18 Oktober 2018

Undangan Kajian Balaghah: Motivasi Dakwah Berjama'ah





Balaghah Hadits Nabawi: Pentingnya Institusi Negara & Keluarga




Rasulullah bersabda:

«أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ»
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhârî, Muslim)[1]

Pesan agung dalam hadits yang mulia ini, diawali dengan huruf tanbih, alâ, yang berfaidah menarik perhatian pendengar untuk menyimak perkataan sekaligus menegaskannya (taukid). Diungkapkan dengan gaya pengungkapan majazi (kiasan), dalam bentuk al-isti’ârah, yang menyerupakan pengurusan rakyat dengan penggembalaan.[2]

Imam al-Baghawi (w. 516 H) menjelaskan makna al-râ’i dalam hadits ini yakni pemelihara yang dipercaya atas apa yang ada padanya, Nabi memerintahkan mereka dengan menasihati apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan memperingatkan mereka dari mengkhianatinya dengan pemberitahuannya bahwa mereka adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka al-ri’âyah: adalah memelihara sesuatu dan baiknya pengurusan.

Imam al-Baghawi pun ketika menjelaskan hadits ini merinci tugas seorang pemimpin (khalifah) dalam Sistem Politik Islam:

فَرِعَايَةُ الإِمَامِ وِلايَةُ أُمُورِ الرَّعِيَّةِ، وَالْحِيَاطَةُ مِنْ وَرَائِهِمْ، وَإِقَامَةُ الْحُدُودِ وَالأَحْكَامِ فِيهِمْ
“Maka pemeliharaan seorang al-Imam (khalifah) adalah wilayah urusan-urusan rakyatnya, dan melindungi mereka, menegakkan sanksi-sanksi had, dan hukum-hukum bagi mereka.”[3]

Dengan kata lain, hadits yang mulia ini menegaskan besarnya kedudukan khalifah, namun tak hanya khalifah, hadits ini pun menegaskan besarnya kedudukan institusi keluarga; suami dan istri atas keluarganya.

Dimana Rasulullah secara khusus menyebutkan kedudukan kepala negara (khalifah), lalu kepala keluarga (suami) dan ibu rumah tangga atas keluarganya, disamping manusia secara umum (كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ), dalam ilmu balaghah menunjukkan bentuk al-ithnab (dzikr al-khash ba'da al-'am), yakni penyebutan kalimat yang khusus setelah lafal umum, untuk menunjukkan betapa pentingnya perkara yang khusus tersebut (li al-tanbih 'ala fadhl al-khash). Artinya menunjukkan pentingnya kedudukan kepala negara (khalifah) sebagai penanggungjawab institusi negara dan kepala keluarga sebagai penanggungjawab institusi keluarga dalam memelihara masyarakat dari berbagai keburukan.

Dengan kata lain, hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan besarnya kedudukan institusi negara dan keluarga dalam menjaga masyarakat dari berbagai penyimpangan dari Islam.

Silahkan ikuti kajian rutin ilmu balaghah yang kami selenggarakan di Cianjur, dan daurah singkat ilmu balaghah yang diselenggarakan di kota-kota antum.

Irfan Abu Naveed Al-Atsari

Footnotes:
[1] HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya (VI/2611, hadits 6719); Muslim dalam Shahih-nya (VI/7, hadits 4751); Abu Dawud dalam Sunan-nya (III/91, hadits 2930); Ibn Hibban dalam Shahih-nya (X/342, hadits 4490).
[2] Cantiknya ungkapan hadits ini dalam persepektif ilmu balaghah (yakni ilmu al-bayan), mengandung ungkapan majazi (kiasan), jenis al-isti'arah (gaya pengungkapan dengan meminjam istilah (al-musta'ar minhu) untuk mewakili istilah lain (al-musta'ar lahu), kata kuncinya pada kata راع, yang menyerupakan bentuk pengurusan dan pemeliharaan urusan rakyat dengan penggembalaan.
[3] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, juz X, hlm. 61.

Pengantar Diskursus Menyoal Status "Putera Mahkota" dalam Era Kekhilafahan


Hasil gambar untuk ‫الملك والخلافة‬‎

Dalam catatan fikih, keabsahan "putera mahkota" ditentukan oleh adanya bai'at bukan statusnya sebagai "putera mahkota", istilah bai'at ini disinggung dalam banyak hadits nabawi dan ditegaskan dalam kutub fiqh bahasan atau bab al imamah, terlepas apakah istikhlaf tersebut berlanjut kepada apa yang disebutnya "putera mahkota" atau kepada orang lain, itu soal lain terkait bakal calonnya, dimana pada prinsipnya setiap muslim selama memenuhi syarat pengangkatan maka berhak mencalonkan diri sebagai khalifah, termasuk "putera mahkota" yang bisa jadi punya pengalaman di bidang politik karena terkondisikan lingkungan politik keluarganya.

Salah satu dalil keabsahan Khalifah dengan bai'at: hadits dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: ”Rasulullah bersabda:

«إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ، فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا»
”Jika dibai’at dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir di antara keduanya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, Abu ’Awanah al-Isfaraini dalam Musnad-nya, al-Baihaqi Al-Sunan al-Kubrâ’)

Hadits ini secara sharîh menggunakan lafal ”khalifah”, dan kata kerja pasif "buyi'a" maka jelas bahwa hadits ini menjadi salah satu dasar yang mendasari adanya dasar keabsahan khalifah dan istilah khalifah dengan konotasi syar’i. Konotasi tersebut bisa kita ketahui dari indikasi: ”jika dibai’at... maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”

Adanya bai’at menunjukkan bahwa ia bukan sembarang pemimpin, melainkan pemimpin umat yang dibai’at untuk menegakkan hukum al-Qur’an dan al-Sunnah. Di sisi lain, konsekuensi hukuman mati bagi pemecah belah kesatuan kaum Muslim dalam hadits ini bukan perkara sepele, menunjukkan khalifah bukan sembarang pemimpin, melainkan pemimpin yang telah ditetapkan syarat, karakteristik dan tupoksinya oleh Islam.     Karakteristik istimewa ini yang membedakannya dengan istilah-istilah penguasa dalam sistem pemerintahan lain selain Islam, seperti raja dalam sistem monarki konstitusional, presiden dalam sistem republik, dan lain sebagainya.

Yang menjadi masalah itu jika lantas asumsi adanya "putera mahkota" langsung ditarik untuk membangun kesimpulan prematur "dinasti umayyah s.d. utsmaniyyah menganut sistem monarki konstitusional". Padahal ukuran sistem monarki tak lantas ditentukan oleh adanya pengangkatan "putera mahkota". Korut pun diwariskan dari bapak ke anak, tapi tak lantas diklaim menganut sistem monarki, tetap republik komunis.

Masalahnya, ada oknum tokoh yang menggiring opini bahwa sistem monarki konstitusional itu sah sah saja (tak mesti khilafah) dengan asumsinya (bil ma'na):

======
Masa dinasti umayyah, abbasiyyah dan utsmaniyyah menganut sistem "putera mahkota", artinya menganut sistem monarki, kalau sistem monarki tidak syar'i berarti logikanya masa dinasti umayyah s.d. utsmaniyyah pun tidak syar'i, dan ini tidak benar karena para ulama dari masa umayyah dan utsmaniyyah mengakui keabsahannya. Artinya sistem monarki adalah sistem yang syar'i.
======

Tanggapan Saya:

Kerangka berpikir seperti ini tidak kokoh untuk menggambarkan kerangka berpikir ushuli. Karena khilafah berbeda dengan monarki. Adanya istikhlaf dari bapak ke anak tak menjadi ukuran utama sistem monarki. Sistem monarki dibangun di atas asas "kedaulatan di tangan raja" sedangkan kekhilafahan "kedaulatan di tangan al-Syâri'" (السيادة للشارع).

Kekhilafahan Ali bin Abi Thalib r.a. saja kemudian digantikan oleh al-Hasan bin Ali r.a. meskipun hanya berjalan sekitar 6 bulan, apakah manhaj kekhilafahan Ali dan al-Hasan bin Ali ini lantas bisa diasumsikan bersistemkan monarki konstitusional? Tentu saja tidak, karena para ulama mutabar pun menegaskan masa khilafah mereka menggenapkan masa 30 tahun sistem khilafah ala minhaj al-nubuwwah fase pertama, bukan sistem monarki konstitusional.

Begitu pula asumsi para ulama dari masa ke masa, mereka mengakui keabsahan masa umayyah, abbasiyyah dan utsmaniyyah karena memang sah secara syar'i memenuhi syarat-syarat syar'i pengangkatan khalifah. Hingga al-Hafizh al-Suyuthi pun menuliskan kitab berjudul "Târîkh al-Khulafâ'.

Hal ini memperjelas pemahaman terhadap hadits dari Abu Hurairah r.a., Nabi bersabda:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ»
“Adalah bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para Khalîfah yang banyak.” (HR. Muttafaqun ’alayh)

Kalimat فيكثرون (banyak) dalam tradisi kalam arab menunjukkan jumlah banyak, bukan jumlah yang masih bisa dihitung oleh jari. Artinya hadits ini pun mengabarkan eksistensi para Khalifah setelah masa khalifah yang empat (al-khulafa' al-rasyidun), bukan para raja. Maka sisi ini memperjelas duduk persoalan.

والله أعلم بالصواب

Irfan Abu Naveed
Dosen Fikih & Bahasa Arab-Balaghah

05 Oktober 2018

Bencana: Peringatan Untuk Tidak Mempersekusi Dakwah!


Hasil gambar untuk ‫ظهر الفساد‬‎



Di antara konsep agung Islam adalah ajaran untuk berdakwah. Hal itu diperjelas manakala al-Qur'an dan al-Sunnah memperingatkan keras mereka yang mengabaikan dakwah, terlebih bagi mereka yang bukan lagi mengabaikan tapi bahkan menjegal dakwah!


Jika dakwah diabaikan, apalagi jika dijegal maka hukuman dari Allah akan melingkupi baik orang yang bermaksiat maupun orang yang diam atas kemaksiatan tersebut, padahal ia mengetahuinya. Dipertegas hadits dari Hudzaifah Ibn al-Yaman r.a., dari Nabi bersabda:


«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»‏
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma'ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allâh akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do'a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi)


Hadits ini, diungkapkan dengan banyak penegasan (taukîd). Salah satunya di balik qasam (sumpah) kepada Allah dalam kalimat وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ dan lam serta nûn al-taukîd al-tsaqîlah. Mengapa kalimat " وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ" merupakan sumpah kepada Allah? Karena ia merupakan kinayah dari sumpah kepada Allah "واللهِ".


Dimana kalimat tersebut mempertegas kebenaran informasi dalam hadits, menekankan pentingnya perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dengan tuntutan wajib berdasarkan keberadaan peringatan keras bagi siapa saja yang mengabaikan kewajiban ini, yakni kalimat (أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ), yakni ancaman dalam dua bentuk: Pertama, Datangnya azab yang tak pandang bulu, Kedua, Tidak akan dikabulkannya do’a.


Diperjelas dalam hadits lainnya, dimana Rasulullah mengumpamakan dakwah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar sebagai bagian dari sikap simpatik menjaga diri dan orang lain dari kebinasaan. Dalam hadits dari al-Nu'man bin Basyir r.a., dari Nabi bersabda:


«مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ تَعَالَى وَالرَّاتِعِ فِيهَا وَالْمُدَّهِنِ فِيهَا مَثَلُ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا وَأَوْعَرَهَا وَإِذَا الَّذِينَ أَسْفَلَهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى أَصْحَابِهِمْ فَآذَوْهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا فَاسْتَقَيْنَا مِنْهُ وَلَمْ نَمُرَّ عَلَى أَصْحَابِنَا فَنُؤْذِيَهُمْ فَإِنْ تَرَكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا جَمِيعًا‏»‏
“Perumpamaan orang-orang yang teguh dalam menjalankan hukum-hukum Allâh dan orang-orang yang terjerumus di dalam perkara yang haram, adalah seperti sekelompok orang yang membagi tempat di atas perahu. Sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas, dan sebagian lain ada yang memperoleh tempat di bawah dan berbahaya. Jika orang-orang yang berada di bahwa membutuhkan air minum, maka mereka harus naik ke atas melewati sahabat-sahabatnya yang berada di atas hingga membuat mereka susah. Maka mereka orang-orang yang berada di bawah berkata, 'Lebih baik kami melubangi tempat di bagian kita ini, hingga kita tidak melewati dan mengganggu kawan-kawan di atas.' Maka jika mereka yang berada di atas membiarkan kawan-kawan mereka yang di bawah dan apa yang mereka inginkan, pasti mereka semua akan binasa, jika mereka mencegahnya maka semuanya akan selamat.” (HR. Al-Bukhari, al-Tirmidzi, Ahmad, al-Bazzar dan Ibn Hibban)[1]


Hadits yang agung ini, dinukil pula oleh al-'Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1396 H) dalam kitab Nizham al-Islam, ketika menguraikan kedudukan Islam yang menjaga individu dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, yakni dengan adanya kewajiban menyuruh kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar.


Hadits ini mengandung perumpamaan agung (tasybih) yang menggambarkan pentingnya mencegah kemungkaran, dan bahaya mengabaikan perbuatan penting ini yang dianalogikan sebagai kebinasaan bagi seluruh orang yang mengabaikan. Hadits ini berbicara mengenai topik pentingnya mencegah terjadinya kemungkaran (al-nahy ‘an al-munkar), karena makna al-qâ’im ‘alâ hudûdiLlâh menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 975 H) yakni orang yang mencegah kemungkaran dan berbagai perkara keharaman,[2] hal senada diutarakan oleh Imam Badruddin al-’Aini (w. 855 H)[3], karena frasa hudûduLlâh berkonotasi batasan dari apa-apa yang dilarang atau diharamkannya.[4]


Silahkan nikmati sajian berikutnya dalam buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah".

Irfan Abu Naveed al-Atsari
Peneliti Kajian Balaghah al-Qur'an & Hadits Nabawi
Penulis "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"


📋 Catatan Kaki:
[1] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (no. 2361); al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2173), Abu Isa mengomentari: “Hadits hasan shahîh.”; Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18387), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Sanadnya shahîh sesuai syarat syaikhain (al-Bukhari dan Muslim).”; al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 3298); Ibn Hibban dalam Shahîh-nya (no. 297).
[2] Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, 1422 H/2001, cet. VII, juz II, hlm. 162.
[3] Mahmud bin Ahmad Badruddin al-‘Aini, ‘Umdat al-Qâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, t.t., juz XIII, hlm. 56.
[4] Ibid. Lihat pula pembahasan para ulama ketika menjelaskan makna hudûduLlâh QS. Al-Baqarah [2]: 187.


Kajian Rutin: Balaghah al-Qur'an & Hadits Nabawi

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.

04 September 2018

Video Belajar Mudah Ilmu Balaghah Bersama Ust Irfan Abu Naveed



💎 Dokumentasi Daurah Ilmu Balaghah & Praktik Balaghah al-Qur'an dan Hadits Nabawi 💎

Kajian balaghah bersama Ust Irfan Abu Naveed di Ma'had Darul Ma'arif Banjarmasin-Kalsel

Daurah langka, kajian ilmu balaghah, dari mulai materi motivasi kokoh belajar ilmu balaghah, pemetaan kajian ilmu balaghah, pemetaan referensi kajian balaghah al-Qur'an dan hadits nabawi, praktik analisa balaghah al-Qur'an dan hadits nabawi, diselenggarakan oleh Ma'had Darul Ma'arif Banjarmasin Kalsel, 18-19 Agustus 2018. Silahkan disimak dan didownload, temukan kunci-kunci ilmu balaghah!

📋 Narasumber: 

Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
□ Penyusun Buku & Artikel Kajian-Kajian Tafsir & Balaghah Al-Qur'an dan Hadits Nabawi

📋 Link Video Kajian:





Kajian ini memuat kajian-kajian penguatan tsaqafah dakwah sebagai amunisi dakwah.

Silahkan raih ilmunya, download dan sebarkan linknya ya ikhwah, semoga menjadi amal jariyyah.

 وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

31 Agustus 2018

Program Majelis Tahsin & Tafsir Al-Qur'an STIQ ZAD Cianjur


Telah dibuka untuk umum, ikhwan dan akhwat, pendaftaran majelis tahsin dan tafsir al-Qur'an STIQ ZAD Cianjur, dibimbing oleh para pakar bersanad:

Keunggulan
1. Dibimbing oleh pakar, Syaikh Dr.
Sameh Salem, Lc., MA (seorang pakar tafsir dan qira'at dari Mesir), didukung para dosen STIQ ZAD Cianjur
2. Diberikan sanad ilmu tajwid oleh Syaikh Dr. Sameh Salem, Lc., MA bagi yang berprestasi;
3. Tempat yang kondusif dan mudah dijangkau oleh angkutan umum;
4. Waktu bisa disesuaikan (Pagi - Siang - Sore - Malam);
5. Peserta dibatasi (lebih fokus, setiap kelas dibatasi maksimal 10 orang dengan satu pengajar);
6. Usia tidak dibatasi.

Tujuan
1. Memberikan kemudahan kepada umat untuk mempelajari al-Qur'an dan tafsirnya;
2. Memberikan kemudahan kepada umat untuk membaca al-Qur'an dengan baik dan benar.

Pertemuan
Halqah/Tatap muka dilaksanakan 2 kali seminggu (jadwalnya disesuaikan)

Pilihan Waktu
Pilihan waktu yang menyesuaikan antarpeserta dan pengajar:
Waktu pilihan:
- Pagi (Pkl. 10:00 - 12:00 WIB)
- Siang (Pkl. 13:00 - 15:00 WIB)
- Sore (Pkl. 16:00 - 18:00 WIB)
- Malam (Pkl. 18:30 - 20:30 WIB)

Tempo Pembelajaran
Pembelajaran memerlukan waktu 3 bulan dan setelah itu bisa mengikuti program lanjutan.

Biaya
- Pendaftaran Rp. 50.000,-
- Infaq bulanan Rp. 100.000,-/bulan

Pendaftaran
Langsung datang ke kampus STIQ ZAD Cianjur.

Daftar via WA
DaftarTahsin#Nama#Alamat#Pekerjaan#Umur#No.HP
Kirim ke no. WA: 081364447879
Datang pada waktu pembukaan acara Majelis Tahsin al-Qur'an dan waktu diberitahukan via telephon atau WA.

Alamat Majelis Tahsin
Jalan Nasional 11, Kp Cibeureum, RT/RW. 01/01, Desa Cibeureum, Kec. Cugenang, Kab. Cianjur, Provinsi Jawa Barat (20 meter dari jembatan Cibeureum Cugenang).





07 Agustus 2018

Selayang Pandang Pentingnya Pendidikan Al-Qur’an


Hasil gambar untuk ‫القرآن الكريم‬‎

I
lmu dan pendidikan menempati kedudukan yang agung dalam Islam, ia adalah asas membina masyarakat dan sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan di medan kehidupan. Sehingga al-Qur’an dan al-Sunnah pun memberikan perhatian besar terhadap ilmu dan pendidikan, hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah yang mengandung ajaran-ajaran luhur tentang ilmu dan pendidikan, baik bersifat praktis maupun filosofis. Mendorong umat manusia meraih ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat.
Hal itu, dibuktikan secara praktis oleh generasi salafunâ al-shâlih, diwariskan dari generasi ke generasi: ilmu dan pendidikan rabbani, yang mampu memelihara keberlangsungan tsaqâfah Islâmiyyah yang terpatri dalam dada generasi umat ini, dan termaktub dalam khazanah buku-buku turats, sebagaimana ditegaskan dalam buku Usus al-Ta’lîm al-Manhaji:

Pendidikan merupakan cara untuk memelihara tsaqâfah umat dalam dada generasinya, dan (termaktub) dalam tulisan buku-bukunya, sama saja apakah pendidikan formal terorganisir atau pun pendidikan informal.[1]

Prof. Dr. ’Abdul Karim Bakkar pun menegaskan bahwa pendidikan itu sendiri merupakan bagian dari sistem kehidupan yang tak berdiri sendiri, baik sisi ideologi, ekonomi, akhlak, dan lainnya,[2] dan ia merupakan uslûb (cara) untuk membentuk seorang insan sejak permulaan masa pertumbuhan,[3] yang harus diraih setiap insan dengan proses yang benar, bertahap dan dijalani sepanjang usia, dari semenjak usia dini, muda belia hingga tutup usia, long life education.
Istimewanya, al-Qur’an, diperjelas al-Sunnah merinci karakteristik manusia terdidik yang diwakili istilah ulul albâb, disebutkan tak kurang dari enam belas kali dalam al-Qur’an, yakni dalam ayat-ayat berikut:
1.      QS. Al-Baqarah [2]: 269
2.      QS. Al-Baqarah [2]: 197
3.      QS. Al-Baqarah [2]: 179
4.      QS. Âli Imrân [3]: 7
5.      QS. Âli Imrân [3]: 190
6.      QS. Al-Mâ’idah [5]: 100
7.      QS. Al-Ra’du [13]: 19-22
8.      QS. Ibrâhîm [14]: 52
9.      QS. Shâd [38]: 29
10. QS. Shâd [38]: 43
11. QS. Al-Zumar [39]: 9
12. QS. Al-Zumar [39]: 18
13. QS. Al-Zumar [39]: 21
14. QS. Ghâfir [40]: 54
15. QS. Al-Thalaq [65]: 10
16. QS. Yûsuf [12]: 111
Dimana konsepsi rabbani ini menunjukkan sistem pendidikan unggul: didasari oleh akidah Islam dan dicanangkan untuk tujuan yang mulia, yakni membentuk kepribadian Islam dalam diri setiap insan (al-syakhshiyyah al-Islâmiyyah). Salah satu karakter tersebut, Allah tunjukkan dalam firman-Nya sebagai golongan yang berhasil mengambil pelajaran (’ibrah wa tadzkirah) dari al-Qur’an, hingga mencapai derajat ma’rifatuLlâh:

هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ {٥٢}
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Rabb yang Maha Tunggal dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Ibrâhîm [14]: 52)

Ayat yang agung ini, menunjukkan bahwa salah satu ilmu yang paling mulia menurut konsepsi rabbani, adalah ilmu-ilmu yang mengantarkan seseorang mengenal Rabb-nya melalui petunjuk Kalam-nya, yakni ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an al-Karim, di samping al-Sunnah al-Nabawiyyah. Hal itu pun setidaknya didasari poin-poin mendasar sebagai berikut:
Pertama, Al-Qur’an merupakan pedoman hidup manusia, yang menjadi petunjuk untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat, yang shâlih li kulli zamân[in] wa makân[in] (sesuai pada setiap waktu dan tempat).
Dalam struktur keilmuan, al-Qur’an merupakan sumber epistemologi utama dalam Islam, disamping al-Sunnah yang juga diistilahkan al-hikmah dalam al-Qur’an (lihat: QS. Al-Jumu’ah [62]: 2, dan lainnya). Kedudukan al-Qur’an ini, sebagaimana diinformasikan dalam banyak nas al-Qur’an dan al-Sunnah, salah satunya diwakili oleh ungkapan hud[an] li al-nâs:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى {٤٤}
Katakanlah: ”Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan.” (QS. Fushshilat [41]: 44)

Di samping hud[an], al-Qur’an pun disifati sebagai tibyân[an] li kulli syai[in] dalam firman Allah Swt:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ {٨٩}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)

Makna kalimat tibyân[an] li kulli syai[in] adalah apa-apa yang dibutuhkan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Jarir Al-Thabari (w. 310 H)[4], Imam al-Tsa’labi (w. 427 H)[5], Syaikh Abu Bakr al-Jazairi[6] dan para ulama lainnya. Allah ’Azza wa Jalla pun berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ {٨٢}
“Maka apakah mereka tidak memikirkan al-Qur’an?” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 82)[7]

            Kata kunci dalam ayat ini yang menunjukkan al-Qur'an sebagai sumber ilmu adalah kata kerja tadabbara-yatadabbaru, dimana pokok kata ini mengandung konotasi al-tafakkur yakni berpikir mengenai sesuatu, dan aktivitas tadabbur al-Qur’ân tidak akan terwujud kecuali dengan menghadirkan kalbu dan memfokuskan perhatian terhadapnya.[8]
Menafsirkan ayat yang agung ini, al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memikirkan al-Qur’an, dan melarang mereka berpaling darinya.[9] Tuntutan ini semakin jelas dengan memperhatikan permulaan ayat ini yang diawali dengan tanda tanya (afalâ) yang maksudnya mengingkari (istifhâm inkâri).[10]
Diperjelas dalil-dalil al-sunnah, dimana tanpanya manusia akan tersesat sejauh-jauhnya kesesatan. Rasulullah bersabda dalam khutbah Haji Wada’:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
“Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibn ’Abbas r.a.)[11]

Dalam hadits lainnya, terdapat penegasan penilaian bagi siapa saja yang menyalahi ajaran al-Qur’an:

«كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ، مَنِ اسْتَمْسَكَ بِهِ، وَأَخَذَ بِهِ، كَانَ عَلَى الْهُدَى، وَمَنْ أَخْطَأَهُ، ضَلَّ»
“Yaitu KitâbuLlâh, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, siapa saja yang berpegang teguh padanya dan mengambil pelajaran darinya maka ia berada di atas petunjuk (selamat), dan siapa saja yang menyalahinya maka ia tersesat.” (HR. Muslim)

Hadits-hadits di atas, jelas mengandung pesan agung pendidikan dengan pendekatan targhîb dari Rasulullah , untuk mengamalkan al-Qur’an dan mencintainya, sekaligus menetapkan standar kebaikan, bahwa kebaikan adalah apa yang diajarkan al-Qur’an dan al-Sunnah, bukan apa-apa yang menyelisihi keduanya, dan bahwa siapa saja yang menyalahi al-Qur’an (dan al-Sunnah) maka jelas ia berada dalam kesesatan.
            Mengamalkan al-Qur’an, sudah tentu harus didasari ilmunya, al-’ilm qabl al-’amal, dan ilmu diraih dengan cara belajar. Maka mengamalkan al-Qur’an, wajib diawali dengan mempelajari ilmu-ilmu yang memahamkan seseorang terhadapnya, yakni ilmu al-Qur’an dan tafsir. Sehingga relevan jika dalam proses pembelajaran itu sendiri, para ulama menekankan skala prioritas dari pelajaran yang harus disampaikan kepada peserta didik, al-Qadhi Badruddin Ibn Jama’ah al-Syafi’i (w. 733 H) menyebutkan tafsir al-Qur’an di antara pelajaran yang diprioritaskan tersebut:

فيقدم تفسير القرآن، ثم الحديث، ثم أصول الدين، ثم أصول الفقه، ثم المذهب
Maka hendaknya didahulukan tafsir al-Qur’an, kemudian hadits, ushuluddin, ushul fikih, perbandingan madzhab.[12]

Kedua, Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad , keagungannya tak disangsikan lagi terbukti dari masa Rasulullah hingga saat ini, dimana al-Qur’an telah menarik perhatian banyak umat manusia karena ungkapan dan kandungan pesan-pesannya yang agung dari Allah, Rabb Alam Semesta. Al-Qur’an sebagaimana disebutkan para pakar:

Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan bahasa arab yang unggul[13], wahyu yang diterima oleh Rasulullah , dan ia adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla, turun melalui perantaraan Al-Rûh Al-Amîn Jibril –’alayhis salâm- dengan lafal berbahasa arab dan makna-makna yang benar, sebagai bukti bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan rujukan bagi manusia mengambil petunjuk dengan petunjuknya, dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya, tersusun di antara lembaran-lembaran mushhaf, diawali Surat al-Fatihah, ditutup dengan Surat Al-Nâs, dan dinukil kepada kita secara mutawatir.[14]

Tidak ada satu huruf pun dalam al-Qur’an yang tidak bermakna, seluruhnya merupakan ilmu itu sendiri yang perlu terus digali dan diteliti. Hal itu sebagaimana tersurat dalam ungkapan para pakar, baik dari kalangan muslim maupun non muslim.
Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i dalam Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âni menegaskan bahwa setiap kosakata (mufradat) dalam al-Qur’an mengandung ilmu dan maksud yang sesuai dalam setiap tempatnya.[15] Dipertegas ungkapan salah seorang doktor ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar, Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshoury menuturkan:

لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ
Setiap huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung berbagai rahasia (kandungan makna).

Maka tidak mengherankan jika ahli sastra arab, sekaligus salah seorang tokoh kafir Quraisy yang paling keras kekafirannya, Al-Walid bin al-Mughirah, tak mampu menyangkal keagungan ungkapan al-Qur’an sehingga ia berkata:
Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian (Bangsa Quraysi) yang lebih mengenal sya’ir-sya’ir daripada diriku, dan tidak ada pula yang lebih mengetahui rajaz dan qashid-nya selain diriku, Demi Allah tidak ada satupun dari apa yang dibaca Muhammad menyerupai ini semua, Demi Allah sesungguhnya ungkapan yang disampaikannya sangat manis dan apa yang dituturkannya sangat indah.

            Padahal al-Walid bin Al-Mughirah adalah orang yang tidak beriman dan keras dalam kekafirannya. I’jaz al-Quran terdapat dalam al-Quran itu sendiri. Orang yang telah mendengarkan Al-Qur’an, dan menyimaknya hingga hari kiamat akan terus merasa kagum dengan kekuatan daya tarik dan balaghah-nya, walaupun hanya sekedar mendengar satu kalimat saja dari al-Quran.[16] Sehingga al-Qur’an, sudah seharusnya dipelajari, ditela’ah, ditafakuri, ditadaburi dan diaplikasikan dalam kehidupan.
Maka sangat relevan atsar dari ‘Utsman bin Affan r.a. yang menggambarkan kesenangan berinteraksi dengan al-Qur’an yang merupakan firman Allah S.W.T ini dalam perkataannya:

«لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Jika kalbu kalian telah suci maka kalian tidak akan pernah merasa puas membaca Firman Rabb kalian (al-Qur’an).[17]

            Yakni sangat senang membaca, mentadaburi, memahami dan mengamalkan ajaran al-Qur’an. Maka penting merevitalisasi kembali pendidikan qur’ani dan pembelajaran ilmu al-Qur’an dan tafsir, yang mampu mengantarkan seorang insan memahami kalâmuLlâh, dengan baik dan benar. Di sisi lain tanpa al-Qur’an, manusia akan tersesat dalam kelamnya kebodohan dan gelapnya kebutaan, sehingga hidup bagaikan binatang ternak bahkan lebih sesat daripada binatang ternak, hal itu sebagaimana diisyaratkan dalam ayat yang agung ini:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ {١٧٩}
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’râf [7]: 179)

            Apa yang diperingatkan ayat yang agung ini pun terbukti, dengan banyaknya permasalahan yang mencoreng dunia pendidikan di negeri ini. Poin ini sudah seharusnya mendorong kaum Muslim merevitalisasi pendidikan, dengan mengembalikannya kepada konsep pendidikan qur’ani, pendidikan Islam.
Tak bisa dipungkiri bahwa negeri ini sedang dilanda krisis kehidupan, termasuk krisis di bidang pendidikan, sebagaimana diungkapkan para pakar dan praktisi pendidikan dalam penelitian mereka. Sepanjang tahun 2017 angka tawuran terus naik, kekerasan dikalangan pelajar semakin brutal, menimbulkan dampak meningkatnya jumlah korban dari kalangan pelajar yang berjatuhan.
Diperparah kasus narkoba, menurut BNN sudah ada 423 kasus yang ditangani oleh pihak BNN. Kabag Humas BNN, Kombes Sulistiandriyatmoko, menyebutkan jumlah 423 kasus merupakan kasus dari Januari hingga Juli 2017 (sumber: nasional.republika.co.id, 4/8/2017).
Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), Ali Djohardi, menegaskan bahwa saat ini Indonesia berstatus darurat narkoba. Pengguna narkoba di Indonesia tercatat sebanyak 5,1 juta jiwa. Setiap tahun, sekitar 15 ribu jiwa melayang karena narkoba. Mayoritas di antaranya pada usia produktif 24-30 tahun (sumber: news.detik.com, 18/2/2017).
Dr. Ulil Amri Syafri dalam pendahuluan bukunya[18] menuturkan bahwa dunia Islam pada umumnya, tengah dilanda krisis pendidikan yang menyebabkan kemunduran, namun yang disoroti bukan kemunduran materil melainkan kemunduran dan krisis akhlak, yang ditandai dengan rapor merah peserta didik yang terlibat; tawuran, pergaulan bebas hingga free sex, dan lain sebagainya. Hal yang sama diungkapkan oleh Dr. Taufik Abdillah dalam buku Pendidikan Karakter Berbasis Hadits.[19]
Data dari pengelompokan kasus dalam lingkungan pendidikan menurut laporan dari KPAI menyebutkan, untuk anak korban tawuran pelajar menunjukkan pada tahun 2011 terdapat 20 kasus, tahun 2012 terdapat 49 kasus, tahun 2013 terdapat 52 kasus, tahun 2014 terdapat 113 kasus, dan tahun 2015 ada 37 kasus.[20]
Dalam struktur komponen pendidikan, rapor merah peserta didik ini menjadi gambaran atas output pendidikan, sekaligus bahan evaluasi atas input, proses dan standar output pendidikan itu sendiri. Apa akar masalahnya? Dari berbagai pernyataan para ahli yang dinukil Dr. Ulil Amri mengenai akar permasalahannya, ada poin penting yang perlu digarisbawahi bahwa krisis pendidikan akhlak ini, ditinjau dari aspek eksternal akibat dari massif-nya invasi pemikiran dan tsaqafah Barat ke dunia Islam yang ditandai dengan dominasi worldview Barat yang berat pada aspek kognitif semata, dikotomi pendidikan (secularistic) dan ukuran kelulusan yang materialistic oriented, hingga sampai kepada permasalahan cabang seperti metode dan pendekatan pendidikan, menggantikan pendidikan qur’ani, yang seluruhnya menjauhkan umat dari Islam itu sendiri.
Sebagian pemikir dan cendekiawan muslim negeri ini menyebut ancaman ini dengan bahasa lugas “liberalisasi pendidikan”. Padahal disebutkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 31 ayat 3:
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta berakhlaq mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.
Tujuan ini kemudian dikuatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), tepatnya pada Pasal 3:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Namun yang menjadi permasalahan adalah apa yang disebutkan Dr. Ulil Amri yang mengatakan:
Hampir sebagian besar para konseptor pendidikan Islam masih terjebak dalam epistemologi pendidikan Barat sehingga konsep dan metode yang dihasilkan tetap tidak dapat dilepaskan dalam paradigma keilmuan Barat yang mengambil logika sebagai sumber ilmu.[21]
Diperkuat pernyataan Prof. Dr. Ahmad Tafsir bahwa kesalahan terbesar dalam dunia pendidikan di Indonesia selama ini adalah para konseptor pendidikan melupakan keimanan sebagai inti kurikulum nasional.[22] Dan lebih jauh lagi masih menurut Ahmad Tafsir, bahwa para pemerhati pendidikan Islam di Indonesia kurang tepat menerjemahkan iman dan takwa” yang dimaksud.[23] Mereka mencoba mengimplikasikan dua kata tersebut dengan kacamata Barat dan melupakan konsep-konsep Islam.[24]
Ironisnya, Barat sebenarnya sudah gagal dari awal ketika ia salah memahami eksistensi manusia[25], atau jati diri manusia itu sendiri sebagai akibat dari pincangnya struktur keilmuan mereka, dimana epistemologi Barat menolak khabar shâdiq (wahyu), atau hal-hal metafisik sebagai sumber ilmu, dimana hal ini menjadi perbedaan paling prinsipil antara epistemologi Barat dan Islam. Dan hal itu pula yang menyebabkan Epistemologi Barat mengalami krisis, kebingungan, hingga terpecah-pecah dalam beberapa aliran. Jika pijakan ini saja sudah keliru, maka tidak mengherankan jika mereka gagal pula merumuskan sistem pendidikan yang bisa memanusiakan manusia berada di atas rel fitrahnya; dari mulai asas hingga metode dan pendekatan pendidikan yang diterapkan.
Maka bertolak dari latar belakang ini, sudah seharusnya kembali merevitalisasi pendidikan qur’ani, pendidikan yang menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai pedoman, akidah Islam sebagai asasnya. Positifnya, kebutuhan terhadap pendidikan qur’ani ini didukung oleh tingginya antusiasme generasi muda mempelajari dan menghafalkan al-Qur’an, maka Yayasan ZAD al-Insaniyyah terdorong untuk ikut berkontribusi bagi umat, dengan mendirikan lembaga resmi pendidikan tinggi, berbentuk Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) ZAD, dengan mendapatkan dukungan kerja sama dengan salah satu Akademi Tafsir ternama di Saudi Arabia, dan mendapatkan sambutan positif dari masyarakat serta praktisi pendidikan Islam. []

Irfan Rhamdan Wijaya (Abu Naveed)
Dosen STIQ ZAD Cianjur


[1] Tim Pakar, Usus al-Ta’lîm al-Manhaji, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. I, 1425 H, hlm. 9.
[2] Prof. Dr. ‘Abdul Karim Bakkar, Hawla al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah, Damaskus: Dâr al-Qalam, Cet. III, 1432 H, hlm. 17.
[3] Ibid, hlm. 20.
[4] Muhammad bin Jarîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, Cet. I, 1420 H, jilid XVII, hlm. 278.
[5] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37
[6] Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar al-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabîr, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.
[7] Terjemah Al-Qur’an Departemen Agama RI dengan sedikit penyesuaian bahasa.
[8] Muhammad Shiddiq Khan bin Hasan al-Husaini, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: Al-Maktabah al-’Ashriyyah, 1412 H/1992, juz XIII, hlm. 71.
[9] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr al-Thayyibah, cet. II, 1420 H/1999, juz VIII, hlm. 480.
[10] Muhammad Shiddiq Khan al-Husaini, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, juz XIII, hlm. 71.
[11] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/171, hadits no. 318) sanadnya shahih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi, Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’  (X/114, hadits no. 20833)
[12] Badruddin Ibn Jama’ah, Tadzkirat al-Sâmi’ wa al-Mutakallim fî Adab al-‘Âlim wa al-Muta’allim, Beirut: Dâr al-Basyâ’ir al-Islâmiyyah, Cet. III, 1433 H, hlm. 64.
[13] Yakni mampu mengalahkan bantahan-bantahan atau tantangan-tantangan kaum penentang (kuffar) atasnya.
[14] Dr. Samih ‘Athif, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr al-Kitâb al-Mishri, Cet. I, 1410 H, hlm. 308.
[15] Fadhil Shalih al-Samara’i, Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âni, Kairo: Syirkat al-‘Âtik, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 4.
[16] Ibid.
[17] Ahmad bin Hanbal, Al-Zuhd, Dâr Ibn Rajab, cet. II, 2003, hlm. 244.
[18] Dr. Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, Jakarta: Rajawali Press, Cet. I, 2012, hlm. 1-12.
[19] Dr. Taufik Abdillah, Pendidikan Karakter Berbasis Hadits, Jakarta: Rajawali Press, Cet. I, 2014, hlm. 1-13.
[20] Lihat: harnas.co, 22/09//2015. Diakses tanggal 3 Agustus 2016, pukul 21:59 WIB
[21] Dr. Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, hlm. 5.
[22] Ibid, hlm. 4.
[23] Ibid, hlm. 6.
[24] Ibid, hlm. 6.
[25] Dr. Ulil Amri Syafri, membahas tentang masalah ini dalam bukunya pada halaman 13-16.