29 April 2015

Mendengarkan Nasihat yang Baik dan Mengikuti yang Terbaik


Ketahuilah bahwa salah satu karakter golongan ulul albâb adalah mereka yang mendengarkan nasihat yang baik dan mengikuti hal yang terbaik, karakter ini adalah karakter orang yang mau memperbaiki diri dan terus meningkatkan kualitas diri, dan hal itu tidak mungkin diwujudkan tanpa kesediaan mendengarkan nasihat dan mengikuti yang terbaik di antara nasihat kebaikan tersebut. Hal itu tersurat dalam firman Allah:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah golongan ulul albâb.” (QS. Az-Zumar [39]: 18)

Mengenai ulul albâb, Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang berakal yang berpikir dan mentadaburi ayat-ayat Allah, maka Allah mengkhususkan mereka dalam seruan, dan mereka adalah ahlinya memahami maknanya.[1]  Lebih jauh Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 197 menjelaskan bahwa Allah mengarahkan seruan kepada golongan ulul albâb karena mereka adalah golongan yang memahami kebaikan dan keburukan, rahmat Allah dari siksa-Nya, dan memahami apa-apa yang bermanfaat bagi kehidupan mereka dan apa-apa yang membahayakan, dan oleh karena itulah mereka menjauhi kemaksiatan kepada Allah, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan keta’atan-keta’atan sehingga jadilah mereka menjadi golongan yang bertakwa.[2]

Bukankah Allah ’Azza wa Jalla pun telah menegaskan dalam ayat-Nya yang agung, yakni QS. Al-’Ashr [103]: 3,  bahwa salah satu karakteristik mereka yang tidak merugi adalah seseorang yang mau menasihati orang lain (dakwah) dalam kebenaran dan kesabaran? Di sisi lain mau mendengarkan nasihat dari orang lain. Dan mendengarkan perkataan adalah sarana untuk mendapatkan nasihat dari orang lain. 
  
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mena’ati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3)

Ayat ini menjelaskan, bahwa manusia benar-benar dalam keadaan merugi. Pertama, dijelaskan dengan qassam (sumpah) “والعصر” (demi masa). Kedua, dijelaskan dengan ta’kid “إنّ” (benar-benar). Ketiga, dijelaskan dengan ta’kid “لفي” (sungguh dalam). Ketiga bentuk penjelasan ini, semuanya menguatkan makna pembahasan ayat ini, yaitu kerugian manusia yang sangat luar biasa. Kecuali orang yang beriman, beramal shalih dan saling menasihati dalam kebaikan dan penuh kesabaran, secara terus-menerus, sehingga selamat dari kesalahan. Dalam tinjauan ilmu balaghah, keberadaan semua penegasan (ta’kîd) seperti ini berfaidah menegasikan atau menafikan segala bentuk pengingkaran terlebih keraguan.[3]  

Dalam ayat yang agung tersebut, diungkapkan kata (تواصوا); yang artinya saling menasihati (نصح بعضهم بعضًا), menggunakan wazan (تَفَاعَلَ) yang menunjukkan interaksi dua sisi, perbuatan satu sama lain, artinya seorang insan yang tidak merugi memiliki karakteristik mau menasihati dan mau mendengarkan nasihat, ini adalah ungkapan yang agung. Berbeda dengan orang yang takabur, dimana ia memiliki karakter menolak kebenaran dan melecehkan manusia, lalu apakah mungkin orang yang takabur mau mendengarkan nasihat?! Apakah layak ia menyandang gelar ulul albâb? Dan karena sifat takabur pula Iblis –la’natuLlâhi ’alayh- terjerembap dalam kehinaan kekal, wal ’iyâdzu biLlâh.

Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi menjelaskan: “Sesungguhnya surat ini menjelaskan perkara akidah dan tuntutannya yakni iman (pembenaran yang pasti) dan amal shalih. Setelah itu Allah berfirman: (تواصوا) Allah tidak mengatakan (ووصوا), apa makna kata (تواصوا)? Yakni agar setiap orang beriman mengetahui bahwa dirinya adalah bagian dari orang lain, begitu pula saudara seimannya yang lain, terkadang di antara keduanya yang lemah terhadap suatu kemaksiatan sehingga ia melakukannya, akan tetapi yang lainnya tidak lemah terhadap kemaksiatan tersebut, maka dari itu orang yang tidak lemah tersebut sudah semestinya menasihati orang yang lemah (agar menjauhi kemaksiatan tersebut-pen.)”[4]

Perbuatan terpuji saling menasihati ini pun merupakan pengamalan terhadap hadits Nabi -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-, dari Abi Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâriy -radhiyaLlaahu 'anhu- bahwa Nabi -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
“Agama itu adalah nasihat”

Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Nabi -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:

لِلّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَتِهِمْ
“Untuk Allah, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim)[5]

Apa maknanya? Imam Ibn Daqîq al-‘Iid (w. 702 H) menjelaskan: 
ومعنى قوله: "الدين النصيحة" أي عماد الدين وقوامه: النصيحة
“Makna sabda Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-: “Agama itu adalah nasihat” yakni tiang agama dan pondasinya adalah an-nashîhah.”[6] 

Imam Ibn Daqîq al-‘Ied menjelaskan:
والنصيحة في اللغة: الإخلاص يقال: نصحت العسل إذا صفيته وقيل غير ذلك. والله أعلم
“Lafazh an-nashîhah secara bahasa: al-ikhlâsh (kemurnian), dikatakan: nashahtu al-‘asala (saya telah memurnikan madu) jika menyucikannya, dan dikatakan pula makna selainnya. Wallâhu a’lam.” [7]

Adapun penafsiran terdahap lafazh “an-nashîhah” dan jenis-jenisnya dalam hadits ini, dijelaskan Ibn Daqîq al-‘Ied yang menukil pernyataan Imam al-Khithabi dan para ulama lainnya: “Adapun nasihat untuk kaum muslimin pada umumnya –selain para penguasa-, yakni dengan menunjuki mereka kepada kemaslahatan diri di akhirat dan di dunia, menolong mereka untuk mewujudkannya, menasihati agar mereka menutupi ‘auratnya, menutupi ‘aib mereka, menyingkirkan bahaya dari mereka dan mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan bagi mereka, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran dengan cara yang lembut dan niat ikhlas, mengasihi mereka, menghormati orang tua dan mengasihi yang kecil di antara mereka, memikat hati mereka dengan nasihat yang baik serta menjauhi sifat culas dan dengki, mencintai kebaikan bagi mereka sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan membenci keburukan terjadi pada mereka sebagaimana ia benci jika hal itu terjadi padanya, membela harta, kehormatan dan lain sebagainya yang menjadi hak mereka dengan perkataan dan perbuatan dan  mendorong mereka untuk bertingkahlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan dari beragam nasihat ini. WaLlâhu A’lam.” [8]

Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- pun menjelaskan bahwa sikap meninggalkan apa-apa yang menurut Islam tak berfaidah merupakan tanda kebaikan Islam pada diri seseorang. Dari Abu Hurairah -radhiyaLlaahu 'anhu-, dari Nabi Muhammad -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-, beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ 
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibn Majah & Ibn Hibban. Hadits hasan)[9]

Apa makna hadits ini? Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) menuturkan: “Hadits ini merupakan dasar agung dalam pokok adab, Imam Abu ‘Amru bin ash-Shalah menuturkan dari Abu Muhammad bin Abu Zayd, Imamnya madzhab malikiyyah pada masanya, bahwa ia mengatakan: “Kumpulan adab-adab kebaikan dan kehancurannya (kebalikannya) terbagi dalam empat hadits: Pertama, sabda Nabi -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diamlah.” Kedua, sabdanya: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya”. Ketiga, dan sabdanya yang meringkas wasiat: “Jangan marah”. Keempat, sabdanya: “Orang beriman itu mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya”.”[10] 

Al-Hafizh Ibnu Rajab pun merinci bahwa di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah sikapnya meninggalkan apa-apa yang tak bermanfaat baginya baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan menyedikitkan diri pada hal-hal yang tidak bermanfaat baik berupa berbagai perkataan dan perbuatan, dan makna kata (يعنيه): bahwa hal yang penting itu berkaitan dengan dirinya maka jadilah hal itu termasuk tujuan dan tuntutan dirinya. Kata (العناية): kuatnya perhatian pada sesuatu, dikatakan: عناه – يعنيه yakni jika seseorang memerhatikan dan mencarinya. Namun yang dimaksud (dalam hadits ini) bukan berarti bahwa ia meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya dan tidak dikehendakinya berdasarkan standar hawa nafsu dan tuntutan jiwa, akan tetapi berdasarkan standar hukum syara’ dan Islam. Oleh karena itulah ia termasuk “di antara kebaikan keislaman”, maka jika “baik keislaman seseorang” ia akan meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya dalam Islam baik berupa perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan. Karena Islam menuntutnya melaksanakan berbagai kewajiban sebagaimana telah dijelaskan dalam syarh hadits Jibril a.s.[11]  Begitu pula meninggalkan berbagai keharaman, sesungguhnya perbuatan tersebut bagian dari ajaran Islam yang sempurna nan terpuji.

Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:
المسلمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْن مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim itu ia yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”[12]

Dan jika baik ke-Islaman (pada diri seseorang) maka hal itu mendorongnya untuk meninggalkan apa-apa yang tak bermanfaat secara keseluruhannya dari berbagai keharaman, syubhat dan kemakruhan, bahkan hal-hal yang mubah yang tidak dibutuhkan. Karena sesungguhnya ini semua tidak bermanfaat bagi seorang muslim apabila telah sempurna keislamannya, dan telah sampai pada derajat ihsan yakni menyembah Allah 'Azza wa Jalla seakan-akan ia melihat-Nya, dan jika ia seakan tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatnya. Ini merupakan karakteristik yang agung, yang tidak mungkin ada pada orang yang terjangkit virus takabur, dimana ia takkan mau mendengarkan nasihat. Dan karena sifat yang buruk inilah Iblis –la’natuLlâhi ’alayh- terjerembab ke jurang kehinaan yang abadi. Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:
قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari ketakaburan.”

Seorang laki-laki bertanya: “Sesungguhnya seorang pria itu senang jika baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?" Beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- menjawab: 
إِنَّ اللهُ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu indah menyukai keindahan, ketakaburan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)[13] 
اللّهمّ اجعلنا من الّذين يستمعون القول ويتّبعون أحسنه
والله أعلم بالصواب

Catatan Kaki

[1] ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah, At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr: Sûratul Baqarah, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. II, 2006, hlm. 208.
[2] ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah, At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr: Sûratul Baqarah, hlm. 249.
[3] Tim Pakar, Al-Balâghah wa an-Naqd, Riyâdh: Jâmi’atul Imâm Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 38-39.
[4] Prof. Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, Tafsîr asy-Sya’rawi, Kairo: Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyyah Jâmi’atul Azhar asy-Syarîf, jilid III, hlm. 1.665.
[5] Menurut Dr. Muhammad Yusri, hadits dari Abi Ruqayyah Tamim r.a. ini hadits paling shahih dalam bab ini dengan lafazh tersebut, lihat: Dr. Abu ‘Abdullah Muhammad Yusri, Al-Jâmi’ Syarh al-Arba’iin an-Nawawiyyah, Kairo: Dâr al-Yusr, Cet. III, 1430 H.
[6] Ibn Daqiiq al-‘Iid, Syarh Al-Arba’iin an-Nawawiyyah, Makkah: al-Maktabah al-Fayshaliyyah, hlm. 32.
[7] Ibid, hlm. 34.
[8] Ibid. 
[9] Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, jilid I, hlm. 287. Dalam catatan kaki kitab Jâmi’ al-Ushul wa al-Hikam (tahqiq: Syu’aib al-Arna’uth) disebutkan bahwa hadits ini hasan li ghayrihi. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam al-Jâmi’ al-Kabiir (2317), Ibnu Majah (3976), Ibnu Hibban (229), ath-Thabrani dalam al-Awsath (361), Ibnu ‘Ady dalam al-Kâmil (5/454-455), al-Qadha’I dalam Musnad asy-Syihab (192), al-Baghawi (4132).
[10] Ibid, hlm. 288.
[11] Ibid.
[12] HR. Ahmad (II/379), at-Tirmidzi (2627), an-Nasa’i (VIII/104-105), Ibnu Hibban (180), al-Hakim (I/10) dari jalur Abu Hurairah t Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud (2481), Ibnu Hibban (196) dari jalur Abdullah bin Amru bin al-‘Ash. Dan diriwayatkan pula oleh ath-Thayalisi (1777), Ahmad (III/372), Muslim, Ibnu Hibban (197) dari jalur Jabir bin Abdullah.
[13] Lihat pula hadits yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.