27 April 2015

Khalifah: Wajib Satu untuk Seluruh Dunia pada Satu Masa (Qaul Imam al-Mawardi)


-Sekilas Kajian Kitab: Adab al-Dunyâ’ wa al-Dîn karya Imam Abu al-Hasan al-Mawardi al-Syafi’i[1]

D
i antara perbedaan konsep politik Islam dengan konsep-konsep politik jahiliyyah (diantaranya Demokrasi) adalah dalam masalah kepemimpinan. Islam tidak memperbolehkan banyaknya pemimpin (Khalifah) lebih dari satu pada satu masa, yang menggambarkan perpecahan umat ini.

Imam al-Mawardi -rahimahullâh- menuturkan:
فَأَمَّا إقَامَةُ إمَامَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةٍ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ، وَبَلَدٍ وَاحِدٍ فَلاَ يَجُوزُ إجْمَاعًا
“Adapun mengangkat dua orang penguasa atau tiga orang (atau lebih) dalam satu masa dan satu negeri maka tidak diperbolehkan secara ijma’.”
Lalu Imam al-Mawardi pun mengungkapkan pendapat kelompok syadz -kontroversial-, yang memperbolehkan berbilangnya khalifah dalam rangka membantahnya:
فَأَمَّا فِي بُلْدَانَ شَتَّى وَأَمْصَارٍ مُتَبَاعِدَةٍ فَقَدْ ذَهَبَتْ طَائِفَةٌ شَاذَّةٌ إلَى جَوَازِ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ الامَامَ مَنْدُوبٌ لِلْمَصَالِحِ. وَإِذَا كَانَ اثْنَيْنِ فِي بَلَدَيْنِ أَوْ نَاحِيَتَيْنِ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَقْوَمَ بِمَا فِي يَدَيْهِ، وَأَضْبَطَ لِمَا يَلِيهِ. وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ بَعْثَةُ نَبِيَّيْنِ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يُؤَدِّ ذَلِكَ إلَى إبْطَالِ النُّبُوَّةِ، كَانَتْ الامَامَةُ أَوْلَى وَلاَ يُؤَدِّي ذَلِكَ إلَى إبْطَالِ الامَامَةِ.
“Adapun dalam konteks negeri yang berbilang-bilang dan wilayah yang berjauhan, maka satu golongan yang syâdzdzah (tidak dikenal, kontroversial) memperbolehkannya, (dengan alasan) karena penguasa merupakan duta (penolong umat-pen) untuk mewujudkan berbagai kemaslahatan. Dan (diasumsikan) jika ada dua penguasa dalam dua negeri atau dua bagian dimana setiap pemimpin dari dua pihak ini bisa lebih kokoh dengan kekuasaan yang ada di tangannya, dan lebih terkontrol dengan apa yang ada di sisinya (daripada kekuasaan berada dalam satu orang pemimpin-pen.), dan dikarenakan bolehnya pengutusan dua orang Nabi dalam satu masa dan tidak berdampak pada batalnya kenabian, maka kepemimpinan lebih memerlukan hal itu dan tidak lantas merusak kepemimpinan tersebut.”
Imam al-Mawardi lantas mengoreksinya dan menjelaskan:
وَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إلَى أَنَّ إقَامَةَ إمَامَيْنِ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ لاَ يَجُوزُ شَرْعًا لِمَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: {إذَا بُويِعَ أَمِيرَانِ فَاقْتُلُوا أَحَدَهُمَا}. وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: {إذَا وَلَّيْتُمْ أَبَا بَكْرٍ تَجِدُوهُ قَوِيًّا فِي دِينِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ضَعِيفًا فِي بَدَنِهِ. وَإِذَا وَلَّيْتُمْ عُمَرَ تَجِدُوهُ قَوِيًّا فِي دِينِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيًّا فِي بَدَنِهِ، وَإِنْ وَلَّيْتُمْ عَلِيًّا تَجِدُوهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا}. فَبَيَّنَ بِظَاهِرِ هَذَا الْكَلاَمِ أَنَّ إقَامَةَ جَمِيعِهِمْ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ لاَ يَصِحُّ، وَلَوْ صَحَّ لاَشَارَ إلَيْهِ، وَلَنَبَّهَ عَلَيْهِ.
“Dan mayoritas ulama mengadopsi pendapat bahwa mengangkat dua orang penguasa dalam satu masa tidak diperbolehkan secara syar’i berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Nabi –shallallâhu ‘alayhi wa sallam-,  bahwa beliau bersabda: “Jika diangkat dua orang pemimpin maka bunuhlah salah satunya (yang terakhir dari keduanya-pen.).” Dan diriwayatkan dari Nabi –shallallâhu ‘alayhi wa sallam-,  bahwa beliau bersabda: “Jika kalian mengangkat Abu Bakr menjadi pemimpin maka kalian temukan dirinya kuat dalam Din Allah dan lemah fisiknya, dan jika kalian mengangkat ‘Umar menjadi pemimpin maka kalian temukan dirinya kuat dalam Din Allah dan kuat fisiknya, dan jika kalian mengangkat ‘Ali sebagai pemimpin maka akan kalian temukan bahwa ia adalah orang yang menyampaikan petunjuk dan dianugerahi petunjuk.”  Maka penjelasan dengan zhahir hadits ini bahwa mengangkat mereka semua sebagai pemimpin dalam satu masa tidak sah (secara syar’i), meskipun di sisi lain dibenarkan mengisyaratkan hadits ini dan memperhatikannya.”
Saya (Irfan Abu Naveed) katakan: “Dan pendapat mayoritas ulama inilah yang lebih kuat dan pasti bermaslahat karena berdasarkan hujjah sunnah Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam-, bukan kemaslahatan hawa nafsu. Lantas bagaimana dengan Demokrasi dan pemahaman-pemahaman jahiliyyah lainnya yang memecah belah umat dalam Nation States?? Maka, kami tegaskan bahwa kaum muslimin mengugat Demokrasi yang memecah belah umat dan wajib diganti dengan al-Khilâfah al-Islâmiyyah!”






[1] Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib al-Mawardi al-Syafi’i, Adab al-Dunyâ’ wa al-Dîn, Dar Maktabat al-Hayaat, 1986, hlm. 136.