02 December 2019

Menyikapi Oknum Penista Al-Mushthafa Rasulullah ﷺ



Pernyataan oknum yang menyifati masa kecil baginda Rasulullah dengan lusuh, kumuh, dekil atau apapun istilahnya, jelas termasuk pernyataan yang kelewat batas, tak layak dibicarakan dan dijadikan bahan lawakan, bahkan mengandung pelecehan! Dalam QS. Al-Baqarah: 104 saja diharamkan ucapan para sahabat "râ'inâ" kepada Rasulullah yang menyerupai plesetan mengandung penistaan kaum Yahudi: "ru'ûnah" (koplok, bebal).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengatakan ”râ’inâ” akan tetapi katakanlah ”unzhurnâ” dan dengarkanlah, dan bagi orang-orang kafir itu ’adzab yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)

Bahkan saya tegaskan, kalau seandainya benar sekalipun pun, maka tak semua hal yang benar layak dijadikan bahan goyonan, lawakan dan candaan. Apalagi jika itu merupakan kedustaan dan mengandung pelecehan!

Saya tanya, layakkah seorang santri membicarakan masa kecil kyainya yang lusuh, kumuh dan dekil diikuti dengan gelak tawa?!

Jika masa kecil Mbah Hasyim Asy'ari distigma seperti itu, dijadikan bahan candaan, kira-kira layak tidak dibicarakan di forum pengajian, apalagi pengajian yang mengulas biografi beliau? Apalagi baginda al-Mushthafa Rasulullah !

Seharusnya paham kaidah balaghiyyah:

لكل مقام مقال ولكل مقال مقام
"Untuk setiap maqam itu ada maqalnya, dan untuk setiap maqal itu ada maqamnya."

Itu jika benar, lalu bagaimana jika didalamnya terkandung kedustaan?!

إن كنت ناقلا فالصحة
"Jika engkau menukil maka nukillah dengan benar"

وإن كنت مدعيا فالدليل
"Jika engkau orang yang mendakwa, maka hadirkanlah dalil buktinya"

Tak hanya melakukan desakralisasi khilafah, ia pun melakukannya pada pribadi baginda Rasulullah , maka hendaknya evaluasi diri, dan lebih jauh lagi menahan diri dari berbagai pernyataan yang menyudutkan Khilafah dan kelompok kaum Muslim lainnya, yang jelas-jelas menunjukkan intoleransi. Pernyataan-pernyataannya yang terkesan kontroversi dan tak berbobot ilmu, seakan menunjukkan kaidah:

من تكلم في غير فنّه أتى بالعجائب
“Siapa saja yang berbicara dalam hal yang tak dikuasainya, maka ia akan mendatangkan perkara-perkara kontroversial.”

Kaidah ini disebutkan oleh para ulama, sebutlah al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 1379 H) dalam Fath al-Bârî (III/584), Syaikh Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuri (w. 1353 H) dalam Tuhfat al-Ahwadzi (I/24), Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri (w. 1353 H) dalam Faidh al-Bârî (IV/39).

Jika ia mengaku hanya bercanda, mengundang gelak tawa, maka peringatan hadits yang mulia ini cukup mengena!

«مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»
"Siapa saja yang mencari keridhaan manusia dengan (mendatangkan) kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkannya kepada manusia dan siapa saja yang membuat manusia marah semata-mata mencari keridhaan Allah maka Allah mencukupkannya dari bantuan manusia." (HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Ahmad dalam Al-Zuhd dari Aisyah r.a. Lafal al-Tirmidzi)

Kata "man" dalam ungkapan di atas menunjukkan bahwa cakupan peringatannya bersifat umum, siapapun dia, apapun profesi, jabatan dan gelarnya.

Kalau merasa diri kyai, seharusnya sadar diri, ingat dengan pesan Imam Al-Hasan al-Bashri -radhiyallahu 'anhu-:

لا تكن ممن يجمع علم العلماء وطرائف الحكماء ويجري في العمل مجرى السفهاء
“Janganlah engkau menjadi golongan orang yang gemar mengumpulkan ilmu para ahli ilmu, kebajikan-kebajikan orang-orang bijak (baca: ahli hadits wal atsar), namun ia beramal seperti amalan orang-orang pandir.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Beirut: Dar al-Ma'rifah, juz I, hlm. 59)

Kaum Muslim nyata membutuhkan institusi Khilafah yang bisa menegakkan sanksi hukum Islam pada pelaku penistaan!

والله المستعان

PERNYATAAN SIKAP PARA HABA'IB  

🔎 Sebut Nabi Rembes, Gus Muwafiq Ditegur Habib Abu Bakar Assegaf Pasuruan:
https://www.youtube.com/watch?v=HA-Y1hThI1Y

🔎 Habib Bahar: Keagungan Al-Mushthafa Muhammad Saw:
https://www.youtube.com/watch?v=HVobw41_tqs

🔎 Habib Hanif Tak Terima Ucapan Gus Muwafiq

https://www.youtube.com/watch?v=LOpnp4Vuk0s

Irfan Abu Naveed
Min Muhibbi Rasulillah


27 November 2019

Kesesatan Klaim Adanya Kenabian Pasca Kenabian Nabi Muhammad ﷺ

Hasil gambar untuk Ahmadiyyah Sesat

Catatan Kajian Irfan Abu Naveed
Pemerhati Kajian Balaghah al-Qur'an & Hadits Nabawi, Dosen Fikih-Manthiq

Menyoal ajaran Ahmadiyyah Qadiyaniyyah, telah ada fatwa MUI/Dasar Hukum Lain Yang Melarang: No. 05/kep/munas II/MUI/1980 yang menyatakan ajaran tersebut sesat. Râbithah al-Âlam al-Islâmi (liga dunia islam) di Makkah pun menyatakan hal senada bahkan lebih tegas lagi.

Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) mendefinisikan makna dhalâl berkonotasi sebagai perbuatan:

الاِنْحِرَافُ عَنْ شَرْعِ اللهِ
“Penyimpangan dari syari’at (ajaran) Allah.”[1]

Dengan kata lain suatu paham dikatakan sesat, menyimpang jika bertentangan dengan akidah dan hukum-hukum syariah yang qath‘i. Suatu paham yang menyimpang dari rukun iman, rukun Islam, dan atau tidak mengimani kandungan al-Quran jelas terkategori kesesatan (dhalâlah). Apalagi syahadatnya bukan syahadat Islam. Dilihat dari sudut ini, al-Qiyadah al-Islamiyah dan aliran-aliran lainnya yang disebutkan dengan keyakinan seperti di atas dapat digolongkan kelompok sesat, batil, karena menyelisihi ajaran-ajaran Islam yang qath’i. Pengakuan suatu kelompok atas seseorang sebagai rasul yang diutus dengan suatu syahadat adalah suatu bentuk kemungkaran yang merusak kemurnian akidah Islam yang hanya mengakui Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul terakhir, sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 40).

Imam Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) menafsirkan ayat tersebut menegaskan TIDAK ADA LAGI KENABIAN PASCA KENABIAN NABI MUHAMMAD :

وَلكِنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ وَخَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ، الَّذِي خَتَمَ النُّبُوَّةَ فَطُبِعَ عَلَيْهَا، فَلاَ تُفْتَحُ لِأَحَدٍ بَعْده إِلى قِيَامِ السَّاعَةِ
“Akan tetapi ia adalah utusan Allah dan penutup para nabi (khâtam al-nabiyyîn). Beliau adalah penutup kenabian (nubuwwah) sekaligus orang yang diberi cap kenabian. Atas dasar itu, kenabian (nubuwwah) tidak akan dibukakan kepada seorang pun setelah beliau hingga Hari Kiamat.”[2]

Dan perkara ini termasuk perkara akidah, al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani dalam Muqaddimah al-Dustûr menegaskan bahwa kedudukan Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- sebagai penutup para nabi termasuk wilayah akidah, karena kita dituntut untuk mengimaninya.[3] Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) menyatakan bahwa ayat ini merupakan nash yang menunjukkan tidak adanya nabi setelah Nabi Muhammad , sebagaimana ditegaskan dalam referensi terkait[4]. Al-Hafizh Ibnu Katsir pun menegaskan bahwa masalah ini telah disebutkan oleh hadits-hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh mayoritas Sahabat.[5]

Pengakuan tentang nabi/rasul setelah Muhammad ini misalnya, jelas menikam hdis-hadis Rasulullah , di antaranya hadits dari Hudaifah Ibnu al-Yaman r.a. bahwa Nabi bersabda:

َإِنِّي خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
“Sesungguhnya aku penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi setelahku” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya[6])

Makna la nabiya ba'di, TIDAK BISA DITERJEMAHKAN "CINCIN/MAHKOTA KENABIAN", mengingat makna tersebut bertentangan dengan makna yang sharih dalam hadits shahih:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ
“Dulu Bani Israil diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para khalifah, yang berjumlah banyak.” (HR. Al-Bukhari[7], Muslim[8] & Ahmad[9])

Yang menegaskan tidak akan ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad , yang ada adalah para khalifah pengganti dalam urusan kepemimpinan atas umat dalam kehidupan bernegara. Hadits-hadits dengan redaksi lain yang senada pun banyak kita temukan dalam kitab induk hadits. Semuanya menggambarkan bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir, kalimat lâ nabiyya ba’diy semakin mempertegas makna khâtam al-nabiyyîn, bahwa beliau jelas adalah penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi setelah beliau. Setelah masa Rasulullah , umat dipimpin bukan oleh nabi atau rasul, melainkan para khalifah yang menerapkan Islam yang dibawa Rasulullah .

Coba perhatikan hadits hasan, maqbul, marfu' berikut ini:

'Uqbah bin Amir r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

لَوْ كَانَ مِنْ بَعْدِي نَبِيٌّ، لَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ
"Jika setelahku ada lagi nabi maka ia adalah Umar bin al-Khaththab." (HR. Ahmad, Al-Tirmidzi)

Hadits ini hadits hasan, Imam Ahmad meriwayatkannya dalam Musnad-nya (no. 17405), Syaikh al-Muhaddits Syu'aib al-Arna'uth menuturkan: "Isnad-nya hasan"; Imam al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 3686) menegaskan: "Ini adalah hadits hasan gharib..."

Qultu:

Kalau seandainya benar klaim ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad , maka Nabi tidak mungkin mengatakan kalimat di atas, "kalau ada lagi nabi setelahku", dalam ilmu balaghah menunjukkan pengandaian yang jelasnya tidak ada, sehingga 'Umar bin al-Khaththab r.a. bukanlah nabi, tapi seorang sahabat yang kemudian dibai'at umat menjadi Khalifah yang digambarkan dalam hadits nabawi lainnya.

Sehingga jelas makna khatam al-nabiyyin, maknanya adalah la nabiya ba'dahu, ia TIDAK BISA DITERJEMAHKAN "CINCIN/MAHKOTA KENABIAN", mengingat makna tersebut bertentangan dengan makna yang sharih dalam hadits shahih:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ
“Dulu Bani Israil diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para khalifah, yang berjumlah banyak.” (HR. Al-Bukhari, Muslim & Ahmad).

Jelas, disebutkan "TIDAK AKAN ADA LAGI NABI", yang ada adalah para khalifah, semisal Khalifah Abu Bakar, Umar, dsb dari para pengganti kedudukan baginda sebagai kepala negara yang mengatur urusan umatnya (siyasah).

Dalam ilmu ushul, lafal khatam yang diidhafatkan kepada al-nabiyyin, kalaupun diklaim sebagai lafal musytarak (satu kata yang memiliki makna lebih dari satu) TETAP WAJIB DIPILIH MAKNANYA berdasarkan petunjuk dalil-dalil naqli lainnya, tak boleh sembarang dipilih tanpa ilmu dan diterjemahkan begitu saja dengan terjemah yang bertentangan dengan dalil-dalil naqli lainnya.

Dalil-dalil di atas, menunjukkan secara sharih bantahan atas penyimpangan makna khatam al-nabiyyin kepada makna "mahkota kenabian/cincin kenabian" dengan tujuan batil untuk dijadikan dalih adanya nabi setelah Nabi Muhammad , yang benar berdasarkan petunjuk hadits-hadits nabawiyyah, maknanya jelas "PENUTUP KENABIAN", ditegaskan oleh para ulama ahlus sunnah yang menegaskan tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad .

Sebagai contoh kesalahan memaknai kata al-silm (السلم) dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208, yang termasuk lafal musytarak (satu kata bermakna ganda) mengandung konotasi: الإسلام dan مسالمة العدو. Lafal ini akan berakibat sangat fatal jika dimaknai secara harfiah sebagai مسالمة العدو yakni perdamaian dengan musuh, padahal makna sebenarnya الإسلام, berdasarkan banyak qarâ'in nya. Ditegaskan Ibn Abbas r.a. dan tafsir para ulama salaf dan khalaf lainnya. Sebagaimana diuraikan oleh Amir Hizb, Syaikhuna Atha bin Khalil dalam kitab tafsirnya, al-Taysir fi Ushul al-Tafsir.

Maka bertaubatlah mereka yang meyakini Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad , mengingat mereka meyakini sesuatu tanpa dalil (khurafat), begitu pula sekte-sekte sesat nan batil yang mengklaim adanya nabi baru!

Catatan Kaki:
[1] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 335.
[2] Muhammad bin Jarir Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XX, hlm. 278.
[3] Taqiyuddin bin Ibrahim Al-Nabhani, Muqaddimah al-Dustûr, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1430 H, juz I, hlm. 22.
[4] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Dâr Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz VI, hlm. 428.
[5] Ibid.
[6] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (juz ke-38/hlm. 380, hadits no. 23358), Syu’aib al-Arna’uth mengatakan sanadnya shahih, para perawinya tsiqah.
[7] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (III/1273, hadits no. 3268).
[8] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (VI/17)
[9] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (XIII/340, hadits no. 7960), Syu’aib al-Arna’uth mengatakan bahwa sanadnya shahih sesuai syarat Syaikhayn (al-Bukhari & Muslim).

25 November 2019

Kekuasaan Semu Apa Yang Bisa Disombongkan Untuk Menjegal Dakwah Islam?


Tadabur Al-Qur'an

Fir'aun itu hancur tatkala berada di puncak-puncaknya kejayaan, dimana ia berani mengklaim:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
"Fir’aun berkata, “Aku adalah rabb kalian yang paling tinggi." (QS. Al-Nazi’at [79]: 24).

Itu ia ungkapkan, menurut Tafsir al-Jalalayn, 40 tahun setelah ia mengikrarkan "مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي":

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَآأَيُّهَا الْمَلأُ مَاعَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَاهَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحًا لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.” (QS. Al Qashash [28]: 38)

Dalam kitab Tafsir al-Jalalayn disebutkan:

{فقال أنا ربكم الأعلى} لا رب فوقي {فأخذه الله} أهلكه بالغرق {نكال} عقوبة {الآخرة} أي هذه الكلمة {والأولى} أي قوله قبلها ما علمت لكم من إله غيري وكان بينهما أربعون سنة
"(Seraya) berkata: "Akulah (Fir'aun) tuhanmu yang paling tinggi." yakni tidak ada tuhan lagi di atasku (Maka Allah mengazabnya) yakni membinasakannya dengan penenggelaman (azab) siksaan (akhirat) akibat pernyataan ini (yang pertama) yakni perkataan Fir'aun sebelumnya: bahwa ia tidak mengakui adanya tuhan selain dirinya dimana jarak antara dua pernyataan tersebut adalah empat puluh tahun."

Memprihatinkannya, sosok Haman, sebagai arsitektur infrastruktur Fir'aun, menyokong ketakaburan Fir'aun dan upaya tipu dayanya, untuk membangun stigma negatif kepada pengemban dakwah, Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sebagai pendusta:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ {٣٦} أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا ۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ ۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ {٣٧}
“Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta." Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.” (QS. Al Mu’min [40]: 36-37)

Sehingga pantas jika mereka dihinakan sehina-hinanya, ditenggelamkan di dasar lautan, permukaan bumi paling rendah:

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
"Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan." (QS. Al-Baqarah [2]: 50)

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ ۙ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ ۚ وَكُلٌّ كَانُوا ظَالِمِينَ
"(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anfal [8]: 54)

والعياذ بالله
والله المستعان
نسأل الله العافية والسلامة


05 November 2019

[Video] Aksi Damai Seribuan Massa Pembela Bendera Tauhid di Cianjur



Sebagai bentuk kecintaan pada syi'ar Islam, bendera tauhid, seribuan lebih kaum Muslim di Cianjur dsk, melakukan aksi damai: konvoi dan orasi pengibaran bendera tauhid di Cianjur. Diikuti oleh ormas-ormas di Cianjur, diisi oleh orasi para tokoh habaib, kyai dan ustadz.

Aksi ini merupakan jawaban dari persekusi atas bendera tauhid di acara Hari Santri Nasional di Cianjur. Satu dipersekusi, maka ribuan panji dikibarkan.

Viralkan!

Link: https://bit.ly/2PQKecj

Koreksi Atas Penukilan Maqalah Ulama Terkait Bendera Tauhid



*Pertanyaan*

Ada seseorang dalam sebuah acara membiaskan eksistensi bendera tauhid dengan menukil maqalah ulama menyoal penulisan kalimat mulia, ia menyatakan:

"Menuliskan kalimat mulia yang berpotensi digunakan tidak semestinya menurut ulama Hanafiyah adalah makruh. Bahkan menurut ulama Malikiyah adalah haram. Sebab kalimat agung akan berpotensi terhinakan."

Pertanyaannya: "Bagaimana mendudukkan maqalah para ulama ini?"

Jawab:

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Maqalah para ulama tersebut, jelasnya wajib ditempatkan pada tempatnya, tidak relevan digunakan untuk mendiskreditken begitu saja (secara mutlak) penulisan kalimat tauhid pada kain bendera yang kemudian secara 'urfi, ma'ruf diistilahkan kaum Muslim di negeri ini dengan istilah "bendera tauhid":

Pertama, Maqalah sebagian ulama tersebut jelasnya berkaitan erat dengan penulisan kalimat dzikrullah pada benda yang memang ternistakan atau berpotensi besar akan ternistakan. Ini adalah sifat yang membatasi arah maqalah tersebut, tak bisa digunakan sebagai fatwa sapu jagad dan bersifat mutlak. Intinya, kalaupun dituliskan pada bendera, maka ia wajib dijaga kehormatannya, tidak boleh dinistakan.

Dalam maqalah al-Hafizh al-Nawawi al-Syafi'i (w. 676 H) ini misalnya:

[فصل] مذهبنا أنه يكره نقش الحيطان والثياب بالقرآن وبأسماء الله تعالى قال عطاء لا بأس بكتب القرآن في قبلة المسجد وأما كتابة الحروز من القرآن فقال مالك لا بأس به إذا كان في قصبة أو جلد وخرز عليه وقال بعض أصحابنا إذا كتب في الخرز قرآنا مع غيره فليس بحرام ولكن الأولى تركه لكونه يحمل في حال الحدث وإذا كتب يصان بما قاله الامام مالك رحمه الله وبهذا أفتى الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله
"(Pasal) madzhab kami (Syafi'i) memakruhkan mengukir tembok dan pakaian dengan ayat al-Qur'an dan nama-nama Allah. Berkata Imam ‘Atha, bahwa tidak mengapa menulis al-Qur'an pada kiblat masjid, adapun menuliskan huruf al-Qur'an maka Imam Malik berkata tidak mengapa apabila di buluh atau kulit lalu diikatkan. Berkata sebagian ashhab kami: jika ditulis di dalam jimat ayat al-Qur'an dengan selainnya maka tidaklah haram, tetapi lebih utama ditinggalkan, karena bisa terbawa ketika hadats. Apabila al-Qur'an ditulis (pada sesuatu) harus dijaga sebagaimana perkataan Imam Malik dan dengan pendapat ini pulalah al-Syaikh Abu ‘Amr bin al-Shalah berfatwa”[1]

Jika kita teliti lebih dalam perkataan para ulama, mereka memakruhkan atau mengharamkan menulis al-Qur'an pada tembok dan yang semisalnya, disebabkan adanya dugaan kuat menghantarkan kepada penistaan dan penghinaan terhadap al-Qur'an. Sedangkan secara asal, hukumnya adalah mubah, karena tidak ada satupun dalil yang mengharamkan menulis al-Qur'an diatas suatu benda (yang terjaga).

Jika bendera bisa secara mutlak digolongkan pada sifat penistaan tersebut, lantas bagaimana dengan mushhaf? Kitab-kitab tafsir dan hadits? Buku-buku yang memuat ayat al Qur'an? Termasuk kaligrafi di dinding-dinding masjid, atau dalam kain yang dipajang? Termasuk kalimat "نحن أنصار الله" yang dicetak dalam logo ormas, ditempelkan pada pakaian? Termasuk bagaimana pula dengan kain penutup keranda mayat yang memuat kalimat istirja' "إنا لله وإنا إليه راجعون"?

Kedua, Jika konsisten seharusnya maqalah yang dinukil ini pun, digunakan untuk menghukumi jimat-jimat yang kontennya bertuliskan ayat al-Qur'an. Jimat, jelas sangat rentan karena bentuknya kecil, dilipat dan disimpan dalam saku atau dompet, jelas rentan dibawa ke wc, terduduki, terbuang, dsb. Kenapa tak digunakan pula fatwa-fatwa tersebut untuk menghukumi jimat?

Tentang jimat misalnya, dalam kitab-kitab turats diuraikan kenapa ada dua golongan ulama yang mengharamkan dan memakruhkan jimat meski kontennya dzikrullah dari al Qur'an? Alasannya adalah adanya kaidah sadd al-dzari'ah, dengan asumsi penulisan kalimat dzikrullah pada jimat dianggap berpotensi besar akan mengarah pada penistaan atasnya, disadari atau tidak, misalnya dibawa ke WC, terbuang, dsb [Info: tentang perincian hukum jimat ini, sudah saya uraikan dalam buku "Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia"]

Ketiga, Benarkah penulisan kalimat tauhid pada bendera artinya menistakannya? Para ulama, semisal pakar fikih, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal'ah Ji (w. 1435 H), dalam kitab Mu'jam Lughat al-Fuqaha' menegaskan sifat bendera itu sendiri sebagai sesuatu yang memang pada asalnya untuk ditinggikan:

الراية: ج راي ورايات، العلامة المنصوبة للرؤية علم الجيش أو علم البلاد
"Al-Râyah: jamaknya rây dan râyât adalah simbol yang dibuat untuk ditinggikan agar bisa terlihat, ia merupakan simbol pasukan atau simbol negeri-negeri". [2]

Ini merupakan tradisi dari adanya bendera, yang memang dibuat untuk ditinggikan, disyi'arkan, karena memiliki kedudukan sebagai syi'ar. Kalau tidak begitu, dengan kata lain harus dilarang karena ternistakan, maka tidak akan ada orang yang membuat bendera negara, bendera ormas, bendera kelompok dsb, dengan asumsi bahwa bendera berpotensi menghinakan simbol di dalamnya. Apakah asumsi tersebut bisa diterima? Kenyataannya tidak.

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

Irfan Abu Naveed
Dosen Fikih-Manthiq/ Pengajar Balaghah

Catatan Kaki:
[1] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Tibyân fi Âdâb Hamalat al-Qur'ân, Beirut: Dar Ibn Hazm, cet. III, 1414 H, hlm. 172.
[2] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, juz I, hlm. 218.

02 November 2019

Koreksi Atas Klaim Hermeneutis Ala Irwan Masduqi Menyoal Ijma'



Oleh: Irfan Abu Naveed
[Penulis Buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah"]

Benarkah Ijma’ Itu Hanya Klaim Sepihak Ulama Di Zamannya Demi Motif Politis Seperti Yang Diklaim Oleh Sdr Irwan Masduqi?

        Jelas ini tidak benar dan tak bisa dibenarkan, klaim ini mengandung tuduhan serius kepada para ulama seakan-akan mereka berdusta mengada-adakan tentang ijma’. Sebagaimana disebutkan oleh ybs tatkala mengomentari dalil ijma' sahabat dan ijma' ahlu sunnah wa al-jama'ah yang saya uraikan berkali-kali dalam forum diskusi bedah buku Konsep Baku Khilafah Islamiyyah di Banjar (27/10/2019). 
Kecurigaan dan tuduhan seperti ini, adalah kecurigaan dan tuduhan khas penganut hermeneutika atas nama “kajian sosio historis”. Pemikiran rusak seperti ini, mudah kita temukan dalam ucapan-ucapan para penganut hermeneutika, mereka andalkan ketika mengkritisi teks-teks khazanah Islam, diantaranya tatkala mereka mengkritisi maqalah para ulama, dimana produk pemikiran yang lahir dari kerangka berpikir rusak ini, disadari atau tidak akhirnya bisa sampai pada perbuatan sangat berbahaya: menikam satu di antara fondasi-fondasi ajaran Islam, berbekal asumsi (wahm) belaka, sama sekali tak bernilai ilmiah, dan bahkan wajib ditolak dan dikritisi.
        Bagaimana bisa kita menuduh para ulama Islam telah berdusta soal agama tanpa dasar? Padahal Islam mengajarkan konsepsi ikhlas dan jujur dalam menyebarkan ilmu, dimana para ulama Islam terdepan dalam mengajarkan dan mengamalkan konsepsi agung ini, sesuatu yang memang tak dimiliki oleh penganut peradaban barat pemuja materialisme. Maka jelas, kerangka heremeneutika seperti ini wajib ditolak dan dikritisi.
Dr. Daud Rasyid menegaskan bahwa kedudukan ijma’ sahabat sebagai dalil syari’ah -setelah al-Qur’an dan al-Sunnah- sangatlah kuat, didasarkan pada dalil yang qath’i. Para ulama’ ushul menyatakan, bahwa menolak ijmak sahabat bisa menyebabkan seseorang murtad dari Islam. Dalam hal ini, Imam al-Sarkhashi (w. 483 H) yang digelari syams al-a’immah (mentari para imam) menegaskan:
ومن أنكر كون الإجماع حجة موجبة للعلم فقد أبطل أصل الدين فإن مدار أصول الدين ومرجع المسلمين إلى إجماعهم فالمنكر لذلك يسعى في هدم أصل الدين.
Siapa saja yang mengingkari kedudukan ijma’ sebagai hujjah yang secara pasti menghasilkan ilmu, berarti benar-benar telah membatalkan fondasi agama ini, karena sesungguhnya poros fondasi Din ini dan tempat kembali kaum Muslim kepada ijma’ mereka. Karena itu orang yang mengingkari ijma’ sama saja dengan berupaya menghancurkan fondasi agama ini.[1]
Dengan demikian, tuduhan serius ala penganut hermeneutika seperti ini wajib ditolak dan dikritisi, sehingga tak ada alasan apapun yang bisa diterima untuk menolak atau mengaburkan adanya kebakuan Khilafah, berupa dalil ijma’ yang terang benderang, seterang mentari di siang bolong. Oleh karena itu, ijma’ sahabat yang menetapkan kewajiban menegakkan Khilafah dan mengangkat Khalifah tak boleh diabaikan, atau dicampakkan seakan tidak berharga karena bukan dalil al-Qur’an dan al-Sunnah. Lantas, bagaimana sikap kita? Sikap kita sebagaimana dituturkan sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan para ulama lainnya:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun”
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.”
[2]
        Kedudukan ijma’ sebagai dalil ushul al-syari’ah pun ditegaskan para ulama: Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i (w. 204 H) menegaskan:
أَنَّ لَيْسَ لاَحَدٍ أَبَدًا أَنْ يَقُوْلَ فِي شَئْ حلّ وَ لاَ حَرَم إِلاَّ مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ وَجِهَةُ الْعِلْمِ الخَبَرُ فِي الْكِتَابِ أَوْ السُّنَةِ أَوْ الإِجْمَاعِ أَوْ الْقِيَاسِ
Seseorang tidak boleh menyatakan selama-lamanya suatu perkara itu halal dan haram kecuali didasarkan pada ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah informasi dari al-Kitab (al-Quran), al-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas.[3]
Senada dengan itu, Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) juga menyatakan:
وَجُمْلَةُ الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ تَرْجِعُ إلَى أَلْفَاظِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالِاسْتِنْبَاطِ
Keseluruhan dalil-dalil syariah merujuk pada ragam ungkapan yang tercantum dalam al-Kitâb (al-Qur’an), al-Sunnah (al-Hadits), Ijma’ dan Istinbâth (Qiyas).[4]
Penegasan kedudukan ijma’ sahabat sebagai dalil ushul al-syari’ah pun jelas bisa ditemukan dalam banyak referensi berharga ushul fikih dalam khazanah keilmuan kaum Muslim, yang telah diakui dan disepakati dari masa ke masa. Lantas bagaimana bisa diterima wahm bahwa tidak ada ijma’ dalam Islam dan ia hanya klaim sepihak ulama dengan motif politis?! Jika memang benar seperti itu, lantas untuk apa para ulama menjadikan ijma’ sebagai salah satu hujjah jika kenyataannya ia sesuatu yang tidak ada?! Logika seperti apa yang bisa membenarkan wahm ala manhaj rusak hermeneutika ini?! Tidak ada!



[1] Muhammad bin Ahmad Al-Sarkhasi, Ushûl al-Sarkhasi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1414 H, juz I, 296.
[2] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadrîb al-Râwi fî Syarh Taqrîb al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.
[3] Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Risâlah, Ed: Rif’at Fauzi, Mesir: Dar al-Wafa’, cet. I, 1422 H/2001, hlm. 16.
[4] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Al-Mustashfâ fî ‘Ilm al-Ushûl, Ed: Muhammad bin Sulaiman al-Asyqar, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1417 H/1997, juz II, hlm. 298.