19 July 2019

Tertawa Tak Pada Tempatnya Termasuk Tanda Kaum Sufaha'


Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Penulis Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"

[Peringatan Syaikhul Masyayikh Nawai al-Bantani al-Syafi'i]


S
eringkali kita menemukan diskusi antara dua pihak yang berlawanan pandangan, dihiasi dengan ikon tertawa, atau ungkapan yang menunjukkan sikon tertawa. Padahal jelas, di antara adab buruk ketika berdiskusi tentang agama -terutama di dumay- adalah: tertawa dalam pembicaraan yang tak seharusnya tertawa, karena tak ada hal lucu yang layak ditertawakan, padahal ia berbicara tentang hal yang menentukan nasib kehidupan dunia dan akhirat, perkara agama (Din Islam), yang tak bisa dipandang sebelah mata, sangat riskan dan memprihatinkan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. Al-Kahfi [18]: 49)

Al-'Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi'i menukil penafsiran Ibn ‘Abbas r.a. yang berkata dalam menafsirkan ayat yang agung ini:

إن الصغيرة التبسم بالاستهزاء بالمؤمن، والكبيرة القهقهة بذلك.
“Sesungguhnya “yang kecil” (dalam ayat ini-pen.) yakni tersenyum (sinis) untuk merendahkan orang beriman, dan makna “yang besar” yakni tertawa terbahak-bahak untuk maksud yang sama.”[1]

Syaikh Nawawi al-Bantani menegaskan:

وهذا إشارة إلى أن الضحك على الناس من جملة الذنوب والكبائر
“Dan ini menjadi isyarat bahwa menertawakan manusia (untuk mengolok-olok-pen.) termasuk perbuatan salah dan dosa besar”[2]

Dari Abdullah r.a., ia berkata bahwa Nabi bersabda:


«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
“Memaki orang muslim adalah kedurhakaan (fasik) dan membunuhnya adalah kekufuran.” (Hadits Muttafaqun ‘Alayh)

Al-Hafizh Ibn Hajar menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan penghormatan terhadap hak seorang muslim dan status hukum orang yang mencelanya tanpa alasan yang benar merupakan kedurhakaan.

Perbuatan ini sangat berbahaya karena bisa merusak ukhuwwah islamiyyah, padahal kaum muslimin itu diibaratkan bagaikan satu tubuh. Dan Allah telah mensifati orang-orang mukmin dengan persaudaraan, dimana ayat tersebut termaktub sebelum QS. al-Hujurat ayat 11 (tentang larangan mengolok-olok orang beriman).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Ingat dengan pesan Rasulullah ? Beliau bersabda:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim itu adalah seseorang yang kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari & Abu Dawud)

Maka jangan heran jika ada oknum akun fb yang saya delete/blokir dari pertemanan, jika menunjukkan "tanda-tanda tidak sehat" ini. Mengingat pentingnya perkara agama, dan besarnya kedudukan adab dalam agama. []

وبالله التوفيق
والله أعلم بالصواب

Catatan Kaki:
[1] Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq fî Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H.
[2] Ibid.


18 July 2019

Kaidah Ilmiyyah Ushuliyyah dalam Pendefinisian Khilafah


Irfan Abu Naveed
[Dosen Fikih Siyasah, Bahasa Arab & Penulis Buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah"]

Mukadimah


I
stilah khalifah dan khilafah disebutkan dalam nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah (dengan keragaman bentuk ungkapan sharaf-nya), menunjukkan adanya konsepsi khusus kedua istilah tersebut, hubungannya dengan kewajiban menegakkan politik Islam (al-siyâsah al-syar’iyyah) dalam kehidupan bernegara, para ulama menyifati kedua istilah tersebut termasuk al-mushthalahât al-syar’iyyah atau al-mushthalahât al-fiqhiyyah.[1]
Lalu bagaimana memahami dan mendudukkannya berdasarkan taujîh ulama Rabbani? Dalam ilmu ushul fikih, dirinci secara mapan ruang lingkup makna haqîqah atas suatu kata atau istilah, ia merupakan kebalikan dari jenis majâz[2] yang dibahas dalam ilmu balaghah, mencakup:
  1. Hakikat Bahasa (al-Haqîqah al-Lughawiyyah)
  2. Hakikat ’Urf/Tradisi (al-Haqîqah al-’Urfiyyah)
  3. Hakikat Syar’i (al-Haqîqah al-Syar’iyyah)

Dengan perincian mapan –in syâ Allâh- sebagai berikut:

Kaidah Ushul Pendefinisian Istilah Khalifah & Khilafah

Istilah khalifah (الخليفة) dan khilafah (الخلافة) jelas merupakan lafal arab dan termasuk mushthalahât syar’iyyah (yakni istilah fikih), dalam persepektif ilmu ushul ia mengandung makna hakiki secara bahasa (al-haqîqah al-lughawiyyah), dan makna hakiki secara syar’i (al-haqîqah al-syar’iyyah), sama seperti istilah al-shalât, al-zakât, al-shaum, al-Islâm, al-taqwâ, al-kufr, al-nifâq, dan yang semisalnya dari berbagai istilah syari’at.
Kaidahnya: memaknai istilah seperti ini wajib digali berdasarkan petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah dengan ilmunya, tidak boleh didefinisikan sembarang orang, secara serampangan dan ditarik kesimpulan secara gegabah, ini domainnya para ulama dengan ilmunya (sebenar-benarnya ahli ilmu) dan melakukan penelitian mendalam, bukan muqallid rasa mujtahid, yang memberanikan diri membahas persoalan besar berbekal riset kecil-kecilan. Kaidah ini relevan dengan kedudukan istilah-istilah Islam (al-alfâzh al-syar’iyyah) itu sendiri, sebagaimana ditegaskan para pakar. Diantaranya Dr. Mushthafa al-Zuhaili menegaskan:
وهذا ما بينه الله ورسوله فيجب الالتزام بدلالتها الشرعية
Dan ini (lafal-lafal syar’i) adalah apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya jelaskan, maka wajib berpegang teguh padanya, berdasarkan petunjuk syar’inya.[3]
Yakni didasarkan pada petunjuk nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah itu sendiri. Hal senada diutarakan oleh Dr. Muhammad Ahmad ‘Abdul Ghani:

فاللفظة حين تكون منتمية إلى الإسلام فإنها تكتسب المعنى الشَّرْعي الذي يجب الالتزام به اعتقاداً وعملاً
Maka suatu lafal ketika termasuk istilah islam, maka ia memiliki makna syar’i dimana Islam mewajibkan kita terikat dengan makna ini, baik dari sisi i’tikad maupun pengamalan.[4]

Dimana dalam perinciannya, makna syar’i ini dikedepankan daripada makna bahasanya, sebagaimana diulas dalam kajian ushul,[5] ditegaskan pula oleh Imam al-Syaukani, dimana ia menyebutkan kaidah:

الْحَقِيقَةُ الشَّرْعِيَّةُ مُقَدَّمَةٌ عَلَى اللُّغَوِيَّةِ
Hakikat makna secara syar’i dikedepankan daripada hakikat makna lafal secara bahasa.[6]

Maka tidak sah jika makna bahasa (haqîqah lughawiyyah) suatu lafal digunakan sebagai alat untuk menafikan makna syar’inya (haqîqah syar’iyyah), tidak sah meskipun seluruh manusia menyepakatinya. Al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani (w. 1396 H) pun menegaskan kaidahnya, bahwa perkara-perkara yang berhubungan dengan definisi suatu perkara dari berbagai macam perkara, baik definisi yang bersifat syar’i, seperti definisi hukum syara’, maupun non-syar’i seperti definisi akal, masyarakat, dan lain sebagainya.[7] Perkara semacam ini dikembalikan kepada definisi yang paling sesuai dengan fakta yang hendak didefinisikan, jika ia merupakan istilah syar’i, maka dikembalikan kepada petunjuk syari’at itu sendiri. Tidak ada pengambilan pendapat dalam masalah ini. Pada perkara-perkara semacam ini, prinsip suara mayoritas tidak berlaku bahkan tidak boleh diberlakukan.
Ini sama seperti perkara-perkara yang berhubungan dengan masalah hukum syari’at dan pendapat-pendapat syar’i secara umum, tidak boleh dimusyawarahkan atau di-vooting. Karena perkara-perkara semacam ini sudah ditetapkan berdasarkan nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Kaum muslim hanya diperintahkan berijtihad untuk menggali hukum-hukum dari keduanya. Suara mayoritas tidak berlaku pada perkara-perkara semacam ini.
Bahkan ini merupakan kesepakatan para ulama, Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) ketika menafsirkan QS. Âli Imrân [3]: 159, menegaskan bahwa dalam perkara yang telah tetap nasnya berdasarkan wahyu maka tidak boleh dimusyawarahkan dan ini merupakan kesepakatan para ulama. Ia berkata:

اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ كُلَّ مَا نَزَلَ فِيهِ وَحْيٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لَمْ يَجُزْ لِلرَّسُولِ أَنْ يُشَاوِرَ فِيهِ الْأُمَّةَ، لِأَنَّهُ إِذَا جَاءَ النَّصُّ بَطَلَ الرَّأْيُ وَالْقِيَاسُ
Para ulama bersepakat bahwa segala hal dimana turun wahyu di dalamnya dari sisi Allah maka tidak boleh bagi Rasulullah untuk memusyawarahkannya dengan umatnya, karena jika datang nas maka batal pendapat pribadi dan qiyâs.[8]

Poinnya, jika suatu istilah termasuk istilah syari’at, maka didefinisikan sesuai petunjuk syari’at itu sendiri. Jika tidak, betapa berbahayanya jika setiap orang bebas mendefinisikan suatu istilah, akan membuka kesempatan kepada orang-orang yang rusak akidah dan pemahamannya untuk mengaburkan makna-makna istilah, dengan tujuan menimbulkan bencana kerancuan dalam pemahaman Islam, melibas batas-batas kebenaran dan kebatilan yang sebelumnya tiada kesamaran. Semisal istilah sesat menyesatkan “Islam Liberal”.

Dr. Muhammad Ahmad ‘Abdul Ghani menuturkan:

Dan menggagas penggabungan ini (baca: pengaburan istilah-istilah-pen.) berbahaya, yakni menyebabkan tumpang tindih antara lafal-lafal yang termasuk istilah islami di satu sisi dan istilah-istilah di luar islam di sisi yang lain. Dan berbahaya pula terhadap islam, gagasan atas kebebasan penggunaan istilah-istilah di luar akidah islam untuk diterapkan ke dalam istilah islam. Maka, wajib dicegah adanya tumpang tindih dalam pemahaman-pemahaman dan istilah-istilah ini secara umum bagi seluruh aliran atau keyakinan.[9]

Definisi itu sendiri merupakan deskripsi realitas yang bersifat jâmi’ (komprehensif) dan mâni’ (protektif). Artinya, definisi itu harus menyeluruh meliputi seluruh aspek yang dideskripsikan, dan memproteksi sifat-sifat di luar substansi yang dideskripsikan. Inilah gambaran mengenai definisi yang benar. Kesalahan mendefinisikan, bisa berimbas pada kesalahan pemahaman, dan akhirnya berujung pada kesalahan dalam penyikapan.[10]

Perincian ringkas padat terkait pendefinisian Khalifah dan Khilafah menurut para ulama mu’tabar, sebagai aplikasi dari kaidah di atas, kami nukilkan di sini:


Di antara slide penjelasan para ulama soal definisi Khilafah:









[1] Istilah ini, banyak dibahas dalam kutub fiqhiyyah, ditegaskan pula oleh Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam soal jawab fiqhiyyahnya, bahwa ia termasuk mushthalahât fiqhiyyah.
[2] Bahasan: al-tasybih, al-isti’arah, al-kinayah, al-majaz al-mursal & al-majaz al-‘aql
[3] Dr. Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah wa Tathbîqâtuhâ fî al-Madzâhib al-Arba’ah, Damaskus: Dar al-Fikr, cet. I, 1427 H, juz I, hlm. 314.
[4] Dr. Muhammad Ahmad Abdul Ghani, Al-’Adâlah al-Ijtimâ’iyyah fi Dhau’ al-Fikr al-Islâmi al-Mu’âshir, 1424 H, hlm. 22
[5] Lihat perincian pembahasan ini dalam; Dr. Muhammad Shidqi al-Ghazi, Al-Wajîz fî Îdhah Qawâ’id al-Fiqh al-Kulliyyah, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. IV, 1416 H, hlm. 278; Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 170.
[6] Muhammad bin ‘Ali Al-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz I, hlm. 331.
[7] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, 1994, juz. I, hlm. 247-248; Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Muqaddimah al-Dustûr, 1963, hlm. 116-117.
[8] Muhammad bin ‘Umar bin al-Hasan al-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, juz IX, hlm. 409.
[9] Dr. Muhammad Ahmad Abdul Ghani, Al-’Adâlah al-Ijtimâ’iyyah fi Dhau’ al-Fikr al-Islâmi al-Mu’âshir. 
[10] Dukungan sebagian kaum Muslim terhadap demokrasi, pada saat yang sama anti terhadap sistem politik Islam, khilafah, menjadi salah satu buktinya.

16 July 2019

Buku Terbaru "Jahiliyyah Menyikapi Musibah"

Segera terbit buku terbaru menyangkut persoalan akidah dan syari'ah:

JAHILIYYAH MENYIKAPI MUSIBAH
"Kritik Islam Atas Berbagai Keyakinan & Perbuatan Jahiliyyah Menyikapi Bencana"

Alhamdulillah segera terbit buku terbaru, siap-siap dikoleksi, penting sebagai referensi penjaga akidah dari berbagai hal perusaknya. Memuat kajian-kajian kritik atas keyakinan dan perbuatan jahiliyyah yang menyalahi akidah dan syari'ah dalam menyikapi musibah.

Pemesanan Buku
Buku ini, melengkapi buku "Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia" yang terbit tahun 2011, dan banyak dibedah di banyak tempat lintas provinsi. Buku ini hadir menggambarkan peringatan-peringatan rabbani atas berbagai keyakinan dan sikap jahiliyyah menyikapi musibah yang justru berpotensi mengundang musibah, mencakup hal-hal paling krusial sebagai berikut:

1. Menyepelekan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta;
2. Menjadikan peredaran bintang sebagai petunjuk ramalan gaib (zodiak);
3. Mendatangi dukun-paranormal untuk meramal nasib & menolak musibah;
4. Meyakini & menggunakan jimat syirik, ritual & sesaji untuk jin sebagai penolak bala’;
5. Melakoni ritual yoga dan meditasi;
6. Mengaitkan kesialan dengan fenomena alam;
7. Mencela musibah & banyak berkeluh kesah;
8. Meyakini khurafat “sabar itu ada batasnya”.

Itu semua menyalahi akidah dan hukum-hukum syari’ah, maka memahaminya sangat mendesak sebagai upaya menangkal berbagai keburukan, sebagaimana sya’ir Ali bin Abu Bakar yang berujar:

الجهل نار لدين المرء يحرقه * والعلم ماء لتلك النّار يطفيها
“Kebodohan adalah api bagi agama seseorang yang membakarnya * Sedangkan ilmu adalah air untuk api itu, yang bisa memadamkannya.”

Seluruh syubuhat berbahaya di atas penyusun luruskan berdasarkan petunjuk-petunjuk agung al-Qur’an dan al-Sunnah al-Nabawiyyah, dengan penjelasan ilmiah para ulama, menggunakan pisau analisis: ilmu tauhid, ushul fikih, dan ilmu bahasa arab (terutama ilmu balaghah). Semoga buku saku ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan keluarga, dan kaum Muslim pada umumnya.

==========

📋 Keterangan Buku
Judul Buku                : JAHILIYYAH MENYIKAPI MUSIBAH
Penulis                       : Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.
Penerbit                     : Al-Azhar Press Bogor
Tahun Terbit             : 2019
Jumlah Hlm.              : 112 hlm.
Soft Cover |13,5 x 20,5 cm | 112 hlmn | HVS 70Gr
Harga                         : @Rp. 30.000

==========

📋 Info Buku & Pemesanan
Isi Datanya & Kirimkan!
No. HP                       :
Jumlah Eksemplar     :
Alamat Lengkap         :
Kirim ke no: +6289501452144
wa.me/6289501452144 


Cover Depan Buku

12 July 2019

Download Gambar Slide Konsep Baku Khilafah Islamiyyah


Download Gambar Slide Konsep Baku Khilafah Islamiyyah


Tampilan Depan Slide Khilafah

Slide ini adalah slide ringkas yang akan saya uraikan dalam banyak bedah buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah"

Slide ini memuat kesimpulan-kesimpulan singkat menyoal konsepsi Khilafah Islamiyyah, mendudukkan sejumlah dalil sharih yang menegaskan adanya konsepsi kebakuan Nizham al-Hukm fi al-Islam (Sistem Pemerintahan dalam Islam).

Salah satunya penjelasan ringkas menyoal hadits shahih yang agung ini:

Rasulullah bersabda:

«ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»
“Kemudian akan tegak Khilafah di atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar)

Al-Imam al-Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) :

(على منهاج النبوة) أي: طريقتها الصورية والمعنوية
“(Di atas manhaj kenabian) yakni metodenya baik yang tersurat maupun tersirat” [Nuruddin al-Mulla ‘Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VIII, hlm. 337]

Silahkan ikhwah fillah, copy paste, sebarkan dan viralkan, cek di sini:

https://www.facebook.com/irfanabunaveed87/posts/434979850681378

Atau

https://bit.ly/30rBtrb



Silahkan Like & Follow:

FB: Irfan Abu Naveed Islamovic


FP: Irfan Abu Naveed Islamovic [@irfanabunaveed87]





Follow FB & FP Terbaru Irfan Abu Naveed al-Atsari

FP Irfan Abu Naveed



Silahkan Like & Follow:

FB: Irfan Abu Naveed Islamovic


FP: Irfan Abu Naveed Islamovic [@irfanabunaveed87]


04 July 2019

Kasus Penistaan Masjid [Bag. III]: Bantahan Atas Dalih Kisah Arab Badui

Gambar terkait

Oleh: Irfan Abu Naveed

D
alam tulisan sebelumnya, telah kami uraikan penjelasan mapan menyoal kedudukan masjid sebagai syi’ar Islam yang mulia dan wajib dimuliakan, dan bagaimana sikap Islami menyikapi penistaan atas masjid, berikut standar menilai perbuatan tersebut di sini: Kasus Penistaan Masjid [Bag. I]: Masjid: Syi’ar Islam yang Mulia & Wajib Dimuliakan dan bagian lanjutannya di sini: Kasus Penistaan Masjid [Bag. II]: Sikap Islam Menyikapi Penistaan Atas Masjid
Kejelasan kasus ini, sayangnya disikapi salah oleh sebagian oknum, yang secara disadari atau tidak, secara langsung atau tidak, ikut mengaburkan persoalan penistaan oknum yang menistakan masjid ini dengan meng-qiyas-kanya pada perbuatan Arab Badui muslim yang mengencingi masjid di masa baginda Nabi , bagaimana mendudukkan kisah arab badui yang kencing di masjid ini pada tempatnya? Dan bagaimana menjawab syubhat tersebut?

A.    Hadits Arab Badui yang Kencing di Masjid di Masa Rasulullah

Abu Hurairah r.a. berkata: “Seorang arab badui buang air kecil di masjid, maka orang-orang berdiri untuk mencegahnya”, lalu Nabi bersabda:

«دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»
“Biarkanlah dia ! Tuangkan saja setimba atau seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit” (HR. Al-Bukhari, al-Baihaqi)[1]

Riwayat di atas, diperjelas dengan riwayat dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: “Ketika kami berada di dalam masjid bersama Rasulullah, tiba-tiba datang seorang badui. Lalu, ia (badui itu, Red.) kencing di dalam masjid. Para sahabat Rasulullah menyeru: “Tahan! Tahan!” Kemudian Rasulullah berkata: “Janganlah kalian ganggu. Biarkanlah dirinya,” maka para sahabat membiarkannya sampai ia selesai buang air kecil. Selanjutnya, Rasulullah memanggilnya seraya berkata:

«إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ، وَلَا الْقَذَرِ إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ»
“Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak pantas dikenai sesuatu dari air kencing, dan tidak pula kotoran. Ia (dibangun) untuk mengingat Allah, ibadah shalat dan membaca al-Qur’an.” (HR. Muslim, al-Baihaqi)[2]

Secara umum para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perintah baginda Rasulullah dalam kalimat da’auhu (biarkanlah oleh kalian dirinya), merupakan perintah untuk membiarkan arab badui ini menyelesaikan hajatnya. Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah agung ini? Apakah relevan dijadikan dalih menjustifikasi penistaan masjid dan penghapusan sanksi hukuman atas pelakunya?
Para ulama menguraikan ‘ibrah di balik larangan ini secara umum di antaranya sebagai berikut:

Pertama, Menggambarkan kecerdasan (al-fathânah) baginda Nabi dengan cepat mengambil keputusan terbaik (sur’at al-badîhah) dan kelembutannya (al-rifq) dalam berdakwah, tidak menimbulkan dharar bagi orang arab badui yang melakukan kesalahan semata-mata karena kebodohannya, baik bodoh dari segi ilmu (tentang kesucian masjid) maupun adab (kebiasaan yang buruk karena belum memahami Islam). Mengingat menghentikan paksa aliran air kencing, bisa menimbulkan dharar atas kesehatan. Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) pun menegaskan bahwa perbuatan mereka membiarkan arab badui ini kencing di masjid karena jika dicegah, hal tersebut bisa menimbulkan kerusakan (lebih besar).[3] Dalam hal ini, sikap baginda Rasulullah ini bisa menjadi dalil atas kaidah syar’iyyah yang dirumuskan para ulama ushul:

دَفْعُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ على جَلْبِ المَصَالِحِ
“Menolak berbagai kerusakan (kemadharatan) didahulukan daripada mewujudkan berbagai kemaslahatan.”[4]

Karakter baginda Nabi ini menegaskan kebenaran firman Allah Swt:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ {٤}
“Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Allah Swt pun berfirman dalam QS. Ali Imran [3]: 159, dan firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ {١٢٨}
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (QS. Al-Taubah [9]: 128)

Hal ini sebagaimana petuah baginda Rasulullah yang memerintahkan berlaku lembut. Beliau bersabda:

«يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَسَكِّنُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا»
“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)[5]

Sebagaimana Allah pun memerintahkan kaum Muslim berlaku adil, tidak zhalim, di antaranya dengan menegakkan al-nahy ‘an al-munkar dan tegas menegakkan sanksi hukum Islam atas pelaku keburukan, sebagaimana dicontohkan yang mulia Rasulullah , tergambar dalam kisah ini: Keadilan & Ketegasan Rasulullah dalam Penegakkan Hukum Islam

Kedua, Besarnya perhatian para sahabat terhadap masalah kesucian, termasuk kesucian tempat ibadah, ini bagian dari pengagungan mereka terhadap syi’ar Islam, menggambarkan apa yang Allah firmankan:

ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ {٣٢}
“Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu. (QS. Al-Hajj [22]: 32)[6]

Di samping menunjukkan pelajaran, wajibnya membersihkan dan menjaga kesucian masjid, tempat ibadah dari segala bentuk najis, mengingat dalam kisah ini, Rasulullah memerintahkan dan mengajari para sahabat cara mencuci najis tersebut.

Ketiga, Besarnya perhatian dan kesigapan para sahabat terhadap al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ‘an al-munkar, tatkala menyikapi kemungkaran yang jelas-jelas kemungkarannya, tanpa harus bertanya kepada Rasulullah Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»
Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan qalbu dan hal itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban)[7]

Ini menunjukkan bahwa dakwah dan pengembannya sudah seharusnya didukung oleh kaum Muslim, dijaga dan dijunjung tinggi, bukan malah dipersekusi. Coba dievaluasi, siapa oknum-oknum yang menjadikan kisah arab badui ini untuk memaafkan (baca: memaklumi) pelaku penistaan atas masjid? Oknum dari kelompok yang sama, yang terdepan menjadi pendukung rezim mempersekusi gerakan dakwah yang selama ini aktif berdakwah tanpa kekerasan (dakwah fikriyyah) mendakwahkan syari’ah dan khilafah di bumi Allah ini.

Keempat, Pentingnya para da’i menguasai pendekatan dakwah dan metode ta’lim (pengajaran), agar tepat dalam melakukan pendekatan pada berbagai karakter objek dakwah (mad’u). Sebagaimana gambaran dalam QS. Al-Nahl [16]: 125.

Dari seluruh penjelasan di atas, tidak ada satupun sisi yang bisa dijadikan dalih untuk menjustifikasi penistaan atas masjid, atau mengabaikan penegakkan sanksi hukuman atas pelaku penistaan atas nama ”maaf memaafkan”.

B.    Bantahan Atas Dalih Justifikasi

Dari uraian singkat padat di atas, maka duduk persoalannya jelas, kisah di atas tidak bisa dijadikan dalih untuk menjustifikasi penistaan atas masjid. Dalih tersebut adalah dalih yang diada-adakan, jelasnya tidak relevan, dalam bahasa ilmu ushul diistilahkan: qiyâs ma’a al-fâriq. Hal itu jelas jika kita kembalikan pada poin-poin mendasar sebagai berikut:

Pertama, Mengenal Arab Badui

Untuk memahami latarbelakang peristiwa di balik kisah ini, dan mengevaluasi penggunaan dalih ini untuk kasus penistaan masjid, alangkah baiknya dipahami siapa sebenarnya arab badui itu?[8] Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) menyifati orang arab badui sebagai orang yang tinggal di pedalaman.[9] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) menjelaskan:

الاعرابي: هو الجاهل من العرب، ج أعراب
Al-A’rabi: orang yang bodoh dari orang Arab, jamaknya adalah a’râb.[10]

Qal’ah Ji, dalam hal ini menyifatinya sebagai bangsa nomaden (berpindah-pindah), dan tidak memiliki ilmu.[11] Penjelasan senada ditegaskan Syaikh Dr. Khalid bin Utsman al-Sabti dalam khaledalsabt.com menguraikan:

الأعرابي: من سكن البادية، والأعرابي ليس بمعنى العربي، فإن العرب جنس من الناس يقابلهم العجم، والأعراب هم سكان البادية
Al-A’rabi adalah orang yang tinggal di pedalaman, al-a’rabi di sini maksudnya bukan berkonotasi orang arab (secara umum), karena bangsa Arab itu sendiri adalah satu jenis dari bangsa manusia, kebalikan dari bangsa ‘Ajam. Al-A’rab adalah mereka yang tinggal di pedalaman (perkampungan).

Itu artinya, Arab Badui: adalah orang yang sangat terbelakang, dengan kebodohan baik dari segi keilmuan maupun adab. Sehingga ‘wajar’, jika arab badui ini buang air kecil di dalam masjid yang masih berlantaikan tanah (bukan keramik dan karpet sajadah), mengingat itu menjadi kebiasaan hariannya.

Kedua, Mendudukkan Sikap Rasulullah : Bagi Orang yang Benar-Benar Bodoh, Bukan Keras Kepala

Sikap Rasulullah atas arab badui ini menjadi pelajaran menyikapi orang yang benar-benar bodoh baik ilmu maupun adab kesucian, namun tidak keras kepala (takabur), hal ini sebagaimana penjelasan Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) menyimpulkan:

وفيه الرفق بالجاهل وتعليمه ما يلزمه من غير تعنيف إذا لم يكن ذلك منه عنادا، ولا سيما إن كان ممن يحتاج إلى استئلافه وفيه رأفة النبي صلى الله عليه وسلم وحسن خلقه
Dalam hadits ini (hadits Anas r.a.) terdapat pelajaran agar bersikap lembut terhadap orang jahil (yang belum mengetahui hukum agama) dan mengajarinya hal-hal yang harus diketahui tanpa disertai celaan terhadapnya, jika kesalahannya tidak muncul karena keras kepala. Apalagi, jika ia termasuk orang yang masih perlu pendekatan persuasif. Dalam hadits ini pula, termuat cermin kasih sayang Nabi dan keluhuran akhlak beliau .[12]

Sekarang, bandingkan dengan sikap oknum wanita yang masuk ke dalam masjid sembari marah-marah, masuk ke dalam masjid mengenakan sandal dan membawa anjingnya yang berlarian di dalam ruang utama masjid. Tatkala diperingatkan oleh pihak DKM dan jama’ah, yang bersangkutan semakin menjadi-jadi, tampak keras kepala dan takabur dengan mengaku sebagai wanita non muslimah. Maka perhatikan pola uslub menyikapi objek dakwah berdasarkan petunjuk dalam ayat ini:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ {١٢٥}
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl [16]: 125)

Memahami ayat ini, secara garis besar bisa dipahami dari intisari penafsiran para ulama tafsir berikut ini:
Pertama, Bi al-hikmah {بِالْحِكْمَةِ} yakni dengan wahyu Allah (al-Qur’an dan al-Sunnah);
Kedua, Wa al-mau’izhah al-hasanah {وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ} yakni dengan menyampaikan pelajaran-pelajaran dengan baik, yang Allah jadikan hujjah dalam Kitab-Nya, berikut peringatan-peringatan dari-Nya;
Ketiga, Wa jâdilhum billati hiya ahsan {وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ} yakni dengan cara yang lebih baik sesuai dengan syari’at-Nya, ketika menyikapi permusuhan mereka yang memusuhi dakwah, tidak dengan cara bermaksiat kepada-Nya (cara zhalim) dalam menegakkan kewajiban menyampaikan risalah dari Allah SWT.
            Dalam perinciannya, uslub pertama bi al-hikmah, terutama ditujukan pada orang yang mencari kebenaran (thâlib al-haqq), disampaikan kepadanya seruan agung dakwah, dengan menyertakan hujjah atau dalil dari ayat-ayat qur’aniyyah atau ayat-ayat kauniyyah. Ayat-ayat qur’aniyyah ditujukan pada orang yang mengimani wahyu, sedangkan ayat-ayat kauniyyah, terutama ditujukan pada orang yang belum masuk Islam, sehingga dakwah bertolak dari tanda-tanda keagungan Allah yang sifatnya mahsûs (bisa terindera), mencakup ayat-ayat kauniyyah (langit, bumi dan segala macam isinya).
Adapun uslub kedua, yakni al-mau’izhah al-hasanah, maka direalisasikan dengan menyampaikan nasihat-nasihat, atau kisah-kisah yang mengandung pelajaran bagi orang-orang pada umumnya. Dalam kasus arab badui, maka berlaku prinsip uslub dakwah ini, manakala Rasulullah memilih memperingatkan arab badui yang bodoh soal ilmu dan adab kesucian, dengan cara nasihat yang baik. Hingga akhirnya arab badui tersebut -disebutkan dalam riwayat- digambarkan tersentuh dengan keagungan sikap Rasulullah ini.
Berbeda dengan uslub wa jâdilhum billatî hiya ahsan, yang dipilih sebagai uslub menghadapi orang yang menolak dan mendebat kebenaran, dengan maksud untuk izhhâr al-haqq, yakni menampakkan kebenaran. Dalam kasus oknum wanita yang menistakan masjid ini, maka uslub debat dikedepankan mengingat ybs keras kepala dengan kesalahannya setelah disampaikan peringatan atasnya. Perincian uslub ini, sesuai untuk setiap kondisi manusia.

لكل مقام مقال
Untuk setiap kedudukan itu ada tutur kata yang pantas untuknya.

C.     Catatan Penting

Maka dalih kisah arab badui untuk kasus penistaan masjid ini termasuk dalil yang tidak relevan, dalam istilah ilmu ushul fikih termasuk: QIYÂS MA’A AL-FÂRIQ, yakni pendalilan dengan menggunakan contoh nas yang tidak relevan. Maka secara umum, dalih ini batal dan batil, sesuai kaidah shahihah yang disebutkan para ulama:

كل ما بني على باطل فهو باطل
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang batil maka ia pun batil.”[13]

Dengan kata lain, ini bukan soal maaf memaafkan, namun soal sikap yang harus jelas dalam menyikapi suatu keburukan. Penistaan atas masjid ini jelas keburukannya, tidak samar, maka tidak boleh disamarkan. Dalam Islam, pelaku penistaan atas masjid wajib dikenai sanksi hukuman, tidak lantas gugur dengan klaim maaf memaafkan, mengingat sanksi hukuman ditegakkan oleh ulil amri untuk mewujudkan keadilan, menjaga masyarakat dari perbuatan saling menzhalimi, dan menjauhkan mereka dari kerusakan baik personal maupun komunal.
Esensi penegakkan hukum Islam ini jelas mengundang keberkahan, mewujudkan kemaslahatan hakiki sekaligus menolak berbagai kerusakan, sebagaimana ditunjukkan oleh nas al-Qur’an dan al-Sunnah, salah satunya (QS. Al-A’râf [7]: 96), diperjelas dalil QS. Al-Baqarah [2]: 216 dan QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107 yang juga menjadi dalil kaidah syar’iyyah:
حيثما يكن الشرع تكن المصلحة
Dimana tegak syari’at maka akan ada kemaslahatan.”

 Para ulama Islam memahamkan bahwa sanksi hukuman (‘uqûbât) berfungsi sebagai zawâjir, yakni mencegah manusia mengulang kejahatan yang sama, akibat adanya efek jera dari penegakkan sanksi hukuman. Jika tidak ditegakkan, maka patut dikhawatirkan jika terjadi kasus-kasus lainnya, sama seperti kejadian berulang dari sejumlah oknum pelawak, yang menjadikan ajaran Islam, Rasulullah sebagai bahan candaan dalam lawakannya yang menjijikkan! Itu semua terjadi tatkala pelaku kejahatan penistaan ini dibebaskan dari sanksi hukuman, hanya dengan dalih “sudah dimaafkan”.
Coba belajar dari keadilan dan ketegasan Rasulullah menegakkan sanksi hukuman bagi pelaku keburukan di sini: Keadilan & Ketegasan Rasulullah  dalam Penegakkan Hukum Islam
Dalam tataran praktis untuk menerapkan dan menjaga Islam, maka relevan dengan salah satu fungsi Imam (Khalifah) dengan kewenangan di tangannya, yang digambarkan Rasulullah , dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi bersabda:
«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)

Menunjukkan wajibnya dan pentingnya keberadaan pemimpin, Khalifah, dan institusinya, Khilafah dalam menegakkan Islam dan menjaganya dalam kehidupan. Berjuanglah! Jangan mundur ke belakang! Allâh al-Musta’ân. []



[1] HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 220); Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubra (no. 4239);
[2] HR. Muslim dalam Shahih-nya; Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubra’ (no. 4142).
[3] Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz I, hlm. 323.
[4] Kaidah ini memang kaidah syar’iyyah, namun penggunaannya wajib terikat pada kaidah-kaidah dan batasan-batasan yang telah dirumuskan oleh para ulama ushul, tidak ada kaidah ‘sapu jagad’ yang bisa diterapkan secara serampangan, batasannya mencakup penetapan mafâsid dan mashâlih itu sendiri. Jika berkumpul dalam suatu persoalan adanya berbagai kemaslahatan, namun kemaslahatan tersebut disusul pula dengan kerusakan, maka kerusakan ini menjadi penghalang, dengan kata lain sebagaimana ditegaskan para ulama:
إذا اجتمعت مصلحة ومفسدة غلب جانب المفسدة
Jika berkumpul (dalam suatu persoalan) antara kemaslahatan dan kerusakan, maka dikuatkan sisi (menjauhi) kerusakannya.
Namun hal ini dibatasi jika kerusakan dan kemaslahatan berkumpul, dan kerusakannya lebih besar daripada kemaslahatan, karena jika kemaslahatannya lebih besar daripada kerusakan, maka mewujudkan kemaslahatan harus diutamakan, contoh untuk kondisi ini; kebolehan mengucapkan kata-kata kufur karena dipaksa musuh dan diancam akan dibunuh dengan kalbu yang tetap dalam keimanan, maka mewujudkan kemaslahatan menjaga nyawa didahulukan daripada kerusakan di balik kata-kata kufur lisan tersebut, ini seperti kasus Amar bin Yasir r.a di bawah tekanan kaum Kafir Quraysyi.
Sebaliknya jika kerusakannya lebih besar daripada kemaslahatan, maka menjauhi kerusakan didahulukan, hal ini sebagaimana petunjuk yang digambarkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 219, dimana dalam ayat ini digambarkan khamr dan judi memiliki manfaat, namun kerusakan dan kemadharatannya lebih besar, Allah Swt pun mengharamkan keduanya, sebagaimana diutarakan oleh Sulthân al-‘Ulamâ’, Imam al-‘Izz bin Abdissalam:
حرمهما لأن مفسدتهما أكبر من منفعتهما
Allah mengharamkan keduanya, mengingat kerusakan keduanya lebih besar daripada manfaatnya. (Abu Muhammad ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdus Salam, Qawâ’id al-Ahkâm, Kairo: Maktabat al-Kulliyyat al-Azhariyyah, 1414 H, juz I, hlm. 98)
Imam al-Subki (w. 771 H) menjelaskan: Menolak berbagai kerusakan lebih diutamakan daripada mewujudkan berbagai kemaslahatan, dikecualikan dalam beberapa permasalahan, hasil akhirnya kembali kepada kondisi bahwa jika kemaslahatan memiliki kedudukan yang agung, sedangkan kerusakannya lebih ringan, maka kemaslahatan tersebut didahulukan (Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin Al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, juz I, hlm. 105). Ukuran kemaslahatan dan kerusakan tersebut ditentukan berdasarkan tolak ukur syara’ bukan hawa nafsu.
[5] HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6125); Muslim dalam Shahih-nya; Ahmad dalam Musnad-nya  (no. 13198), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Isnad-nya shahih sesuai syarat Syaikhain”
[6] Yakni sikap yang lahir dari ketakwaan kepada Allah, Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1316 H) menjelaskan bahwa di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, yakni syi’ar-syi’ar Din-Nya (Nawawi al-Bantani, Syarh Sullam al-Tawfîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 103). Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i mencontohkan, di antara bentuk syi’ar tersebut adalah Shafa dan Marwah. Karena menurut Syaikh Nawawi, makna dari sya’âiraLlâh adalah a’lâm al-dîn (simbol-simbol din). Maka dari itu, Masjid termasuk syi’ar Islam yang wajib diagungkan dan dimuliakan, serta dijaga kemuliaannya.
[7] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (no. 49); Ahmad dalam Musnad-nya (no. 11478, 11532, 11894), Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Sanadnya shahih sesuai syarat Syaikhain.”; Ibn Majah dalam Sunan-nya (no. 4013); Ibn Hibban dalam Shahîh-nya (no. 307).
[8] Dalam ma’any.com disebutkan: A’rabi: orang pedalaman dari bangsa arab/ dinisbatkan pada al-a’rab (orang arab), sejarahnya dari orang arab Suku Hilal, yakni penghuni perkampungan dari Suku Hilal.
[9] Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, juz I, hlm. 323.
[10] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Dar al-Nafa’is, cet. II, 1408 H, hlm. 77.
[11] Ibid.
[12] Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz I, hlm. 325.
[13] Prof. Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 264; Abdul Muhsin bin Abdullah al-Zamil, Syarh al-Qawâ’id al-Sa’diyyah, Riyadh: Dar Athlas al-Khadra’, cet. I, 1422 H, hlm. 343.