29 December 2015

Inilah Hujjah Wajibnya Menjelaskan Kebatilan Demokrasi (Bag. I)


Oleh: Irfan Abu Naveed 
(Penulis Kajian Pemikiran Islam)

D
i antara paham sesat menyesatkan yang menghantui kaum muslimin saat ini adalah paham ‘Sepilis’ (sekularisme, pluralisme, liberalisme), ia menjadi senjata invasi pemikiran dan tsaqafah Barat ke negeri-negeri kaum muslimin, dan kaum muslimin pun pada umumnya sudah menyadari betul bahaya pemahaman ini, namun di antara pemahaman sesat menyesatkan yang dianggap biasa dan itu sangat berbahaya adalah pemahaman tentang Demokrasi. Bagaimana tidak berbahaya? Padahal racun pemikiran itu bagaikan racun ular berbisa yang mengalir dalam darah dan cepat merusak jaringan dan organ tubuh manusia hingga menyebabkan kematiannya, atau setidaknya kelumpuhan.
Benar apa yang disampaikan Abu Sayf Khalil al-‘Abidi al-‘Iraqi: “Sungguh pada akhir abad ke-19, khususnya paska runtuhnya Daulah ’Utsmaniyyah, umat islam diserbu pemahaman-pemahaman sesat dan keyakinan-keyakinan batil yang menyusup ke dalam Din kita yang lurus, menyelisihi dan menyerang akidah islam dari segala arah dan sisi.”[1]
Di sisi lain, hal itu mengingatkan saya pada kenyataan betapa kuatnya pembelaan para ulama dan pemikir abad ke-19 terhadap ajaran Islam dalam menghadapi paham-paham sesat semisal sekularisme (al-'ilmâniyyah), filsafat materialisme dengan cabang-cabang alirannya, atheisme, Ideologi Komunisme (al-syuyû'iyyah) dimana ia mewujud dalam sebuah negara -Uni Sovyet-, dan kini Ideologi Kapitalisme yang sedang sekarat menuju detik-detik kehancurannya, dan pembelaan para ulama ini terhadap ajaran Islam mereka tuangkan dalam kitab-kitab buah tangan mereka yang berharga.
Tercatat misalnya: Al-'Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani di antaranya dalam kitabnya yang berharga yakni Nizhâm al-Islâm, Al-’Allamah ’Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al-Diimuqrâthiyyah Nizhâm Kufr, Dr. Mushthafa al-Siba'i dalam kitab Min Rawâ'i Hadhâratinâ, dan Al-’Allamah Muhammad al-Khudhari Husain (Syaikhul Azhar) dalam kitab Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd: Asbâbuhu wa Thabâ’iuhu wa Mafâsiduhu wa Asbâb Zhuhûrihi wa ‘Ilâjuhu. Sikap mereka ini, sebagaimana teladan generasi al-salaf al-shâlih yang gencar pula menghadapi pemikiran sesat menyesatkan pada masanya.
Maka kita pun sudah semestinya meniti jalan salafunâ al-shâlih, para guru dan para ulama umat ini dalam menghadapi penyesatan, termasuk penyesatan yang kini massif kita hadapi dari kaum kuffar Barat: Ideologi Kapitalisme, Demokrasi, Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme, Feminisme, Komunisme dan yang semisalnya. Dan berangkat dari pemahaman bahwa Demokrasi adalah pemikiran yang berbahaya, sebagaimana dalam tanya jawab penulis di sini: Link Tanya Jawab dengan Syaikhul Ushul al-'Alim 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah. maka penting untuk disampaikan alasan-alasan prinsipil pentingnya menjelaskan hakikat keburukan Demokrasi:

Pertama, Bahaya Pemikiran yang Sesat dan Menyesatkan
Pemikiran yang sesat menyesatkan sangat berbahaya, bahayanya disaksikan oleh nash al-Qur’an dan al-Sunnah yang agung dan akal yang sehat (syar’an wa ’aqlan). Racun pemikiran itu bagaikan racun ular berbisa yang mengalir dalam darah dan cepat merusak jaringan dan organ tubuh manusia hingga menyebabkan kematiannya, atau setidaknya kelumpuhan. Dan salah satu pemikiran yang sangat berbahaya meracuni pemikiran kaum muslimin adalah Demokrasi dengan asas dan prinsip cabang-cabangnya.
Peringatan yang sangat keras sebagaimana dinyatakan Allah dalam firman-firman-Nya yang agung:
{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا}
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)
{وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’âm [6]: 153)

Kedua, Kewajiban Mencegah Tersebarnya Kemungkaran Pemikiran Batil
Menilik perjalanan hidup para ulama, menunjukkan bahwa sejarah kehidupan mereka tak terlepas dari perjuangan menghadapi penyimpangan, kesesatan dan kekufuran. Dan pertarungan pemikiran (al-shirâ’ al-fikry) yang tercatat dalam sejarah dihadapi para ulama dari generasi ke generasi mengisyaratkan besarnya perhatian mereka terhadap upaya tashfiyyat al-afkâr al-islâmiyyah (pemurnian pemikiran Islam).[2] Dalam atsar kita menemukan keteguhan sikap ’Umar bin al-Khaththab –radhiyallâhu ’anhu- yang menutup rapat-rapat pintu masuknya pemikiran filsafat Persia ke tengah-tengah kaum muslimin di masanya.
Ini merupakan penjabaran dari ayat:
{مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا}
Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.” (QS. Al-Kahfi [18]: 51)
            ’Umar bin al-Khaththab –radhiyallâhu ’anhu-, salah seorang sahabat Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- yang dikenal dengan julukan al-Fâruq, yakni pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Karakteristik ’Umar ini, tergambar jelas dalam catatan sejarah. Ketika Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- wafat, kaum muslimin termasuk para sahabat mulai keluar dari Jazirah Arab dan mulai berhadapan dengan pemikiran dan peradaban yang kompleks. Di Persia misalnya, Sa’ad bin Abi Waqqas, panglima perang yang dikirim ’Umar ke sana telah menemukan buku-buku filsafat lama sebagai rampasan perang. Dari laporan Ibn Khaldun, Sa’ad, sebenarnya ingin membawa buku-buku tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tapi keinginan beliau ini langsung ditolak oleh ’Umar:
اطرحوها في الماء. فإن يكن ما فيها هدًى، فقد هدانا الله بأهدى منه، وإن يكن ضلالاً فقد كفاناه الله. فطرحوها في الماء أو في النار 
Campakkan buku-buku itu ke dalam air. Jika apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut adalah petunjuk yang besar, maka Allah telah memberikan kepada kita petunjuk-Nya yang lebih besar (al-Qur’an dan as-Sunnah). Jika ia berisi kesesatan, Allah telah memelihara kita dari bencana tersebut. Maka campakkanlah buku-buku tersebut ke dalam air atau ke dalam api.[3]
Hal itu merupakan gambaran dari tanggung jawab al-amr bi al-ma’ruuf wa al-nahy ’an al-munkar yang memang wajib didasari oleh ilmu, sebagaimana penjelasan sebagian ulama ahli tafsir[4] ketika menafsirkan firman Allah dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, dan didorong oleh dalil-dalil al-Sunnah terkait kewajiban tersebut. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}
Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan (al-Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan mereka lah orang-orang yang beruntung. (QS. Âli Imrân [4]: 104)
            Penjabarannya, sebagaimana pesan al-’Allamah Muhammad al-Khudhari Husain yang mengingatkan kita atas kewajiban ini: Adapun orang-orang yang berpegangteguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai ajaran atheisme (dan yang semisalnya) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[5]           
Dari penjelasan di atas, kita menemukan keteguhan dan kegigihan para ulama dalam membantah pemikiran-pemikiran sesat menyesatkan. Al-’Allamah Muhammad al-Khudhari pun tercatat gigih membela konsep Khilafah dalam Islam dengan membantah penyesatan ’Ali ’Abdurraziq dalam bukunya, Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm (diterbitkan tahun 1925) yang membela konsep sekularisme dan menyerang konsep al-Khilafah. Dan untuk itu al-’Allamah Muhammad al-Khudhari menyusun buku khusus berjudul Naqdh Kitâb al-Islâm wa Ushûl al-Hukm dan diterbitkan setahun setelah buku ’Ali ’Abdurraziq terbit, yakni di tahun 1926, ini menunjukkan kesigapan para ulama pendahulu kita dalam membela Islam dari segala bentuk penyesatan. Link download kitab: Link
           
Ketiga, Memisahkan Antara Kebenaran dan Kebatilan
Di antara kaidah untuk menetapi jalan kebenaran adalah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} 
Dan janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan menyembunyikan kebenaran padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 42)
Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah menjelaskan bahwa ayat ini melarang dua hal:
Pertama, Mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan.
Kedua, Menyembunyikan kebenaran padahal ia mengetahuinya.
            Mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan merupakan penyesatan (tadhliil), dan menyembunyikan kebenaran merupakan perbuatan menyamarkannya dan membatasinya. Dan kedua perbuatan ini, menurut Syaikh ’Atha bin Khalil merupakan dosa besar.[6]
Dan memisahkan antara kebenaran dan kebatilan tidak mungkin terwujud kecuali dengan mengetahui apa itu kebenaran dan apa itu kebatilan serta batasan di antara keduanya. Lalu bagaimana umat bisa memahami bahaya Demokrasi jika para da’i tidak menyampaikannya?
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman –radhiyallâhu ’anhu- berkata: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam-  mengenai kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau shallallâhu ’alayhi wa sallam-  tentang keburukan, khawatir aku akan terjerumus ke dalamnya.”[7]
Imam Abu Sa’id al-Khadimi al-Hanafi (w. 1156 H) menjelaskan bahwa mempelajari kemungkaran-kemungkaran itu boleh (bahkan wajib-pen.) untuk mencegah darinya bukan untuk cenderung padanya.[8] Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) menegaskan bahwa (salah satu) pokok agama adalah mencegah dari keburukan, mereka pun menyebutkan sya’ir:
عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”
“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya.[9]
Yakni pentingnya memahami fakta-fakta keburukan dan diperingatkan agar tidak terjerumus ke dalamnya. Maka semakin jelas bahwa memahami keburukan adalah bagian dari memisahkan kebenaran dengan kebatilan dan menegakkan kebenaran di atas kebatilan. Memahami keburukan suatu ideologi atau peradaban adalah diantara upaya untuk menjaga kemurnian pemikiran Islam, karena pemikiran bagi umat bisa dianalogikan seperti darah dalam tubuh manusia, ketika darah dalam diri seseorang kotor maka ia akan terjangkit penyakit dalam mematikan, begitu pula pemikiran umat, jika ia dikotori oleh pemikiran Sepilis, maka umat akan melemah bahkan bisa berujung pada kehancuran. Memahaminya merupakan bagian dari kewajiban dan memurnikannya adalah tanggung jawab bersama.
Benar bahwa banyak tantangan yang kita hadapi di jalan dakwah, namun di antara tantangan yang paling berbahaya adalah rendahnya tingkat pemahaman dan lemahnya konsistensi kaum muslimin terhadap Islam (internal). Di sisi lain, kita pun dihadapkan dengan tantangan eksternal dari kaum kuffâr dan munâfiqîn yang memusuhi Islam dan kaum muslimin dengan senjata invasi pemikiran maupun tsaqafah (ghazw al-fikr wa al-tsaqâfiy). Dan kita sebagaimana dituturkan sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan lainnya:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[10]





[1] Abu Sayf Jalil ibn Ibrahim al-‘Abidi al-‘Iraqi. Ad-Dîmuqrâthiyyah wa Akhawâtuhâ: Âtsârun wa Tsamarâtun, 1427 H.
[2] Meski tak sedikit di antaranya yang tergelincir ke dalam perdebatan panjang dalam masalah akidah akibat filsafat dan ilmu kalam.
[3] Waliyyuddin ‘Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldûn, Ed: ‘Abdullah Muhammad al-Darwisy, Damaskus: Dâr Ya’rib, cet. I, 1425 H, juz II, hlm. 250; Waliyyuddin ‘Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Khaldun, Diiwaan al-Mubtada’ wa al-Khabar fii Taariikh al-‘Arab wa al-Barbar, Ed: Khalil Syahadah, Beirut: Daar al-Fikr, cet. II, 1408 H, hlm. 631. Dalam perinciannya, keshahihan atsar ini masih penyusun teliti.
[4] Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafâ al-Bâz, juz. I, hlm.  28.
[5] Muhammad al-Khudhari Husain, Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd: Asbâbuhu wa Thabâ’iuhu wa Mafâsiduhu wa Asbâb Zhuhûrihi wa ‘Ilâjuhu, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, Cet. I, 1406 H, hlm. 3-4.
[6] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysiir fii Ushuul al-Tafsiir, Beirut: Daar al-Ummah, cet. II, 1427 H, hlm. 72.
[7] HR. Al-Bukhari (3411) & Muslim (1847).
[8] Muhammad Abu Sa’id al-Khadimi al-Hanafi, Barîqah Mahmûdiyyah fî Syarh Tharîqah Muhammadiyyah Nabawiyyah fî Sîrah Ahmadiyyah, Mathba’ah al-Halb, 1348 H, juz I, hlm. 265.
[9] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, juz I, hlm. 77; Prof. Dr. Muhammad ‘Ali al-Shabuni, Rawâ’i al-Bayân: Tafsîr Âyât al-Ahkâm, juz. I, hlm. 76. Disebutkan pula dalam redaksi yang hampir serupa oleh al-’Allamah Najmud Din al-Ghazzi, Husn al-Tanabbuh Limâ Warada fî al-Tasyabbuh, Libanon: Dâr al-Nawâdir, cet. I, 2011, juz V, hlm. 396.
[10] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadriib al-Râwi fii Syarh Taqriib al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.

Hakikat & Hukum Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam

Mexico City New Years 2013! (8333128248).jpg
Fireworks in Mexico City at the stroke of midnight on New Year's Day, 2013 (https://en.wikipedia.org)
Oleh: Irfan Abu Naveed
P
enting untuk disadari! Salah satu fitnah dari ketiadaan al-Khalifah yang menegakkan hukum al-Qur’an dan al-Sunnah dalam Sistem Islam, al-Khilafah, adalah tegaknya kemaksiatan yang dianggap biasa yang menimpa kaum muslimin, hal itu karena sistem rusak Demokrasi kini dengan akidah sekularisme yang melandasinya dan prinsip kebebasan yang menyokongnya merupakan lingkungan yang subur untuk kemaksiatan. Salah satunya euphoria sebagian kaum muslimin dalam perayaan tahun baru masehi.

Pertama, Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. (Dari berbagai sumber)[1]

Kedua, Pengertian Ra’s al-Sanah al-Mîlâdiyyah dalam Bahasa Para Ulama
Para ulama ketika membahas hukum perayaan tahun baru masehi, mereka menggunakan istilah ra’s al-sanah al-mîlâdiyyah (رأس السنة الميلادية), sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh al-Suyuthi[2] dan para ulama lainnya, dan jika kita telusuri istilah ini dalam bahasa para ulama ahli fikih memang bermakna tahun baru masehi (new year), hal itu sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H):
رأس الشهر ورأس السنة: أول يوم فيهما (New year , or New month) 
“Istilah ra’s al-syahr dan ra’s al-sanah: yakni awal hari pertama di dalamnya (Tahun Baru atau Bulan Baru).”[3]
            Maka dari itu bisa kita simpulkan bahwa penjelasan para ulama tersebut membahas mengenai larangan merayakan Tahun Baru Masehi, karena istilah mîlâdiy (masehi) sebagaimana disebutkan dalam kamus arab:
مِيلاديّ [مفرد]: اسم منسوب إلى مِيلاد: والمراد: ميلاد المسيح عليه السلام //عيد رأس السَّنة الميلاديّة: أول كانون الثَّاني (يناير).
Mîlâdiy (bentuk tunggal): merupakan nama yang disematkan pada istilah mîlâd (hari kelahiran), dan maksudnya: kelahiran al-Masîh a.s.//Perayaan ra’s al-sanah al-mîlâdiyyah: bulan Januari.[4]
            Dan dari pembahasan para ulama, kita menemukan bahwa mereka menggunakan istilah yang hampir serupa untuk membahas perayaan natal dan perayaan tahun baru masehi menggunakan istilah ra’s al-sanah al-mîlâdiyyah, dengan merincinya kânûn al-awwal (25 Desember = natal) dan kânûn al-tsâniy (1 Januari).[5]
Dari pengertian di atas, kita menemukan bahwa tahun baru masehi berkenaan dengan keyakinan kelahiran Isa ’alayhi al-salâm-.
Dalam sejarahnya, perayaan tahun baru merupakan kebiasaan Yahudi, yang mereka namakan dengan ra’s haysya atau perayaan tiap awal bulan, lalu datanglah kaum Nasrani yang bertaklid kepada kaum Yahudi yang merayakan perayaan tahun baru masehi. Oleh karena itulah perayaan ini termasuk perayaan khusus mereka.[6] Dalam perinciannya, ada banyak ragam tradisi dalam perayaan tahun baru masehi, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Syahatah Muhammad Shaqar dalam kitabnya Ra’s al-Sanah Hal Tahtaqil?, meringkas sejarah tahun baru masehi dari kitab al-Mawsû’ah al-‘Arabiyyah al-‘Âlamiyyah.[7]


Ketiga, Dalil-Dalil Larangan Merayakan Tahun Baru Masehi
Perayaan tahun baru masehi merupakan bagian dari peradaban khash kaum kafir, khususnya Nasrani. Kaum muslimin tidak boleh menyerupai orang-orang kafir dalam perbuatan dan perkataan mereka, dan termasuk larangan syahadah al-zûr (menghadiri perayaan batil). Dan perayaan tahun baru yang dilatarbelakangi keyakinan batil kaum Nasrani, dan tradisi jahiliyyah mereka dulu dan sekarang, semisal menyalakan lilin tengah malam, menghabiskan waktu berhura-hura menunggu detik-detik pergantian tahun, pergi ke jalan-jalan campur baur antara pria dan wanita (ikhtilâth) dalam hiruk pikuk keramaian, menyalakan kembang api dan petasan, meniup terompet dan memukul lonceng seperti tradisi-tradisi kaum kafir, didukung dengan musik-musik jahiliyyah dan lain sebagainya.
Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 910 H) ketika menjelaskan seputar berbagai perayaan kaum kuffar, beliau pun menjelaskan sub bahasan “النهي عن الاحتفال بما يسمى بليلة رأس السنة الميلادية” (Larangan Merayakan Apa yang Dinamakan Malam Tahun Baru Masehi) dalam penjelasannya:
ومما يفعله كثير من الناس في فصل الشتاء، ويزعمون أنه ميلاد عيسى عليه السلام، فجميع ما يصنع أيضاً في هذه الليالي من المنكرات، مثل: إيقاد النيران، وإحداث طعام، وشراء شمع، وغير ذلك؛ فإن اتخاذ هذه المواليد موسماً هو دين النصارى، وليس لذلك أصل في دين الإسلام. ولم يكن لهذا الميلاد ذكر في عهد السلف الماضين، بل أصله مأخوذ عن النصارى، وانضم إليه بسبب طبيعي، وهو كونه في الشتاء المناسب لإيقاد النيران. ثم إن النصارى تزعم أن يحيى عليه السلام بعد الميلاد بأيام عمد عيسى عليه السلام في ماء المعمودية، فهم يتعمدون - أعني النصارى، في هذا الوقت ويسمونه عيد الغطاس. وقد صار كثير من جُهل المسلمين يدخلون أولادهم الحمام في هذا الوقت، ويزعمون أن ذلك ينفع الولد. وهذا من دين النصارى، وهو من أقبح المنكرات المحرمة
“Dan di antara hal yang dilakukan oleh banyak manusia di musim dingin, dan mereka mengira bahwa hari itu adalah hari kelahiran Isa –‘alayh al-salâm-, dan segala hal yang diperbuat pada malam-malam tersebut merupakan kemungkaran, misalnya: menyalakan api (lilin-lilin-pen.), membuat sajian makanan, membeli lilin, dan lain sebagainya. Sesungguhnya asal-usul pelaksanaan perayaan kelahiran ini berasal dari perayaan agama Nasrani, dan tidak ada asal-usul kaitan apa pun dengan Dinul Islam. Dan hari perayaan ini tidak pernah disebutkan ada pada masa al-salaf terdahulu, akan tetapi asal-usulnya diadopsi dari kaum Nasrani, dan menjadi bagian darinya disebabkan oleh sebab alami dan keberadaannya pada musim dingin sesuai dengan kebiasaan menyalakan perapian. Kemudian sesungguhnya kaum Nasrani mengklaim bahwa Yahya –’alayhi al-salâm- beberapa hari setelah kelahiran (Isa) membaptis Isa –’alayhi al-salâm- dalam air pembaptisan, dan mereka dibaptis atas nama Kaum Nasrani pada waktu tersebut dan mereka menamainya dengan Hari Raya Paskah. Dan sungguh banyak dari orang-orang yang jahil dari kaum muslimin memasukkan anak-anak mereka ke dalam kamar mandi pada waktu tersebut, mengira bahwa hal tersebut bermanfaat bagi anaknya padahal ini termasuk ritual agama Nasrani, dan termasuk seburuk-buruknya kemungkaran yang jelas diharamkan.”[8]
·         Larangan Menghadiri Perayaan Batil
Para ulama ketika menjelaskan larangan menghadiri perayaan agama kufur atau perayaan batil, mereka menukil dalil al-Qur’an[9]:
{وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا} 
”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan al-zûr, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqân [25]: 72)
Kata al-Zûr secara bahasa yakni al-kadzb (kedustaan) dan al-bâthil (kebatilan) sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Bakr al-Anbariy (w. 328 H)[10], Imam al-Zujaz[11], Imam al-Azhariy (w. 370 H)[12], Imam al-Jawhariy (w. 393 H)[13], dan Imam Ibnu Faris (w. 395 H)[14] dan para ulama ahli bahasa lainnya, hal itu sebagaimana disebutkan seorang penyair:
جاؤا بزوريْهم وجئنا بالأصمّ
Mereka datang dengan kedustaan mereka dan kami datang dengan ketulian.[15]
Makna al-zûr dalam ayat ini menurut para ulama tabi’in seperti Mujahid, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas adalah perayaan-perayaan orang-orang musyrik.[16] Hal senada disebutkan oleh Abu al-’Aliyyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, dan selainnya.[17]
Imam Abu Muhammad al-Tustariy (w. 283 H) menafsirkan kata (الزُّورَ) yakni majelis-majelis ahli bid’ah.[18] Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) pun menegaskan bahwa ia bermakna kesyirikan dan penyembahan terhadap berhala, dikatakan pula yakni kedustaan dan kefasikan. Dan makna al-laghw adalah kebatilan.[19] Atau segala sesuatu yang batil dan tidak mengandung faidah.[20]
Tradisi tahun baru, dengan fakta yang penulis sebutkan di atas jelas merupakan bagian dari apa yang disebutkan para ulama sebagai al-zûr (kedustaan dan kebatilan), dan Imam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa para ulama salaf terkadang menafsirkan sesuatu (kebatilan) yang tampak dengan wajah kebaikan dengan istilah syubhat atau syahwat, padahal yang ada di dalamnya berupa kebatilan, maka kesyirikan dan yang semisalnya ditampakkan dalam wujud rupa yang baik untuk menimbulkan syubhat, dan nyanyian-nyanyian (batil) ditampakkan dalam wujud rupa yang baik untuk mengundang syahwat. Dan adapun perayaan orang-orang musyrik (kafir) maka mengumpulkan keduanya; syubhat dan syahwat. Dan ia merupakan kebatilan dimana tiada manfaat sedikit pun dalam agama, dan hal-hal berupa kenikmatan yang ada, maka akan mengakibatkan penyakit (krisis penghidupan-pen.), maka jadilah ia zûr.[21]  
Pemaknaan dari potongan ayat:
{وَإِذا مروا بِاللَّغْوِ مروا كراما} 
Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Menafsirkan ayat ini, Imam al-Baghawi menjelaskan yakni jika mereka melewati majelis-majelis kelalaian dan kebatilan maka mereka lalui saja memelihara kehormatan diri bersegera memalingkan dirinya. Dikatakan: ”seseorang memuliakan dirinya dari apa-apa yang mengotorinya jika ia menyucikannya dan memuliakan dirinya dari hal tersebut.”[22]
Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) pun menukil ayat di atas untuk menjelaskan hukum keikutsertaan dalam perayaan kufur:
وأقبح منه ما أحدثوه من العبادات أو العادات؛ فإنه مما أحدثه الكافرون، وموافقة المسلمين لهم فيه من أعظم المنكرات. فكل ما يتشبهون بهم من عبادة أو عادة، فهو من المحدثات والمنكرات. وقد مدح الله عز وجل من لم يشهد أعيادهم ومواسمهم ولم يشاركهم فيها    
”Dan seburuk-buruknya perbuatan orang kafir adalah apa-apa yang dibuat-buat berupa berbagai bentuk peribadahan dan adat kebiasaan; maka sesungguhnya itu semua termasuk dari apa yang dibuat-buat oleh orang-orang kafir, dan sejalannya kaum muslimin dengan mereka di dalamnya termasuk seburuk-buruknya kemungkaran. Maka apa-apa yang kaum muslimin serupai dari mereka berupa ritual peribadatan dan adat kebiasaan maka ia termasuk perkara-perkara baru (bid’ah yang tercela) dan kemungkaran. Dan sungguh Allah ’Azza wa Jalla telah memuji siapa saja yang tidak menyaksikan hari-hari perayaan mereka dan tidak ikut serta di dalamnya.”[23]
            Syaikh ’Abdullah al-Jibrin menegaskan bahwa keharaman ikut serta dalam perayaan agama kufur merupakan kesepakatan ulama, karena di dalamnya terdapat persetujuan, keridhaan dan dukungan atas perbuatan mereka.[24] Imam al-Kattaniy al-Malikiy dalam al-Dawaahiy al-Madhiyyah (hlm. 58):
وقد اتفق أهل العلم على أنه لا يجوز الحضور معهم في شعائر دينهم
”Dan sungguh para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh menghadiri mereka dalam syi’ar-syi’ar agama mereka.”[25]
Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ}
Dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 2)
            Maka tidak ada keraguan bahwa keikutsertaan kaum muslimin dalam perayaan-perayaan yang batil nan haram mereka termasuk perbuatan menyokong dalam dosa.[26]
·         Larangan Merayakan Perayaan Jahiliyyah & Pensyari’atan Dua Hari Raya Islam
Dan Islam telah mengganti perayaan-perayaan jahiliyyah tersebut dengan dua perayaan: ’Ied al-Fithri, dan ’Ied al-Adhhaa. Dalil yang menyatakan keharamannya adalah hadits shahih dari Anas bin Malik –radhiyallâhu ’anhu-, yang menyatakan:
قَدَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
”Rasulullah saw tiba di Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari, dimana mereka sedang bermain pada hari-hari tersebut, seraya berkata, ‘Dua hari ini hari apa?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adhha dan Hari Raya Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud[27], Ahmad[28], dan al-Hakim[29])
Wajh al-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, bahwa kedua hari raya Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah saw. Nabi juga tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang menjadi tradisi mereka. Sebaliknya, Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik.” Pernyataan Nabi yang menyatakan, “mengganti” mengharuskan kita untuk meninggalkan apa yang telah diganti. Karena tidak mungkin antara “pengganti” dan “yang diganti” bisa dikompromikan. Sedangkan sabda Nabi saw, “Lebih baik dari keduanya.” mengharuskan digantikannya perayaan Jahiliyah tersebut dengan apa yang disyariatkan oleh Allah kepada kita.[30]
Diperkuat tindakan ‘Umar dengan syarat yang ditetapkan kepada Ahli Dzimmah telah disepakati oleh para sahabat, dan para fuqaha’ setelahnya, bahwa Ahli Dzimmah tidak boleh medemonstrasikan hari raya mereka di wilayah Islam.[31] Para sahabat sepakat, bahwa mendemonstrasikan hari raya mereka saja tidak boleh, lalu bagaimana jika kaum muslim melakukannya, maka tentu tidak boleh lagi. ‘Umar pun berpesan:
 إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ 
”Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.” (HR. al-Baihaqi dengan Isnad yang Shahih)[32]
·         Larangan Menyerupai Orang Kafir, Fasik & Zhalim dalam Perbuatan Mereka
            Telah saya tegaskan bahwa tradisi-tradisi jahiliyyah tahunan dalam perayaan tahun baru dulu dan sekarang itu semua termasuk al-zûr (kebatilan dan kedustaan), maka keterlibatan kaum muslimin di dalamnya termasuk perbuatan menyerupai orang kafir, fasik dan zhalim dalam kebatilan, dan itu jelas diharamkan syari’ah berdasarkan banyak dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah:
Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ}
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengatakan ”râ’inâ” akan tetapi katakanlah ”unzhurnâ” dan dengarkanlah, dan bagi orang-orang kafir itu ’adzab yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)
Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 104 di atas menjelaskan:
والغرض: أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا
”Maksudnya: Allah Ta’âlâ melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”[33]
Ini menjadi dalil keharaman menyerupai orang-orang kafir baik dalam perkataan dan perbuatan. Al-Hafizh Ibn Katsir pun menukil dalil hadits dari Ibnu ’Umar –radhiyallâhu ’anhu--, ia berkata bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya[34], Abu Dawud dalam Sunan-nya[35], Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya[36]. Imam al-Mala’ al-Qari dalam Al-Mirqât mengatakan hadits ini hasan[37], dishahihkan oleh Ibnu Hibban[38])
            Tasyabbuh secara bahasa bermakna tamatstsala (menyerupai), sebagaimana disebutkan dalam kitab Syams al-’Ulûm:
[التشبه]: تشبه به: أي تَمَثَّل   
”(Al-Tasyabbuh): tasyabbaha bihi yakni tamatstsala (menyerupainya).”[39]
            Sedangkan secara istilah, tasyabbuh mengandung konotasi menjiplak dan mengikuti, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) menjelaskan:
التشبه: من شبه، المحاكاة والتقليد، ومنه: كراهة التشبه بالفساق
Al-Tasyabbuh: dari kata kerja syabbaha, menjiplak dan mengikuti, dan di antara bentuknya: dibencinya menyerupai orang-orang fasik.”[40]
Setelah menukil dalil hadits di atas, al-Hafizh Ibn Katsir pun merinci:
ففيه دلالة على النهي الشديد والتهديد والوعيد، على التشبه بالكفار في أقوالهم وأفعالهم، ولباسهم وأعيادهم، وعباداتهم وغير ذلك من أمورهم التي لم تشرع لنا ولا نُقَرر عليها 
”Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan bagi kita dan tak sejalan dengan kita.”[41]
Dan bentuk penyerupaan apa yang zhahir (fisik) menggiring kepada penyerupaan batin, padahal menutup berbagai sarana dan penghantar kepada keburukan merupakan maksud Al-Syâri’ (Allah dan Rasul-Nya) dari segala arahnya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Sa’di (w. 1376 H).[42]
Imam al-Mala’ al-Qari menjelaskan bahwa di antara makna fa huwa min hum dalam hadits ini jika menyerupai orang kafir, fasik dan fajir dalam kebatilannya maka sama-sama dalam dosa.[43]
Bahkan ia termasuk seburuk-buruknya kemungkaran, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) pun merinci:
وأقبح منه ما أحدثوه من العبادات أو العادات؛ فإنه مما أحدثه الكافرون، وموافقة المسلمين لهم فيه من أعظم المنكرات. فكل ما يتشبهون بهم من عبادة أو عادة، فهو من المحدثات والمنكرات. وقد مدح الله عز وجل من لم يشهد أعيادهم ومواسمهم ولم يشاركهم فيها 
”Dan seburuk-buruknya perbuatan orang kafir adalah apa-apa yang dibuat-buat berupa berbagai bentuk peribadahan dan adat kebiasaan; maka sesungguhnya apa-apa yang dibuat-buat oleh orang-orang kafir dan dituruti kaum muslimin adalah seburuk-buruknya kemungkaran. Maka setiap perkara yang dituruti dari orang kafir berupa ritual peribadan dan adat kebiasaan, ia termasuk perkara-perkara baru (bid’ah yang tercela) dan kemungkaran. Dan sungguh Allah ’Azza wa Jalla telah memuji siapa saja yang tidak menyaksikan hari-hari perayaan mereka dan tidak ikut serta di dalamnya.”[44]
Dipertegas larangan menyerupai perbuatan orang-orang kafir, musyrik sebagaimana disebutkan dalam hadits, dari Ibnu ’Umar –radhiyallâhu ’anhu-, bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ»
Selisihilah orang-orang musyrik.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya, Muslim dalam Shahîh-nya, al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’, dan lainnya)[45]
Menjelaskan hadits ini, Imam Badruddin al-’Ayni (w. 855 H) menyatakan bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- telah melarang kita dari perbuatan menyerupai orang-orang kafir, dan hal tersebut merupakan perintah untuk menyelisihi mereka baik dalam perbuatan maupun perkataan.[46]

Keempat, Teladan al-Salaf al-Shâlih
Al-Hafizh al-Suyuthi menegaskan bahwa tiada seorang pun dari generasi al-salaf al-shâlih yang ikut serta dalam perayaan agama kufur:
واعلم أنه لم يكن على عهد السلف السابقين من المسلمين من يشاركهم في شيء من ذلك. فالمؤمن حقاً هو السالك طريق السلف الصالحين المقتفي لآثار نبيه سيد المرسلين (، المقتفي بمن أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين.
”Dan ketahuilah bahwa tidak pernah ada seorang pun pada masa generasi al-salaf terdahulu dari kaum muslimin yang ikut serta dalam hal apa pun dari perayaan mereka, maka seorang mukmin yang benar (imannya) adalah seseorang yang menempuh jalan al-salaf al-shâlih yang mengikuti jejak sunnah nabi-Nya, penghulu para rasul (Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-).”[47]
Bahkan Khalifah ’Umar bin al-Khaththab –radhiyallâhu ’anhu-, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh al-Suyuthi, memberikan syarat kepada mereka –kafir ahludz dzimmah- untuk tidak menampakkan syi’ar perayaan-perayaan agama mereka di negeri-negeri kaum muslimin.[48]
Jika kita perhatikan sikap Khalifah ’Umar bin al-Khaththab –radhiyallâhu ’anhu- sebagai seorang pemimpin negara, dengan apa yang terjadi saat ini, maka fenomena tegaknya fitnah kaum kuffar di zaman ini kian menuntut keberadaan penguasa yang diwajibkan Islam memelihara akidah umat ini dari berbagai penyimpangan, dan poin ini pula yang kian menunjukkan wajib dan pentingnya keberadaan al-Khalifah yang tegak dalam sistem pemerintahan Islam, al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, mewujudkan amanah dari Rasulullah -shallallâhu ’alayhi wa sallam -, dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ’anhu-. bahwa Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh dll)[49]
Dan kita sebagaimana sya’ir yang dinukil oleh para ulama:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[50]














[2] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 123.
[3] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 217.
[4] Dr. Ahmad Mukhtar ‘Abdul Hamid ‘Umar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, ‘Âlam al-Kutub, cet. I, 1429 H, juz III, hlm. 2493.
[5] Perincian maknanya bisa dirujuk di sini: http://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/كانون-الأول/
[6] ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad al-Tuwayjiriy, Al-Bida’ al-Hawliyyah, Riyadh: Dâr al-Fadhîlah, cet. I, 1421 H, hlm. 398.
[7] Syahatah Muhammad Shaqar, Ra’s al-Sanah… Hal Tahtaqil?, Iskandariyyah: Dâr al-Khulafâ’ al-Râsyidîn, hlm. 38-39.
[8] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 123.
[9] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, Beirut: Dâr ‘Âlam al-Kutub, cet. VII, 1419 H, juz I, hlm. 479.
[10] Muhammad bin al-Qasim Abu Bakr al-Anbariy, Al-Zâhir fî Ma’âniy Kalimât al-Nâs, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 487.
[11] Muhammad Shadiq Khan bin Hasan al-Husainiy al-Bukhariy, Fat-h al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1412 H, juz IX, hlm. 353.
[12] Muhammad bin Ahmad bin al-Azhariy, Tahdzîb al-Lughah, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, cet. I, 2001, juz XIII, hlm. 163.
[13] Abu Nashr Isma’il bin Hammad al-Jawhariy, Al-Shihâh Tâj al-Lughah wa Shihâh al-‘Arabiyyah, Beirut: Dâr al-‘Ilm li al-Malâyiin, cet. IV, 1407 H, juz II, hlm. 672.
[14] Ahmad bin Faris bin Zakariya al-Qazwainiy, Majmal al-Lughah, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. II, 1406 H, juz I, hlm. 444.
[15] Ibid.
[16] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 126.
[17] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz VI, hlm. 130.
[18] Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah al-Tustariy, Tafsîr al-Tustariy, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1423 H, hlm. 114.
[19] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, juz VI, hlm. 130.
[20] Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz IV, hlm. 35.
[21] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, juz I, hlm. 482-483.
[22] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawiy, Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân, juz VI, hlm. 98.
[23] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 125.
[24] ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Hamadah al-Jibrin, Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, Dâr al-‘Ashiimiy, cet. II, t.t., hlm. 581.
[25] Ibid.
[26] Ibid.
[27] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (II/345, hadits 1134); Syu’aib al-Arna’uth mengomentari bahwa hadits ini shahih
[28] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (XIX/65, hadits 12006); sanadnya shahih para perawinya perawi tsiqah syaikhayn (al-Bukhari dan Muslim).
[29] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ’alâ al-Shahiihayn (I/434, hadits 1091); hadits ini shahih menurut syarat Muslim meski al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Al-Dzahabi dalam al-Talkhiish mengomentari bahwa hadits ini sesuai syarat Imam Muslim.
[30] Penjelasan KH. Drs. Hafidz Abdurrahman, MA.
[31] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 125.
[32] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Al-Fatâwâ al-Kubrâ’ li Ibn al-Taymiyyah, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, cet. I, 1408 H, juz II, hlm. 485.
[33] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz I, hlm. 257.
[34] Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (IV/515, hadits no. 5114) Ahmad Syakir mengomentarinya sanadnya shahih.
[35] Abu Dawud al-Sijistani dalam Sunan-nya (IV/78, hadits no. 4033); al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani pun mengomentari sanadnya hasan (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Fat-h al-Bâriy Syarh Shahiih al-Bukhâriy, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz X, hlm. 271), sedangkan Ibnu Hibban menshahihkannya (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Bulûgh al-Marâm Min Adillat al-Ahkâm, KSA: Dâr al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540), Syaikh Ahmad Syakir dalam catatan kaki atas kitab Musnad Ahmad, mengomentari bahwa sanadnya hasan.
[36] Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (VI/471, hadits no. 33016);
[37] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VII, hlm. 2782.
[38] Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Bulûgh al-Marâm Min Adillat al-Ahkâm, KSA: Dâr al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540.
[39] Nisywan bin Sa’id al-Yamani, Syams al-‘Ulûm wa Dawâ’ Kalâm al-‘Arab min al-Kulûm, Ed: Dr. Husain bin ‘Abdullah al-‘Umari dkk, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. I, 1420 H, juz VI, hlm. 3370.
[40] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 131.
[41] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhiim, juz I, hlm. 257.
[42] ’Abdurrahman bin Nashir bin ’Abdullah al-Sa’di, Bahjat Qulûb al-Abrâr wa Qurrat ’Uyûn al-Akhyâr fî Syarh Jawâmi’ al-Akhbâr, Maktabah al-Rusyd, cet. I, 1422 H, hlm. 146.
[43] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VII, hlm. 2782.
[44] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunan wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 123.
[45] Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (V/2209, hadits no. 5553); Muslim dalam Shahîh-nya (I/152, hadits no. 523); Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (I/150, hadits no. 709).
[46] Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa Badruddin al-‘Ayni al-Hanafi, ‘Umdat al-Qâriy Syarh Shahîh al-Bukhâriy, juz VI, hlm. 137.
[47] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 126.
[48] Ibid, hlm. 125.
[50] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadrîb al-Râwi fî Syarh Taqrîb al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.