15 Juli 2018

Paradigma Islam Menimbang ”Islam Nusantara”




Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

I
slam Nusantara (disingkat: Isnus), topik kontroversial ini kembali mengemuka setelah sebelumnya senyap sejak awal kemunculannya pada beberapa tahun lalu. Bukan tanpa sebab, kontroversi Isnus mencakup kontoversi istilah, konsepsi hingga isu politisasi, bagaimana menyikapinya?



A.   Kesesatan Paradigma Isnus
Dari aspek istilah dan konsepsi (al-ism wa al-musammâ), Isnus dihadirkan untuk menegaskan perbedaan antara praktik ke-Islam-an di Indonesia dan Timur Tengah, yang berujung pada sikap merendahkan praktik keberagamaan apa yang mereka istilahkan “Islam Arab”, dan menudingnya sebagai sumber konflik kekerasan yang berbeda dengan Isnus. Sikap seperti ini akhirnya mengundang kritik para tokoh Timur Tengah dalam banyak momentum ketika mereka berkunjung ke Indonesia dan berjumpa dengan penggiat Isnus, semisal Said Aqil Siroj.
Ironisnya, sebagai sebuah konsep beragama Isnus pun dianalogikan sebagai aliran madzhab dalam Islam yang harus diakomodasi sebagai corak keberagaman. Klaim ini bertolak belakang dengan kenyataan manakala Isnus digunakan untuk menghantam kelompok-kelompok kaum Muslim lainnya, dan menjadi alasan untuk mencibir praktik ke-Islam-an di Timur Tengah. Dibuktikan dengan pengakuan jujur para penggiat Isnus yang menegaskan eksistensinya untuk membendung apa yang mereka namakan “kelompok radikalisme”, yang pada prinsipnya masih tergolong kelompok kaum Muslim.
Terlebih pada tataran konsepsi, Isnus mengusung ide-ide yang mengakomodasi nilai-nilai lokal budaya dan adat istiadat yang bias standar, rawan menjerumuskan pada sinkretisme, maka analogi tersebut adalah analogi yang cacat secara asasi (qiyâs ma’a al-fâriq) dan wajib ditimbang dengan standar Islam.

B.   Meluruskan Paradigma: Keistimewaan Islam

Pertama, Standar Islam dalam Kehidupan
Perlu ditegaskan bahwa Islam, baik istilah maupun konsepsinya wajib digali berdasarkan petunjuk nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari segi istilah misalnya, Islam merupakan istilah syar’i yang menggambarkan konsepsi sempurna (dîn) yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad untuk umat manusia baik bangsa arab maupun ‘ajam, yang mengatur segala aspek kehidupan mereka, mengeluarkannya dari kegelapan (kebatilan) menuju cahaya (Islam):

الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ {١}
“Alif, lâm râ. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhîm [14]: 1)

Dalam ayat yang agung ini, Allah menyifati al-Qur'an sebagai Kitab Suci yang Dia turunkan kepada Rasulullah , dengan hikmah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, diungkapkan  secara majazi (kiasan) dengan meminjam istilah (al-isti’ârah) untuk mengumpamakan Islam sebagai sesuatu yang baik (cahaya) dan kekufuran sebagai sesuatu yang buruk (kegelapan). Rasulullah bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu KitabuLlâh dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim, al-Baihaqi)

Hadits ini diungkapkan dalam bentuk kalimat syarat (jumlah syarthiyyah), yang secara jelas menetapkan standar agung dalam kehidupan, agar meraih keselamatan dunia akhirat yakni dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah. Hal ini menuntut setiap muslim mengembalikan segala perkara kepada keduanya, termasuk tradisi dan adat istiadat yang wajib dipastikan agar senantiasa berada di atas rel Islam. Diperjelas isyarat dalam al-Qur’an yang menunjukkan celaan atas tradisi-tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan Islam, dan mencela taklid buta atasnya (lihat: QS. Al-Ma’idah [5]: 104), serta realitas penentangan kaum Musyrik Quraysyi atas dakwah Rasulullah dan para sahabat yang meluruskan tradisi-tradisi kaum Musyrik yang menyalahi Islam, itu semua adalah bukti keistimewaan konsepsi Islam dalam membangun kehidupan. Dari Al-’Irbadh bin Sariyah r.a ia berkata: Rasulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku, dan sunnah para khalifah al-rasyidin al-mahdiyyin, gigitlah oleh kalian hal tersebut) dengan geraham yang kuat.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Standar Islam ini pula yang harus dijadikan standar pembuktian atas klaim bahwa Isnus adalah refleksi Islam rahmatan lil alamin. Klaim ini hanya bisa terbukti dengan menunjukkan kesesuaian konsep Isnus dengan konsep al-Qur’an dan al-Sunnah (QS. Âli Imrân [3]: 103), karena kerahmatan Islam bagi kehidupan mengandung makna menegakkan Islam: akidah dan syari’ah kâffah hingga membuahkan kebaikan hakiki bagi alam semesta (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107, QS. Al-Qashash [28]: 86), bukan dengan menundukkan Islam pada adat istiadat atau apapun yang menyalahi Islam. Bagaimana mungkin berbuah jika akar dan batang pohonnya tidak ada atau rusak dipenuhi hama?

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ {١٠٧}
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Menafsirkan ayat ini, Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1316 H) dalam tafsirnya (II/62) menegaskan: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”
Syaikh Nawawi pun menegaskan kewajiban mengamalkan keseluruhan ajaran Islam dalam kehidupan dalam turats-nya, salah satunya Syarh Sullam al-Taufiq (hlm. 8). Diperjelas petuah muridnya, Mbah Hasyim Asy’ari (w. 1366 H) dalam al-Mawâ’izh yang berpesan agar kaum Muslim berpegangteguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah bukan fanatisme buta pada golongan: ”Wahai kaum Muslim, bertakwalah kepada Allah, kembalilah kepada Kitab Rabb kalian (al-Qur’an), beramalah sesuai dengan Sunnah Nabi kalian. Teladani lah orang-orang shalih sebelum kalian, niscaya kalian akan beruntung sebagaimana mereka telah meraih keberuntungan, dan niscaya kalian akan berbahagia sebagaimana mereka berbahagia. Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian. Dan tolong-menolonglah kalian dalam menunaikan kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, niscaya Allah melimpahkan rahmat dan ihsan-Nya kepada kalian.”

Kedua, Kesempurnaan Din Islam
Keistimewaan Islam pun mencakup kesempurnaan dan cakupan ajarannya yang menyeluruh mengatur segala aspek kehidupan manusia, IPOLEKSOSBUDHANKAM, hal itu ditunjukkan oleh nas-nas al-Qur’an dan praktik kehidupan Rasulullah . Allah Swt berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ {٨٩}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
            Lihat pula QS. Al-Mâ’idah [5]: 3, QS. Al-Baqarah [2]: 208 dan lainnya, dimana kesempurnaan Islam ditunjukkan secara praktis dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, ini merupakan standar hakiki keberislaman seseorang, bukan konsep beragama yang akhirnya justru mereduksi ajaran Islam. Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) dalam Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm (III/131) ketika menafsirkan QS. Al-Mâ’idah [5]: 50 menjelaskan: ”Allah mengingkari siapa saja yang keluar dari hukum Allah yang jelas mencakup seluruh kebaikan, mencegah dari segala keburukan, serta mengandung keadilan (bersih) dari segala hal selain al-Qur’an, berupa pandangan-pandangan pribadi, hawa nafsu serta istilah-istilah (menyesatkan-pen.) yang dibuat-buat oleh manusia tanpa mengaitkannya dengan syari’at Allah, sebagaimana kaum jahiliyyah dahulu berhukum dengannya berupa kesesatan-kesesatan dan kejahilan-kejahilan.”

Ketiga, Universalitas Dakwah Islam
Di sisi lain wajib dipahami bahwa dakwah Islam bersifat universal, hal ini meniscayakan visi dakwah tanpa melihat warna kulit (suku bangsa) dan asal-usul (wilayah), sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ {٢٨}
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ [34]: 28)

Diperjelas QS. Al-A’râf [7] 158 dan QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107. Lafal kâffah menjadi petunjuk penting universalitas dakwah Islam, karena lafal ini berkonotasi sesuatu yang tidak bisa dibagi-bagi ke dalam pecahan (mâni’ li ajzâ’ihi min al-tafarruq), dengan kata lain frasa kâffata li al-nâs menunjukkan bahwa dakwah Islam yang dicontohkan Rasulullah adalah dakwah untuk seluruh umat tanpa memandang batas-batas wilayah dan warna kulit, yang meniscayakan visi persatuan kaum Muslim tanpa sekat-sekat ashabiyyah (fanatisme buta yang pada selain Islam).

C.   Islam dan Visi Persatuan Kaum Muslim
Islam secara tegas mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi persatuan di atas asas akidah Islam, dan diikat dalam institusi kepemimpinan Islam (al-Khilâfah al-Islâmiyyah), hal itu tersurat dan tersirat dalam al-Qur’an, al-Sunnah dan aqwâl para ulama mu’tabar:
Pertama, Islam mewajibkan kaum Muslim menjadikan ikatan akidah Islam sebagai pengikat kaum Muslim (ukhuwwah Islamiyyah) (QS. Al-Hujurat [49]: 10), sebagaimana Islam pun mengharamkan ikatan-ikatan jahiliyyah (ashabiyyah) yang bisa merusak kesatuan kaum Muslim, seperti fanatisme buta pada kelompok, kesukuan, dan lainnya. Islam misalnya, jelas mencela paham fanatisme buta (‘ashabiyyah), Rasulullah bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»
Bukan dari golongan kami, siapa saja yang menyeru kepada ‘ashabiyyah (fanatisme golongan). Dan bukan dari golongan kami, siapa saja yang berperang atas dasar ‘ashabiyyah. Dan bukan dari golongan kami, siapa saja yang mati diatas ‘ashabiyyah.” (HR. Abu Dawud)

Sisi ini bertolak belakang dengan dampak negatif yang bisa dimunculkan oleh isu “Islam Nusantara” dengan memprovokasi munculnya aliran-aliran lainnya yang bersifat regional atau domestik: “Islam Asia”, “Islam Prancis” dsb, dimanfaatkan oleh kaum imperialis dan liberalis untuk memecah belah barisan kaum Muslim, mencegah persatuan mereka dan menghujamkan imperialisme di jantung negeri-negeri kaum Muslim. Strategi ini sejalan dengan strategi yang direkomendasikan Ariel Cohen kepada AS untuk menghadapi gerakan Islam yang mengusung syariah dan khilafah. Cohen pernah mempublikasikan hasil risetnya itu yang dibiayai oleh The Heritage Foundation berjudul ‘Hizb ut-Tahrir: An Emerging Threat to U.S. Interests in Central Asia’ (lihat: www.heritage.org). Menurut Cohen, salah satu cara melawan kelompok “Islam radikal” adalah dengan cara membenturkan kelompok tersebut dengan kelompok “Islam moderat”.
Kedua, Islam mewajibkan kaum Muslim menegakkan Khilafah sebagai institusi pemersatu kalimat kaum Muslim, sebagaimana Islam pun mengharamkan segala tindak tanduk yang bisa memecah belah jama’ah kaum Muslim, seperti bughat (pemberontakan) atas Khilafah.
Kenyataannya, gagasan “Islam Nusantara” diusung oleh mereka yang selama ini aktif mengusung ide “Islam Moderat” yang merupakan refleksi lebih halus dari “Islam Liberal”. Hal ini meniscayakan ketidakbolehan penggunaan istilah ini, mengingat setiap istilah yang berpotensi mereduksi ajaran Islam, sesat menyesatkan serta memecah belah barisan kaum Muslim maka tidak boleh digunakan, sebagaimana istidlal para ulama atas QS. Al-Baqarah [2]: 104. []


25 Juni 2018

Peringatan Baginda Nabi Saw: Iblis & Bala Tentara Penebar Fitnah Kesesatan




Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
(Peneliti Kajian Balaghah al-Qur'an dan Hadits Nabawi)
Dari Jabir bin Abdillah r.a., ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda:

«إِنَّ عَرْشَ إِبْلِيسَ عَلَى الْبَحْرِ، فَيَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَيَفْتِنُونَ النَّاسَ، فَأَعْظَمُهُمْ عِنْدَهُ أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً»
”Sesungguhnya singgasana Iblis berada di lautan, ia mengutus bala tentaranya untuk menimbulkan fitnah kepada manusia, yang paling tinggi kedudukannya di antara mereka bagi Iblis adalah yang paling besar fitnahnya.” (HR. Muslim, Ahmad. Lafal Imam Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya pada bab ’Arsy Iblis wa Ba’ts Saraayaahu (Singgasana Iblis & Pengutusan Bala Tentaranya), dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (hadits no. 15119) dengan sanad kuat sesuai syarat Imam Muslim.

A.    Iblis & Eksistensi Bala Tentaranya
Hadits ini mengandung informasi penting berkaitan dengan musuh abadi Allah dan Rasul-Nya, yakni Iblis dan bala tentaranya syaithan. Dimana hadits ini menggambarkan keberadaan Iblis dan bala tentara yang siap sedia menebar fitnah ke tengah-tengah umat manusia, menegaskan adanya permusuhan mereka, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya yang agung:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا {١١٢}
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’âm [6]: 112)

Dimana dalam ayat yang agung ini, Allah menegaskan keberadaan musuh para nabi, syaithan dari golongan jin dan manusia. Jika para ulama adalah pewaris para nabi, maka musuh para nabi adalah musuh para pewarisnya, para ulama, serta musuh umat yang meniti jalan mereka. Permusuhan tersebut, didukung informasi-informasi dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, di antaranya: QS. Al-Baqarah [2]: 168 & 208, QS. Al-An’âm [6]: 142, QS. Al-Kahfi [18]: 50, QS. Fâthir [35]: 6, QS. Yâsîn [36]: 60, QS. Al-Zukhruf [43]: 62.
Perlu dipahami bahwa Iblis adalah golongan jin yang durhaka kepada Allah Swt (lihat: QS. Al-Kahfi [18]: 50), berasal dari kata ablasa yang artinya berputus asa dari kebaikan (rahmat Allâh), sebagaimana ditegaskan al-Khalil bin Ahmad dalam Al-’Ain (hlm. 262), yang berkedudukan sebagai ra’s al-syayâthîn yakni pemimpin para syaithân (lihat: Al-Mu’jam Al-Wasîth (hlm. 12)) Kepemimpinan jahat ini diperjelas frasa sarayahu (bala tentaranya) dalam teks hadits. Lafal saraya yang merupakan kata benda jamak (plural) dari kata sariyyah yang berkonotasi tentara/pasukan, yang diperjelas dalam nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah lainnya dalam hal ini yakni syaithan golongan jin dan manusia (lihat: QS. Al-An’âm [6]: 112, QS. Al-Nâs [114]: 4-6).
Iblis dan bala tentaranya jelas bergerak menyesatkan umat dengan cara berjama’ah, setahap demi setahap (khuthuwât), sehingga ia menjadi tantangan tersendiri bagi para pejuang Islam, dan menjadi salah satu bukti pentingnya soliditas para pejuang Islam, berjama’ah tolong menolong memperjuangkan kebenaran, mengentaskan kebatilan:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا {٨١}
“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isrâ [17]: 81)

B.   Iblis & Visi Penyesatan yang Wajib Diwaspadai
            Hadits ini, jelas mengandung informasi sekaligus peringatan atas fitnah yang diemban oleh Iblis dan bala tentaranya. Secara bahasa, kata al-fitnah (jamaknya al-fitan) bermakna memasukkan sesuatu ke dalam api, sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) dalam al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân (I/623):

أصل الفَتْنِ: إدخال الذّهب النار لتظهر جودته من رداءته
“Asal-usul kata al-fitan: memasukkan emas ke dalam api untuk menampakkan keindahannya dari bagian yang cacat (rusak).”

Dimana penjelasan ini dinukil oleh para ulama semisal, Imam Abu al-‘Ala al-Mubarakfuri (w. 1353 H) dalam Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi (VI/310) dan disebutkan pula oleh Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil dalam Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 237). Namun jika ditelusuri lebih jauh, kata “fitnah” (الفتنة) dalam bahasa arab termasuk suatu lafal yang mengandung lebih dari satu makna (lafzh musytarak), dalam Mu’jam Lughat al-Fuqâhâ’ dijelaskan bahwa al-musytarak itu adalah isim maf’ul berasal dari ungkapan isytaraka fil amr (berserikat dalam suatu hal): yakni menjadi bagian darinya, yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna. Lafal musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1436 H) yakni: 

ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه
Lafazh yang mengandung lebih dari satu makna dan maksudnya tidak bisa ditentukan kecuali berdasarkan suatu petunjuk. (Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’, hlm. 430)

Imam Ibrahim al-Harbi (w. 285 H) pun merinci makna al-fitnah lengkap berikut contoh-contohnya dalam al-Qur’an dalam kitab Gharîb al-Hadîts (hlm. 930-939), yakni dengan konotasi-konotasi sebagai berikut:
Pertama, Bermakna الشرك (Kesyirikan), misalnya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 193 (وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ).
Kedua, Bermakna الضلالة (Kesesatan). misalnya dalam QS. Âli Imrân [3]: 7: (ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ).
Ketiga, Bermakna النفاق (Kemunafikan), misalnya dalam QS. Al-Hadîd [57]: 14: (فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ).
Keempat, Bermakna البلاء (Ujian), misalnya dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 2: (وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ).
Kelima, Bermakna عذاب الناس (Siksaan Manusia), misalnya dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 10: (جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ).
Keenam, Bermakna الحرق بالنار (Siksaan dengan Api), misalnya dalam QS. Al-Burûj [85]: 10; {إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ},
Ketujuh, Bermakna الصَّدُّ، وَالِاسْتِنْزَالُ (Menghalang-halangi), misalnya dalam QS. Al-Isrâ’ [17]: 73: {إِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ.
Kedelapan, Bermakna الْفِتْنَةُ الضَّلَالَةُ (Fitnah Kesesatan), misalnya dalam QS. Al-Shaffât [37]: 162; {مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ}.
Kesembilan, Bermakna الْمَعْذِرَةُ (Argumentasi), misalnya dalam QS. Al-An’âm [6]: 23; {ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ}.
Kesepuluh, Bermakna الِافْتِتَانُ، وَالْإِعْجَابُ (Berbangga), misalnya dalam QS. Yûnus [10]: 85; {لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}.
Kesebelas, Bermakna الْقَتْلُ (Pembunuhan), misalnya dalam QS. Al-Nisâ’ [3]: 101; {إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا}.
Adapun makna kata al-fitnah dalam hadits ini lebih tepat dimaknai sebagai al-dhalalah (kesesatan), berdasarkan banyak indikasi, ia menegaskan apa yang menjadi bagian dari visi misi Iblis yang berjanji menghiasi keburukan dengan wajah kebaikan dan menyesatkan manusia dari jalan kebenaran, sebagaimana diinformasikan dalam ayat:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ {٣٩}
“Iblis berkata: "Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.(QS. Al-Hijr [15]: 39)

Allah menginformasikan dalam ayat ini, bahwa Iblis mengungkapkan berbagai pernyataan visi misi jahatnya dengan kata-kata yang diperkuat, yakni diawali dengan qasam (sumpah), lâm dan nûn al-tawkîd al-tsaqîlah, dalam kata lauzayyinanna dan laughwiyanna. Fungsi penegasan-penegasan ini memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan, dalam ilmu balaghah dua bentuk penegasan ini menafikan adanya keraguan dan pengingkaran atas kebenaran informasi di dalamnya (ia dinamakan al-khabar al-inkâri sebagaimana diuraikan dalam banyak buku-buku balaghah, atau meminjam istilah Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, yakni al-ta’kîd al-inkâri.
Frase lauzayyinanna yang diawali dengan dua penegasan-penegasan tersebut, bermakna menampakkan keburukan dengan wajah kebaikan, karena kata kerja (زَيَّنَ), sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) dalam bermakna jika menampakkan kebaikannya, baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan (Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an (hlm. 389)), jika keburukan maka kebaikan yang ditampakkan tersebut merupakan kedustaan yang bisa mengelabui mereka yang lalai. Dan ketika kedustaan tersebut diyakini, maka jadilah ia khurafat yang berbahaya yang bisa menjerumuskan seseorang kepada kekufuran, kesyirikan, padahal tidak ada kezhaliman yang lebih besar daripada kesyirikan (lihat: QS. Luqmân [31]: 13).
Diperkuat informasi dalam QS. Al-A’râf [7]: 16-17, artinya jelas merupakan ancaman yang nyata. Al-Hafizh Ibn al-Jawzi (w. 597 H) menegaskan: “Maka wajib bagi orang yang berakal untuk mawas diri terhadap musuh yang satu ini (Iblis, syaithan-pen.) yang telah menyatakan permusuhannya semenjak masa Adam a.s. dan ia bersungguh-sungguh mengerahkan segenap waktunya, jiwanya untuk merusak Bani Adam dan Allah telah memperingatkan kita darinya.(Talbîs Iblîs (hlm. 203-204))
Maka jelas bahwa sepak terjang musuh-musuh Islam ini, Iblis dan sekutunya –syaithan golongan jin dan manusia-, merupakan perkara yang wajib diwaspadai dan dihadapi dengan menegakkan dakwah, sebagaimana dikatakan sya’ir yang dinukil Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn (I/77):

عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”
“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya.

Video terkait kultum tafsir dan balaghah: 


06 Juni 2018

Legitimasi Syar’i Berdirinya Kelompok Dakwah [Kajian Hukum-Tafsir-Balaghah QS Ali Imran [3]: 104]



Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
[Penulis Kajian Tafsir & Balaghah "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"]

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.Salah satu nas al-Qur’an yang menjadi legitimasi syar’i nan kokoh berdirinya gerakan dakwah adalah firman-Nya:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {١٠٤}
Dan hendaklah ada di antara kalian golongan yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)
Mengomentari ayat yang agung ini, Syaikh Muhammad al-Thahir bin ’Asyur (w. 1393 H) menuturkan dalam tafsirnya:

فجاءت الآية بهذا الأمر على هذا الأسلوب البليغ الموجز
“Ayat ini turun dengan kandungan perintahnya, menggunakan uslub yang mendalam dan singkat padat.”[1]

Para ulama menjelaskan bahwa ayat yang agung ini, menjadi dalil wajibnya mengadakan kelompok dakwah terorganisir (jamâ’ah dâ’iyyah mutakattilah), dengan perincian sebagai berikut:

A.   Wajh al-Istidlal Ayat: Perintah Mengadakan Kelompok Dakwah
Al-’Allamah Abdul Qadim Zallum menjelaskan bahwa inti pendalilan (wajh al-istidlâl) ayat ini, menunjukkan perintah mengadakan kelompok dakwah, tak hanya menyoal dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, dimana dakwah dalam ayat ini berkedudukan sebagai penjelasan dari aktivitas kelompok yang dituntut dalam ayat. Jadi tak bisa diklaim yang wajib ”amar ma’ruf nahi mungkarnya, bukan mendirikan organisasinya”, padahal ayat ini menunjukkan kefardhuan mengadakan kelompok dakwah.
Perintah mengadakan kelompok dakwah dalam ayat yang agung ini, ditandai dengan adanya frasa (ولتَكُنْ), dalam tinjauan ilmu bahasa arab termasuk kalimat perintah (shiyag al-amr)[2], karena huruf lâm pada permulaan frasa tersebut, adalah huruf lâm yang berfungsi sebagai kata perintah (lâm al-amr), sebagaimana ditegaskan oleh Abu Ja’far al-Nahhas al-Nahwi (w. 338 H)[3] dan Imam al-Tsa’labi (w. 427 H)[4], serta para ulama lainnya.[5] Diperjelas ulasan ilmu ushul fikih berkaitan dengan bentuk perintah (shiyagh al-amr). Para ulama pakar ushul fikih, di antaranya Prof. Dr. ‘Iyadh bin Sami al-Salmi dan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah[6] menjelaskan bahwa di antara bentuk perintah adalah:

الفعل المضارع المقترن بلام الأمر (ليفعل)
“Kata kerja al-mudhâri’ yang disertai lâm al-amr (liyaf’al).”[7]

            Frasa waltakun dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, jelas termasuk di antaranya, sehingga menunjukkan bahwa ayat ini mengandung perintah. Lalu apakah tuntutan perintah tersebut fardhu atau sunnah? Hal itu terjawab dengan menelusuri keberadaan petunjuk-petunjuk lain (qarâ’in) yang berfaidah menentukan status tuntutannya, fardhu atau sunnah. Seorang ulama ushul, Fadhilatusy Syaikh ‘Atha bin Khalil, ketika menjelaskan berbagai petunjuk (qarâ’in) yang menunjukkan tuntutan pasti (qarînah jâzimah) suatu kefardhuan, menjelaskan diantara bentuknya:

مَا كَانَ فِيْهَا بَيَانُ لِأَمْرِ حُكْمِهِ الوُجُوْبَ أَو مَوْضُوْعه فَرْض أَوْ مَدْلُوله حِرَاسَة لِلإِسْلاَمِ
“Jika didalamnya terkandung penjelasan atas suatu perintah bahwa hukumnya wajib, topiknya fardhu atau konteksnya menunjukkan penjagaan terhadap Islam.”[8]

Ia pun menjadikan QS. Âli Imrân [3]: 104 sebagai salah satu contohnya, yakni dengan adanya frasa (وأولئك هم المفلحون) “dan mereka sebenar-benarnya golongan yang beruntung”, yang merupakan qarinah pujian kuat dari sudut pandang ilmu balaghah. Hal senada dipaparkan oleh para ulama lainnya.[9] Para ulama pun jika kita perdalam, satu suara atas kefardhuan dakwah ketika menafsirkan ayat ini, mereka hanya merinci pembahasan, apakah ayat ini menegaskan kefardhuan bagi sebagian kaum Muslim (fardhu ’alâ al-kifâyah), yakni dengan membangun kelompok dakwah, atau fardhu bagi setiap individu muslim (fardhu ‘ain), yakni dorongan untuk menjadi umat (satu golongan) yang berdakwah, keragaman pandangan ini berpijak pada perbedaan memahami kedudukan kata min dalam ayat.

B.   Kewajiban Mengadakan Kelompok Dakwah Terorganisir (Jamâ’ah Dâ’iyyah Mutakattilah)

1.   Makna Kata Ummah
Pada dasarnya, kata (أُمَّةٌ) dalam bahasa arab termasuk satu kata yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak), disebutkan Abdul Halim Qunabis dalam Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah (hlm. 18), Dr. Mutawalli al-Sya’rawi dalam tafsirnya (III/1663) pun menuturkan: “Kata (ummah) bermakna jama’ah, millah atau din, jangka waktu tertentu, atau seseorang yang terkumpul padanya sifat-sifat kebaikan.” Hal senada dirinci Ibn Haim dalam Al-Tibyân fî Tafsîr Gharîb al-Qur’ân (hlm. 93, 96, 188), Al-Alusi dalam Rûh al-Ma’âni (II/237) dan Syaikh ‘Atha bin Khalil dalam Al-Taysîr.
Adapun kata umat dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, para ulama menegaskan bahwa ia bermakna jama’ah (kelompok), sebagaimana penjelasan al-Hafizh al-Thabari (w. 310 H), Ibn Mundzir (w. 318 H), Al-Anbari (w. 328 H), Abu al-Mundzir al-’Autabi (w. 511 H), Al-Raghib al-Ashfahani (w. 511 H), al-Khathib al-Syarbini (w. 977 H), Al-Alusi (w. 1270 H), dan ditegaskan Syaikh ‘Atha bin Khalil dalam Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 165-166).

2.   Kefardhuan Mengadakan Kelompok Dakwah
Ayat yang agung ini mengandung perintah agung Allah Swt untuk mengadakan kelompok dakwah, dengan hukum asal fardhu ’ala al-kifâyah, dimana seruan ini ditujukan kepada orang-orang beriman yang disifati pada ayat sebelumnya, QS. Ali Imran [3]: 103; yakni orang-orang beriman yang berusaha berpegang teguh kepada tali agama Allah, berdasarkan lafal min sebagian (min li al-tab’îdh) dalam ayat ini, yang menunjukkan konotasi “sebagian dari kalian”, ditegaskan para ulama di antaranya Ibn ‘Athiyyah, Al-Dhahhak, Abu Bakr al-Jashshash (w. 370 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H), al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H), Syaikh Abdul Qadim Zallum (w. 1424 H), Syaikh ’Atha bin Khalil, serta para ulama lainnya.
Menariknya, dalam persepektif ilmu balaghah, kata ummat[un] dalam ayat ini berkonotasi ummat[un] dâ’iyyat[un] (jama’ah yang berdakwah), ditegaskan Imam Abu al-Su’ud (w. 982 H) dalam Irsyâd al-‘Aql al-Salîm (II/67) dan Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) dalam Mafâtîh al-Ghaib (VIII/314), sebagai bentuk al-îjâz bi al-hadzf (bentuk peringkasan kalimat), yang berfaidah menguatkan makna yang dikehendaki daripada penyebutannya secara lengkap, dengan petunjuk adanya karakter aktivitas kelompok yang dirinci dalam ayat.
Konsekuensinya, mereka menafsirkan ayat ini bermakna waltakun minkum thâ’ifat[un] (ولتكم منكم طائفة) yakni “harus ada di antara kalian kelompok”, yakni perintah untuk mengadakan kelompok dakwah. Hal ini memperjelas kesimpulan bahwa berdirinya kelompok dakwah, adalah hal yang disyari’atkan dalam Islam (masyrû’), diperintahkan oleh Allah Rabb al-’Âlamîn, dicontohkan oleh sebaik-baiknya generasi umat ini, Rasulullah dan para sahabatnya. Al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H) menjelaskan dalam Jâmi’ al-Bayân (VII/90-91):
“Kalimat (وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ) wahai orang-orang beriman, (أُمَّةٌ) yakni jama’ah yang menyeru manusia (إِلَى الْخَيْرِ) yakni kepada al-Islam dan aturan-aturan syari’at yang telah disyari’atkan Allah pada hamba-hamba-Nya. Makna (ويأمرون بالمعروف) yakni memerintahkan manusia untuk mengikuti Muhammad dan agamanya yang datang dari Allah. (وينهون عن المنكر) yakni melarang mereka mengkufuri Allah dan mendustakan Muhammad dan apa yang datang darinya (risalahnya) dari Allah.”

C.   Karakteristik Kelompok Dakwah yang Ditunjukkan Al-Qur’an & Al-Sunnah
Kelompok dakwah yang dituntut ayat ini bukan sembarang kelompok, melainkan kelompok dakwah terorganisir dengan karakteristik yang diperjelas banyak petunjuk:

1.   Diikat Oleh Ikatan Akidah Islam
Kelompok dakwah bisa dikatakan berkelompok ketika ia diikat oleh suatu ikatan sehingga menyatukan anggotanya. Al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) dalam Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân (I/86) menjelaskan: “Ummat[un]: setiap golongan yang disatukan oleh suatu hal apakah dîn, waktu atau tempat yang sama.” Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili (w. 1436 H) pun menjelaskan:

جماعة تربطهم رابطة معينة تجمعهم
“Kelompok yang terikat suatu ikatan yang menyatukan mereka.”

Dan ketika Islam menjadi identitas dari kelompok dakwah, maka tiada ikatan yang paling shahih kecuali ikatan akidah Islam. Syaikh Abdul Qadim Zallum (w. 1424 H) dalam Afkâr Siyâsiyyah, hlm. 56 menjelaskan bahwa para kader kelompok dakwah wajib diikat oleh suatu ikatan, sehingga mampu bersinergi bagaikan satu tubuh. Tanpa adanya ikatan tersebut, takkan terwujud suatu kelompok yang solid, dan mampu menjalankan fungsinya sebagai kelompok dakwah. Yakni ikatan akidah Islam yang kokoh nan mengakar dalam dada-dada setiap orang beriman, sebagaimana petunjuk pada ayat:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا {١٠٣}
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Âli Imrân [4]: 103)

Bahwa salah satu bentuk sikap berpegang teguh terhadap tali agama Allah, yakni dengan mendakwahkan Islam, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar (lihat: Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr (IV/35))

2.   Terbina dengan Islam
Kelompok dakwah ini pun merupakan kelompok yang diistimewakan dengan ilmu dan amal, sehingga sebagian ulama menyifatinya sebagai jama’ah yang berilmu, hal ini meniscayakan adanya proses pembinaan bagi para kader dakwah secara mapan dan sistematis. Ibn Faris (w. 395 H) pun menjelaskan maknanya adalah kelompok ahli ilmu.[10] Imam al-Raghib al-Ashfahani mengungkapkan: “Dan firman-Nya (Dan hendaklah ada di antara kalian ummat yang menyeru kepada al-khair) -kata ummat dalam ayat ini- yakni sebuah jama’ah yang memiliki keutamaan ilmu dan amal shalih, dan mereka menjadi teladan bagi orang lainnya.”[11]
Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili pun dalam tafsirnya (IV/33) menguraikan: Allah SWT memerintahkan umat Islam, agar ada di antara umat ini kelompok khusus (jamâ’ah mutakhashshishah) yang menegakkan dakwah kepada al-khair, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang mungkar. Mereka adalah golongan yang beruntung di dunia dan akhirat.

3.   Keistimewaan Aktivitas Kolektif (’Amal Jama’i) Kelompok Dakwah
Aktivitas kelompok dakwah yang dituntut dalam ayat ini pun jelas aktivitas kolektif. Al-Akhfasy al-Awsath (w. 210 H) dalam Ma’ânî al-Qur’ân (I/228) menuturkan bahwa kata ummat dalam ayat ini; lafal tunggal yang berkonotasi jamak, oleh karena itu Allah berfirman (يدعون إلى الخير) “mereka yang menyeru kepada al-khair”. Dimana subjek dari kata yad’ûna adalah “mereka” (hum) menunjukkan subjek jamak, berjumlah lebih dari dua. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa aktivitas kelompok dakwah tersebut merupakan ‘amal jamâ’i (kerja kolektif), berkesinambungan dan bergerak mendakwah penerapan syari’at Islam dalam kehidupan (dakwah politik), melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan menyerukan penegakkan al-Khilafah ’ala minhaj al-nubuwwah sebagai metode syar’i menegakkan Islam.
Syaikh Abdul Qadim Zallum menjelaskan kelompok yang dimaksud memiliki sifat-sifat sebagai suatu kelompok dengan aktivitas utama, yakni menyeru kepada Islam, serta menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan yang mungkar, yakni dakwah kepada penegakkan Islam dalam kehidupan, Al-Hafizh al-Thabari menegaskan (VII/91):

يعني إلى الإسلام وشرائعه التي شرعها الله لعباده
“Yakni kepada al-Islam dan aturan-aturan syari’at-Nya yang Allah syari’atkan bagi hamba-hamba-Nya.”

Hal itu dipahami berdasarkan pemahaman bahwa kata (أمة) berbentuk nakirah, maka kalimat setelahnya yakni kalimat (يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ) merupakan sifat dari kata (أمة) tersebut[12], sesuai kaidah:

الجُمَلُ بَعْدَ النَّكِرَاتِ صِفَاتٌ
“Kalimat-kalimat setelah kata-kata benda nakirah itu sifat-sifatnya.”[13]

Ditambah dengan karakter pada kalimat-kalimat setelahnya (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ) yang menjadi lanjutan bersambung (ma’thûf) dari kalimat (يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ).  Antara kalimat-kalimat yang menjadi sifat dari ummat[un] dalam ayat ini pun, disatukan waw al-‘athf yang berfungsi menunjukkan konsep penyatuan (li muthlaq al-jam’i), tidak terpisah satu sama lain, menjadi karakter yang menyatu bagi jama’ah dakwah.
Maka sifat aktivitas dari kelompok dakwah ini yakni: (1). Jama’ah atau kelompok dari orang-orang yang beriman, berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, (2) Menyeru kepada penegakkan Islam, (3) Menyuruh kepada yang ma’ruf, (4) Melarang dari yang mungkar. Seluruhnya diungkapkan dalam bentuk kata kerja al-mudhâri’ (kata kerja sekarang atau yang akan datang), yang berfaidah al-istimrâr (berkesinambungan) (lihat: Ahmad Syauqi Dhaif, Al-Madâris al-Nahwiyyah, hlm. 197), menunjukkan harus senantiasa ada dari masa ke masa, dari generasi ke generasi yang aktif berdakwah.

4.   Dipimpin Oleh Pemimpin Dakwah
Setiap kelompok akan tertata ketika diatur oleh seorang pemimpin yang wajib dita’ati dalam kebenaran, sehingga semakin solid terikat pada ikatan Islam, terbina dengan Islam dan terarah di bawah komando pemimpin, hal ini pun ditunjukkan secara praktis oleh Rasulullah yang berkedudukan sebagai pemimpin kutlah dakwah di masa hidupnya. Sejalan dengan mafhum dari dalil hadits yang mewajibkan setiap kelompok, yang terdiri dari tiga orang atau lebih untuk mengangkat salah seorang amir (pemimpin). Rasulullah bersabda:

«وَلاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلاَةٍ إِلاَّ أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ»
“Tidak halal bagi tiga orang yang berjalan di muka Bumi, kecuali mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpinnya.” (HR. Ahmad, al-Thabrani)

Hadits ini, banyak dinukil para ulama dalam sejumlah topik hukum, misalnya Al-Syaukani dalam Nail al-Authar (VIII/294) yang menukilnya dalam bab kewajiban mengangkat hakim dan penguasa, hal itu karena keumuman makna khabar dan lafal dalam hadits ini, sebagaimana diisyaratkan Ibn al-Arabi. Hadits ini pun dijadikan Syaikh Abdul Qadim Zallum, sebagai dalil kewajiban adanya pemimpin dakwah. Kalimat lâ yahillu, menunjukkan larangan keras (qarînah jâzimah), menunjukkan keharaman atas ketiadaan amîr (pemimpin). Jika dalam persoalan safar saja wajib ditunjuk salah seorang pemimpin (amîr al-safar), maka perkara dakwah yang lebih kompleks persoalannya, lebih utama (awlâ) membutuhkan adanya kepemimpinan (muwâfaqah). Diperkuat kaidah syar’iyyah:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Apa-apa yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.

D.   Motivasi Agung Untuk Istiqamah Berdakwah Secara Berjama’ah
Menariknya, ganjaran sebagai golongan yang beruntung (ulâ’ika hum al-muflihûn) bagi kelompok ini diungkapkan dengan banyak pujian sangat kuat dalam persepektif kebahasaan. Dimana kata al-muflihûn bermakna orang-orang yang mengambil transaksi perniagaan yang menguntungkan (Mutawalli al-Sya’rawi dalam tafsirnya (III/1665)), yakni keberuntungan duniawi dan ukhrawi, menurut Al-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradât (hlm. 644): (1) Duniawi: kesuksesan meraih berbagai kebahagiaan yang menghiasi kehidupan, termasuk kemuliaan. (2) Ukhrawi: mencakup empat hal: Pertama, Keabadian tanpa dibatasi kefanaan. Kedua, Kecukupan tanpa dilanda kefakiran. Ketiga, Kemuliaan tanpa diliputi kehinaan. Keempat, Kecerdasan tanpa dijangkiti kejahilan.
Bahkan pujian tersebut terungkap dalam persepektif ilmu balaghah, dari mulai pengagungan di balik kata tunjuk jauh ulâ’ika, penegasan kembali dengan adanya kata ganti hum (dhamir al-fashl), dan juga pengkhususan predikat keberuntungan (qashr al-falâh) bagi kelompok dakwah ini, relevan dengan hadits Rasulullah :

«خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ وَأَتْقَاهُمْ وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ»
Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling patuh, paling bertakwa di antara mereka, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar serta menyambung tali silaturahim.” (HR. Ahmad dan al-Thabrani)

E.   Kelompok Dakwah: Menolong DinuLlah & Berniaga dengan Allah dalam Perniagaan yang Menguntungkan
Aktivitas dakwah merupakan bagian dari aktivitas menolong DinuLlah, dan merupakan realisasi dari perintah agung Allah dan Rasul-Nya, Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ {٧}
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allâh, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Pesan agung dalam ayat ini, diawali dengan seruan (khithâb) kepada orang-orang yang beriman, al-mu’minûn wa al-mu’minât. Allâh SWT menggunakan bentuk ungkapan syarat dan jawabnya (al-jumlah al-syarthiyyah), dengan perangkat (adat al-syarth) yakni in (إِنْ): jika kalian menolong Allâh (إن تنصروا الله), menunjukkan bahwa turunnya pertolongan Allâh, terikat dengan syarat keimanan yang dibuktikan dengan menolong Din-Nya. Istimewanya dalam ayat ini Allâh menisbatkan pertolongan hamba-hamba-Nya kepada-Nya, padahal Allâh SWT Maha Kuasa atas segala perkara, tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya.

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ {٦}
“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allâh benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.” (QS. Al-’Ankabût [29]: 6)

Menurut Abu Ja’far al-Nahhas al-Nahwi (w. 338 H) dan al-Qadhi Badruddin Ibn Jama’ah al-Syafi’i (w. 733 H), bentuk ungkapan tersebut merupakan bentuk kiasan (majâz).[14] Yang disebutkan Allâh, namun maksudnya adalah dînuLlâh (agama Allâh). Perinciannya, yakni dengan menghilangkan bentuk idhâfah dari kata Allâh[15]: yakni menghilangkan kata dîn di depan lafal jalâlah (Allâh), karena makna sebenarnya adalah menolong Rasul-Nya, Dîn-Nya[16], syari’at-Nya, dan kelompok pembela Dîn-Nya (hizbuLlâh)[17], dalam ilmu al-ma’âni diistilahkan al-îjâz bi al-hadzf (bentuk meringkas perkataan dengan menghilangkan bagian), berfaidah lebih menguatkan makna yang dikehendaki daripada penyebutannya secara lengkap,[18] menunjukkan agungnya kedudukan aktivitas menolong DinuLlah.
Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) ketika menguraikan bentuk jihad, menggolongkan dakwah dengan hujjah bagian dari seutama-utamanya jihad:
”Sesungguhnya Rasulullah menuntut ilmu bagian dari amal perbuatan di jalan Allah, karena dengan ilmu tegak fondasi-fondasi Islam, sebagaimana Islam pun tegak dengan jihad, maka Din ini tegak dengan ilmu dan jihad, dan oleh karena itu jihad ada dua macam:
Pertama, Jihad dengan tangan dan tombak (senjata) (al-jihâd bi al-yadd wa al-sanân), ini yang diikuti oleh banyak orang (yakni pada umumnya manusia, mencakup orang awam dan ahli ilmu).
Kedua, Jihad dengan hujjah (argumentasi syar'i) dan penjelasan (al-jihâd bi al-hujjah wa al-bayân), ini merupakan jihad orang pilihan yang meniti jalan Rasulullah , ini adalah jihadnya para pemimpin umat (al-Imam), dan seutama-utamanya jihad, karena besar manfaatnya, banyak persiapan bekalnya dan banyak musuhnya.” (Miftâh Dâr al-Sa'âdah, I/70)
Diperjelas motivasi perniagaan dengan Allah yang akan menyelamatkan dari siksa jahannam dan takkan pernah merugi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ {١٠} تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ {١١}
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Shaff [61]: 10)

Dalam ayat yang agung ini, Allah SWT mengumpamakan (tasybîh) perbuatan mereka yang berkorban di jalan Allah, sebagai perniagaan yang menyelamatkan dari azab yang amat pedih {تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}. Harta benda dunia akan binasa sebagaimana kehidupan dunia yang fana, sedangkan akhirat adalah kehidupan hakiki selama-lamanya, maka berbekal dengan berjuang di jalan Allah sudah seharusnya ditunaikan oleh para da’i, yang kelak disemai di akhirat yang abadi nan hakiki, dari Anas bin Malik r.a., bahwa Rasulullah bersabda:

«لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْش الآخِرَةِ»
“Tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)


[1] Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur, Tafsîr al-Tanwîr wa al-Tahrîr, juz IV, hlm. 38.
[2] ‘Abdurrahman bin Hasan al-Dimasyqi, Al-Balâghah al-‘Arabiyyah, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 1416 H/1996, juz I, hlm. 229.
[3] Abu Ja’far al-Nahhas Ahmad bin Muhammad al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, Ed: ‘Abdul Mun’im Khalil, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1421 H, juz I, hlm. 174.
[4] Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz III, hlm. 122.
[5] Huruf wâw pada kata takûnu dihapus (majzûm) karena diawali oleh kata depan lâm al-amr; Bahjat Abdul Wahid al-Syaikhali, Balâghat al-Qur’ân al-Karîm fî al-I’jâz: I’râban wa Tafsîran Bi I’jâz, Amman: Maktabah Dandis, cet. I, 1422 H, jilid II, hlm. 139. Lihat pula: Mahmud Shafi, Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, Damaskus: Dâr al-Rasyîd, cet. III, 1416 H, juz. IV, hlm. 265, dengan I’rab:
الإعراب: (الواو) عاطفة -أو استئنافية- (اللام) لام الأمر (تكن) مضارع ناقص مجزوم -أو تام-
[6] Amir Hizbut Tahrir, Ulama ahli ushul fikih.
[7] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasythah, Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl: Dirâsât fî Ushûl al-Fiqh, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. III, 1421 H, hlm. 182; Prof. Dr. ‘Iyadh bin Sami al-Salmi, Ushûl al-Fiqh Alladzî Lâ Yasa’u al-Faqîh Jahluhu, Riyadh: Dâr al-Tadmuriyyah, cet. VI, 1433 H, hlm. 220.
[8] ‘Atha bin Khalil Abu Al-Rasythah, Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl: Dirâsât fî Ushûl al-Fiqh, hlm. 22-23.
[9] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, Sabkat al-Alûkah, cet. I, 1431 H/2010, juz I, hlm. 505.
[10] Ahmad bin Faris al-Qazwaini al-Razi, Mu’jam Maqâyîs al-Lughah, Ed: ‘Abdussalam Muhammad Harun, Beirut: Dâr al-Fikr, 1399 H/1979, juz I, hlm. 28.
[11] Al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, juz. I, hlm. 86.
[12] Syihabuddin al-Alusi, h al-Ma’âni fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz II, hlm. 237; Abu Ja’far al-Nahhas Ahmad bin Muhammad al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, juz I, hlm. 174.
[13] Sebagaimana disebutkan doktor balaghah dari Al-Azhar Kairo, Dr. Hesham el-Shanshouri al-Mishri dalam diskusi empat mata selepas shalat isya’ pada bulan September 2015. Lihat pula: Abu Muhammad Jamaluddin bin Hisyam, Mughnî al-Labîb ‘an Kutub al-A’ârîb, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. VI, 1985, hlm. 560.
[14] Yakni dalam tinjauan ilmu balaghah: ‘ilm al-bayân. Lihat: Abu Ja’far al-Nahhas al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, juz IV, hlm. 119; Badruddin Ibn Jama’ah, Îdhâh al-Dalîl fî Qath’i Hujjaj Ahl al-Ta’thîl, Mesir: Dâr al-Salâm, cet. I, 1410 H, hlm. 117.
[15] Abu al-Fath ‘Utsman bin Jinni al-Maushuli, Al-Muhtasib fî Tabyîn Wujûh Sawâdz al-Qirâ’ât wa al-Îdhâh ‘anhâ, Wizârat al-Awqâf, 1420 H/1999, juz I, hlm. 188.
[16] Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz IX, hlm. 31.
[17] Fakhruddin al-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, juz VIII, hlm. 42.
[18] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 51.