28 September 2016

Reportase MCQ: Upaya HTI Bentengi Akidah Umat dari Kesyirikan

Sesi Kajian

Sesi Praktik Ruqyah Jama'iyyah

DakwahTangerang.com. Mensikapi Fenomena kemerosotan akidah yang terjadi ditengah-tengah masyarakat dewasa ini, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPC Jatiuwung menggelar acara Majelis Cinta Qur’an (MCQ) edisi ketiga dengan tema ‘Bersihkan Jiwa dari Kesyirikan, Jadikan Al Qur’an Solusi Kehidupan’ bertempat di Masjid Al Hidayah Perumahan Wisma Alamanda Priuk Tangerang, Ahad (25/09).

Sebagaimana dari tema yang diangkat, Ketua DPC HTI Jatiuwung, Ust. Surahman berharap agar kajian yang diselenggarakan ini dapat menjadi salah satu wasilah (sarana) untuk membentengi akidah umat dari segala bentuk kesyirikan. Hadir sebagai narasumber seorang penulis buku ‘Menyingkap Jin dan Dukun Hitam Putih Indonesia’ dan praktisi Ruqyah Syar’iyyah yakni Ust. Irfan Abu Naveed, dan Ust. Usman Abu Fikri yang juga seorang praktisi ruqyah syar’iyyah.

Dalam pemaparan materinya tausiyahnya, Ust. Irfan menyoroti fenomena kerusakan aqidah umat serta solusinya. “Kerusakan akidah yang diliputi kesyirikan merupakan persoalan yang menambah daftar kemunduran berpikir umat akibat sistem demokrasi kapitalisme dinegeri ini. Sehingga hal ini membutuhkan solusi fundamental dan menyeluruh dengan menerapkan al Qur’an disemua aspek kehidupan melalui penegakan syariah dan khilafah islamiyah”, tuturnya dihadapan puluhan jamaah di acara MCQ ini.

Sementara itu pada sesi kedua Ust. Usman Abu Fikri sebelum memandu jalannya praktek ruqyah syar’iyyah beliau mengajak kepada jamaah yang hadir untuk meningkatkan keimanan dan taqorrub kepada Allah serta senantiasa membentengi akidah dengan memperbanyak membaca al Qur’an dan berdzikir kepada Allah SWT.

Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 wib hingga menjelang ashar ini terdiri dari dua sesi yakni kajian interaktif dan praktek Ruqyah Syar’iyyah. Diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai kecamatan di Kota maupun Kabupaten Tangerang. Termasuk, tidak sedikit pula peserta dari warga sekitar yang merupakan jamaah masjid Al Hidayah Perum Wisma Alamanda. Semua peserta nampak begitu antusias mengikuti acara ini dari pagi hingga sore hari.

[] MI Kota Tangerang/Ibnu Anshory/Abim80

18 September 2016

Urgensi Tsaqafah Islam dalam Proses Tatsqîf dan Takwîn dalam Upaya Penegakkan Khilafah


Oleh: Yandi Hermawan[1]
Editor: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

D
inul Islam adalah mabdâ’ al-hayât, suatu sistem pemikiran serta aturan kehidupan yang tinggi nan mulia. Ketinggiannya melebihi ide dan aturan apapun di dunia ini, bahkan menjadi satu-satunya kebenaran mutlak.[2] Sementara umat Islam adalah umat yang Allah SWT tinggikan derajatnya dan tetapkan kemuliaannya, bahkan Allah SWT sematkan predikat sebagai umat terbaik, selama mereka memahami serta menjadikan Islam sebagai satu-satunya pedoman dalam kehidupan. Dr. Mushthafa al-Siba’i menegaskan bahwa jika kembali kepada pokok akidah kita, kita akan menemukan bahwa Kitab Suci (al-Qur’an al-Karim) telah mengabarkan kabar gembira keistimewaan umat ini dalam firman-Nya:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ {١١٠}
”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Âli Imrân [3]: 110)
Dimana ayat ini mengisyaratkan keunggulan akidah dan ajaran akhlak Islam, sehingga menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.[3] Islam pun sebagai sebuah sistem kehidupan bagi manusia, merupakan mabdâ’ (ideologi) yaitu akidah yang menjadi landasan pemikiran serta melahirkan aturan-aturan kehidupan. Oleh karenanya seorang muslim wajib menyelaraskan aspek pemikiran maupun perilakunya dengan syari’ah Islam. Kesalahan mereduksi ajaran Islam dan membatasinya pada tataran spiritual semata, tidak memahami Islam sebagai sebuah mabdâ’ akan berdampak kepada kesalahan tidak mengamalkan Islam secara praktis, dan menganggap Islam tidak aplikatif dalam realitas kehidupan. Kesalahan fundamental ini pasti berdampak pada kesalahan-kesalahan fatal berikutnya.[4]
Pemahaman paling mendasar bagi kaum Muslim bahwa Islam (dengan segenap tsaqafahnya) adalah mabdâ’ yang menjadi qâ’idah fikriyyah yakni landasan pemikiran dan pedoman perilaku yang tidak terbentuk secara tiba-tiba dalam diri seseorang, melainkan terbentuk dengan proses pembinaan yang berorientasi tafaqquh fi al-dîn, mencakup pengetahuan dan pengamalannya dengan metode yang benar sebagaimana teladan Rasulullah SAW ketika membina para sahabatnya,[5] proses ini bagian dari apa yang dikabarkan dalam hadits dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Aku mendengar Nabi SAW bersabda:
«إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ»
“Sesungguhnya ilmu hanya bisa diraih dengan cara belajar.” (HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath, al-Baihaqi dalam Al-Madkhal Ilâ al-Sunan al-Kubrâ’)
Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) sendiri menyifatinya sebagai ilmu yang diraih dari Nabi SAW dan para pewarisnya, yakni para ulama, dengan cara belajar.[6] Dengan proses inilah keluhuran tsaqafah Islamiyyah sebagai bagian dari fikrah Islam akan dapat dipahami.
A.  Tsaqafah Islam: Definisi dan Karakteristik
Saat ini telah terjadi kerancuan dalam benak kaum Musim, ketika mempersepsikan makna hakiki tsaqafah, sehingga tanpa sungkan mengadopsi tsaqafah Barat yang seharusnya dicampakkan. Banyak yang tidak memahami dan salah memaknai, dan lebih jauh lagi tidak mampu membedakan mana tsaqafah yang boleh diadopsi dan yang tidak boleh diadopsi karena kerancuan mendefinisikan tsaqafah. Hal ini merupakan realitas yang mengkhawatirkan, sebab dengan begitu bisa legowo dan tanpa sadar mengadopsi tsaqafah kufur Barat yang dimurkai Allah SWT.
Kata tsaqafah berasal dari kata tsaqifa tsaqâfatan, artinya menjadi mahir atau piawai. Pelakunya disebut tsaqifun dan tsaqîfun.[7] Seorang yang tsaqif berarti (حاذِقٌ فَهِم) seorang yang cepat dalam memahami. Juga berarti (سُرعةُ التَّعَلُّمِ) cepat dalam mempelajari.[8] Al-Khalil (w. 170 H) dalam al-‘Ayn pun menjelaskan makna tsaqiftu al-syay-a yakni cepat memahaminya (سرعة تعلمه).[9]
Selain penjelasan al-‘Allamah Taqiyuddin al-Nabhani, Al-’Amiri dalam kitab Adhwâ’ ’Alâ al-Tsaqâfah al-Islâmiyyah, seperti yang dikutip Handoyo (2014) juga menjelaskan bahwa tsaqafah berarti (الظفر بالشيء والتغلب ‏عليه)  mengalahkan dan mendominasi, (التقويم والتهذيب) membentuk dan memperbaiki. Dalam al-Qur’an bentukan kata tsaqifa digunakan dalam 6 tempat.[10] Sebagai contoh dalam QS. Al-Anfâl [8]: 57, Allah SWT berfirman:
فَإِمَّا تَثْقَفَنَّهُمْ فِي الْحَرْبِ فَشَرِّدْ بِهِمْ مَنْ خَلْفَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ {٥٧}
Jika kamu menghadapi mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran.(QS. Al-Anfâl [8]: 57)
            Pemakaian kata (تثقفنهم) dalam ayat ini menurut al-Hafizh al-Qurthubi memiliki arti,
تأسر هم وتجعلهم في ثقاف، أو تلقا هم بِحَالِ ضَعْفٍ، تَقْدِرُ عَلَيْهِمْ فِيهَا وَتَغْلِبُهُمْ
Menahan mereka dalam peperangan, atau menjadikan mereka dalam keadaan yang sempit atau dalam keadaan lemah, menguasai mereka serta mengalahkannya dalam peperangan.[11]
Pengertian di atas merupakan pengertian secara bahasa (etimologi), Namun secara istilah, tsaqafah menggambarkan pengetahuan yang sangat erat kaitannya dengan pandangan dasar (akidah) dan ideologi tertentu. Al-‘Allamah Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan dengan sangat brilliant perbedaan makna ilmu dan tsaqafah. Beliau menyebutkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang diambil melalui cara penelaahan, eksperimen dan kesimpulan. Misalnya ilmu fisika, ilmu kimia dan berbagai ilmu eksperimental lainnya. Sedangkan tsaqafah adalah pengetahuan yang diambil melalui berita-berita (pengkabaran), talaqqi (pertemuan secara langsung) dan istinbâth (penggalian/penarikan kesimpulan). Misalnya sejarah, bahasa, fiqih, filsafat dan seluruh pengetahuan non eksperimental lainnya.[12]
Menurut Al-Wasyli, menyimpulkan penjelasan Hasan al-Banna bahwa tsaqafah bangsa manapun didasarkan kepada nilai-nilai yang mendominasi masyarakatnya, yaitu nilai-nilai yang berhubungan erat dengan ideologi, pemikiran, perilaku dan gaya hidup, orientasi gerak, dan penentuan tujuan. Di samping itu ia juga merupakan tonggak warisan semangat, pemikiran, dan budaya; poros sejarah dengan berbagai aspeknya, tokoh-tokohnya yang terkemuka, dan sikap-sikapnya yang tegas.[13]
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa tsaqafah Islam adalah pengetahuan yang bersumber dari nilai yang paling luhur dan keyakinan yang tertinggi yaitu iman dan takwa, bersandar pada sistem yang unik lagi istimewa yaitu Islam, yang dibangun di atas prinsip menolak semua sistem pemikiran yang bertentangan dengannya. Tsaqafah Islam adalah tsaqafah  yang berdiri sendiri dengan asasnya sendiri, khas dengan karakteristiknya, mempunyai nilai-nilai, dan prinsip-prinsip yang luhur.
Lebih jauh Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan bahwa tsaqafah Islam adalah pengetahuan-pengetahuan yang menjadikan aqidah Islam sebagai sebab dalam pembahasannya. Pengetahuan tersebut bisa mengandung akidah Islam dan membahas tentang akidah, seperti ilmu tauhid. Bisa juga pengetahuan yang bertumpu kepada akidah Islam, seperti fiqih, tafsir dan hadits. Juga pengetahuan yang terkait dengan pemahaman yang terpancar dari aqidah Islam berupa hukum-hukum, seperti pengetahuan-pengetahuan yang mengharuskan ijtihad dalam Islam, seperti ilmu-ilmu bahasa Arab, musthalah hadits dan ilmu ushul. Semuanya termasuk tsaqafah Islam, karena aqidah Islam menjadi sebab dalam pembahasannya. Tsaqafah Islam seluruhnya kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Dari keduanya, dengan memahami keduanya, dan yang mengharuskan keduanya, muncul seluruh cabang tsaqafah Islam. Keduanya termasuk juga dalam tsaqafah Islam, karena aqidah Islam mengharuskan mengambil keduanya, dan terikat dengan apa yang dibawa oleh keduanya.[14]
Adapun tujuan penguasaan tsaqafah Islam oleh kaum Muslim adalah agar kaum Muslim memiliki kekuatan, daya tahan dan penguasaan atas musuh-musuh Islam baik dalam hal kecerdasan maupun integritas. Tsaqafah Islamiyyah memiliki karakteristik yang istimewa, membentuk kepribadian yang luhur, merdeka, dan berintegritas, serta watak yang unik. Karakteristik tersebut meliputi :
1.    Ilahiyyah
Sumber dan pedoman utama tsaqafah Islam adalah wahyu Ilahiyyah yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah, karena kedudukan keduanya sebagai pedoman dan sumber ilmu dalam Islam (epistemologi Islam), Allah SWT berfirman tentang al-Qur’an:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ {٨٩}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
          Kata tibyân[an] (penjelasan) dan hud[an] (petunjuk) dalam ayat ini diungkapkan dalam bentuk nakîrah (tanpa alim lâm ta’rîf), sudah cukup menunjukkan kedudukan al-Qur’an sebagai sumber epistemologi (sumber ilmu/tsaqafah). Para ulama ketika menafsirkan ayat di atas pun menjelaskan bahwa frase (تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ) bermakna apa-apa yang dibutuhkan umat manusia dalam kehidupannya. Al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H) menjelaskan bahwa al-Qur’an ini sebagai penjelasan atas apa-apa yang dibutuhkan oleh umat manusia; mengetahui halal dan haram, pahala dan siksa (sebagai petunjuk) dari kesesatan (dan rahmat) bagi orang yang membenarkan dan mengamalkan hukum-hukum Allah di dalamnya, perintah dan larangan-Nya.[15]
2.    Sejalan dengan Fitrah
Tsaqafah Islam bersumber dari Allah SWT, dan risalah tersebut disampaikan seorang manusia mulia yaitu Muhammad SAW kepada sesamanya. Sehingga melalui perantaraannya  hidayah Allah SWT sampai kepada kita, sehingga dengannya kita memperbaiki invividu (diri sendiri), menyusun pola hubungan antar sesama manusia, membangun masyarakat dan negara.
Kata fithrah dalam terminologi al-Qur’an merujuk kepada ungkapan yang menggambarkan asal penciptaan (ashl al-khalq), hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam ulasan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili (w. 1436 H) dalam tafsirnya, Al-Munîr.[16] Namun topik inti dalam pembahasan fitrah manusia yang kita temukan dalam penjelasan para ulama mu'tabar berdasarkan nas-nas al-Qur'an dan al-Sunnah, bahwa fitrah manusia adalah memeluk Dînul Islâm, meyakini akidah Islam dan mengamalkan syari’atnya yang memang dîn al-fithrah wa al-‘aql yakni sejalan dengan fitrah dan akal manusia.[17] Hal ini ditunjukkan oleh nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ {٣٠}
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-Rûm [30]: 30)
Para ulama tafsir memandang bahwa kata fithrah dalam ayat di atas berkonotasi Islam. Al-Hafizh Ibn ’Abdil Barr (w. 463 H) menuturkan bahwa konsensus yang diakui oleh ulama salaf pada umumnya, mereka memandang bahwa yang dimaksud kata fithrah dalam QS. Al-Rûm [30]: 30 (فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا) adalah Islam.[18] Maka jelas bahwa tsaqafah Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah sejalan dengan fitrah manusia. Sebagai contoh Islam mengatur hubungan antar lawan jenis (pernikahan), serta mengarahkan kecenderungan manusia kepada jalan yang benar, bukan mematikannya.
3.    Rasional dan Aplikatif
Islam adalah agama tanpa mitos-mitos. Secara mutlak menegasikan segala bentuk takhayul, khurafat ataupun kisah-kisah israilliyat. Hal ini menegaskan bahwa Islam itu mudah dan masuk akal, serta bebas dari segala bentuk takhayul dan khurafat. Kejelasan konsep tentang keesaan Allah SWT, kebenaran al-Qur’an, kerasulan Muhammad SAW serta kehidupan setelah kematian merupakan dasar-dasar keimanan yang memudahkan manusia untuk beramal. Dalam petunjuk al-Qur’an, kita bisa menarik kesimpulan pemahaman (mafhûm) bahwa al-Qur’an itu sendiri merupakan pedoman hidup yang rasional (bisa dipahami dengan akal dengan metode rasional), Allah SWT berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ {٨٢}
“Maka apakah mereka tidak memikirkan al-Qur’an?” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 82)
            Kata kunci dalam ayat ini yang menunjukkan al-Qur'an sebagai sumber ilmu yang bisa dipahami secara rasional adalah kata kerja tadabbara-yatadabbaru, dimana pokok kata ini mengandung konotasi al-tafakkur yakni berpikir mengenai sesuatu, dan aktivitas tadabbur al-Qur’ân tidak akan terwujud kecuali dengan menghadirkan kalbu dan memfokuskan perhatian terhadapnya.[19] Menafsirkan ayat yang agung ini, al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memikirkan al-Qur’an, dan melarang mereka berpaling darinya.[20] Tuntutan ini semakin jelas dengan memperhatikan permulaan ayat ini yang diawali dengan tanda tanya (afalâ) yang maksudnya mengingkari (istifhâm inkâri).[21]
4.    Menyeluruh dan Sempurna
Tsaqafah Islam bersifat menyeluruh dan sempurna, tidak ada sesuatu pembahasan pun yang luput darinya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-idah ayat 3:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا {٣}
“…Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)

B.  Metode Transfer dan Kristalisasi Tsaqafah Islam
Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah SAW agar Beliau menjelaskannya kepada manusia. Allah Swt berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ {٤٤}
“Dan Kami turunkan kepada (Muhammad SAW) al-Qur'an agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar supaya mereka berpikir.” ‎‎(QS. Al-Nahl [16]: 44)
Didalam Al-Quran juga menegaskan pada kaum Muslim agar mereka mengambil apa yang telah dibawa oleh Rasul SAW. Allah Swt berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا {٧}
“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr ‎‎[59]: 7)
Mengambil apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yaitu Islam (dengan segenap tsaqafahnya) tidak mungkin bisa terwujud kecuali setelah memahami dan mempelajarinya. Adapun metode pembelajaran untuk meraih tsaqafah Islam adalah sebagai berikut:
Pertama, Mempelajari materi-materinya secara mendalam agar mencapai pemahaman yang benar dan sempurna terhadap hakekatnya. Mengadopsi tsaqafah Islam, baik itu seorang mujtahid ataupun ‘âmi (awam) penerimaannya harus melalui talaqqiyan fikriyyan (pemikiran yang disampaikan melalui perjumpaan), dan tidak mungkin mengambil (hukum)nya kecuali dengan aktifitas berfikir dan pengerahan seluruh upaya.
Kedua, Orang yang mempelajarinya harus meyakini dengan penuh keyakinan terhadap materi yang dipelajari sehingga terdorong untuk mengamalkannya. 
Ketiga, Mempelajari materi-materinya secara praktis sehingga siap digunakan untuk menyelesaikan problematika-problematika yang dihadapi dalam kehidupan nyata.
Ketika metode ini dijalankan dalam proses pembelajaran maka seorang muslim yang memiliki tsaqafah Islam akan mendalam pemikirannya, peka perasaannya dan mampu memecahkan segala problematika kehidupan. Pada dirinya terbentuk ‘aqliyyah Islâmiyyah (pola pikir) yang memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Terbentuk pula dalam dirinya nafsiyah Islâmiyyah (pola sikap yang Islam) yang dipenuhi dengan keimanan yang sempurna. Dengan ‘aqliyyah dan nafsiyyah Islâmiyyah yang telah mengkristal ini seseorang akan memiliki kepribadian yang mengagumkan yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap muslim yaitu syakhsiyyah Islâmiyyah.

C.  Tatsqîf dan Takwîn: dari Gerakan Tsaqafah Menuju Tegaknya Khilafah
Dahulu, kaum Muslim menaklukkan berbagai negeri dalam rangka mengemban dakwah Islam dan menyebarkannya kepada penduduk negeri tersebut. Tabiat pengembanan dakwah Islam mengharuskan adanya gerakan tsaqafah, karena Islam adalah risalah yang harus dipelajari, dibahas dan dibaca, juga karena tabi’at risalah ini mengharuskan untuk dipelajari dan dipahami serta mengharuskan agar pemeluknya mempelajari segala sesuatu yang berpengaruh (turut andil) dalam meningkatkan kehidupan.[22] Dimana hal ini sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW sejak awal kerasulannya.
Sejak beliau mendapatkan wahyu, beliau diperintahkan untuk menyampaikannya kepada masyarakat. Misalnya, ketika Allah SWT menurunkan QS Al-Muddatsir ayat 1-2, bersegeralah sang Nabi terakhir itu mengajak masyarakat untuk memeluk Islam. Beliau menyampaikan Islam kepada istrinya, Khadijah ra. Kemudian, disampaikan pula kepada sepupunya Ali bin Abi Thalib ra., maulanya Zaid, sahabat beliau Abu Bakar ash-Shiddiq ra., dan masyarakat secara umum.
Beliau bukan sekadar mengajak mereka masuk Islam, melainkan ditindaklanjuti dengan membinanya. Beliau membina kaum Mukmin di rumah Arqam bin Abi al-Arqam (Dâr al-Arqâm). Di rumah Arqam itulah Rasulullah saw. menempa para Sahabat, mengajarkan Islam kepada mereka, membacakan al-Quran kepada mereka, menjelaskannya, memerintahkan mereka untuk menghapal dan memahami al-Quran. Setiap kali ada yang masuk Islam, langsung digabungkan ke Darul Arqam.
Di sinilah Nabi saw. melakukan dua hal. Pertama, Pembinaan akidah dan syariah hingga terbentuk para kader berkepribadian Islam. Kedua, Pengorganisasian para sahabat sehingga membentuk kelompok dakwah yang secara solid dan berjamaah bergerak di tengah masyarakat. Bukan hanya Rasulullah SAW seorang diri yang melakukan pembinaan, para sahabat pun mencari dan membina orang yang baru masuk Islam. Sebagai contoh, beliau pernah meminta Khubbab bin al-Arts r.a. untuk mengajarkan al-Quran kepada Zaenab binti al-Khaththab r.a. dan suaminya, Said r.a., di rumahnya.
Bila dilihat dari kacamata modern, apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini merupakan pembinaan intensif (tatsqîf murakkaz). Pembinaan intensif ini dilakukan untuk membentuk kader yang berkepribadian Islam dan siap berjuang. Secara praktis pembinaan intensif ini diawali dengan melakukan kontak individual. Dulu, Abu Bakar Shiddiq r.a. mengontak keluarga dan kawan-kawannya, di antaranya Utsman bin Affan r.a.. Lalu disampaikan Islam kepadanya. Begitu juga setiap orang harus melakukan kontak individual untuk menyampaikan dakwah. Setiap aktivis dakwah sejatinya mempunyai daftar nama mulai dari kerabat, kawan dan tetangga untuk dikontak dan disampaikan Islam kepada mereka. Materi yang disampaikan tentu bergantung pada kontakan; bisa akidah, syariah, akhlak atau perkembangan terkini dilihat dari kacamata Islam.
Selain itu, Nabi saw. pernah menyampaikan Islam dengan cara mengumpulkan masyarakat di Bukit Shafa, juga mengundang makan bersama; dalam konteks sekarang ini merupakan pembinaan umum (tatsqîf jamâ’i). Kalau dulu di Bukit Safa atau di kebun kurma, maka saat ini tatsqîf jamâ’i dilakukan dengan seminar, kajian di masjid, kuliah zuhur, pesantren Ramadhan, training, pengajian perkantoran, dll.
Sebagaimana gambaran dari teladan pembinaan Rasulullah SAW, pembinaan yang dikehendaki pun tidak cukup menjadikan seseorang menerima Islam sebagai pedoman hidupnya, tapi juga mendorongnya menjadi pengemban dakwah. Umumnya, pengkaderan (takwîn) yang demikian itu efektif dijalankan dalam bentuk halqah. Di dalam halqah dilakukan pembinaan dengan kurikulum yang jelas, buku-buku kajian tertentu yang ditetapkan, serta metode talaqqi sehingga kesinambungan gagasan terjaga. Di sinilah setiap kader ditempa pemahaman Islam dan kepribadian Islamnya, ibadah dan ketaatannya, serta kedisiplinan dan pengorbanannya dalam jamaah.
Dari keseluruhan aktivitas tatsqîf dan takwîn inilah adanya harapan lahir dan terpilihnya orang-orang yang bertekad kuat aktif dalam pembinaan intensif dan menjadi kader dakwah unggulan, kader yang mukhlis dengan mental mujâhid (pejuang) sekaligus muta’abbid (ahli ibadah), mufakkir (pemikir) sekaligus siyâsiyyun (politisi). Mereka adalah  para penjaga Islam yang terpercaya yang melalui tangan-tangan mereka dengan izin Allah SWT- kemenangan Islam dengan tegaknya Khilafah akan diraih. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.


[1] Disampaikan oleh Yandi Hermawan dalam Halqah Syahriyyah, Ahad 18 September 2016. Tahqîq dan ta’lîq: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Lajnah Tsaqafiyyah DPD II HTI Kab. Sukabumi).
[2][2] Lihat: QS. Al-Mâ’idah [5]: 3.
[3] Dr. Mushthafa al-Siba’i, Min Rawâi’i Hadhâratinâ, Beirut: Dâr al-Warrâq, cet. I, 1420 H/1999, hlm. 22.
[4] Hal itu sebagaimana teori yang dipaparkan oleh Al-‘Allamah Taqiyuddin al-Nabhani tentang pengaruh pemahaman terhadap perilaku seseorang.
[5] Hal ini sebagai konsekuensi logis dari upaya meniti jalan Rasulullah SAW, meneladani beliau SAW mencakup metode pembinaannya, hal ini bagian dari tuntutan dalam QS. Al-Ahzâb [33]: 21
[6] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalani, Fat-h al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Ed: Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi dkk, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz I, hlm. 161.
[7] Taqiyuddin al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah, (Edisi terjemahan Indonesia, Jakarta: HTI Press, 1424/2003 Penerjemah: Zakia Ahmad), juz 1, hlm.382
[8] Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, Beirut: Dâr Shâdir, 1414 H, vol 9, hlm. 19.
[9] Abu ’Abdurrahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Kitâb Al-’Ain, Ed: Dr. Mahdi al-Makhzumi dkk, Dâr wa Maktabah al-Hilâl, juz VIII, hlm. 350.
[10] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mu’jam Mufahras li Alfâzh al-Qur’ân, Beirut: Dâr al Fikr, ‎‎1407 H, hlm 159.
[11] Syamsuddin al Qurthuby, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Kairo: Dâr al-Kutub al-Mishriyah, ‎‎1384 H, vol 8, hlm 30.
[12] Taqiyuddin al-Nabhani, Op.Cit., hlm. 383.
[13] Abdullah bin Qasim Al-Wasyli, Al-Nahj al-Mubîn Li Syarhi al-Ushûl al-Isyrîn, (Edisi terjemahan Indonesia, Solo : Era Intermedia, 2001, Penerjemah Jasman dkk)
[14] Taqiyuddin al-Nabhani, Op.Cit.,386
[15] Muhammad bin Jarir Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, jilid XVII, hlm. 278; Irfan Rhamdan Wijaya, “Konsep Manusia Menurut Al-Qur’an Surat al-‘Ashr” (Tesis), 2016, hlm. 14-15.
[16] Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. II, 1418 H, juz ke-21, hlm. 82-83; Irfan Rhamdan Wijaya, “Konsep Manusia Menurut Al-Qur’an Surat al-‘Ashr” (Tesis), hlm. 45-46.
[17] Ibid.
[18] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma’rifat, 1379 H, juz III, hlm. 248.
[19] Muhammad Shiddiq Khan bin Hasan al-Husaini, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: Al-Maktabah al-’Ashriyyah, 1412 H/1992, juz XIII, hlm. 71; Irfan Rhamdan Wijaya, “Konsep Manusia Menurut Al-Qur’an Surat al-‘Ashr” (Tesis), 2016, hlm. 14-15.
[20] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr al-Thayyibah, cet. II, 1420 H/1999, juz VIII, hlm. 480.
[21] Muhammad Shiddiq Khan al-Husaini, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, juz XIII, hlm. 71.
[22] Taqiyuddin al-Nabhani, Op.Cit., hlm. 395.