صفتهم في هذه الآية، مع ما أعطوا من الأفهام والعقول المميِّزة بين المصالح والمضارّ، تترك ما فيه صلاحُ دنياها وآخرتها، وتطلب ما فيه مضارّها، فالبهائم منها أسدُّ، وهي منها أضل، كما وصفها به ربُّنا جل ثناؤه.

“(Mereka seperti binatang) mereka yang masuk jahannam, seperti binatang ternak, yakni binatang yang tidak bisa memahami perkataan yang disampaikan padanya, tidak memahami apa yang diperlihatkan kepadanya berupa hal-hal yang berguna atau tidak berguna baginya, dan tidak bisa berpikir dengan qalbunya berupa kebaikan bedanya dengan keburukan sehingga bisa memisahkan keduanya, maka Allah menyerupakan mereka dengan binatang-binatang tersebut, ketika mereka tidak memikirkan apa-apa yang mereka lihat dengan pandangan mata mereka berupa hujjah-hujjah atas kebenaran-Nya, dan tidak berpikir atas apa yang mereka dengar dari ayat-ayat Kitab Suci-Nya. Kemudian Allah berfirman: (Bahkan mereka lebih sesat), mereka adalah orang-orang kafir yang masuk jahannam, paling kuat berpalingnya dari kebenaran, dan paling kokoh di jalan kebatilan daripada binatang-binatang itu, karena binatang-binatang tersebut tidak ada pilihan baginya dan tidak bisa membedakan (baik dan buruk-pen) yang dengannya sehingga ia bisa memilih dan membedakan, sesungguhnya binatang-binatang tersebut hanyalah objek sasaran, di sisi lain mereka mau melarikan diri dari hal-hal yang membahayakan, dan mencari makanan yang sesuai bagi diri mereka. Dan mereka yang Allah sifati dengan sifat dalam ayat ini, dengan potensi dari kemampuan memahami, akal yang mampu membedakan antara yang bermanfaat dan berbahaya, namun mereka meninggalkan apa-apa yang mengandung kebaikan bagi dunia dan akhiratnya, bahkan malah mencari apa-apa yang mengandung bahaya bagi mereka, maka binatang-binatang ternak tersebut lebih terjaga dari mereka, maka mereka lebih sesat daripada binatang-binatang ternak, sebagaimana Rabb kita Yang Maha Terpuji menyifati mereka dengannya.”[*]

Catatan Kaki:
[*] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz XIII, hlm. 280-281.


12 May 2015

Konversi Tanggal Hijriah atau Masehi

Hijriah ke Masehi:

      

Masehi ke Hijriah

      

11 May 2015

Tips Jitu Meruqyah Tempat (Rumah, Tempat Usaha, Kantor, Sekolah, Kamar Pengantin, -)


Oleh: Irfan Abu Naveed (Penulis Buku Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia)

Dalam kehidupan di bawah naungan sistem rusak Demokrasi saat ini, tak sedikit kaum awam yang terkelabui dengan beragam penampilan dukun. Tak jarang di antaranya temuan saya: semisal kasus “menjaga” rumah atau bangunan baru dengan cara mistis: menyembelih kerbau lalu kepalanya ditanam di pondasi rumah sebagai sesaji atau dengan memercikkan darah binatang sembelihan di dinding atau sudut rumah, atau menggunakan “apel jin” dengan biaya jutaan. Itu bukan cara syar’i dan jelas kebatilannya, kerugiannya mencakup rugi dunia dan akhirat; konsekuensi dosa dan harta mubadzdzir yang tak sedikit harus dikeluarkan, wal ‘iyaadzu biLlaah.

Padahal Islam punya solusi syar'i berpahala, ringan dan jitu in sya Allah:

Dalil-Dalil Meruqyah Tempat

Ruqyah tempat Ini mencakup rumah, kamar pengantin, tempat usaha, dan lainnya. Tentang ruqyah, dalam kitab Fatawa al-Azhar, para ulama menjelaskan:
الرقى جمع رقية، وهى كلمات يقولها الناس لدفع شر أو رفعه ، أى يحصنون بها أنفسهم حتى لا يصيبهم مكروه ، أو يعالجون بها مريضا حتى يبرأ من مرضه.
“Al-Ruqa’ jamak dari ruqyah, merupakan kata-kata yang diucapkan manusia untuk menangkal keburukan atau menghilangkannya, yakni membentengi diri dari hal-hal yang dibenci dengannya, atau mengobati orang yang sakit hingga terbebas dari penyakitnya.”

Gambaran do’a, ruqyah sebagai perlindungan syar’i disebutkan dalam hadits shahih:
مَنْ قَرَأ عَشرَ آيات مِن سُورة البقرةِ في بَيت لم يَدْخُل ذلك البَيْتَ شَيْطَان تلك اللَيلةَ حتى يُصْبحَ أربَعَ آيات مِنْ أوَّلَها وآية الكُرسِي وآيتينِ بَعدَها وخوَاتِيمهَا
“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari surat al-Baqarah dalam satu rumah, syaithân tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut pada malam itu hingga datang waktu pagi, yaitu empat ayat pada awal surat ditambah ayat kursi dan dua ayat sesudahnya dilanjutkan dengan ayat di akhir surat.” (HR. Muslim & Ibn Hibbân dalam shahîh-nya)

Khaulah binti al-Hakim al-Salamiyyah r.a. berkata, ‘Aku mendengar Rasûlullâh –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam– bersabda:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلا ثُمَّ قَالَ: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، مَا يَضُرُّهُ شَيْء حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ.
“Barangsiapa singgah di suatu tempat lalu mengatakan: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allâh yang sempurna dari keburukan apa yang diciptakan-Nya”, maka ia tidak akan ditimpa oleh marabahaya apapun sampai ia pergi dari tempat singgahnya itu.” (HR. Muslim)

Al-Hafizh al-Nawawi menjelaskan: “Yang dimaksud dengan kalimat-kalimat Allâh yang sempurna adalah kata-kata yang tak mengandung kekurangan maupun cela, dan ada yang mengatakan, ‘Yang bermanfaat dan menyembuhkan,’ ada pula yang mengatakan maksudnya adalah al-Qur’ân.”

Syaikh Isma’il Zayn ditanya oleh seseorang: “Apa pendapatmu –semoga Allah senantiasa memuliakanmu- tentang perbuatan menjaga kebun dengan sihir, do’a atau anjing. Apakah semua itu diperbolehkan?”

Syaikh Isma’il menjawab:
مستمدّا من الله التوفيقَ للصوابِ: إنّ حماية البستان بالسحرِ لاتجوز قطعا لحرمة استعمال السحر مطلقا، وأما حمايتُهُ بالدعاء أو بالكلب فذلك جائز وقد وردت السنة بذلك فقد ورد في الشرع أدعيةٌ وأذكارٌ يقولها المسافرُ إذا نَزَلَ مَتْرِلا لِيَبِيْتَ فيه فيكون ذالك سَبَبا لحفْظِهِ في ذلك المكانِ من كل أفَةٍ أو عاهةٍ ومن شرّ الجنّ والإنسِ فاذا أتى الإنسانُ بتلك الأدعيةِ والأذكارِ أو بغيرِها مما هو مأثورٌ شرعا لقصدِ حفظِ بستانه أو غيرِهِ من مال أو أهلٍ أو ولد فإنّ ذلك جائزٌ بل سنةٌ وكذلك الحِرَاسَةُ للبستانِ بالكلبِ جائِزَةٌ ففي صحيح البخاري “الحديث. هذا هو الجواب، والله الموفق للصواب
Dengan meminta pertolongan Allâh untuk mendapat kebenaran... Adapun menjaga kebun dengan do’a dan anjing, hukumnya boleh. Dan keterangan hadits pun telah menjelaskan demikian. Sungguh banyak sekali keterangan syara’ yang menjelaskan tentang do’a-do’a dan zikir-zikir seorang musafir ketika menempati rumah dengan tujuan menginap. Do’a dan zikir tersebut menjadi penyebab (atas izin dan kehendak Allâh-pen.) terjaganya tempat tersebut dari segala malapetaka dan marabahaya dan juga dari kejahatan jin atau manusia. Ketika seseorang membaca do’a-do’a atau zikir-zikir tersebut, yaitu menurut apa yang dinukil dari syara’ dengan tujuan menjaga kebunnya, hartanya, kebunnya, anaknya atau lainnya, maka yang demikian itu diperbolehkan dan bahkan hukumnya sunnah…” (Hasyiyyah al-Jamal, hlm. 21, juz. V.)

Adapun sihir, maka jelas dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah secara qath’i (pasti, tegas) melarangnya, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.

Tata Cara atau Praktik Ruqyah Tempat

Lalu bagaimana praktik meruqyah tempat? Syaikh Wahid bin ‘Abdus-Salam Bali dalam kitab Wiqaayatul Insaan Min al-Jin wa asy-Syaythaan (beliau menukil kitab al-Waabil ash-Shayb) menuturkan:
١- تذهب أنت واثنان معك إلى هذا البيت وتقول: أناشدكم بالعهد الذي أخذه عليكم سليمان أن تخرجوا وترحلوا من بيتنا. أناشدكم الله أن تخرجوا ولا تؤذوا أحدًا – تكرر هذا ثلاثة أيام
٢- إذا استشعرت بعد ذلك بشيء في البيت تحضر ماءً في إناء وتقرب فاك منه وتقول – الأدعية الرقية ومنها سورة الصافات: ١-١٠
٣- ثم تتبع بهذا الماء جوانب الدار فتضع منه في كل جانب من جوانبها؛ فيخرجون بإذن الله تعالى
Yakni dengan penjelasan sebagai berikut:

Pertama, sampaikan peringatan. Kata-kata memiliki pengaruh terhadap manusia, sebagaimana disampaikan Imam Ibnu Qayyim. Peringatan yang dimaksud bisa dengan kata-kata ini:
أَنْشُدُكُمْ بِالْعَهْدِ الَّذِيْ أَخَذَهُ عَلَيْكُمْ سُلَيْمَانُ أَنْ تَخْرُجُوْا وَتَرْحَلُوْا مِنْ بَيْتِنَا. أُنَا شِدُكُمُ اللهَ أَنْ تَخْرُجُوْا وَلاَ تُؤْذُوْا أَحَدًا
“Aku peringatkan kalian dengan sumpah yang pernah diucapkan Nabi Sulaiman kepada kalian; keluarlah dan pergilah kalian dari rumah kami. Aku sumpah kalian dengan nama Allâh; keluarlah kalian dan janganlah kalian menyakiti seorang pun.” 

Hal ini berdasarkan kata-kata peringatan yang dicontohkan Rasûlullâh shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau mengusir syaithân golongan jin yang menyerupai ular rumah. Rasûlullâh shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِهَذِهِ الْبُيُوتِ عَوَامِرَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوا عَلَيْهَا ثَلَاثًا فَإِنْ ذَهَبَ وَإِلَّا فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّهُ كَافِرٌ
Sesungguhnya di dalam rumah-rumah ada sekelompok jin, jika kalian melihat sesuatu dari mereka maka persempitlah untuknya tiga hari jika ia bersedia pergi, dan jika tidak maka bunuhlah karena sesungguhnya dia kafir.” (HR. Muslim)              

Al-Hafizh al-Nawawi menjelaskan bahwa bentuk ‘mempersempit’ dalam hadits tersebut: al-Qadhi berkata; Ibnu Hubaib telah meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:
أَنْشُدُكُمْ بِالْعَهْدِ الَّذِي أَخَذَهُ عَلَيْكُمْ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أَنْ لاَ تُؤْذُوْنَنَا وَ لاَ تَظْهَرَنَّ لَنَا
“Aku peringatkan kamu dengan janji yang telah diambil oleh Sulaiman bin Daud atas kalian, hendaklah kalian tidak menyakiti kami dan tidak menampakkan diri kepada kami. (Wiqâyatul Insân min al-Jin wa al-Syaithân, Syaikh Wahid ‘Abd al-Salam Bâli)

Kedua, bacakan do’a-do’a ruqyah syar’iyyah dan tiupkan pada air yang dicampur garam (sebagaimana keterangan hadits mengenai air yang dicampur garam:
بَيْنَا رَسُوْلُ الله ِ -صلى الله عليه وسلم -يُصَلِّيْ إِذْ سَجَدَ، فَلَدَغَتْهُ عَقْرَبٌ فِيْ أَصْبُعِهِ، فَانْصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ ِ-صلى الله عليه وسلم – وَقَالَ: لَعَنَ اللهُ اْلعَقْرَبَ مَا تَدَعُ نَبِيًّا وَلاَ غَيْرَهُ. قَالَ: ثُمَّ دَعَا بِإِنَاءٍ فِيْهِ مَاءٌ وَمِلْحٌ، فَجَعَلَ يَضَعَ مَوْضِعَ اللَّدَغَةِ فِيْ الْمَاءِ وَالْمِلْحِ، وَيَقْرَأُ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حَتَّى سَكَنَتْ
“Ketika Rasûlullâh shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam sedang sujud dalam shalatnya, jari beliau disengat Kalajengking. Setelah selesai shalat, beliau bersabda, ‘Semoga Allâh melaknat Kalajengking yang tidak memandang nabi atau selainnya.’ Lalu beliau mengambil wadah (ember) yang berisi air dan garam. Kemudian beliau meletakkan bagian tangan yang tersengat Kalajengking dalam larutan air dan garam (merendamnya), seraya membaca surat al-Ikhlâsh, al-Falaq dan al-Nâs, sampai beliau merasa tenang.” (HR. al-Baihaqi, hadits Hasan: Imam al-Haitsami menyatakan bahwa sanad hadîts tersebut hasan)

Imam ‘Abd al-Rauf al-Manawi menjelaskan: “Dalam riwayat itu Rasûlullâh telah memadukan antara obat yang bersifat alami dengan obat yang bersifat Ilahi. Sedangkan surat Ikhlâsh yang beliau baca, mengandung kesempurnaan tauhid, dari sisi pengetahuan dan keyakinan. Adapun surat al-Mu’awwidzatayn (al-Falaq dan al-Nâs) mengandung permohonan perlindungan dari segala hal yang tidak disukai, secara global dan terperinci. Dan garam yang beliau gunakan, merupakan materi yang sangat bermanfaat untuk menetralisir racun.”

Adapun tiupan dalam praktik ruqyah ini sebagaimana penjelasan Imam Ibn al-Atsir –rahimahullaah- yang berkata:
 النَّفْثُ : شبيه بالنَّفخ وهو أقل من التَّفْل ، لأن التَّفْل لا يكون إلا ومعه شيءٌ من الرِّيِق
al-Naftsu yakni seperti dengan al-nafkhu yakni dibawah al-Taflu, karena al-Taflu tidak mengandung sesuatu kecuali air liur.” (Al-Nihaayah fii Ghariib al-Hadiits (5/87))

Ketiga, memercikkan air tersebut ke sudut-sudut tempat yang diruqyah. Syaikh Wahid bin ‘Abdus-Salam Bali menjelaskan: “Kemudian bawalah air tersebut ke seluruh penjuru (sudut-sudut) rumah, dan letakkanlah (dipercikkan) sebagiannya di setiap penjuru rumah, maka dengan izin Allâh mereka (syayâthîn) akan keluar. Lakukanlah cara pengobatan ini dengan niat ikhlas ketika membaca do’a tersebut dan memohon pertolongan kepada Rabb langit dan bumi.” 

Mengenai cara ini ada penjelasan lebih lengkap dari Syaikh al-Tihamiy, yang menunjukkan praktik meruqyah tempat (khususnya kamar pengantin)Beliau berkata dalam kitabnya yang berbicara tentang pernikahan:

“Dan diantara tata krama bersetubuh juga adalah apa yang diisyaratkan beliau (Syaikh Ibnu Yamun) dengan ucapannya (sya’ir):

وغسلك اليدين والرّجلين في # آنية منها فهاك واقتف
ورشّه في كلّ ركن جاء # فاحفظ وقيت البأس والضّرّاء
“Dan basuhanmu kedua tangan dan kedua kaki sang istri di dalam # wadah, maka ambillah dan ikutilah. Dan menyiramnya ke setiap sudut rumah yang datang # maka peliharalah, niscaya engkau dijaga dari bahaya dan bencana.”

Syaikh at-Tihami pun menjelaskan:
فأخبر رحمه الله أنّه يطلب من الزّوج أيضا وقت الدّخول قبل أن يضع يده على ناصيتها أن يغسل طرف يدى العروسة ورخليه بماء في آنية، ويسمّى الله تعالى ويصلّى على رسوله -صلى الله عليه وسلم- ثمّ يرش بذٰلك الماء أركان البيت. فقد ورد أن فعل ذٰلك ينفى الشّرّ والشّيطان بفضل الله تعالى
“Maka Syaikh Ibnu Yamun memberitahukan bahwasanya seorang suami juga dituntut waktu hendak bersetubuh sebelum meletakkan tangannya di atas ubun-ubun istri, agar membasuh ujung kedua tangan pengantin wanita dan kedua kakinya dengan air di dalam wadah, mengucapkan asma Allâh dan bershalawat atas Rasûlullâh SAW, kemudian memercikkan air tersebut ke sudut-sudut rumah. Karena sungguh telah sampai (keterangan) bahwasanya melakukan hal itu akan meniadakan (menangkal) hal buruk dari syaithân, dengan sebab keutamaan (keagungan) Allâh.” (Qurratul ‘Uyûn bi Syarhi Nazham Ibnu Yâmûn, At-Tihami)

Bacaan yang Dibaca?

Seluruh ayat al-Qur’an pada dasarnya boleh digunakan dalam ruqyah syar’iyyah, namun di antaranya yang direkomendasikan:

  • Al-Faatihah
  • Al-Baqarah: 1-5, 255-257, 3 ayat terakhir
  • Ash-Shaaffaat: 1-10
  • Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas
  • Dan do’a-do’a perlindungan, kesembuhan dari as-Sunnah.

Download do'a-do'a ruqyah syar'iyyah: Link Download

Selamat mencoba, syari’at yang agung telah mengajarkan kita tata cara yang syar’i, sederhana namun jitu (pengalaman) bi idzniLlaah. []