15 Januari 2018

Sahabat Umar bin Al-Khaththab r.a Cinta pada Topik Khilafah


:: Sekilas Kajian Syarah Hadits, Atsar & Balaghahnya ::

Oleh: Irfan Abu Naveed Al-Atsari
[Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat, Penulis buku kajian tafsir & balaghah "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"]

Ada hal yang menarik disebutkan dalam riwayat yang menggambarkan Umar bin Al-Khaththab r.a. mencintai topik pembicaraan Rasulullah seputar Khilafah. Umar bin al-Khaththab r.a. berkata:

ثَلَاثٌ لَأَنْ يَكُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيَّنَهُمْ لَنَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا: الْخِلَافَةُ، وَالْكَلَالَةُ وَالرِّبَا
“Tiga perkara, jika Rasûlullâh menerangkannya kepada kami, lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya adalah: Al-Khilafah, al-kalalah dan riba.” (HR. Al-Hakim, Abu Dawud al-Thayalisi, al-Baihaqi. Redaksi al-Hakim)

A.   Keterangan Singkat Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam al-Mustadrak 'ala al-Shahihain (no. 3188), al-Hakim menuturkan:

هذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ
"Ini merupakan hadits shahih sesuai syarat al-Syaikhayn (al-Bukhari dan Muslim) meskipun keduanya tidak meriwayatkannya."

Dikomentari al-Hafizh al-Dzahabi: "Sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim".

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 60), dengan redaksi: "أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ". Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (no. 12645).

B.   Penjelasan Hadits:

1- Keistimewaan Sosok Umar bin al-Khaththab r.a.

Umar bin al-Khaththab r.a. termasuk seutama-utamanya sahabat Rasulullah , Khalifah pertama yang digelari Amir al-Mu'minin, dan dijuluki sebagai al-faruq (pemisah antara haq dan batil).

Menariknya, riwayat ini mengaminkan banyaknya pembicaraan Rasulullah soal khilafah, dipertegas dengan banyaknya riwayat terkait, nikmati sajian berikut ini:

Khilafah dalam Islam: http://bit.ly/2CE7oxh

2- Makna Istilah Khilafah

Khilafah dalam riwayat ini, begitu pula dalam riwayat-riwayat lainnya dalam sudut pandang ilmu al-bayan (balaghah) termasuk lafal hakiki, bukan majazi, faidahnya untuk menekankan pada aspek kejelasan hal yang dimaksud.

Dari sudut pandang ilmu ushul, istilah khilafah termasuk istilah fiqhiyyah sebagaimana ditegaskan Syaikhul Ushul 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah -hafizhahuLlah- dalam rubrik soal jawabnya, dalam perinciannya jelas ia mengandung haqiqah lughawiyyah dan syar'iyyah. Bukan sembarang istilah dan tak sembarang orang bisa seenaknya mendefinisikannya, wajib digali dari nas-nas syari'ah.

Apa itu al-Khilafah? Al-Khilafah: topik ini berbicara tentang sistem pemerintahan yang khash dalam Islam, sebagaimana diuraikan oleh para ulama. Al-'Allamah Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1396 H) mendefinisikan secara mapan:

الخلافة هي رئاسة عامة للمسلمين جميعا في الدنيا لإقامة الأحكام الشرعية، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم
“Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syari’ah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.”

Menyoal makna khilafah, silahkan nikmati sajian berikut ini:

Memahami Makna Khilafah & Khalifah: http://bit.ly/2E7DIoG

3- Keistimewaan Topik Khilafah

Dalam hadits di atas, digambarkan bahwa Umar bin al-Khaththab r.a. sangat mencintai topik pembicaraan Rasulullah tentang Khilafah, Kalalah dan Riba. Kecintaan tersebut diungkapkan dengan perumpamaan:

أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
"Lebih aku cintai daripada dunia dan isinya".

Dalam redaksi lainnya:

"أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ"
"Lebih aku cintai daripada unta merah".

Ungkapan perumpamaan di atas merupakan perumpamaan dari betapa kuatnya kecintaan tersebut, hatta dilebihkan daripada dunia dan segala isinya, dan daripada unta merah yang menjadi simbol kemewahan duniawi pada masa itu. Hal itu terbukti kemudian, ketika topik al-kalalah dan al-khilafah pun kembali diingatkan oleh lisan Umar bin al-Khaththab sendiri ketika ia menjabat sebagai seorang Khalifah.

Dalam perinciannya, kecintaan Umar bin al-Khaththab r.a. ini mengandung dimensi ukhrawi, hingga ia tak ternilai dengan nilai dunia dan segala isinya. Sehingga relevan jika para sahabat pun berijma' atas kewajiban menegakkan kekhilafahan ini, ini buktinya:

Ijma' Sahabat atas Wajibnya Khilafah: http://bit.ly/2CpRC4W

Kecintaan Umar ini, relevan dengan pentingnya kedudukan khilafah dalam Islam, sebagaimana disaksikan oleh banyak hadits Rasulullah , dan ditegaskan para ulama mu'tabar dalam maqalat mereka.

Silahkan nikmati sajian ini:

Kedudukan Khalifah menurut Rasulullah : http://bit.ly/2lUee7q
Surat politik warisan Rasulullah : http://bit.ly/2CqDsRf

Tadzkirah:

Poin ini hendaknya menjadi bahan perenungan orang-orang di zaman ini yang giat menstigma negatif isu khilafah dengan tuduhan "bukan ajaran Islam", "ajaran radikal (dalam konotasi negatif)", sehingga hakikatnya menikam ajaran Islam itu sendiri. Lalu, siapa yang lebih layak dipercaya soal Khilafah ini? Rasulullah dan Umar bin al-Khaththab r.a. atau oknum-oknum zaman ini yang anti khilafah?! (bersambung).


والله أعلم بالصواب

Soal Jawab Hadits “Memisahkan Diri Dari Kelompok-Kelompok Ketika Tiada al-Jama’ah”

Info: WA/Telegram: 0858 6183 3427
Soal

Perhatikan penggalan hadits ini :

وى الشيخان عن حذيفة في أثناء حديث : تلزم جماعة المسلمين وإمامهم ، قلت : فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام ؟ قال : فاعتزل تلك الفرق كلها ، ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك

Afwan ust, mhn bantuan antum...maksud maqalah diatas bgm..saya tanya pendapat sifulan ttg khilafah dia kirim tulisan tsb. [Peserta Kajian Tsaqafiyyah]

Jawaban

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Perhatikan hadits tsb lengkapnya: Hudzaifah bin Yaman r.a. berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: «نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ» ، فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»
“Orang-orang semua bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sementara aku bertanya tentang keburukan karena aku takut akan menimpa diriku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami ini telah melewati masa jahiliyyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau menjawab, “Ya.” Aku, “Apakah setelah keburukan itu akan kembali datang kebaikan?” Rasulullah, “Ya, tapi ada sedikit kabut (ketidakjelasan).” Aku, “Apa kabutnya?” Rasulullah, “Adanya kaum yang tidak melaksanakan sunnahku dan tidak berpedoman pada petunjukku. Ada yang kamu dukung perbuatan mereka ada pula yang kamu ingkari.” Aku, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?” Beliau, “Ya, kaum yang menyeru di pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhinya akan terhempas ke dalamnya.” Aku, “Tolong diskripskan kaum itu kepada kami ya Rasulullah.” Beliau, “Orang-orang dari kulit kita sendiri dan bicara dengan bahasa kita.” Aku, “Wahai Rasulullah, apa saran anda kalau aku mendapati itu?” Beliau, “Tetaplah bergabung pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku, “Bila tidak ada jamaah tidak pula ada imam?” Beliau, “Tinggalkan semua kelompok itu meski kau harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangimu dalam keadaan seperti itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pertama,
Hadits ini salah satu hadits yang seringkali disalahpahami atau disalahtafsirkan oleh mereka yang tak setuju perjuangan penegakkan Khilafah.

Kesalahan tersebut tampak jelas ketika mereka menggunakan dalil hadits ini untuk membangun kesimpulan yang salah, bahwa ketika jama'ah (yakni khilafah) tidak ada, maka kaum Muslim bukan didorong menegakkan khilafah, tapi didorong untuk meninggalkan seluruh kelompok (firqah) yang ada. Kesimpulan prematur tersebut bertentangan dengan dalil-dalil yang diuraikan para ulama mu’tabar menyoal wajibnya menegakkan Khilafah (al-Jama’ah).

Kedua, Kesimpulan prematur di atas jelas berbahaya, karena:

a. Menafikan dalil-dalil syar'iyyah yang mewajibkan penegakkan Khilafah.

b. Dengan logika aneh mereka, seharusnya mereka pun meninggalkan jama'ah: NU, Persis, dsb. Tak hanya Hizb yang memperjuangkan Khilafah.

Ketiga, Koreksinya:
Hadits ini tak bisa dijadikan dalil untuk mengabaikan perjuangan penegakkan khilafah. Karena wajh istidlalnya terkait mufaraqah 'an firaq, yakni meninggalkan kelompok-kelompok yang disebutkan karakteristiknya dalam hadits tersebut yakni:
Pertama, Kelompok yang dinilai (قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي), yakni kelompok yang tidak melaksanakan sunnah Rasulullah , dan mengambil petunjuk dari selain petunjuk beliau .
Karakter ini melekat kepada kelompok sesat, di luar ahlus sunnah, mereka yang tertimpa syubhat, menyimpang dari al-Qur’an dan al-Sunnah.
Kedua, Kelompok lebih buruk lagi yang dinilai (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), yakni kelompok yang menyeru kepada pintu-pintu jahannam. Memisahkan diri dari kelompok ini hukumnya wajib, berdasarkan qarînah jâzimah (petunjuk tegas) kecaman (مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا), yakni ancaman akan dimasukkan ke dalam jahannam bersama mereka.
Al-Hafizh al-Nawawi (w. 676 H) menukil penjelasan para ulama menguraikan makna (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), bahwa mereka adalah siapa saja dari para pemimpin yang menyeru kepada bid’ah[1], atau kesesatan lainnya, seperti khawarij[2] dan qaramithah.[3] Al-Nawawi mengisyaratkan dalam penjelasan tersebut, yakni untuk kelompok di luar ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah, waLlâhu a’lam bi al-shawâb.
Al-Asyraf, dinukil oleh al-Mulla Ali al-Qari (w 1014 H), menjelaskan makna (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ), yakni kelompok yang menyeru manusia kepada kesesatan, dan menghalangi mereka dari petunjuk Islam, dengan beragam jenis tipu daya, dan dari kebaikan menuju keburukan, dari sunnah menuju bid’ah, dan dari sifat zuhud kepada cinta dunia.[4]
Sifat jahannam dalam hadits ini, menyiratkan bahwa apa yang mereka serukan adalah hal-hal yang memang akan diganjar Allah dengan jahannam, dan itu bisa dipastikan melekat kepada kelompok yang disebutkan dalam al-Qur’an, yakni mereka yang meniti jalan kaum yang dimurkai (al-maghdhûb ’alaihim) dan jalan kaum yang tersesat (al-dhâllûn), dalam QS. Al-Fâtihah [2]: 7.
Dua karakter khusus yang digambarkan secara jelas oleh Rasulullah dalam hadits ini, dan penyikapan seorang muslim terhadapnya, sama sekali tak bisa dialamatkan pada kelompok-kelompok dakwah di antara kaum Muslim, dari kelompok ahlus sunnah, yakni mereka yang berpijak pada al-Qur’an dan al-Sunnah, dan ilmu syar’i terhadap keduanya, terlebih tidak jika dialamatkan pada kelompok dakwah, yang didasarkan pada QS. Âli Imrân [3]: 104, dengan karakter berpegang teguh pada tali Din Allah (QS. Âli Imrân [3]: 103), yang justru memperjuangkan kekhilafahan, institusi pemersatu kaum Muslim yang disebutkan dalam hadits ini yakni jamâ’at al-muslimin wa imâmahum (جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ), demi memperjuangkan penerapan Islam keseluruhannya dalam kehidupan.
Bahkan kelompok dakwah dengan karakteristik yang memenuhi QS. Âli Imrân [3]: 103-104 ini, justru wajib didukung, mengingat keberadaannya disyari’atkan (masyrû’), bagian dari perintah fardhu dari Allah SWT.
Lengkapnya menyoal kelompok-kelompok kaum Muslim (ahzab): tafsir ayat-ayat al-Qur’an terkait, dan hubungannya dengan hadits ini, sudah kami uraikan dalam buku Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah, silahkan dinikmati sajian lengkap dalam buku tersebut (info WA: 0858 6183 3427). []
والله أعلم بالصواب
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه



[1] Yakni yang jelas pasti kebid’ahannya, bukan perbedaan dalam wilayah furû’iyyah zhanniyyah seperti yang divonis sebagian kelompok kaum Muslim di zaman ini.
[2] Ini pula yang dijelaskan oleh al-Qadhi ‘Iyadh, dinukil oleh Imam Badruddin al-‘Aini al-Hanafi, lihat: Badruddin al-Aini, ’Umdat al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, juz XVI, hlm. 140.
[3] Al-Hafizh al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, juz ke-18, hlm. 13. Qaramithah yakni kelompok syî’ah Isma’iliyyah dari aliran kebatinan Syi’ah.
[4] Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VIII, hlm. 3380.

11 Januari 2018

Koalisi Pragmatis Pilkada dalam Timbangan Islam

Hasil gambar untuk ‫الديمقراطية نظام كفر‬‎

Oleh: Abu Naveed al-Atsari
(Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat)

A.   Koalisi Empat Pasang Calon

Petarung pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) sudah terpetakan. Ada empat pasang yang muncul ke permukaan. Masing-masing partai juga telah menentukan figur pilihannya untuk diusung maju dalam perhelatan lima tahunan ini.

Partai Gerindra dan PKS yang membentuk 'Koalisi Reuni'. Koalisi ini awalnya akan mengusung pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu. Namun batal setelah Gerindra memutuskan untuk menarik dukungan kepada Deddy, begitu juga dengan PKS.

Setelah melalui pertemuan para petinggi partai di Jakarta, akhirnya koalisi ini memutuskan untuk mengusung pasangan calon Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang merupakan kader terbaik dari masing-masing partai. Koalisi ini juga diperkuat PAN.

Kemudian ada koalisi antara Partai Golkar dan Partai Demokrat. Kedua partai ini sepakat menjalin kerja sama dan membentuk 'Koalisi Sajajar'. Koalisi ini juga telah resmi mengusung Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi untuk maju bertarung di Pilgub Jabar.

Selanjutnya ada koalisi yang dibentuk oleh Partai NasDem, PPP, PKB dan Hanura. Empat partai ini sepakat untuk berkoalisi meski sempat digoyang isu tarik menarik dukungan. Namun akhirnya ke empat partai ini memutuskan untuk tetap bersama dengan mengusung Ridwan Kamil-Uu Ruhzanul Ulum.

Terakhir, secara mengejutkan PDIP yang awalnya dikabarkan akan mendukung Ridwan Kamil akhirnya memutuskan untuk mengusung calonnya sendiri. Dengan modal 20 kursi di DPRD partai berlambang banteng ini resmi mengusung Tubagus Hasanudin-Anton Charliyan di Pilgub Jabar 2018.

B.   Koalisi Pragmatis

Sudah terang bahwa koalisi yang dibentuk, lebih didasarkan pada pertimbangan pragmatis, untuk mencapai target pemenangan dan kepentingan pihak-pihak terkait. Tarik ulur dukungan terhadap pasangan calon, dan pasang surut rencana koalisi di antara partai-partai yang berkompetisi pada Pilgub Jabar adalah buktinya. Hal yang juga terjadi di berbagai daerah lainnya, hanya saja Jabar terlihat paling dinamis.

Istilah koalisi, sepadan dengan istilah al-tahâluf al-siyâsi yang secara etimologi berasal dari kata al-hilf:

الحِلْفُ العَهْد يكون بين القوم
“Al-Hilf: perjanjian di antara kaum.” (Ibn Manzhur, Lisân al-’Arab, (II/963))

Lebih rinci, al-Hafizh Ibn al-Atsir (Al-Nihâyah fi Gharîb al-Hadîts, (I/424)) mendefinisikan al-hilf:

أصل الحِلْف: المُعاقَدةُ والمعاهدة على التَّعاضُد والتَّساعُد والاتّفاق
“Asal-usul kata al-hilf: saling mengikat dan mengadakan perjanjian dalam hal bekerja sama, tolong menolong dan kesepakatan.”

Adapun istilah al-tahâluf, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, (I/122)) mendefinisikan:

التحالف : حلف كل واحد من الفريقين
Al-Tahâluf: yakni kesepakatan satu sama lain di antara dua pihak (atau lebih).”

Realitas koalisi dalam politik praktis saat ini, dilakukan oleh sejumlah parpol yang bersepakat dan bekerja sama membangun suatu pemerintahan. Koalisi yang ada di antaranya koalisi Cagub dan Cawagub beserta perangkatnya, yang faktanya bertugas menegakkan sistem Demokrasi dan menjalankan sistem hukum yang ada.

C.   Koalisi Pragmatis dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia termasuk hukum berkoalisi yang realitasnya adalah bekerja sama mengangkat penguasa beserta perangkatnya dengan membawa banyak kepentingan partai sebagai determinan yang paling dominan, maka dapat ditimbang dengan panduan syar’i sebagai berikut:

Pertama, Larangan berhukum dengan selain hukum Islam (lihat: QS. Al-Ahzâb [33]: 36, QS. Al-Mâ’idah [5]: 44; 45; 47, -) dan kewajiban berhukum dengan hukum Islam (lihat: QS. Al-Nisâ’ [4]: 65, QS. Al-Mâ’idah [5]: 48, QS. Al-Baqarah [2]: 208, QS. Al-Nûr [24]: 51, -) dan nas-nas lainnya disertai banyak sekali penjelasan para ulama mengenai ini.

Kedua, Larangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, maka meskipun koalisi tersebut dibangun oleh partai-partai “berbasis massa Islam”, jika berkoalisi (saling tolong menolong) mengangkat penguasa yang pada akhirnya menegakkan selain hukum Islam, dan berorientasi pada kepentingan kelompok atau pemodal –bukan untuk kepentingan umat yang sejalan dengan rambu-rambu Islam-, maka hukumnya tetap haram karena nyata bekerja sama dalam kemungkaran.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 2)

Al-Hafizh Ibn Katsir (Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, (II/12-13)) menjelaskan ayat di atas: “Allah Swt. telah memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman untuk tolong-menolong dalam mengerjakan perbuatan baik, yaitu kebajikan (al-birr), dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, yaitu ketakwaan (al-taqwa). Allah Swt. juga melarang mereka untuk tolong-menolong dalam kebatilan (al-bâthil), dalam dosa (al-ma’âtsim) dan dalam hal-hal yang diharamkan (al-mahârim).”

Rasulullah -- menegaskan:

«لاَ حِلْفَ فِي الإِسْلام»
“Tidak boleh ada perjanjian (yang batil) dalam Islam.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad).

Al-Hafizh al-Nawawi (Syarh Shahîh Muslim, (XVI/82)) memaknai hadis itu dengan menyatakan: Yang dimaksud dengan hilf[un] yang dilarang dalam hadits di atas adalah perjanjian untuk saling mewarisi [yang ada pada masa awal hijrah bagi orang-orang yang saling dipersaudarakan oleh Rasulullah -- dan perjanjian pada segala sesuatu yang dilarang oleh syariah.

Ketiga, Setiap syarat dalam koalisi yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah akad batil yang dibatalkan oleh Islam. Rasulullah -- bersabda:

«مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ. وَإِنْ كَانَ مِائَة شَرْط كِتَاب [الله] أَحَق؛ وَشَرْط الله أَوْثَق»
“Barang siapa membuat persyaratan (perjanjian) yang tidak sesuai dengan kitab Allah, maka syarat tersebut batal walaupun mengajukan seratus persyaratan, karena syarat Allah lebih benar dan lebih kuat.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Al-Hafizh Ibn Hajar Al-’Asqalani menjelaskan: “Sesungguhnya syarat-syarat yang tidak sesuai syara’ adalah batil, meski banyak jumlahnya.” (Ibnu Hajar Al-’Asqalani, Fath al-Bârî, (V/189)).

Keempat, Koalisi adalah sarana pemenuhan syarat bagi partai-partai untuk mengangkat Cagub dan Cawagub dimana keduanya adalah hakim yang bertugas menegakkan sistem demokrasi. Maka jelas sarana ini hukumnya haram, sesuai kaidah syar’iyyah:

الوَسِيْلَةُ إِلَى الْحَرَامِ مُحَرَّمَةٌ
“Sarana yang menyampaikan kepada perkara haram maka diharamkan.”

Apa itu wasilah? Imam al-Jurjani mendefinisikan wasîlah yakni:

الوَسِيْلَةُ: هِيَ مَا يُتَقَرَّب بِهِ إِلى الغَيْرِ
“Wasilah yakni dimana suatu hal dihantarkan olehnya kepada hal lainnya.” (Al-Jurjani, Al-Ta’rîfât, hlm. 252)

Kaidah tersebut bisa diterapkan pada kasus ini karena: (1) Hukum yang menjadi tujuannya jelas haram dan keharamannya dinyatakan oleh nash; yakni keharaman menegakkan sistem kufur Demokrasi beserta perangkat sistem hukumnya. (2) Sarana (koalisi) tersebut berdasarkan ghalabatu azh-zhann mengantarkan kepada perbuatan mengangkat presiden dan wakilnya yang bertugas menegakkan sistem kufur Demokrasi dan sistem hukum jahiliyah.

D.   Partai Politik Islam yang Seharusnya
Partai politik wajib berasaskan akidah Islam, dan dari akidah inilah terpancar berbagai peraturan yang diadopsi oleh partai, dan ia wajib terikat padanya dalam hal apapun mencakup metode, pemikiran dan uslub yang digunakan. Aktivitasnya adalah menyerukan al-khayr yakni al-Islam, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada al-khayr (al-Islam), menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)

Parpol Islam, sudah semestinya menyerukan perubahan sistem berdasarkan metode perubahan yang dicontohkan Rasulullah -- sebaik-baiknya teladan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 21)


Parpol Islam wajib menyeru umat kepada penegakkan Islam kâffah dalam kehidupan, memperingatkan umat dari bahaya sistem dan ideologi rusak produk hawa nafsu manusia (Demokrasi, Kapitalisme-Neoliberalisme), mengadopsi permasalahan umat dan menjelaskan hukum syara’ atasnya, serta bersama umat menegakkan sistem politik dan kepemimpinan Islam yang menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai pedoman, WaLlâhu a’lam bi al-shawâb. []