27 April 2015

Penjelasan Para Ulama Atas Perintah Allah Untuk Menegakkan Islam Totalitas

Sudah ma’lum bahwa dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia untuk mengamalkan syari’at Din-Nya, berpegangteguh pada buhul tali akidah dan syari’atnya. Diantaranya perintah Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208.




يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

Dan tak samar bahwa memahami ayat-ayat al-Qur’an, harus didasari ilmu. Diriwayatkan Imam Abu Dawud dan Imam al-Tirmidzi dari Jundub bin ‘Abdullah yang berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam- bersabda:
مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
Barangsiapa yang mengatakan sesuatu tentang al-Qur’an dengan pendapatnya, meski pendapatnya benar ia tetap salah.” (HR. al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (juz. 5/ hlm. 200), lihat pula Musnad Abu Ya’la (III/90) dan al-Mu’jam al-Kabiir (II/163)).
Dan Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam- bersabda:
مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka.” (HR. at-Tirmidzi (V/199, 200), dan ia berkata: hadits ini hasan shahih)
Maka dari itu memahami firman Allah yang agung dalam surat al-Baqarah ayat 208 pun wajib dipahami berdasarkan ilmu. Bagaimana kita memahami ayat ini? Para ulama menjelaskan sebagai berikut:


Latar Belakang Turunnya Ayat Ini
Ayat yang agung ini turun berkaitan dengan ‘Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya yang baru masuk Islam dari agama sebelumnya, Yahudi. Mereka sudah masuk Islam namun masih mengagungkan dan melaksanakan sebagian syari’at Taurat, maka turunlah ayat ini. Lebih rincinya, para ulama menjelaskan sebagai berikut:
Imam al-Alusi menjelaskan:
أخرج غير واحد عن ابن عباس رضي الله تعالى عنهما أنها نزلت في عبد الله بن سلام وأصحابه ، وذلك أنهم حين آمنوا بالنبي صلى الله عليه وسلم وآمنوا بشرائعه وشرائع موسى عليه السلام فعظموا السبت وكرهوا لحمان الإبل وألبانها بعد ما أسلموا ، فأنكر ذلك عليهم المسلمون ، فقالوا : إنا نقوى على هذا وهذا ، وقالوا للنبي صلى الله عليه وسلم : إن التوراة كتاب الله تعالى فدعنا فلنعمل بها ، فأنزل الله تعالى هذه الآية.
“Dikeluarkan lebih dari satu riwayat dari Ibn ‘Abbas r.a. bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Salam dan para sahabatnya, hal itu karena mereka ketika sudah beriman kepada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam- dan syari’atnya mereka pun masih beriman pada syari’at-syari’at Musa a.s., maka mereka mengagungkan hari Sabtu, membenci memakan daging unta dan meminum susunya setelah mereka masuk Islam, maka kaum muslimin mengingkari perbuatan mereka itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kami masih memelihara amalan ini dan ini,” lalu mereka pun mengadu kepada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam-: “Sesungguhnya kitab Taurat adalah Kitabullah, maka izinkan kami untuk mengamalkannya” maka turunlah ayat ini.”[1]
Penjelasan hampir serupa dituturkan oleh Imam al-Baghawi yang menjelaskan:
نزلت هذه الآية في مؤمني أهل الكتاب عبد الله بن سلام النضيري وأصحابه، وذلك أنهم كانوا يعظمون السبت ويكرهون لحمان الإبل وألبانها بعد ما أسلموا وقالوا: يا رسول الله إن التوراة كتاب الله فدعنا فلنقم بها في صلاتنا بالليل
“Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang beriman (sebelumnya) dari kalangan ahli kitab (Yahudi) yakni ‘Abdullah bin Salam An-Nadhiriy (Yahudi Bani Nadhiir) dan sahabat-sahabatnya, hal itu karena mereka saat itu masih mengagungkan hari Sabtu dan membenci memakan daging unta dan susunya setelah mereka masuk Islam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya Taurat adalah Kitabullah maka izinkan kami membacanya dalam shalat kami ketika malam.”[2]


Makna Kata As-Silm dalam Ayat Ini
Apa makna kata as-silm (السِّلْمِ) dalam ayat ini? al-Hafizh al-Qurthubi menukil pendapat Ibn ‘Abbas dan Mujahid bahwa kata as-silm dalam ayat ini bermakna Al-Islam, begitu pula Adh-Dhahhak, Ikrimah, Qatadah, Ibn Qutaybah, as-Saddiy dan az-Zujaaj[3]. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh al-Hafizh ath-Thabari, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh al-Qurthubi.[4] Dan diadopsi pula oleh Imam Syihabuddin al-Alusi.
Al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil pun menuturkan:
فـ (السِّلْمِ) هنا الإسلام كما فسره ابن عباس -رضي الله عنه- والمقصود من الإسلام كله أي الإيمان به كله دون استثناء والعمل بشرعه دون غيره
“Maka kata as-silm dalam ayat ini adalah al-Islam, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas r.a. dan maksudnya adalah keseluruhan ajaran Al-Islam yakni beriman terhadapnya tanpa pengecualiaan dan mengamalkan seluruh syari’atnya tanpa yang lainnya.”[5]
Yakni berakidah dengan akidah islamiyyah secara sempurna tanpa terkecuali dan mengamalkan syari’at islam tanpa syari’at lainnya. Maka ayat ini jelas menolak konsep sekularisme yang memisahkan atau mengenyampingkan peran agama dalam mengatur kehidupan, sebagaimana didefinisikan al-‘Allamah Taqiyuddin an-Nabhani ketika beliau mengkritik pemahaman sesat ini, sekularisme (al-‘ilmaaniyyah) yakni:
فصل الدين عن الحياة
“Pemisahan agama dari kehidupan”[6]
Imam al-Alusi menuturkan:
والمراد من السلم جميع الشرائع بذكر الخاص وإرادة العام بناءاً على القول بأن الإسلام شريعة نبينا صلى الله عليه وسلم
“Dan maksud dari kata as-silm mencakup seluruh syari’at Islam dengan penyebutan yang khusus namun maksudnya umum berdasarkan pendapat bahwa al-Islam adalah syari’at Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam-.”
Dalam syair al-Kindi dituturkan:
دَعَوْتُ عَشِيرَتِي للِسِّلم لَمّا … رَأيْتُهمُ تَوَلَّوا مُدْبِرين
Makna lis-silm dalam syair di atas yakni “kepada al-Islam”, ini dijelaskan al-Hafizh ath-Thabari dan Imam asy-Syawkani. Jadi sudah jelas bahwa kata as-silm dalam ayat ini bermakna Islam.

Perincian Tafsir Syaikh ’Atha bin Khalil: Makna As-Silm dalam Ayat Ini Bukan Perdamaian dengan Musuh
Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil lebih jelasnya menuturkan: “Tidak sah menafsirkan kata as-silmpada ayat yang mulia ini dengan makna perdamaian dengan musuh, hal itu karena kataas-silm (secara bahasa) disebutkan bermakna islam dan perdamaian, yang berarti bahwa kata ini (secara bahasa-pen.) memiliki lebih dari satu makna, maka ia termasuk lafzh musytarak (satu kata banyak makna) yakni termasuk mutasyabih (samar), dan memilih salah satu dari dua makna inilah yang dikehendaki, dipahami berdasarkan indikasi-indikasi yang berkaitan dengan maknanya dalam ayat-ayat yang muhkamah (jelas). Maka apabila kata as-silm dalam ayat ini dimaknai perdamaian, maka makna frase ayat ini yakni “masuklah kamu ke dalam perdamaian dengan musuh dalam segala bentuknya” dan di sisi lain perintah dalam ayat ini bermakna wajib berdasarkan indikasi “dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan” konsekuansi pemahaman ini, perdamaian yang sempurna dengan musuh hukumnya fardhu bagi orang-orang beriman,padahal pemahaman ini jelas bertentangan dengan kejelasan ayat-ayat tentang peperangan (jihad) yang mewajibkan orang-orang beriman untuk memerangi kaum kafir hingga din itu seluruhnya hanya untuk Allah dan hal tersebut terwujud dengan masuk ke dalam Islam, atau membayar jizyah dan tunduk pada hukum-hukum Islam.[7]
Apa dalilnya? Syaikh ’Atha bin Khalil mendasarkannya pada dalil-dalil ayat: QS. Al-Anfaal: 39 dan QS. At-Tawbah: 29. Dan hadits:
الجهاد ماض إلى يوم القيامة
“Jihad itu akan senantiasa ada hingga hari kiamat kelak” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud dan Al-Bayhaqi)
Lalu Syaikh ‘Atha bin Khalil merincinya: “Dan semuanya mengandung faidah pada abadinya peperangan (jihad) dengan kaum kafir demi meninggikan kalimat Allah dan menundukkan kaum kafir terhadap hukum-hukum Islam, dan hal ini menjelaskan bahwa kata as-silm dalam ayat yang mulia ini bermakna Al-Islam dan bukan perdamaian dengan musuh karena pertentangan makna yang terakhir disebutkan ini (perdamaian) dengan kejelasan ayat-ayat peperangan terhadap musuh, dan ayat yang muhkam merupakan hakim (pemutus) atas ayat yang mutasyabih, maka maknanya telah ditentukan dalam ayat ini yakni al-Islam yakni masuk ke dalam Islam seluruhnya.”
Lebih lanjut Syaikh ‘Atha bin Khalil pun menuturkan bahwa kata as-silm yang ada dalam ayat Al-Qur’an dengan makna perdamaian, disebutkan dalam dua ayat: pertama, dalam surat al-Anfal dan yang lainnya dalam surat Muhammad, dan dengan mengkaji keduanya menjadi jelas kedudukannya ketika kata as-silm bermakna perdamaian.
Pertama, Ayat dalam surat Al-Anfaal [8]: 61:
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Kedua, Ayat lainnya yakni pada QS. Muhammad [47]: 35:
فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

Makna Kata Kaaffah dalam Ayat Ini
Lalu apa makna kaaffah (كافّة) dalam ayat yang mulia ini? Diantaranya Ibn ‘Abbas, Qatadah, Adh-Dhahhak dan Mujahid sebagaimana penuturan Al-Hafizh Abu Ja’far Ath-Thabari bermakna jamii’an (جميعًا) yakni keseluruhan. Maka sangat mengena apa yang dituturkan oleh Imam Mujahid –rahimahullaah- yakni:
ادخلوا في الإسلام جميعًا
“Masuklah kalian ke dalam Islam seluruhnya.”[8]
Lebih lengkapnya, Al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil menjelaskan:
كافةً) حال من (السلم) أي السلم كله بمعنى الإسلام كله. وأصل (كافّة) من اسم الفاعل (كافّ) بمعنى مانع من كفَّ أي منع. فقولك (هذا الشي كافّ) أي مانع لأجزائه من التفرّق، فكأنك قلت مجازًا (هذا الشيء جميعه أو كله) بعلاقة السببية
Kaaffah adalah keterangan dari lafazh as-silm yakni as-silm keseluruhannya yang artinya al-Islam keseluruhannya. Dan asal-usul kata kaaffah dari ism al-faa’il (kaaffun) artinya yang menghalangi, dari kata kerja kaffa yakni mana’a (mencegah). Maka perkataan anda: “Hal ini kaaffun” yakni yang mencegah untuk dibagi-bagi ke dalam pecahan, maka seakan-akan anda mengatakan secara kiasan (hal ini semuanya atau seluruhnya) dengan hubungan sababiyyah.”[9]
Al-Hafizh al-Qurthubi menjelaskan:
و ( كَافَّةً ) معناه جميعاً ، فهو نصب على الحال من السِّلم أو من ضمير المؤمنين؛ وهو مشتق من قولهم : كففت أي منعت ، أي لا يمتنع منكم أحد من الدخول في الإسلام
“Dan kata kaaffah artinya adalah keseluruhan, ia dibaca nashab sebagai kata keterangan dari kata as-silmi atau dari kata ganti kata al-mu’miniin; yakni turunan dari perkataan mereka: كففت yakni terhalang, yakni tidak boleh ada seorangpun di antara kalian yang terhalang dari upaya memasuki Al-Islam.”[10]
Imam al-Alusi mengatakan:
وكافة في الأصل صفة من كف بمعنى منع ، استعمل بمعنى الجملة بعلاقة أنها مانعة للأجزاء عن التفرق والتاء فيه للتأنيث أو النقل من الوصفية إلى الإسمية كعامة وخاصة وقاطبة ، أو للمبالغة
“Dan kata kaaffah pada asalnya adalah sifat dari kata kerja kaffa yang artinya menghalangi, penggunaan dengan makna kalimat ini dengan keterkaitan bahwa ia adalah yang menghalangi untuk dibagi-bagi dalam pembagian, dan tambahan huruf taa’ di dalamnya untuk ta’niits (mu’annats) atau mengubahnya dari kata sifat menjadi kata benda seperti kata ‘aamat[un], khaashat[un] dan qaathibat[un], atau sebagai superlatif (penguatan).”[11]
           
Inti Penafsiran Para Ulama
Dalam menafsirkan ayat yang agung ini para ulama menjelaskan:
Pertama, frase ayat (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) ”wahai orang-orang yang beriman” merupakan seruan kepada orang-orang yang meninggalkan kekufuran dan memeluk Islam. Sebagaimana dijelaskan al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah dalam kitab tafsirnya.[12]
Kedua, frase ayat (ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً) “masuklah kalian ke dalam Islam seluruhnya” yakni masuklah ke dalam Islam seluruhnya (totalitas).
Maka jelas, penafsiran para ulama atas ayat yang agung ini, sebagaimana ditafsirkan al-Hafizh Ibn Katsir menyatakan dalam tafsirnya:
يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك.
Allâh Ta’aalaa berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk membenarkan Rasul-Nya: mengambil seluruh ikatan dan syari’at Islam, mengamalkan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai kemampuan (dengan segenap kemampuan-pen.).”

Makna Larangan Mengikuti Langkah-Langkah Syaithan
Menafsirkan frase ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan”, para ulama menjelaskan bahwa frase ayat ini mengandung larangan tegas dan informasi pasti tentang musuh yang nyata bagi kaum muslimin yakni syaithan. Dan al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil menjelaskan bahwa frase ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan” merupakan indikasi (qariinah) wajibnya perintah Allah dalam ayat yang agung ini untuk berislam secara totalitas. Beliau menyatakan:
والأمر للوجوب بقرينة (وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
“Dan perintah dalam ayat ini merupakan kewajiban berdasarkan indikasi (“dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan”)”[13]
Al-Hafizh Abu Ja’far Ath-Thabari menegaskan:
اعملوا أيها المؤمنون بشرائع الإسلام كلها، وادخلوا في التصديق به قولا وعملا ودعوا طرائق الشيطان وآثاره أن تتبعوها فإنه لكم عدو مبين لكم عداوته. وطريقُ الشيطان الذي نهاهم أن يتبعوه هو ما خالف حكم الإسلام وشرائعه، ومنه تسبيت السبت وسائر سنن أهل الملل التي تخالف ملة الإسلام
“Wahai orang-orang yang beriman, laksanakanlah aturan-aturan syari’at Islam seluruhnya, dan masuklah ke dalam pembenaran atasnya baik perkataan maupun perbuatan dan tinggalkanlah jalan-jalan syaithan dan pengaruhnya untuk mengikuti jalan-jalannya karena sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian dengan permusuhannya. Dan jalan syaithan yang dilarang Allah untuk mereka ikuti adalah yang menyelisihi hukum Islam dan aturan-aturannya, di antaranya mengagungkan hari Sabtu dan seluruh ajaran-ajaran pengikut agama lain yang bertentangan dengan ajaran Islam.”
Al-Hafizh al-Qurthubi memaparkan bahwa frase ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan” merupakan larangan, ini sudah sangat jelas. Beliau pun menguraikan:
وقال مقاتل : استأذن عبد الله بن سَلاَم وأصحابه بأن يقرءوا التوراة في الصلاة ، وأن يعملوا ببعض ما في التوراة؛ فنزلت { وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشيطان } فإن اتباع السُّنّة أولى بعد ما بُعث محمد صلى الله عليه وسلم من خطوات الشيطان . وقيل : لا تسلكوا الطريق الذي يدعوكم إليه الشيطان؛ { إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ } ظاهر العداوة؛ وقد تقدّم
“Muqatil berkata: ‘Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya meminta izin kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam- untuk membaca sebagian isi Taurat dalam shalat dan mengamalkan sebagian syari’at Taurat; maka turunlah ayat ini: “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan” karena mengikuti jalan Sunnah jelas selamat setelah diutusnya Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam- daripada mengikuti langkah-langkah syaithan (yang pasti celaka). Dikatakan pula yakni: janganlah kalian menempuh jalan yang diserukan syaithan pada kalian.[14] (Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian) yang menampakkan permusuhan; telah dijelaskan pula sebelumnya.”[15]
Ajaran islam menjelaskan bahwa syari’at para nabi sebelumnya tidak berlaku bagi umat Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alayhi wa sallam-,  pemahaman para ‘ulama ini didasarkan pada QS. ‘Âli Imrân [3]: 19 & 85, QS. al-Mâidah [5]: 48. Allâh I berfirman:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (TQS. Al-Mâ’idah [5]: 48)
Lafazh ‘muhayminan ‘alayh’ dalam ayat di atas bermakna ‘musaythiran ‘alayh’ (mengalahkan atau menundukkan) dan ‘mushallithan’ (menguasai). Penguasaan al-Qur’ân terhadap kitab-kitab terdahulu (Zabur, Taurat, Injil) artinya menghapus (nasakh) syari’at-syari’at sebelumnya. Dengan kata lain, al-Qur’ân membenarkan kitab-kitab terdahulu sekaligus menghapusnya.[16] Argumentasi ini yang jadi hujjah para ‘ulama mengenai kedudukan Islam sebagai penghapus (al-nâsikh) syari’at-syari’at para Nabi sebelumnya.[17] Dan barangsiapa mengambil din selain Islam sebagai dinnya, maka ia termasuk golongan orang yang merugi.
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (TQS. ‘Âli Imrân [3]: 85)
Berdasarkan ayat al-Ma’idah di atas, al-‘Allamah Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani merumuskan kaidah syar’iyyah:
شَرْعُ مَنْ قَبْلَنَا لَيْسَ شَرْعًالَنَا
“Syari’at umat sebelum kita tidak menjadi syari’at bagi kita”
Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani pun menjelaskan: “Mengenai syari’at yang diturunkan sebelum Islam (umat terdahulu–pen.) tak dianggap sebagai syari’at untuk kita; juga tidak dapat dikategorikan sebagai dalil syara’. Walaupun akidah Islam mengharuskan iman kepada para Nabi dan Rasul secara keseluruhan beserta kitab-kitab yang telah diturunkan kepada mereka, akan tetapi yang dimaksudkan dengan Iman kepada mereka hanyalah membenarkan ke-Nabian dan Risalahnya, serta membenarkan apa yang telah diturunkan kepada mereka, berupa Kitab. Iman terhadap mereka bukan berarti mengikuti mereka. Sebab, paska diutusnya Nabi Muhammad Saw., seluruh manusia dituntut untuk meninggalkan agama mereka dan memeluk Islam. Karena agama selain agama Islam tidak ada artinya (tertolak).” [18]
Al-‘Alim ‘Iyad Hilal menjelaskan: “Para ulama sepakat bahwa syari’at yang diturunkan kepada umat-umat sebelum Islam tidak berlaku bagi kaum muslimin (umat Nabi Muhammad Saw.–pen.). Satu-satunya sumber rujukan hukum bagi kaum muslimin adalah syari’at Islam.” [19]
Lantas, jika meninggalkan sebagian syari’at Islam dan menggantikannya dengan melaksanakan sebagian ajaran Taurat (yang notabene sudah dinasakh oleh syari’at Islam) dinilai sebagai perbuatan mengikuti langkah-langkah syaithan. Lalu bagaimana dengan melaksanakan ajaran sesat agama dan ideologi lain selain Islam yang jelas-jelas tidak bersumber dari Allah ‘Azza wa Jalla?? Semisal ajaran Yahudi, Kristen, Kapitalisme, Komunisme, Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, Demokrasi dan beragam ajaran dan paham kufur lainnya??

Kewajiban Menerapkan Syari’at Islam Kaaffah: Mencakup Pengaturan Urusan Kehidupan Manusia (Siyaasah)
Banyak dalil-dalil syar’iyyah yang menggambarkan cakupan ajaran Islam yang mengatur segala aspek kehidupan manusia (siyaasah). Dipertegas oleh penjelasan para ulama, salah satunya dalam qawl yang dinisbatkan pada asy-Syafi’i, diungkapkan pentingnya aspek syar’i dalam pengaturan kehidupan. Dinyatakan bahwa:
لا سياسة إلا ما وافق الشرع
“Tidak ada siyaasah (politik) kecuali apa yang sejalan dengan hukum syara’ (as-siyaasah asy-syar’iyyah).”[20]
            Ini sekaligus menunjukkan penolakan asy-Syafi’i atas konsep sekularisme yang menafikan peranan agama dalam pengaturan urusan kehidupan. Maka jelas rancu jika ada yang mengaku penganut madzhab asy-Syafi’i namun mendukung konsep as-siyaasah duuna asy-syarii’ah (politik tanpa syari’ah islamiyyah (sekularisme)). Islam adalah diin yang mengatur segala aspek kehidupan manusia termasuk sistem kehidupan dalam konteks bernegara.
Maka benar apa yang dijelaskan para ulama bahwa siyaasah dalam Islam (as-siyaasah asy-syar’iyyah) adalah:
رعاية شؤون الأمة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية
Pemeliharaan terhadap urusan umat dalam dan luar negeri berdasarkan syariat islam.”[21]
Berdasarkan hadits Rasulullah Saw.:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ
“Adalah bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para Khalîfah yang banyak.” (HR. Bukhari & Muslim)

            Dan al-Khilaafah al-Islaamiyyah, sebagaimana dijelaskan para ulama berdasarkan dalil-dalil syar’iyyah merupakan metode syar’i untuk menegakkan syari’at islam kaaffah, bukan sistem Demokrasi atau sistem-sistem politik lainnya. []




[1] Lihat: Syihabuddin al-Alusi. Ruuh Al-Ma’aaniy fii Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Azhiim
[2] Lihat: Ma’aalim At-Tanziil
[3] Lihat: Zaad Al-Muyassar, Imam Ibn Al-Jawziy
[4] Lihat: Al-Jaami’ li Ahkaam Al-Qur’aan.
[5] Lihat: Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah, Beirut: Dar al-Ummah. Cet. II: 1427 H/ 2006.
[6] Lihat: Nizhaam Al-Islaam, al-‘Allamah asy-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
[7] Ibid.
[8] Lihat: Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil Al-Qur’aan karya Al-Hafizh Abu Ja’far Ath-Thabari.
[9] Lihat: At-Taysiir fii Ushuul At-Tafsiir karya Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah, beliau menjelaskan lebih lanjut:
ثم ألحقت (التاء) باسم الفاعل لنقله من الفاعلية من (كفّ) إلى اسم (كافّة) بمعنى الكل والجميع
[10] Lihat: Al-Jaami’ li Ahkaam Al-Qur’aan karya al-Hafizh al-Qurthubi. Lihat pula penjelasan dalam  tafsir Fat-h al-Qadiir karya Imam asy-Syawkani. Lalu beliau pun menjelaskan lebih jauh:
والكفّ المنع؛ ومنه كُفَّة القميص بالضم لأنها تمنع الثوب من الانتشار؛ ومنه كِفَّة الميزان بالكسر التي تجمع الموزون وتمنعه أن ينتشر؛ ومنه كفُّ الإنسان الذي يجمع منافعه ومضارّه؛ وكل مستدير كفّة ، وكل مستطيل كُفّة
[11] Lihat: Ruuh Al-Ma’aaniy
[12] Lihat: Al-‘Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah. At-Taysiir fii Ushuul At-Tafsiir.
[13] Lihat pula penjelasan Syaikh ‘Atha bin Khalil dalam kitab Taysiir al-Wushuul ilaa al-Ushuul.
[14] Pernyataan serupa dituturkan Imam asy-Syawkani dalam kitab tafsir-nya, Fat-h al-Qadiir.
[15] Lihat: Al-Jaami’ li Ahkaam al-Qur’aan, al-Hafizh al-Qurthubi.
[16] Lihat: al-‘Allamah Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani. Mafâhîm Hizb at-Tahrîr.
[17] Lihat: Islam Politik Spiritual, hlm. 5.
[18] Lihat: al-‘Allamah Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani. Mafâhîm Hizb al-Tahrîr.
[19] Dalam Studies in Ushul ul-Fiqh (T.Studi tentang Ushul Fiqih).
[20] Lihat: Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdussalam bin Taymiyyah. As-Siyaasah Asy-Syar’iyyah fii Ishlaahi Ar-Raa’iy war-Ra’iyyah. Muhaqqiq: Ali bin Muhammad Al-Imran. Cet. I. Makkah: Dar ‘Alam al-Fawaa’id.
[21] Lihat: Mu'jamu Lughatil Fuqahâ' (I/253) karya Muhammad Qal'ahji.