02 Agustus 2017

[Bag. III] Jawaban atas Berbagai Syubhat Fatwa Tak Wajibnya Mengorganisasi Dakwah


الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Pembentukan kelompok dakwah terorganisir merupakan perkara fardhu kifayah, wajib ada di antara umat ini, tidak bisa dihukumi sebatas mubah! Perincian bantahan:

Pertama,
Jawaban atas Tuduhan Menyoal Penukilan, Meluruskan Pemahaman

Membaca komentar-komentar mereka yang memfatwakan tidak wajibnya mengorganisasi dakwah (link diskusi), ana menyimpulkan mereka terlihat seperti orang yang tidak memahami alur penjelasan artikel yang telah saya jelaskan di sini (artikel I, artikel II), berkali-kali mempertanyakan seperti orang yang tak membaca keseluruhan, atau membaca tapi tergesa-gesa untuk melahirkan asumsi baru terkait penukilan, terbukti dengan kesalahan memahami alur penukilan, sama seperti gegabahnya memfatwakan mudahnya dakwah tak wajib diorganisasi, padahal ini masalah hukum syara', yang tak sepele, menyangkut kehidupan umat, dalam protek nahdhah al-ummah al-islamiyyah.

Di sisi lain, menyoal penukilan ini duduk persoalannya jelas bagi mereka yang menela’ah dengan teliti penukilan-penukilan pendapat para ulama ini, sudah secara mendetail saya letakkan pada subbahasan-subbahasan terperinci yang sesuai dengan porsinya, tidak ada yang ditambah-tambahkan atau dikurangi.

Pertanyaan mendasarnya, mengapa begitu getol mempersoalkan penukilan yang juga salah dipahami, pada saat yang sama mengabaikan istidlal utama yang telah saya jelaskan dalam artikel? Ini penilaian yang tidak adil untuk menjatuhkan argumentasi lawan diskusi. Mereka lebih layak fokus membantah istidlal utama, yang bisa ditemukan dengan mudah dalam dua artikel penjelasan saya di atas, jika dibaca secara mendetail dan tak tergesa-gesa membantah, padahal belum memahami inti persoalan (argumentasi lawan diskusi). Mengabaikan istidlal yang paling utama, dan beralih pada persoalan cabang bukan cara yang mapan untuk membantah argumentasi lawan diskusi, Allah al-Musta'an.

Kedua, Jawaban atas Syubhat Menyoal Ulama Ahli Syari’ah & Posisi Para Ulama

Para ulama ahli syari’ah yang mendasari penjelasan saya, saya sebutkan di awal artikel itu benar adanya, khususnya al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani dan al-’Allamah Abdul Qadim Zallum, keduanya jelas pakar dalam ilmu syari'ah, diakui oleh para ulama sejawat, dan murid-muridnya, jika ada yang memperdebatkan soal kedudukan mereka dalam keilmuan, sama sekali tak berfaidah dan menunjukkan rendahnya pemahaman atau buruknya adab terhadap ilmu dan ahlinya.

Bahkan jika seandainya saya membantah fatwa mereka (yakni Sdr. Aang dan Bintubni Akram yang memfatwakan tidak wajibnya dakwah diorganisasi, mubah saja), yakni dengan istidlal-nya kedua ulama ini pun, ini sudah sangat mapan, mengingat penjelasan keduanya jelas kokoh, terutama perincian Syaikh Abdul Qadim Zallum, lalu mengapa saya menukil penjelasan para ulama dalam subbab-subbab terperinci? Ini saya nukilkan sebagai dasar pembahasan adanya ”kelompok dakwah”, pada posisi ini lah saya banyak menukil pendapat mereka, terlepas dari perincian tafshil menyoal kelompok ini, mengingat para ulama berfatwa terkadang sesuai dengan kondisi orang yang bertanya (ini pembahasan lanjutan yang sama sekali tidak membuktikan dakwah tak perlu diorganisir), yang kemudian digambarkan para ulama ini dalam bentuk kelompok ulama, kelompok ahli hadits, dsb., namun tidak ada dari mereka yang ditanya soal wajib tidaknya mengorganisasi dakwah, lalu dengan gegabah memfatwakan ”dakwah tak wajib diorganisasi, tak harus diatur, mubah-mubah saja, itu soal sarana.” Padahal ini perkara pembahasan lanjut yang wajib digali secara matang.

Adapun sikap semata-mata mendasarkan pembahasan pada kata ummah dalam ayat, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek mafhum-nya terkait harus tidaknya dakwah diorganisir secara rapih, dan hukum keberadaan pemimpin dakwah, disandingkan dengan realitas dakwah di tengah-tengah kehidupan saat ini, maka inilah yang mendasari penilaian ”fatwa gegabah”. Ingat kita tidak sedang mengkaji tafsir satu kata, tapi menurunkan hukum dari satu ayat al-Qur'an, yang tak bisa mengabaikan banyak aspek terkait istinbath! Bukan tafsir kata ummah, tapi istinbath hukum menegakkan kelompok dakwah terorganisir di masa kini!

Ketiga, Benarkah Pendapat Al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani & Al-’Allamah Abdul Qadim Zallum Bertentangan dengan Pendapat Imam al-Dhahhak?

Ini adalah asumsi sepihak yang jelas tak bisa dibenarkan, jika mereka sering menelusuri bahasa para ulama ketika berfatwa, menafsirkan suatu ayat, istilah dan lain sebagainya, niscaya mereka takkan dengan mudah membenturkan penjelasan para ulama ini, dimana ilmu mereka jelas bersanad. Justru seharusnya dipahami saling menguatkan, dan itu terbukti.

Saya beri contoh ketika para ulama menafsirkan kata al-zûr, dalam ayat ini:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan al-zûr, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqân [25]: 72)

Mereka menjelaskan dengan beragam istilah, yang saling menguatkan dan tidak bertolak belakang, dan tak boleh lantas dibentur-benturkan:

Imam Abu Muhammad al-Tustari (w. 283 H) menafsirkan kata (الزُّورَ) yakni majelis-majelis ahli bid’ah.[1] Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) pun menegaskan bahwa ia bermakna kesyirikan dan penyembahan terhadap berhala, dikatakan pula yakni kedustaan dan kefasikan. Dan makna al-laghw adalah kebatilan.[2] Atau segala sesuatu yang batil dan tidak mengandung faidah.[3]

Keragaman istilah yang digunakan para ulama untuk memaknai al-zûr sebenarnya satu makna, hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) yang mengatakan:

وقول هؤلاء التابعين: إنه أعياد الكفار " ليس مخالفا لقول بعضهم: " إنه الشرك "، أو صنم كان في الجاهلية، ولقول بعضهم: إنه مجالس الخنا، وقول بعضهم: إنه الغناء؛ لأن عادة السلف في تفسيرهم هكذا: يذكر الرجل نوعا من أنواع المسمى لحاجة المستمع إليه، أو لينبه به على الجنس
”Dan perkataan para ulama tabi’in: ”sesungguhnya ia adalah perayaan orang-orang kafir” tidak bertentangan dengan perkataan sebagian mereka ”sesungguhnya ia adalah kesyirikan” atau berhala di masa jahiliyyah, dan perkataan mereka ”sesungguhnya ia adalah majelis-majelis keji”, dan perkataan sebagian mereka ”sesungguhnya ia adalah nyanyian”; karena kebiasaan al-salaf dalam penafsiran mereka memang seperti itu: yakni seseorang menyebutkan suatu jenis dengan beragam jenis penamaan sesuai dengan kebutuhan orang yang menyimak perkataannya, atau sebagai bentuk peringatan atas perkara tersebut.”[4]

Jadi ada kondisi ketika para ulama berpendapat, sesuai dengan kondisi orang yang bertanya, atau apa yang mereka saksikan ketika itu. Jadi JANGAN GEGABAH membenturkan pendapat para ulama, untuk menjustifikasi sesuatu yang tidak ada dasarnya dari pendapat para ulama, menyoal tidak wajibnya dakwah diorganisasi! Mereka semua tidak berselisih paham dalam hal keberadaan kelompok dakwah. Terlebih dasar pemahaman yang jelas argumentatif, dikembalikan kepada contoh Rasulullah SAW dan para sahabat pada periode Mekkah, untuk sampai pada kesimpulan perlu tidaknya, atau wajib tidaknya keberadaan kelompok dakwah terorganisir? Yang lantas dihukumi para ulama sebagai fardhu kifayah, bukan mubah-mubah saja.

Keempat, Terorganisirnya Dakwah Rasulullah SAW & Para Sahabat R.A

Di sisi lain, jelas dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat r.a. pun dinamakan oleh para ulama semisal al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani dalam kutubnya, dengan istilah kutlah, hal itu tergambar jelas dengan memperhatikan aspek esensi dari suatu kelompok terorganisir, ini karena musamma (esensi) lebih penting daripada ism, realitasnya yakni:

Pertama, Adanya kepemimpinan dakwah beliau saw, hingga dakwah terorganisir cukup mapan! Rasulullah SAW sebagai pemimpin dakwah pun jelas, mengatur aktivitas dakwah para sahabat, ada perintah dan larangan terkait aktivitas dakwah sebagai suatu kelompok, misalnya larangan beliau SAW mengangkat senjata menghadapi gempuran fisik Kafir Quraisyi. Disamping adanya perintah dan larangan, serta penugasan dakwah semisal penugasan dakwah ke Yastrib, dan pengaturan mencari keamanan, misalnya ketika sebagian kaum Muslim hijrah ke Habasyah, itu semua menunjukkan kepemimpinan dakwah beliau SAW!

Kedua, Adanya pembinaan bagi para sahabat, dimana mereka lalu menjadi para da'i yang juga berdakwah di sisi Rasulullah SAW, ditugaskan berdakwah dan lain sebagainya. Inilah esensi kelompok dakwah sebagai kelompok yang memiliki ilmu.

Ketiga, Adanya ikatan di antara para anggota, diwujudkan dalam bentuk ikatan akidah Islam.

Dan lain sebagainya, bagaimana mungkin dakwah beliau SAW dikatakan tak diorganisir?! Silahkan baca sirah, jika masih tak diakui, ini gegabah, dan menuduh beliau SAW tak mengorganisir dakwahnya, bisa termasuk berdusta mengatasnamakan beliau SAW yang dihukumi haram.

Kelima, Penegasan Dasar Argumentasi Adanya Perincian Pembedaan Antara Kelompok Dakwah & Individu yang Berdakwah

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badr menjelaskan bahwa ayat ini (QS. Ali Imran 104) merupakan perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla agar mengadakan kelompok-kelompok yang menegakkan dakwah kepada al-khair, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran, dan ia termasuk fardhu kifâyah, dan bagi setiap individu muslim wajib (pula) menegakkan dakwah kepada al-khair, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran sesuai dengan kemampuan dan potensinya.

Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili (w. 1436 H) pun menjelaskan:

جماعة تربطهم رابطة معينة تجمعهم
“Kelompok yang terikat suatu ikatan yang menyatukan mereka.”

Dimana beliau menafsirkannya dengan mengaitkan dengan QS. Ali Imran 103, yakni mereka yg berpegang teguh pada tali DinuLlah. Alasan di atas pun terang benderang terjawab dalam pernyataan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili MEMBEDAKAN WILAYAH KELOMPOK & INDIVIDU,

يأمر الله تعالى الأمة الإسلامية بأن يكون منها جماعة متخصصة بالدعوة إلى الخير والأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر، وأولئك الكمّل هم المفلحون في الدّنيا والآخرة. وتخصص هذه الفئة بما ذكر لا يمنع كون الأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر واجبا على كلّ فرد من أفراد الأمّة بحسبه
"Allah SWT memerintahkan umat Islam, agar ada di antara umat ini jama’ah/kelompok khusus (jamâ’ah mutakhashshishah) yang menegakkan dakwah kepada al-khair, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang mungkar. Mereka adalah golongan yang beruntung di dunia dan akhirat. Namun pengkhususan adanya kelompok ini berdasarkan apa yang telah dijelaskan, tidak menghalangi adanya kewajiban menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar atas setiap individu dari individu-individu umat ini sesuai kemampuannya." (Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, juz. IV, hlm. 33)

Beliau lalu menukil dalil hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan qalbu dan hal itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban)

Prof Wahbah pun jelas aktif di banyak lembaga ke-Islaman, ini sudah cukup dinilai sebagai bentuk aplikasi beliau untuk berdakwah, menyebarkan ilmu islamnya, yang bisa dinilai pula sebagai kelompok yang berdakwah, terorganisir.

Jadi jelas, ini berbicara soal kelompok dakwah, yang ditafsirkan kemudian oleh para ulama: kelompok ulama (jama’at al-’ulama), kelompok yang memiliki ikatan (bi al-rabithah), kelompok istimewa (mutamayyizah), kelompok terorganisir (mutakattilah).

Artinya, ini sesuai dengan penjelasan, adanya pendalilan dasar keberadaan kelompok dakwah khusus, terorganisir, apa yang salah dengan kesimpulan ini?! Terlebih dengan menilik pendalilan al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani, terutama al-’Allamah Abdul Qadim Zallum yang secara rinci menegaskan hujjah argumentatif, syar’i, menyoal fardhu kifayahnya menegakkan kelompok dakwah terorganisir! Ini semakin memperjelas duduk persoalan ”hukum mendirikan kelompok dakwah terorganisir”, menurut sudut pandang ulama, bukan orang awam.

Keenam, Dalil Utama yang Tak Kunjung Dibantah Secara Mapan & Menyoal Asumsi Mewajibkan Suatu Perkara

Ya benar sekali, ini bagian dari perkara besar, bahwa mewajibkan suatu perkara adalah perkara besar, begitu pula gegabah memubahkan sesuatu yang wajib pun juga perkara besar! Padahal penjelasan mengenai kewajiban tersebut pun oleh ahli ilmu, al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani, al-'Allamah Abdul Qadim Zallum, Syaikhul Ushul Atha bin Khalil. Di antara kaidah pendalilannya JELAS mapan dan syar’i sebagai berikut:

Dengan pendekatan mafhum, jelas dipahami bahwa setiap jama’ah harus mempunyai seorang pemimpin (amir) yang wajib dita’ati, sehingga dikatakan solid karena terikat pada ikatan Islam, terbina dengan Islam dan terpimpin serta terarah, hal itu diperjelas dengan menilik keteladanan Rasulullah SAW yang berkedudukan sebagai pemimpin gerakan dakwah, yang memimpin dan membina para sahabatnya –radhiyaLlahu ’anhum- di masa itu. Mereka yang mengatakan dakwah tak wajib diorganisir, seakan-akan menafikan gambaran sirah yang sangat gamblang menyoal keteladanan Rasulullah SAW, ketika beliau memimpin gerakan dakwahnya, adanya kepemimpinan yang dita’ati ini sudah cukup wajibnya mengorganisir dakwah secara mapan, dimana beliau SAW menjadi rujukan bertanya yang mengarahkan sikap para sahabatnya menyikapi berbagai tantangan dakwah di masa itu, khususnya pada periode dakwah di Mekkah.
Di sisi lain, hal itu sesuai dengan mafhum dari perintah syara’ yang mewajibkan setiap jama’ah, yang terdiri dari tiga orang atau lebih untuk memiliki seorang amir. Rasulullah SAW bersabda:

«وَلاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلاَةٍ إِلاَّ أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ»
“Tidak halal bagi tiga orang yang berjalan di muka Bumi, kecuali mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpinnya.” (HR. Ahmad, al-Thabrani)[5]

Hadits ini, banyak dinukil para ulama sebagai salah satu dalil wajibnya adanya al-Imâm atau al-Khalîfah, qadhi, dsb, semisal kitab Nail al-Authar yang menukilnya dalam satu bab khusus (بَابُ وُجُوبِ نَصْبِ وِلَايَةِ الْقَضَاءِ وَالْإِمَارَةِ وَغَيْرِهِمَا)[6], hal itu karena keumuman khabar dan lafal dalam hadits ini.[7]

Sehingga tidak mengherankan jika hadits ini pun dinukil oleh al-’Allamah Abdul Qadim Zallum, untuk menegaskan kewajiban adanya pemimpin dalam dakwah.[8] Kalimat lâ yahillu, menunjukkan larangan keras (qarînah jâzimah), menunjukkan keharaman atas ketiadaan amîr (pemimpin).

Jika dalam persoalan safar saja wajib ditunjuk salah seorang pemimpin (amîr al-safar), maka perkara dakwah yang lebih kompleks persoalannya, lebih utama (awlâ) membutuhkan adanya kepemimpinan, poin ini jelas sangat relevan dalam kajian hukum Islam.

Hal itu karena dakwah merupakan perkara serius, harus ditegakkan benar-benar sistematis terencana, dimana hal itu tak mungkin bisa diwujudkan kecuali dengan adanya pemimpin dakwah, yang memimpin aktivitas kelompok dakwah, yang mengarahkan setiap aktivitas mereka senantiasa di atas rel Islam. Jika kefardhuan dakwah yang menjadi aktivitas kelompok dakwah, tak bisa ditegakkan sempurna kecuali dengan adanya pemimpin (amîr al-da’wah), maka pemimpin tersebut menjadi wajib adanya, sebagaimana disebutkan dalam kaidah syar’iyyah:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Apa-apa yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.[9]

          Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra (w. 458 H) ketika menjelaskan kaidah ini menuturkan, bahwa jika Allah sudah memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan suatu perbuatan dan Allah mewajibkannya, di sisi lain apa yang diperintahkan tersebut takkan tercapai sempurna kecuali dengan hal lainnya; maka hal tersebut menjadi wajib adanya.[10] Hal ini sebagaimana diungkapkan Imam al-Qarafi (w. 684 H) yang berkata:

وُجُوْبُ الوَسَائِل تبِع لِوُجُوْبِ المَقَاصِد
Wajibnya sarana-sarana mengikuti wajibnya tujuan-tujuan.”[11]

Sebagaimana hal ini pun ditunjukkan secara terang benderang dalam sirah, manakala Rasulullah SAW dan para sahabatnya berdakwah secara berjama’ah dan terorganisir. Di sisi lain, proyek membangkitkan umat merupakan proyek besar yang membutuhkan kecakapan, kesabaran dan pengorbanan, dan hal itu tidak bisa tidak kecuali dilakukan secara berjama’ah (kolektif) dan bahu membahu terorganisir, dimana dalam banyak ayat al-Qur’an pun menyifati orang-orang beriman sebagai kaum yang saling memberi taushiyyah (kata tawashau dengan wazan tafa’ala, artinya interaksi dua sisi, saling menasihati) dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3), dan juga saling menolong, salah satunya dalam perkara yang Allah fardhukan yakni berdakwah:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {٧١}
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Taubah [9]: 71)

Maka terang benderang, penjelasan para ulama yang saling menguatkan di atas, menjadi satu kesatuan yang menunjukkan wajibnya menata gerakan dakwah, terorganisir secara mapan dan di-manage tidak asal-asalan. 

Poin di atas sama sekali tidak dibantah oleh Sdr. Aang dan Bintubni Akram, dan tidak diuraikan kemudian oleh para ulama terdahulu pun tak menjadi bukti hukum fardhu ini TAK ADA, terutama ketika mereka tidak lantas ditanya dengan persoalan senada, coba pahami istidlal menyoal wajibnya membangun industri militer yang diwajibkan para ulama dengan dalil mafhum, yakni dilalah iltizam dari dalil kewajiban i'dad jihad, dengan kaidah maa la yatimmu al-wajib yang juga dinukil di atas.

Perkara ini jelas sekali berdasar dan ilmiah, jelas sandaran keilmuannya khususnya bagi mereka yang memahami ilmu ushul fikih. Misalnya dahulu i’dad jihad, hanya dengan kuda, baju besi, pedang dsb, apakah ketika dahulu tidak menggunakan senapan mesin, tak ada industri militer yang canggih nan mapan, lalu ditegaskan kewajibannya oleh para ulama di masa kemudian, dengan penggalian dalil terperinci menghukumi fakta, bisa dengan mudahnya distempel logika FATALISTIK: ”ITU TIDAK WAJIB, KARENA DAHULU RASULULLAH SAW & PARA ULAMA TIDAK MENCONTOHKANNYA”. Ini alasan yang fatalistik, tidak bisa dibenarkan, dan menyalahi konvensi keilmuan. Mari kita rujuk dan pikir ulang, persoalan mengorganisir dakwah jelas terkait proyek kebangkitan umat, sisi yang tak bisa disepelekan sebagai kenyataan di medan dakwah saat ini, yang tak bisa dihadapi sendiri-sendiri, serampangan dan asal-asalan tak terorganisir, tak terarah, di sisi lain, asumsi tersebut adalah asumsi yang gegabah, mengingat Rasulullah SAW jelas mengorganisir dakwahnya bersama para sahabatnya r.a. []

اللهم اغفرلنا ذنوبنا
نَسْأَلُ اللهَ تَعَالى أَنْ يَجْعَلَ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا عِنْدَ انْتِهَاءِ أجَلِنَا:
«أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن مُحَمدًا رسُول الله»
والحمد لله رب العالمين





[1] Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah al-Tustariy, Tafsîr al-Tustariy, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1423 H, hlm. 114.
[2] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, juz VI, hlm. 130.
[3] Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz IV, hlm. 35.
[4] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqiim, juz I, hlm. 479.
[5] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6647), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Shahih li ghairihi kecuali hadits al-imârat maka derajatnya hasan.”; HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabîr (no. 14723).
[6] Muhammad bin Ali al-Syaukani, Nail al-Authâr, Mesir: Dâr al-Hadîts, cet. I, 1413 H/1993, juz VIII, hlm. 294.
[7] Hal ini sebagaimana mafhum yang dibangun oleh Imam Ibn al-Arabi ketika memahami keumuman dalil larangan berbisik-bisik di antara dua orang tanpa orang ketiga di sisi mereka (ولا يحل لثلاثة نفر، يكونون بأرض فلان أن يتناجى اثنان، دون صاحبهما), dimana Ibn al-Arabi menjelaskan bahwa hadits ini, khabarnya umum, makna dan lafalnya, dan alasannya karena bisa menimbulkan kesedihan (pada orang yang tidak diajak bicara-pen.), dimana hal tersebut bisa terjadi baik dalam safar maupun ketika diam di suatu tempat, maka larangan tersebut harus mencakup kedua kondisi tersebut. (Prof. Dr. Musa Syahin Lasyin, Fath al-Mun’im Syarh Shahîh Muslim, Dâr al-Syurûq, cet. I, 1423 H/2002, juz VIII, hlm. 531)
[8] Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyyah, hlm. 56.
[9] Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra, Al-‘Iddat fî Ushûl al-Fiqh, Ed: Dr. Ahmad bin ‘Ali, Cet. II, Tahun 1410 H, juz. II, hlm. 419; Sulaiman bin ‘Abdul Qawi Najmud Din, Syarh Mukhtashar al-Raudhah, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1407 H, juz I, hlm. 314; Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1411 H, juz. II, hlm. 88.
[10] Ibid.
[11] Abu al-‘Abbas Syihabuddin Ahmad al-Qarafi, Al-Furûq: Anwâr al-Burûq fî Anwâ’i al-Furûq, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H/1998, juz I, hlm. 302.

01 Agustus 2017

[Bag. II] Hujjah Fardhu Kifayahnya Mendirikan Gerakan Dakwah Terorganisir

Hasil gambar untuk ‫ولتكن منكم أمة‬‎

Koreksi atas Fatwa "Mubah" & Perincian Pembahasan Menurut Para Ulama Ahli Syari’ah

Penyusun:
Al-Faqir ilaLlâh Ta’âlâ Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

Disarikan dari kajian, Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah, (Bab Tafsir & Balaghah QS. Ali Imran [3]: 104) 
II.      Dalil-Dalil Wajibnya Mengadakan Kelompok Dakwah Terorganisir (Jamâ’ah Dâ’iyyah Mutakattilah)

a.    Makna Bahasa Kata Ummah

Kata (أُمَّةٌ) dalam ayat ini berkonotasi jama’ah atau kelompok, hal ini ditegaskan oleh para ulama. Meskipun dalam perinciannya, jika ditelusuri kata ummah dalam bahasa arab, termasuk satu kata yang mengandung lebih dari satu makna (lafzh musytarak)[1] yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna[2]. Lafal musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) yakni: 

ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه
“Lafal yang mengandung lebih dari satu makna dan maksudnya tidak bisa ditentukan kecuali berdasarkan suatu petunjuk (indikasi) lain.”[3]

Lalu apa makna umat sebagai lafal musytarak? Ketika menjelaskan kata ummah dalam QS. Âli Imrân [3]: 104 ini, Dr. Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi menuturkan:
كلمة (أمة): الجماعة/ الملة أو الدين/ الفترة الزمنية/ الرجل الجامع لصفات الخير
“Kata (ummah) bermakna jama’ah, millah atau din, jangka waktu tertentu, atau seseorang yang terkumpul padanya sifat-sifat kebaikan.”[4]

            Para ulama pun merinci makna kata ummat, di antaranya Imam Ibn Haim dalam kitab Al-Tibyân fî Tafsîr Gharîb al-Qur’ân[5], Imam al-Alusi dalam Rûh al-Ma’âni[6] dan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasythah dalam kitab Al-Taysîr.[7] Syaikh ‘Atha bin Khalil ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 134 menuturkan bahwa kata (أمة) adalah lafal musytarak dengan perincian pemisalan dan maknanya, dan kata ummah dalam ayat ini.
Adapun kata umat dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil menegaskan bahwa ia bermakna jama’ah (kelompok),[8] pemaknaan ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H)[9], Imam Ibn Mundzir (w. 318 H)[10], Imam al-Anbari (w. 328 H)[11], Imam Abu al-Mundzir al-’Autabi (w. 511 H)[12], Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 511 H), Imam Syamsuddin Ahmad al-Khathib al-Syarbini (w. 977 H)[13], Imam Syihabuddin al-Alusi (w. 1270 H)[14], al-‘Allamah Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur (w. 1393 H)[15] dan para ulama lainnya.

b.    Kefardhuan Mengadakan Kelompok Dakwah

Ayat yang agung ini jelas merupakan pesan agung dari Allah ’Azza wa Jalla untuk membentuk kelompok dakwah. Dalam persepektif ilmu balaghah (’ilm al-ma’âni), kata ummat[un] dalam ayat yang agung ini, mengandung bentuk ringkasan dari makna yang dikehendaki yakni ummat[un] dâ’iyyat[un] (jama’ah yang berdakwah), diistilahkan al-îjâz bi al-hadzf (bentuk peringkasan kalimat),[16] yang berfaidah lebih menguatkan makna yang dikehendaki daripada penyebutannya secara lengkap.[17] Dalam ayat ini terdapat dua bentuk îjâz hadzf.
Salah satunya pada kalimat (ولتكن منكم أمة), karena maksudnya adalah (ولتكن منكم أمة داعية)[18], bahwa yang dikehendaki dari kata umat dalam ayat ini adalah (أمة داعية), yakni ummat yang berdakwah, sebagaimana diistilahkan Imam Abu al-Su’ud (w. 982 H) dalam tafsirnya[19]. Atau dalam istilah Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) yakni ummat[un] du’ât[un] (أمة دعاة).[20]
Dalam perinciannya, para ulama menegaskan kewajiban membangun kelompok dakwah, bertolak dari pemahaman bahwa kata min dalam ayat ini, termasuk jenis min li al-tab’îdh (للتبعيض) yakni lafal min yang menunjukkan arti sebagian, diperjelas karakter kelompok dakwah yang dikehendaki ayat ini: menyeru kepada al-khair, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.
Frasa minkum menunjukkan konotasi “sebagian dari kalian”, yakni orang beriman yang berpegang teguh kepada tali agama Allah. Ini merupakan pendapat Ibn ‘Athiyyah dan Al-Dhahhak[21], Imam Abu Bakr al-Jashshash (w. 370 H)[22], Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H)[23], Al-Hafizh Syamsuddin al-Qurthubi (w. 671 H), al-Qadhi al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H), al-’Allamah Abdul Qadim Zallum (w. 1424 H)[24], Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil[25], dan Syaikh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi[26], Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili[27] serta para ulama lainnya.
Konsekuensinya, mereka menafsirkan ayat ini bermakna waltakun minkum thâ’ifat[un] (ولتكم منكم طائفة) atau liyakun minkum qaum[un] (ليكن منكم قوم)[28] yang artinya, ”harus ada di antara kalian kelompok atau kaum”, yakni perintah untuk mengadakan kelompok atau jama’ah yang memiliki karakteristik dakwah. Hal ini memperjelas kesimpulan bahwa berdirinya kelompok dakwah merupakan perkara yang disyari’atkan dalam agama ini (masyrû’), diperintahkan oleh Allah Rabb al-’Âlamîn, dicontohkan oleh sebaik-baiknya generasi umat ini, generasi Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Didukung dengan alasan bahwa penegakkan kewajiban dakwah, tak sekedar kewajiban, melainkan kewajiban yang melekat padanya berbagai tuntutan dan persyaratan. Seorang muslim harus menjadi orang yang memahami perintah dan larangan, mendalami banyak hal dari ilmu, pengetahuan, hukum-hukum dan berbagai permasalahan, dimana hal tersebut takkan mampu diraih oleh setiap individu muslim, namun mereka yang terpilih di antaranya.[29] Yakni golongan yang membekali dirinya dengan ilmu, dengan ganjaran sebagai golongan yang beruntung. Al-Hafizh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H) menjelaskan:
Kalimat (وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ) wahai orang-orang beriman, (أُمَّةٌ) yakni jama’ah yang menyeru manusia (إِلَى الْخَيْرِ) yakni kepada al-Islam dan aturan-aturan syari’at yang telah disyari’atkan Allah pada hamba-hamba-Nya. Makna (ويأمرون بالمعروف) yakni memerintahkan manusia untuk mengikuti Muhammad SAW dan agamanya yang datang dari Allah. (وينهون عن المنكر) yakni melarang mereka mengkufuri Allah dan mendustakan Muhammad dan apa yang datang darinya (risalahnya) dari Allah.[30]
Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) setelah merinci bahwa lafal (min) dalam frasa minkum adalah min li al-tab’îdh (menunjukkan sebagian), menjelaskan konsekuensi maknanya, bahwa kaum yang berdakwah ini wajib orang yang berilmu dan tidak semua manusia itu adalah ahli ilmu. Dikatakan pula (pendapat kedua) bahwa kata min dalam ayat ini adalah min li bayân al-jins (untuk menjelaskan jenis-pen.) dan maknanya bahwa setiap diri kalian wajib berdakwah.[31]
Namun al-Hafizh al-Qurthubi menguatkan pendapat yang pertama dengan menyatakan bahwa menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran itu hukumnya fardhu kifâyah, ia pun menukil dalil QS. Al-Hajj [22]: 41. Ini pun pendapat Imam Abu Bakr al-Jashshash,[32] Ibn ‘Athiyyah, Al-Dhahhak, sebagaimana dinukil oleh al-‘Allamah Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur.[33]

c.    Hakikat Kelompok Dakwah yang Dituntut dalam Ayat & Dibutuhkan Umat

Hakikat kelompok dakwah yang dituntut dalam ayat dan dibutuhkan umat, jelas dipahami dari banyak petunjuk. Tak cukup menyederhanakan pembahasan dengan bertolak pada definisi kata ummah secara literal, padahal ayat ini pun merinci gambarannya, baik manthûq maupun mafhûm.
Para ulama sendiri, bisa kita simpulkan menyifatinya sebagai kelompok istimewa dan terorganisir (ana nukilkan pada pembahasan ini), hal itu bisa kita simpulkan dari pendapat mereka yang saling menguatkan, dimana mereka menyifatinya sebagai jama’ah yang diikat secara solid oleh suatu ikatan yakni akidah Islam, terbina dengan ilmu (tatsqif) sehingga mampu memahami mana yang ma’ruf dan mungkar, dan beramal jama’i mendakwahkan Dinul Islam, dengan metode dakwah yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, dimana gerakan dakwah ini wajib dipimpin oleh seorang pemimpin dakwah, untuk memimpin dakwah di medan dakwah yang memang tak sederhana, kompleks dengan berbagai permasalahan.
Sehingga tak logis, jika difatwakan tak wajib diorganisir, jika yang dimaksud tak diorganisir adalah tak perlu ada pimpinan, keanggotaan, lalu bagaimana bisa di-manage dan diatur sedemikian rupa secara mapan untuk memenuhi aktivitas dakwah yang begitu kompleks?! Padahal pengaturan dakwah ini menjadi bagian yang melekat sebagai sesuatu yang diperlukan, untuk mencapai keberhasilan dakwah di medan yang memang penuh tantangan, tak diorganisir sama saja dengan tak di-manage secara mapan, jika tak di-manage secara mapan, apakah bisa dakwah dipenuhi asal-asalan?! Pemahaman ini cukup riskan dan bias, uraiannya sebagai berikut:

Pertama, Kelompok Dakwah Diikat Suatu Ikatan (Akidah Islam)
Suatu jama’ah dikatakan jama’ah, ketika ia memang diikat oleh sesuatu. Imam Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad atau yang masyhûr dikenal dengan nama al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) mendefinisikan kata ummah:

والأمة: كل جماعة يجمعهم أمر ما إما دين واحد، أو زمان واحد، أو مكان واحد
Ummah: setiap golongan yang disatukan oleh suatu hal apakah dîn, waktu atau tempat yang sama.”[34]

Suatu kelompok tak bisa dikatakan menyatu, jika tak ada perekat dan pengikatnya. Begitu pula menyoal kelompok dakwah. Ketika menafsirkan kata ummat[un], Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili (w. 1436 H) pun menjelaskan:

جماعة تربطهم رابطة معينة تجمعهم
“Kelompok yang terikat suatu ikatan yang menyatukan mereka.”[35]

Al-‘Allamah Abdul Qadim Zallum (w. 1424 H) merinci bahwa para kader kelompok dakwah, wajib diikat oleh suatu ikatan (yakni ikatan yang benar), sehingga mereka mampu bergerak, bersinergi bagaikan satu tubuh. Tanpa adanya ikatan tersebut, takkan terwujud suatu kelompok yang solid, dan mampu menjalankan fungsinya sebagai kelompok dakwah.[36]
Ikatan apa yang dimaksud? Bukan ikatan kepentingan (râbithah maslahiyyah) atau ikatan emosional yang sifatnya temporal, fluktuatif dan tak stabil, namun ikatan yang kokoh, dilandasi oleh prinsip yang mengakar, dan menghujam dalam dada-dada setiap orang beriman, yakni ikatan akidah Islam.
Bukan sembarang ikatan, melainkan ikatan yang ditunjukkan dalam QS. Âli Imrân [3]: 103, dimana kelompok da’i yang dituntut dalam frasa minkum (kalian) pada QS. Âli Imrân [3]: 104, kembali kepada ayat sebelumnya, yakni karakter mereka yang beriman dan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, untuk mendakwahkan Dinul Islam. Ini menunjukkan ikatan akidah dan tsaqafah Islam sebagai pengikat solid para kader dakwah, sekaligus  syarat ke-Islaman sebagai syarat pertama seorang kader kelompok dakwah.
Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili ketika menjelaskan korelasi antara QS. Âli Imrân [4]: 104 dan ayat-ayat sebelumnya, menuturkan bahwa ayat ini menjadi penjelasan atas ayat:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا {١٠٣}
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Âli Imrân [4]: 103)

Bahwa salah satu bentuk sikap berpegang teguh terhadap tali agama Allah, dijelaskan kemudian dalam QS. Âli Imrân [4]: 104. Allah memerintahkan kita berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan konsisten menegakkan Dinul Islam. Kemudian Allah pun menjelaskan tatacara berpegang teguh terhadap al-Qur’an, yakni dengan mendakwahkan al-khair (al-Islam-pen.), menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.[37]
Untuk mewujudkan karakter da’i semacam ini, tentu memerlukan pengorganisasian yang mapan, dalam pengkaderan da’i! Tak bisa disederhanakan dengan difatwakan tak wajib diorganisasikan, lalu akan kemana arah dakwah jika tak diatur dengan rapi? Kejahatan saja terorganisir, bagaimana mungkin dakwah tak wajib diorganisir?
Urgensi pengikat ini pun sangat besar, mengingat aktivitas kelompok dakwah adalah aktivitas kolektif (’amal jamâ’i) yang serius, dan membutuhkan sinergi setiap unsur yang terlibat di dalamnya. Sehingga untuk menunaikan fungsinya, para kader dakwah harus diikat oleh ikatan yang benar dan luhur, yakni akidah dan tsaqafah Islam, bukan selainnya.

Kedua, Kelompok yang Terbina dengan Islam 
Karakter kelompok dakwah ini pun, merupakan kelompok yang diistimewakan dengan ilmu dan pemahaman, serta amal, sehingga sebagian ulama menyifatinya sebagai jama’ah yang berilmu, misalnya dalam penjelasan al-Raghib al-Ashfahani yang mengungkapkan:

وقوله: }ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير{ أي: جماعة يتخيرون العلم والعمل الصالح يكونون أسوة لغيرهم
“Dan firman-Nya (Dan hendaklah ada di antara kalian ummat yang menyeru kepada al-khair) -kata ummat dalam ayat ini- yakni sebuah jama’ah yang memiliki keutamaan ilmu dan amal shalih, dan mereka menjadi teladan bagi orang lainnya.”[38]

Ibn Faris (w. 395 H) pun menjelaskan maknanya adalah kelompok ahli ilmu.[39] Pertanyaannya, apakah membentuk kader seperti ini tak perlu diorganisir?
Adapun alasan pihak yang memfatwakan dakwah tak wajib diorganisir ini:

“Jika ada satu ulama dakwah di Surabaya, satunya lagi dakwah di jakarta, satunya lagi dakwah di Malang dan seterusnya dan mereka semua melakukan amar makruf nahi mungkar seraya tidak diorganisasi. Bukankah para ulama ini tetap bisa disebut ummah secara bahasa telah menjalankan karakter tugas amar makruf nahi mungkar?"

Tanggapan ana: alasan ini lemah, menunjukkan bahwa mereka menyederhanakan pembahasan dengan fokus pada aspek literal kata ummah semata, ini tidak cukup untuk sampai pada pendalilan fardhu tidaknya mengorganisir kelompok dakwah, mengingat para ulama, termasuk Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili (w. 1436 H) ketika menafsirkan kata ummat[un] pun menjelaskan:

جماعة تربطهم رابطة معينة تجمعهم
“Kelompok yang terikat suatu ikatan yang menyatukan mereka.”[40]

Dimana beliau menafsirkannya, dengan mengaitkan ayat ini dengan QS. Ali Imran 103 (bi ’ilm al-munâsabah bayna al-âyât), yakni mereka yg berpegang teguh pada tali DînuLlâh. Alasan di atas pun terang benderang terjawab dalam pernyataan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili yang menguraikan:

يأمر الله تعالى الأمة الإسلامية بأن يكون منها جماعة متخصصة بالدعوة إلى الخير والأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر، وأولئك الكمّل هم المفلحون في الدّنيا والآخرة. وتخصص هذه الفئة بما ذكر لا يمنع كون الأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر واجبا على كلّ فرد من أفراد الأمّة بحسبه
“Allah SWT memerintahkan umat Islam, agar ada di antara umat ini jama’ah (kelompok) khusus (jamâ’ah mutakhashshishah) yang menegakkan dakwah kepada al-khair, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang mungkar. Mereka adalah golongan yang beruntung di dunia dan akhirat. Namun pengkhususan adanya kelompok ini berdasarkan apa yang telah dijelaskan, tidak menghalangi adanya kewajiban menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar atas setiap individu dari individu-individu umat ini sesuai kemampuannya.”[41]


Beliau lalu menukil dalil hadits, dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»
Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan qalbu dan hal itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban)

Ketiga, Keistimewaan Aktivitas Kolektif (’Amal Jama’i) Kelompok Dakwah
Aktivitas jama’ah dakwah dalam ayat ini, jelas aktivitas kolektif. Salah satu murid Imam al-Sibawaih, Imam al-Akhfasy al-Awsath (w. 210 H) menuturkan bahwa kata ummat dalam ayat ini lafal tunggal yang maknanya jamak, oleh karena itu Allah berfirman (يدعون إلى الخير) “mereka yang menyeru kepada al-khair”.[42] Dimana subjek dari kata yad’ûna adalah “mereka” (hum) menunjukkan subjek jamak, berjumlah lebih dari dua. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa aktivitas kelompok dakwah tersebut merupakan ‘amal jamâ’i (kerja kolektif).
Diungkapkan dalam kata kerja yad’ûna (mereka yang menyeru), ya’murûna (mereka yang memerintahkan), yanhauna (mereka yang melarang), seluruhnya diungkapkan dalam bentuk kata kerja al-mudhâri’ (kata kerja sekarang atau yang akan datang), yang berfaidah al-istimrâr (berkesinambungan)[43], menunjukkan keberlangsungan karakter ini, harus senantiasa ada dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, yang mau tidak mau harus benar-benar serius tertata dan ter-manage. Tak dibatasi oleh suatu masa, melainkan senantiasa aktif wajib ditegakkan kapan pun, dimanapun.
Dengan aktivitas seperti apa? Al-’Allamah Abdul Qadim Zallum menjelaskan bahwa ayat ini bermakna agar kaum Muslim mendirikan suatu jama’ah di antara mereka, yang memiliki sifat-sifat sebagai suatu jama’ah dan melaksanakan dua fungsi, yaitu beraktivitas menyeru kepada Islam, serta menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan yang mungkar.[44] Hal itu dipahami berdasarkan pemahaman bahwa kata (أمة) berbentuk nakirah, maka kalimat setelahnya yakni kalimat (يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ) merupakan sifat dari kata (أمة) tersebut[45], sesuai kaidah yang disebutkan para ulama:

الجُمَلُ بَعْدَ النَّكِرَاتِ صِفَاتٌ
“Kalimat-kalimat setelah kata-kata benda nakirah itu sifat-sifatnya.”[46]

Ditambah dengan karakter pada kalimat-kalimat setelahnya (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ) yang menjadi lanjutan bersambung (ma’thûf) dari kalimat (يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ).[47] Antara kalimat-kalimat yang menjadi sifat dari ummat[un] dalam ayat ini pun, disatukan waw al-‘athf yang berfungsi menunjukkan penggabungan dan penyatuan (li muthlaq al-jam’i), tidak terpisah satu sama lain, ia menjadi karakter yang menyatu bagi jama’ah dakwah yang dikehendaki oleh Allah ’Azza wa Jalla untuk meraih predikat golongan yang beruntung. Maka sifat aktivitas dari jama’ah da’iyyah yang beruntung ini yakni:
a.    Jama’ah atau kelompok dari orang-orang yang beriman, berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Sunnah.
b.    Menyeru kepada al-khair (Islam).
c.     Menyuruh kepada yang ma’ruf.
d.    Melarang dari yang mungkar.
Apakah bisa ditunaikan tanpa diorganisir secara mapan?!

Keempat, Dipimpin Oleh Pemimpin Dakwah
Dengan pendekatan mafhum, jelas dipahami bahwa setiap jama’ah harus mempunyai seorang pemimpin (amir) yang wajib dita’ati, sehingga dikatakan solid karena terikat pada ikatan Islam, terbina dengan Islam dan terpimpin serta terarah, hal itu diperjelas dengan menilik keteladanan Rasulullah SAW yang berkedudukan sebagai pemimpin gerakan dakwah, yang memimpin dan membina para sahabatnya –radhiyaLlahu ’anhum- di masa itu. Mereka yang mengatakan dakwah tak wajib diorganisir, seakan-akan menafikan gambaran sirah yang sangat gamblang menyoal keteladanan Rasulullah SAW, ketika beliau memimpin gerakan dakwahnya, adanya kepemimpinan yang dita’ati ini sudah cukup wajibnya mengorganisir dakwah secara mapan, dimana beliau SAW menjadi rujukan bertanya yang mengarahkan sikap para sahabatnya menyikapi berbagai tantangan dakwah di masa itu, khususnya pada periode dakwah di Mekkah.
Di sisi lain, hal itu sesuai dengan mafhum dari perintah syara’ yang mewajibkan setiap jama’ah, yang terdiri dari tiga orang atau lebih untuk memiliki seorang amir. Rasulullah SAW bersabda:

«وَلاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلاَةٍ إِلاَّ أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ»
“Tidak halal bagi tiga orang yang berjalan di muka Bumi, kecuali mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpinnya.” (HR. Ahmad, al-Thabrani)[48]

Hadits ini, banyak dinukil para ulama sebagai salah satu dalil wajibnya adanya al-Imâm atau al-Khalîfah, qadhi, dsb, semisal kitab Nail al-Authar yang menukilnya dalam satu bab khusus (بَابُ وُجُوبِ نَصْبِ وِلَايَةِ الْقَضَاءِ وَالْإِمَارَةِ وَغَيْرِهِمَا)[49], hal itu karena keumuman khabar dan lafal dalam hadits ini.[50]
Sehingga tidak mengherankan jika hadits ini pun dinukil oleh al-’Allamah Abdul Qadim Zallum, untuk menegaskan kewajiban adanya pemimpin dalam dakwah.[51] Kalimat lâ yahillu, menunjukkan larangan keras (qarînah jâzimah), menunjukkan keharaman atas ketiadaan amîr (pemimpin).
Jika dalam persoalan safar saja wajib ditunjuk salah seorang pemimpin (amîr al-safar), maka perkara dakwah yang lebih kompleks persoalannya, lebih utama (awlâ) membutuhkan adanya kepemimpinan, poin ini jelas sangat relevan dalam kajian hukum Islam.
Hal itu karena dakwah merupakan perkara serius, harus ditegakkan benar-benar sistematis terencana, dimana hal itu tak mungkin bisa diwujudkan kecuali dengan adanya pemimpin dakwah, yang memimpin aktivitas kelompok dakwah, yang mengarahkan setiap aktivitas mereka senantiasa di atas rel Islam. Jika kefardhuan dakwah yang menjadi aktivitas kelompok dakwah, tak bisa ditegakkan sempurna kecuali dengan adanya pemimpin (amîr al-da’wah), maka pemimpin tersebut menjadi wajib adanya, sebagaimana disebutkan dalam kaidah syar’iyyah:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Apa-apa yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.[52]

            Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra (w. 458 H) ketika menjelaskan kaidah ini menuturkan, bahwa jika Allah sudah memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan suatu perbuatan dan Allah mewajibkannya, di sisi lain apa yang diperintahkan tersebut takkan tercapai sempurna kecuali dengan hal lainnya; maka hal tersebut menjadi wajib adanya.[53] Hal ini sebagaimana diungkapkan Imam al-Qarafi (w. 684 H) yang berkata:
وُجُوْبُ الوَسَائِل تبِع لِوُجُوْبِ المَقَاصِد
Wajibnya sarana-sarana mengikuti wajibnya tujuan-tujuan.”[54]
Sebagaimana hal ini pun ditunjukkan secara terang benderang dalam sirah, manakala Rasulullah SAW dan para sahabatnya berdakwah secara berjama’ah dan terorganisir. Di sisi lain, proyek membangkitkan umat merupakan proyek besar yang membutuhkan kecakapan, kesabaran dan pengorbanan, dan hal itu tidak bisa tidak kecuali dilakukan secara berjama’ah (kolektif) dan bahu membahu terorganisir, dimana dalam banyak ayat al-Qur’an pun menyifati orang-orang beriman sebagai kaum yang saling memberi taushiyyah (kata tawashau dengan wazan tafa’ala, artinya interaksi dua sisi, saling menasihati) dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3), dan juga saling menolong, salah satunya dalam perkara yang Allah fardhukan yakni berdakwah:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {٧١}
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Al-Taubah [9]: 71)

Maka terang benderang, penjelasan para ulama yang saling menguatkan di atas, menjadi satu kesatuan yang menunjukkan wajibnya menata gerakan dakwah, terorganisir secara mapan dan di-manage tidak asal-asalan. 

Setelah uraian ini, al-faqir berlepas diri dari segala bentuk perkataan yang tidak adil, dan tidak pada tempatnya. Sesungguhnya pelajaran dan peringatan, bermanfaat bagi mereka yang berpikir dan beriman, sebagaimana digambarkan Allah SWT yang berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ {١٨}
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk, dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Zumar [39]: 18)

Allah al-Musta’ân, kepada Allah kita memohon pertolongan dan kembali setiap urusan, semoga Allah SWT membalas setiap amal kebaikan, dan mengampuni setiap kesalahan, menggolongkan kita termasuk mereka yang dianugerahi predikat beruntung (al-muflihûn), dan diberikan pertolongan dan keteguhan dalam Islam (al-thâ’ifah al-manshûrah), dengan konsisten di atas Islam dan mendakwahkannya, Maha Suci Allah yang memberikan ilmu dan pelajaran. []

نَسْأَلُ اللهَ تَعَالى أَنْ يَجْعَلَ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا عِنْدَ انْتِهَاءِ أجَلِنَا:
«أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن مُحَمدًا رسُول الله»
والحمد لله رب العالمين
˜






[1] Abdul Halim Muhammad Qunabis, Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah, Beirut: Maktabah Lubnan, 1987, hlm. 18.
[2] Dalam kitab Mu’jam Lughat al-Fuqâhâ’ dijelaskan bahwa Al-Musytarak itu adalah isim maf’ûl berasal dari kata isytaraka fî al-amr (berserikat dalam suatu hal): yakni menjadi bagian darinya.
[3] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqâhâ’.
[4] Dr. Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, Tafsîr al-Sya’rawi, jilid III, hlm. 1663. Beliau pun merinci lebih jauh makna-makna kata ummah.
[5] Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Imad (Ibn Haim), Al-Tibyân fî Tafsîr Gharîb al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Gharb al-Islâmi, cet. I, 2003, hlm. 93, 96 dan 188.
[6] Syihabuddin al-Alusi, Rûh al-Ma’âni fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz II, hlm. 237
[7] Hal senada dirinci oleh para ulama dalam kamus-kamus arab maupun tafsir mereka.
[8] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasythah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, hlm. 165-166.
[9] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, juz VII, hlm. 90.
[10] Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin Mundzir al-Naisaburi, Kitâb Tafsîr al-Qur’ân, Al-Madinah al-Munawwarah: Dâr al-Mâtsir, cet. I, 1423 H/2002, juz. I, hlm. 324.
[11] Abu Bakar Muhammad bin al-Qasim al-Anbari, Al-Zâhir fî Ma’ânî Kalimât al-Nâs, Ed: Dr. Hatim Shalih al-Dhamin, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1412 H/1992, juz I, hlm. 149.
[12] Abu al-Mundzir Salmah bin Muslim al-‘Autabi, Al-Ibânah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah, Ed: Dr. Abdul Karim Khalifah dkk, ‘Amman: Wizârat al-Turâts al-Qaumi wa al-Tsaqâfah, cet. I, 1420 H/1999, juz II, hlm. 138.
[13] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Khathib, Al-Sirâj al-Munîr fî al-I’ânah ’alâ Ma’rifat Ba’dh Ma’âni Kalâmi Rabbinâ al-Hakîm al-Khabîr, Kairo: Mathba’at Bulaq, 1285 H, juz I, hlm. 237.
[14] Syihabuddin al-Alusi, h al-Ma’âni fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhî, juz II, hlm. 237.
[15] Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur, Tafsîr al-Tanwîr wa al-Tahrîr, juz. IV, hlm. 37.
[16] Bentuk al-îjâz merupakan pengungkapan makna-makna dengan lafal yang ringkas dan cukup menyampaikan pada maksud yang dituju (Dr. Abdullah al-Hamid dkk, Al-Balâghah wa al-Naqd, hlm. 92), baik berupa pengungkapan makna-makna dengan lafal yang ringkas tanpa ada bagian yang dihilangkan namun cukup menyampaikan pada maksud ‎‎(îjâz qishar), atau dengan menghilangkan pengungkapan sesuatu baik satu kata, kalimat atau lebih (îjâz hadzf) disertai adanya petunjuk yang memperjelas bentuk ungkapan yang dihilangkan tersebut ‎‎(Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 50; Dr. Abdullah al-Hamid dkk, Al-Balâghah wa al-Naqd, hlm. 92)
[17] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 51.
[18] Dr. Muhammad bin Sa’ad al-Dabl, Dalîl al-Balâghah al-Qur’âniyyah, juz I, hlm. 506.
[19] Abu al-Su’ud al-‘Imadi, Irsyâd al-‘Aql al-Salîm, juz II, hlm. 67.
[20] Abu ‘Abdullah al-Razi, Mafâtîh al-Ghaib (al-Tafsîr al-Kabîr), juz VIII, hlm. 314.
[21] Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur, Tafsîr al-Tanwîr wa al-Tahrîr, juz. IV, hlm. 38.
[22] Abu Bakr Ahmad bin Ali al-Razi al-Jashshash, Ahkâm al-Qur’ân, Ed: Muhammad Shadiq Qamhawi, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, 1412 H, juz. II, hlm. 315.
[23] Abu ‘Abdullah al-Razi, Mafâtîh al-Ghaib (Al-Tafsîr al-Kabîr), juz VIII, hlm. 314-315
[24] Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. I, 1415 H, hlm. 56.
[25] Situs Amir HT: http://www.hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/HTAmeer/QAsingle/2861/
[26] Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Al-Hizb aw al-Jamâ’ah al-Islâmiyyah, t.t.
[27] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, juz. IV, hlm. 32.
[28] Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Durr al-Mantsûr, Beirut: Dâr al-Fikr, t.t., juz II, hlm. 289.
[29] Dr. Shalah Abdul Fattah al-Khalidi, Tashwîbât fî Fahm Ba’dhi al-Âyât, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 1407 H/1987, hlm. 195.
[30] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, juz VII, hlm. 90-91.
[31] Abu Abdullah Muhammad al-Qurthubi, Al-Jâmi li Ahkâm al-Qur’ân, juz. IV, hlm. 165.
[32] Abu Bakr Ahmad bin Ali al-Razi al-Jashshash, Ahkâm al-Qur’ân, juz. II, hlm. 315
[33] Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur, Tafsîr al-Tanwîr wa al-Tahrîr. juz IV, hlm. 38.
[34] Al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, juz. I, hlm. 86.
[35] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, juz. IV, hlm. 35.
[36] Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyyah, hlm. 56.
[37] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, juz. IV, hlm. 32.
[38] Ibid.
[39] Ahmad bin Faris al-Qazwaini al-Razi, Mu’jam Maqâyîs al-Lughah, Ed: ‘Abdussalam Muhammad Harun, Beirut: Dâr al-Fikr, 1399 H/1979, juz I, hlm. 28.
[40] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, juz. IV, hlm. 35.
[41] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, juz. IV, hlm. 33.
[42] Abu al-Hasan Sa’id bin Mas’adah al-Akhfasy al-Awsath, Ma’ânî al-Qur’ân, juz. I, hlm. 228.
[43] Ahmad Syauqi Abdus Salam Dhaif, Al-Madâris al-Nahwiyyah, Dâr al-Ma’ârif, hlm. 197.
[44] Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyyah, hlm. 56.
[45] Syihabuddin al-Alusi, h al-Ma’âni fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz II, hlm. 237; Abu Ja’far al-Nahhas Ahmad bin Muhammad al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, juz I, hlm. 174.
[46] Sebagaimana disebutkan doktor balaghah dari Al-Azhar Kairo, Dr. Hesham el-Shanshouri al-Mishri dalam diskusi empat mata selepas shalat isya’ pada bulan September 2015. Lihat pula: Abu Muhammad Jamaluddin bin Hisyam, Mughnî al-Labîb ‘an Kutub al-A’ârîb, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. VI, 1985, hlm. 560.
[47] Syihabuddin al-Alusi, h al-Ma’âni fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz II, hlm. 237; Abu Ja’far al-Nahhas Ahmad bin Muhammad al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, juz I, hlm. 174.
[48] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6647), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Shahih li ghairihi kecuali hadits al-imârat maka derajatnya hasan.”; HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabîr (no. 14723).
[49] Muhammad bin Ali al-Syaukani, Nail al-Authâr, Mesir: Dâr al-Hadîts, cet. I, 1413 H/1993, juz VIII, hlm. 294.
[50] Hal ini sebagaimana mafhum yang dibangun oleh Imam Ibn al-Arabi ketika memahami keumuman dalil larangan berbisik-bisik di antara dua orang tanpa orang ketiga di sisi mereka (ولا يحل لثلاثة نفر، يكونون بأرض فلان أن يتناجى اثنان، دون صاحبهما), dimana Ibn al-Arabi menjelaskan bahwa hadits ini, khabarnya umum, makna dan lafalnya, dan alasannya karena bisa menimbulkan kesedihan (pada orang yang tidak diajak bicara-pen.), dimana hal tersebut bisa terjadi baik dalam safar maupun ketika diam di suatu tempat, maka larangan tersebut harus mencakup kedua kondisi tersebut. (Prof. Dr. Musa Syahin Lasyin, Fath al-Mun’im Syarh Shahîh Muslim, Dâr al-Syurûq, cet. I, 1423 H/2002, juz VIII, hlm. 531)
[51] Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyyah, hlm. 56.
[52] Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra, Al-‘Iddat fî Ushûl al-Fiqh, Ed: Dr. Ahmad bin ‘Ali, Cet. II, Tahun 1410 H, juz. II, hlm. 419; Sulaiman bin ‘Abdul Qawi Najmud Din, Syarh Mukhtashar al-Raudhah, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1407 H, juz I, hlm. 314; Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1411 H, juz. II, hlm. 88.
[53] Ibid.
[54] Abu al-‘Abbas Syihabuddin Ahmad al-Qarafi, Al-Furûq: Anwâr al-Burûq fî Anwâ’i al-Furûq, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H/1998, juz I, hlm. 302.