14 November 2020

Soal Jawab Balaghah Kitab Nafsiyyah: Hadits Hattâ Ya’ûda al-Laban fî Al-Dhar'i

[Ngaji Balaghah Hadits Nabawi]

Irfan Abu Naveed

Salah satu hadits yang menggambarkan keutamaan menangis karena takut atas siksa Allah adalah hadits yang dinukil dalam Min Muqawwimât al-Nafsiyyah al-Islâmiyyah sebagai berikut:

«لَا يَلِجُ النَّارَ مَنْ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ، وَلَا يَجْتَمِعَ عَلَى عَبْدٍ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ»

“Tidak akan masuk neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali lagi ke tempatnya. Dan tidak akan berkumpul debu perang di jalan Allah dengan asap jahannam.” (HR. Al-Tirmidzi. Abu Isa berkata: “Hadits ini hasan shahîh”)

Menariknya, hadits ini dalam perspektif ilmu balaghah mengandung ungkapan cantik, nyastra, yang menggambarkan kecerdasan Rasulullah mencakup kecerdasan linguistik (fashîh balîgh). Ketika menjelaskan hadits ini, Al-Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) menuturkan:

(حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ) : هَذَا مِنْ بَابِ التَّعْلِيقِ بِالْمُحَالِ

Hingga air susu kembali kepada tempat penyusuannya: ini termasuk bahasan al-ta’lîq bi al-muhâl (penggantungan sesuatu dengan hal-hal yang mustahil)[1]

Yakni untuk menunjukkan kemustahilan sesuatu sehingga diserupakan dengan kemustahilan lainnya yang lebih mudah dipahami. Al-Mulla Ali al-Qari berdalil sebagaimana potongan ayat “{حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ}” dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ {٤٠}

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS. Al-A’râf [7]: 40)

Dalam perspektif ilmu balaghah (‘ilm al-bayân) potongan ayat di atas mengandung bentuk tasybîh dhimnî, yakni suatu bentu penyerupaan yang tidak disusun di dalamnya al-musyabbah dan al-musyabbah bihi sebagaimana dalam gambaran umum bentuk tasybîh, akan tetapi digambarkan secara tersirat (ghayr sharîhah) adanya al-musyabbah dan al-musyabbah bihi tersebut, yang dipahami dari maknanya.[2]

 

Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili (w. 1436 H) dalam kitab Al-Tafsîr al-Munîr menjelaskan:

لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوابُ السَّماءِ كناية عن عدم قبول العمل يوم القيامة. حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِياطِ فيه تشبيه ضمني، أي لا يدخلون الجنة إلا إذا دخل الجمل في ثقب الإبرة، وهو تمثيل للاستحالة. لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَواشٍ استعارة لما يحيط بهم من كلّ جانب مثل قوله: لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ، وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ

Tidak dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka” merupakan kinâyah tidak diterimanya amal baik mereka pada Hari Kiamat, “hingga unta masuk ke lubang jarum” di dalam ayat ini terkandung tasybîh dhimnî, yakni mereka tidak akan masuk jannah-Nya kecuali jika unta masuk ke dalam lubang jarum, dan ini merupakan perumpamaan atas suatu kemustahilan (tamtsîl li al-istihâlah). “Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)” ini merupakan kiasan isti’ârah (peminjaman istilah) untuk menggambarkan sesuatu yang melingkupi mereka dari segala sisinya, semisal firman-Nya: 

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ۚ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ {١٦}

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku.” (QS. Al-Zumar [39]: 16)[3]

Hal senada diuraikan oleh Prof. Dr. Muhammad Ali al-Shabuni dalam kitab Shafwat al-Tafâsîr:

{حتى يَلِجَ الجمل فِي سَمِّ الخياط} فيه تشبيه ضمني أي لا يدخلون الجنة بحالٍ من الأحوال إلا إِذا أمكن دخول الجمل في ثقب الإِبرة، وهو تمثيلٌ للاستحالة.

“Hingga unta masuk ke lubang jarum” di dalam ayat ini terkandung tasybîh dhimnî yakni mereka tidak akan memasuki jannah dalam kondisi apapun, kecuali jika memungkinkan masuknya unta ke dalam lubang jarum, dan ini merupakan perumpamaan bagi kemustahilan (tamtsîl li al-istihâlah).[4]

Dari berbagai keterangan di atas bisa disimpulkan bahwa kalimat “لَا يَلِجُ النَّارَ مَنْ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ” dalam hadits jelasnya mengandung bentuk al-tasybîh al-dhimnî. []

والله أعلم بالصواب



[1] Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dar al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VI, hlm. 2478.

[2] Ahmad bin Ibrahim al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’ânî wa al-Bayân wa al-Badî’, Ed: Dr. Yusuf al-Shumaili, Beirut: al-Maktabat al-‘Ashriyyah, hlm. 239. Ahmad al-Hasyimi menjelaskan:

هو تشبيه ٌ لا يوضع فيه المشبه والمشبه به في صورة من صور التشبيه المعروفة، بل يلمح المشبه والمشبه به، ويفهمان من المعنى، ويكون المشبه به دائماً برهاناً على امكان ما أسند إلى المشبه

[3] Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, cet. II, 1418 H, juz VIII, hlm. 204.

[4] Prof. Dr. Muhammad Ali al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, Kairo: Dar al-Shabuni, cet. I, 1417 H, hlm. 416.

21 July 2020

Rajin Pacaran, Menikah Enggan, Perlu Diruqyah?

[REUPLOAD: Indonesia Tanpa Pacaran]

Ngaji Online Bareng Indonesia Tanpa Pacaran:

"RAJIN PACARAN, MALAS MENIKAH. APA PERLU DIRUQYAH?"

Agenda "QURBANKU, PERJUANGANKU" bersama #IndonesiaTanpaPacaran selanjutnya menghadirkan Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I, seorang Dosen Fiqih -Bahasa Arab, Penulis, Pengkaji Tafsir serta Balaghah Al-Qur'an dan Praktisi Ruqyah Syar'iyyah. Beliau akan membawakan materi dengan tema "RAJIN PACARAN, MALAS MENIKAH. APA PERLU DIRUQYAH?"

Kajian ini diselenggarakan pada:

Hari, Tanggal: Sabtu, 11 Juli 2020
Waktu: 16.00 WIB / 17.00 WITA / 18.00 WIT

Live On Youtube: Link Kajian



03 July 2020

Koreksi Argumentatif Atas Stigma "Khilafahisme" [Bag. I]


Serial Koreksi & Bantahan Argumentatif Atas Syubhat [Sajian Singkat Padat]


Kajian Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat al-Qur'an & Hadits-Hadits Nabawiyyah

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
[Dosen Bahasa Arab-Fikih/Penulis "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah"]

Istilah "khilafahisme" yang dipopulerkan baru-baru ini, jelas mengandung konotasi 'urfi, dengan tujuan melakukan delegitimasi dan deradikalisasi Khilafah sebagai ajaran Islam, untuk distigma, dinisbatkan kepada paham suatu kelompok tertentu (sempalan), dalam hal ini HT sebagai tertuduh, lalu dengan mudah disandingkan dengan Komunisme.

Jelas istilah ini mungkar, dan mengandung kemungkaran, wajib dibantah, mengingat suatu kata, ketika ia mengandung konotasi haqiqah 'urfiyyah yang bertentangan dengan Islam, mengandung celaan pada hukum Islam, pada Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam, termasuk deradikalisasi serta delegitimasi atasnya, jelas merupakan istilah yang haram digunakan, sebagaimana ditegaskan ulama, semisal Syaikhuna 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah -hafizhahullah- dalam tafsirnya.

Perbuatan buruk ini, persis seperti perbuatan Yahudi yang dicela dalam nas-nas al-Qur'an.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Ra'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih." (QS. Al-Baqarah [2]: 104)

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا
"Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 46)

Kalimat "لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ" ini sama persis seperti permainan di balik istilah "khilafahisme", lafal "layyan" dalam ayat ini, biasanya digunakan dalam lisan arabi untuk memotong tali, di sini digunakan untuk "lisan", mengandung kiasan yang dipinjam (majaz al-isti'arah), dahulu lafal ra'ina misalnya, disimpangkan maksudnya, "dipotong", menjadi ru'unah, di zaman ini "khilafah" jadi "khilafahisme" (dengan konotasi istilah yang sesat menyesatkan).

Maka, berhentilah membuat-buat kedustaan di balik istilah "Khilafahisme", pertanggungjawabannya berat di akhirat kelak!

Selengkapnya:
https://bit.ly/KhilafahismeAbuNaveed

Ikuti kajian-kajian menarik lainnya di Channel:
https://bit.ly/IrfanAbuNaveed

01 July 2020

Talk Show: Kajian Akhir Zaman Terbitnya Fajar Kekhilafahan Bermanhaj Kenabian



Narasumber:
1. Ust Muhammad Musa, S.S
[Tokoh Masyarakat, Pemerhati Kajian Ideologi]
2. Ust Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
[Penulis & Pemerhati Kajian Tafsir & Balaghah al-Qur'an]
3. Ust Mukhlis Ali
[ Pengasuh Majelis Mafahim Sukabumi ]

Hari & Tanggal:
Rabu, 01 Juli 2020

Waktu:
20.00 wib s.d. Selesai

Tempat:
1. Online Zoom:

Meeting ID: 823 6796 3817
Password: 721346

2. Live Streaming Youtube:
Kajian ini diupload ulang di Channel Youtube Irfan Abu Naveed

Silahkan disebarkan, diviralkan dan diikuti ya ikhwah, semoga menjadi amal jariyyah. []

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

30 June 2020

Motivasi Qur'ani Belajar Bahasa Arab [1]



Ikhwah fillah, salah satu motivasi terbesar mempelajari dan mendalami bahasa arab (al-lughah al-'arabiyyah) adalah kenyataan bahwa al-Qur'an al-Karim diturunkan Allah 'Azza wa Jalla dengan bahasa arab.

Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ {١} إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ {٢}
“Alif, laam, raa, ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yûsuf [12]: 1-2)

Perhatikan kata kunci "la'alla" pada kalimat la'allakum ta'qilun, menunjukkan bahwa al-Qur'an sangat mungkin dipahami oleh manusia-manusia pembelajar, baik bagi bangsa Arab maupun Ajam.

Pengisi Suara:

Irfan Abu Naveed
[Dosen Bahasa Arab, Pengajar Ilmu Balaghah]


Wa billahi al-tawfiq.

****************
Ikuti Video Kajian Berikutnya di Channel Youtube Irfan Abu Naveed, Subscribe:

www.irfanabunaveed.net

29 June 2020

Ngaji Ilmu Balaghah: I'jaz al-Qur'an: Keindahan Ungkapan Kiasan (Al-Majaz Al-Mursal)


19 June 2020

Mengukuhkan Ajaran Islam, Khilafah, Di Tengah Virus Liberalisasi Pemikiran Saat Pandemi Covid-19


_Ngaji Online Khilafah :: Ngaji Turats Ulama Ahlus Sunnah wa al-Jama'ah_

*MENGUKUHKAN AJARAN ISLAM, KHILAFAH, DI TENGAH VIRUS LIBERALISASI PEMIKIRAN SAAT PANDEMI COVID-19*
_Kajian Ushuli, Balaghi & Turats Ulama Ahlus Sunnah wa al-Jama'ah_

*Muqadimah*

Al-Khilafah, semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat, ditandai oleh semakin meluasnya sambutan umat atasnya, relevan dengan kejelasannya sebagai bagian dari ajaran Islam yang mulia, tersurat dan tersirat dalam al-Qur'an dan sunnah semulia-mulianya insan, Nabiyullah al-Mushthafa Muhammad , ditegaskan kefardhuannya sebagai konsensus para sahabat _radhiyallahu 'anhum_, diikuti konsensus Ulama Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah dalam turats mereka yang berharga.

Namun sayang beribu sayang, di tengah gencarnya dakwah penegakkan syari'at Islam dan Khilafah, kaum Muslim masih dihadapkan pada penyesatan opini menyoal Khilafah sebagai bagian dari proyek liberalisasi pemikiran. Lafal al-Khilafah yang disebutkan hadits nabawi pun distigma sebagai "virus", padahal yang mulia baginda Rasulullah menyebutkannya dengan sifat bermanhajkan kenabian, menyiratkan adanya konsepsi syar'i dan pujian, dari Hudzaifah bin al-Yaman r.a., Rasulullah bersabda:

«ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»
“Kemudian akan ada kembali Khilâfah di atas manhaj kenabian.” (HR Ahmad, al-Bazzar, Abu Dawud al-Thayalisi)

Maka, bertolak pada kecintaan kami pada sunnah yang mulia baginda Rasulullah , yang wajib dibuktikan dengan membela sunnahnya, termasuk sunnah dalam persoalan kepemimpinan (al-Imamah al-'Uzhma), sebagaimana pesan Rasulullah yang bersabda:  

«مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni Jannah-Nya.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Thabarani)

Maka, dengan suka cita kami mempersembahkan:

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*MENGUKUHKAN AJARAN ISLAM, KHILAFAH, DI TENGAH VIRUS LIBERALISASI PEMIKIRAN SAAT PANDEMI COVID-19*
_Kajian Ushuli, Balaghi & Turats Ulama Ahlus Sunnah wa al-Jama'ah_

_Topik Diskusi & Narasumber:_

*1. Kritik Paradigmatik Atas Liberalisasi Pemikiran Menyoal Khilafah*
Oleh: Ust Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Dosen Fikih Siyasah, Penulis Buku _Konsep Baku Khilafah Islamiyyah_)

*2. Khilafah dalam Al-Qur'an & Al-Sunnah*
Oleh: KH Yasin Muthahhar (Mudir Ponpes Al-Abqary)

*3. Khilafah dalam Ijma' Sahabat*
Oleh: Gus Azizi Fathoni (Da'i Muda, Khadim Kuttab Tahfizh al-Utrujah Malang, Penulis)

*4. Khilafah dalam Fikih Lintas Madzhab*
Oleh: Dr. Muhammad Azwar Kamaruddin, Lc., MA (Pakar Fikih Perbandingan, Alumni S1-S3 Al-Azhar Kairo)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

_Hari, Tanggal:_
*Sabtu, 20 Juni 2020*

_Waktu:_
*13.00 WIB s.d. Selesai*

_Tempat_:
Online ZOOM & Live Youtube:
1. Link Zoom:
Meeting ID: 2994634225
Password: KHILAFAH

2. Live Streaming Youtube:
Channel Youtube Teman Hijrah Community:
Link Live Streaming: Acara Teman Hijrah Community

**********

LIKE & SUBSCRIBE:

Kajian ini, akan di upload ulang di:
Channel Irfan Abu Naveed: Channel Kajian Islam

Silahkan disebarkan, diviralkan dan diikuti ya ikhwah, semoga menjadi amal jariyyah. []

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

Khilafah dalam Perspektif Ahlus Sunnah wa al-Jama'ah [Dari Dalil Kefardhuan Hingga Bisyarah Khilafah Akhir Zaman]


 Kajian Reupload di Channel Irfan Abu Naveed: https://bit.ly/3cdxXGx

Ikhwah fillah, silahkan disimak kajian online menyoal Khilafah yang diupload ulang di Channel Youtube "Irfan Abu Naveed", disajikan selama Ramadhan dalam empat topik menarik dan cukup komperhensif, disajikan secara ringkas padat, live zoom dan live streaming youtube selama Ramadhan 1441 H, dihiasi dengan soal jawab berbobot ilmu, bi fadhlillahi Ta'ala.  

Keempat acara ini, digagas dalam rangka membela sunnah kepemimpinan dalam Islam, al-Khilafah, dengan menyajikan sajian nikmat turats ulama ahl al-sunnah wa al-jama'ah, mengulas dalil-dalil bisyarah tegaknya Khilafah dengan ilmu alat bahasa arab (nahwu-sharaf-balaghah arabiyyah), diikuti koreksi argumentatif bernas atas berbagai syubhat terkait khilafah, hingga menjernihkan akal pikiran, menentramkan kalbu dan membuahkan keyakinan untuk istiqamah dalam perjuangan, maka kami hadirkan sajian spesial dalam topik menarik di atas, dengan menghadirkan:

Rekaman kajian online Ramadhan 1441 H, menyoal khilafah dalam perspektif ulama ahlus sunnah wal jama'ah, kajian mencakup kajian turats, kitab-kitab rujukan dari ulama muktabar, mencakup pembahasan:

1. Dalil-Dalil Kefardhuan Menegakkan al-Khilafah :: 
2. Dalil-Dalil Kebakuan Khilafah 
3. Koreksi Atas Syubuhat Menyoal Khilafah 
4. Bisyarah Khilafah Nubuwwah di Akhir Zaman & Bisyarah Tegaknya Khilafah Al-Imam Al-Mahdi di Akhir Zaman

Narasumber:
Ust. Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
(Dosen Fikih-Bahasa Arab, Penulis Buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah", Pengkaji Balaghah Al-Qur'an & Hadits Nabawi).

Selengkapnya di sini:
*1. Khilafah dalam Perspektif Ulama Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah [Kajian Turats]*
Link: Kajian I



*2. Diskursus Dalil Dalil Kefardhuan Khilafah & Koreksi Atas Berbagai Syubhat*
Link: Kajian II

*3. Kajian Akhir Zaman: Bisyarah Rasulullah Tegaknya Khilafah Nubuwwah*
Link: Kajian III


*4. Kajian Akhir Zaman: Bisyarah Rasulullah Tegaknya Kekhilafahan Al-Imam Al-Mahdi*
Link: Kajian IV


LIKE & SUBSCRIBE:

Kajian ini diupload ulang di:
Channel Irfan Abu Naveed: https://bit.ly/3cdxXGx

Silahkan disebarkan, diviralkan dan diikuti ya ikhwah, semoga menjadi amal jariyyah. []

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه



Pesan Mendalam di Balik Ayat-Ayat & Hadits Parenting [Ngaji Ilmu Balaghah]


[Sajian Singkat Padat Menyoal Balaghah al-Qur’an & Hadits Nabawi, Bedah Buku Risalah Nikah & Walimah]

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I


Download Makalah PDF: Link Download

P
ernikahan, menempati tempat yang agung dalam Islam, sebagai salah satu sunnah yang mulia para Rasul ’alaihim al-salâm-, termasuk baginda Rasulullah , dari Abu Ayyub r.a., ia menuturkan bahwa Rasulullah bersabda:
«أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ المُرْسَلِينَ: الحَيَاءُ، وَالتَّعَطُّرُ، وَالسِّوَاكُ، وَالنِّكَاحُ»

Ada empat perkara yang termasuk sunnah para Rasul: rasa-malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.” (HR. Al-Tirmidzi, Al-Thabarani)[2]
            Dimana sunnah ini menjadi sebab di antara sebab berpegang teguh pada agama, menjadi tanda di antara tanda-tanda keagungan Allah Swt. Syaikh Abu Abdullah Muhammad al-Tihami al-Fasi al-Maliki (w. 1333 H) dalam Qurrat al-‘Uyûn pun menuturkan:
كان النكاح من أعظم أسباب الاعتصام، وأكبر داع إلى التعفف والتحصن من الأوزار والآثام، جعله الله تعالى منًّا على عباده المؤمنين ورحمةً، وحصنًا من الشيطان الرجيم وعِصمةً
“Pernikahan termasuk seagung-agungnya sebab berpegang teguh (pada Islam), sebesar-besarnya penyeru kepada sikap memelihara diri, menjaga dari perbuatan batil dan dosa, Allah Ta’ala menjadikannya sebagai Kemurahan-Nya atas hamba-hamba-Nya yang beriman, rahmat dari-Nya dan pemeliharaan dari syaithan yang terkutuk dan penjagaan Allah darinya.”[3]
Di antara keistimewaan hidup menikah dan berpasang-pasangan dalam Islam adalah; Allah menyifatinya dalam Kalam Suci-Nya, al-Qur’an al-Karim, sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan-Nya (ayat kauniyyah), yang sudah seharusnya meningkatkan keimanan dan keta’atan pada-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ {٢١}
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Rûm [30]: 21) 
Kalimat wa min âyatihi dalam permulaan ayat ini menunjukkan bahwa hidup berpasang-pasangan, lelaki dan perempuan, merupakan salah satu tanda-tanda keagungan-Nya, termasuk ayat kauniyyah yang sudah seharusnya meningkatkan keimanan dan keta’atan pada-Nya. Bukankah tatkala seseorang menikah ia mendapati pergiliran kehidupan? Terdapat pergiliran antara perjumpaan dan perpisahan, kebahagiaan dan kesedihan, sebagaimana ia pun mendapati keagungan Allah di balik rizki setelah menikah, dan lahirnya anak keturunan dari saripati air mani yang ditiupkan padanya sirr al-hayât (roh)? Itu semua sebagian kecil dari tanda-tanda keagungan Allah di balik hidup berpasang-pasangan yang sudah seharusnya menguatkan keimanan.
Sebagaimana Allah pun mengajak manusia berpikir memikirkan tanda-tanda keagungan-Nya di alam semesta (ayat kauniyyah) dalam firman-Nya:
أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا {٦}
          “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS. Al-Naba’ [78]: 6)
            Hingga tiba pada ayat berikutnya:
وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا {٨}
“Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan.” (QS. Al-Naba’ [78]: 8)
Apa maknanya? Yakni kaum laki-laki dan perempuan (dzukûr[an] wa inâts[an]).[4] Hal ini sejalan dengan pengertian manusia yang disebutkan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) dalam kamusnya dengan ciri khas memiliki kemampuan berpikir:
الإنسان: المخلوق الحي المفكر للمذكر والمؤنث (human being)
Al-Insân (manusia) adalah makhluk yang hidup dan bisa berpikir, dengan (dua jenis) laki-laki dan perempuan.[5]
Kemampuan berpikir manusia itu sendiri termasuk tanda-tanda keagungan Allah yang menciptakan keragaman potensi hidup pada makhluk-Nya, yang membedakan antara manusia dan binatang. Menuntut manusia memikirkan hakikat dirinya yang merupakan makhluk ciptaan Allah, dan di dalam penciptaan dirinya terdapat tanda-tanda keagungan Allah ’Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya:

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ {٢١}
Dan (juga) pada dirimu sendiri (terdapat tanda-tanda), maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al-Dzâriyât [51]: 21)
Dimana keagungan penciptaan manusia pun diinformasikan dalam banyak nas al-Qur’ân al-’Azhîm mencakup keagungan penciptaan fisik,[6] ruh dan potensi kehidupannya yakni kemampuan berpikir dengan akalnya, termasuk keagungan Allah di balik hidup berpasang-pasangan, menjaga keberlangsungan generasi umat manusia, adanya penciptaan dan informasi menyoal prosesnya, adanya ruh (sirr al-hayât), hidupnya manusia, berpasang-pasangan dan memperbanyak keturunan.
Itu semua sudah seharusnya mengantarkan pada keimanan yang benar, dan menguatkan keyakinan untuk merealisasikan tujuan hidup manusia di dunia; mengabdi kepada-Nya, dimana realisasi tujuan tersebut bisa disokong oleh pasangan hidup yang satu visi dan misi beribadah kepada-Nya, sehingga relevan tatkala Islam menggariskan sunnah pernikahan, dan mengatur sedemikian rupa tata kelola kehidupan berumah tangga.

A.   Salah Satu Hikmah Pernikahan yang Ditunjukkan Al-Qur’an: Sakinah, Mawaddah & Rahmah
            Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ {٢١}
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Rûm [30]: 21) 
Dalam ayat yang agung ini, terdapat petunjuk hikmah pernikahan dalam Islam. Ditandai keberadaan huruf lâm al-ta’lîl (huruf lâm penanda tujuan) pada frasa litaskunû, dimana huruf ini ditegaskan al-’Alim al-Syaikh Atha bin Khalil Abu al-Rasytah sebagai petunjuk hikmah dalam tafsirnya, menegaskan hikmah pernikahan dalam petunjuk Allah: membuahkan sakînah, mawaddah dan rahmah.

1.     Hikmah Pernikahan Membuahkan Sakînah (Ketenteraman)

Kata sakînah dalam al-Qâmûs al-Muhîth berkonotasi: al-thuma’nînah (ketenteraman)[7], menyiratkan adanya kebaikan dalam institusi pernikahan, tatkala ia menjadi salah satu hikmah pernikahan dalam Islam, sebagaimana digambarkan dalam al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, yakni:
السكينة إذا سكّن عن الميل إلى الشّهوات
Sakînah yakni jika meredam kecenderungan pada berbagai jenis syahwat”[8]
Syahwat itu sendiri merupakan salah satu wujud dari keburukan, tatkala ia diumbar hingga melibas batas-batas syari’at, baik syahwat terhadap harta, tahta maupun wanita. Pernikahan yang membuahkan sakînah, hakikatnya membuahkan ketenteraman kalbu, mengantarkan seseorang untuk mudah mengingat Allah. Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) menjelaskan, bahwa hakikat pengertian ini terkandung dalam firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ {٢٨}
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al-Ra’d [13]: 28)
Ketenteraman di sini, mencakup terpenuhinya hasrat seksual atas kaum wanita, lebih menundukkan pandangan mata dan syahwat, serta lahirnya ketenteraman dengan lahirnya buah hati yang menjadi perhiasan mata, menyejukkan pandangan dan menjadi ladang amal menuai kebaikan. Dimana istri adalah pakaian bagi suaminya, dan sebaliknya, sebagaimana petunjuk dalam firman-Nya:
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ {١٨٧}
“Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)

2.     Hikmah Pernikahan Membuahkan Mawaddah (Cinta)

Sedangkan kata mawaddah menggambarkan kecendrungan rasa cinta, al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) menjelaskan kata al-wudd (al-mawaddah):
محبّة الشيء، وتمنّي كونه، ويستعمل في كلّ واحد من المعنيين على أن التّمنّي يتضمّن معنى الودّ، لأنّ التّمنّي هو تشهّي حصول ما تَوَدُّهُ
Al-Wudd (mashdar dari kata kerja wadda-yawaddu) bermakna mencintai sesuatu dan merindukan keberadaannya, dan penggunaannya berlaku satu sama lain, mengingat kerinduan mengandung konotasi kecintaan, karena kerinduan pada sesuatu memikat sampainya pada apa yang dicintainya.[9]
Hikmah ini, sejalan dengan pesan indah baginda Rasulullah , dari Ibn Abbas r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:
«لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلُ النِّكَاحِ»
Tidak didapati (solusi paling tepat) bagi dua orang (pasangan) yang saling mencintai, yang dapat menyamai pernikahan.” (HR. Al-Hakim, Al-Thabarani, Abu Ya’la)[10]
Yakni tidak ada solusi yang paling tepat bagi dua orang (sepasang pria dan wanita) yang saling mencintai selain solusi pernikahan, menakjubkan hingga diulas oleh al-Hafizh Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) berulang dalam sejumlah kitabnya, ia menuturkan: Kaum cendekiawan dari kalangan para dokter dan selain mereka dalam topik pengobatan bersepakat bahwa penawar atas penyakit ini (syahwat) adalah menyatukan dua hati dan menempelkan dua tubuh (jima’)”[11], yakni dengan sarana pernikahan, menghalalkan keduanya.

3.     Hikmah Pernikahan Membuahkan Rahmah (Kasih Sayang)

Lafal rahmah dalam bahasa arab adalah mashdar dari kata kerja rahima[12], istilah ini menurut Imam Al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) mengandung konotasi al-riqqah (kelembutan) atau al-ihsân (kebajikan),[13] atau al-khair (kebaikan) dan al-ni’mah (kenikmatan).[14] Maka ia termasuk satu lafal yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak)[15] yang pemaknaannya ditentukan indikasi lainnya.[16]
Kata al-rahmah dalam ayat ini berkonotasi al-riqqah (kelembutan), atau al-khair (kebaikan), yang kemudian tergambar dengan munculnya rasa “kasih sayang”, karena sifat rahmat di antara makhluk-Nya menurut al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H), tergambar dalam bentuk: kelembutan (al-riqqah) dan kasih sayang (al-ta’aththuf). Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) menjelaskan:
الرَّحْمَةُ رقّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ
Al-Rahmah adalah kelembutan yang membuahkan kebaikan (ihsan) kepada pihak yang dikasihi[17]
Hikmah rahmah (kasih sayang) ini sejalan dengan prinsip agung: rumah tangga dalam Islam dibentuk dengan asas “mu’âsyarah bil ma’rûf”,  dilandasi kasih sayang, dimana Rasulullah memuji sifat ini dalam hadits-haditsnya yang mulia, dari Abdullah bin Amru r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:
«اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمنُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ»
“Para penyayang itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Ahmad. Lafal al-Tirmidzi)[18]
Dalam hadits lainnya, Rasulullah bersabda:
«مَنْ لَا يَرْحَمِ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ»
“Siapa saja yang tidak menyayangi manusia, maka Allah ’Azza wa Jalla tidak akan menyayanginya.” (HR. Muslim, Ahmad)[19]
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya rasa kasih sayang, terlebih pada sosok yang menjadi pendamping hidup, suami atau istri. Kasih sayang tersebut harus tergambar pula bahkan tatkala seorang suami menggauli istrinya, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا {١٩}
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaulah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 19)
Kalimat “kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” membimbing manusia untuk membaguskan prasangka terhadap mereka, dan mengingat berbagai kebaikan yang telah dilakukan istri padanya. Allah pun berfirman:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {٢٢٨}
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 228)
Dalam kitab Syarh ’Uqûd al-Lujain, diuraikan: Makna dari hak yang seimbang dengan kewajiban ialah para istri memiliki hak dan kewajiban dan boleh meminta haknya, bukan dalam satu jenis, dengan cara yang ma’ruf yaitu sesuatu yang dinyatakan baik oleh ajaran Islam, seperti baik bergaul dan tidak melakukan hal yang merugikan atau ketidaknyamanan satu sama lain. Oleh karenanya Ibn Abbas r.a. berkata:
«إنِّي أُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ، كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ»
 “Sesungguhnya aku sangat senang bersolek untuk istriku, sebagaimana istriku senang bersolek untuk diriku.” (HR. Ibn Abi Syaibah)[20]
Dimana Ibn Abbas r.a. pun menukil ayat yang agung di atas sebagai dalilnya. Hatta ketika seorang istri berbuat nusyûz (durhaka) terhadap suaminya, Islam mengajarkan tuntunan agung dalam meluruskannya sebagai nasihat baginya, Rasulullah bersabda ketika Hujjat al-Wada’ (haji perpisahan):
«أَلَا وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٍ عِنْدَكُمْ لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِي المَضَاجِعِ، وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا، أَلَا وَإِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا، وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ، فَلَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ، وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ، أَلَا وَإِنَّ حَقَّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ»
“Ketahuilah, berbuat baiklah terhadap wanita, karena mereka adalah tawanan kalian. Kalian tidak berhak atas mereka lebih dari itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, jauhilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Jika kemudian mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Ketahuilah; kalian memiliki hak atas istri kalian dan istri kalian memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas istri kalian ialah dia tidak boleh memasukkan orang yang kalian benci ke tempat tidur kalian. Tidak boleh memasukan seseorang yang kalian benci ke dalam rumah kalian. Ketahuilah; hak istri kalian atas kalian ialah kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan (kepada) mereka.” (HR. Al-Tirmidzi)[21]
Dalam atsar Ali bin Abi Thalib r.a. disebutkan:
حسن الخلق في ثلاث خصال: إجتناب المحارم, وطلب الحلال, والتوسعة على العيال
Baiknya akhlak tergambar dalam tiga bentuk: menjauhi berbagai keharaman, menunaikan yang halal dan bersikap lapang pada keluarganya.”[22]
Penafsiran ini, dikuatkan dengan pesan agung dalam hadits Rasulullah , yang menggambarkan hubungan keimanan dengan akhlak terpuji dalam haditsnya:
«أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا، أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا»
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Tirmidzi)
Penggambaran kemuliaan akhlak sebagai buah dari kesempurnaan iman, menunjukkan keutamaan berakhlak mulia sebagai konsekuensi keimanan, sehingga bisa disimpulkan pula bahwa baiknya khuluq seseorang erat kaitannya dengan Din Islam, yakni keterikatannya pada syari’at Islam. Al-‘Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H) pun menegaskan bahwa akhlak merupakan bagian dari syari’at Islam, ia terikat dengan perintah dan larangan Allah.
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah bersabda:
«اِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تتقِيْمُه كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ»
 “Berwasiatlah untuk para wanita karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan yang paling bengkok dari bagian tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau ingin meluruskan tulang rusuk tersebut maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka berwasiatlah untuk para wanita.” (HR Al-Bukhari, al-Nasa’i, Ibn Abi Syaibah)[23]
Makna dari sabda Rasulullah : “Berwasiatlah untuk para wanita” ada beberapa kemungkinan pemaknaan, sebagaimana diuraikan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), diantaranya:
Pertama, Ada yang berpandangan bahwa maknanya adalah “Hendaknya kalian saling berwasiat untuk memperhatikan dan menunaikan hak-hak para wanita”;
Kedua, Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah “Hendaknya kalian meminta wasiat dari orang lain untuk menunaikan hak-hak para wanita”. Sebagaimana seseorang yang ingin menjenguk saudaranya yang sakit maka disunnahkan baginya untuk berwasiat, dan berwasiat kepada wanita perkaranya lebih utama mengingat kondisi mereka yang lemah dan membutuhkan orang lain yang menunaikan kebutuhan mereka;
Ketiga, Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah “Terimalah wasiatku (Nabi ) tentang para wanita dan amalkanlah wasiat tersebut, bersikap lembutlah kepada mereka dan pergaulilah mereka dengan baik”.
Pendapat yang terakhir inilah yang menurut Ibn Hajar lebih tepat (raajih).[24]
Inti dari ketiga penafsiran di atas adalah hendaknya para suami memberikan perhatian yang serius dalam bersikap baik kepada para wanita, termasuk tatkala mereka berbuat nusyuz, wajib memperhatikan tuntunan Islam menanganinya. Tidak dengan cara yang menyalahi Islam hingga menjadikannya semakin terpuruk, misalnya dengan cara memukul keras wajahnya, dari Hakim bin Mu'awiyah, dari ayahnya dari Nabi , bahwa seseorang bertanya kepada beliau: “Apa hak seorang istri dari suaminya?” Beliau menjawab:
«تُطْعِمُهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ»
“Kamu memberinya makan sebagaimana kamu makan, memberinya pakaian sebagaimana kamu berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkannya dan tidak meng-hajr-nya (memisahkan dari tempat tidur) kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban)[25]

B.   Salah Satu Amanah dalam Kehidupan Keluarga yang Ditunjukkan Al-Qur’an: Pendidikan Islam
Islam pun menetapkan bahwa pendidikan anak menjadi tanggung jawab orangtuanya; memelihara fitrahnya agar berada di atas rel Islam, dan mendidiknya hingga berkepribadian Islam. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا {٦}
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. Al-Tahrîm [66]: 6)
Al-Hâfizh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) ketika menafsirkan QS. Al-Tahrîm [66]: 6 menjelaskan bahwa yang dimaksud menjaga diri (wiqâyat al-nafs) adalah dengan melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan (sesuai tuntunan syari’at Islam), adapun menjaga keluarga (wiqâyat al-ahl), dimana di antara tanggung jawab utama orang tua adalah mendidik anak-anaknya; yakni dengan memerintahkan mereka kepada keta’atan dan melarang mereka dari kemaksiatan.[26]
Maka dalam perspektif ilmu balaghah, ayat yang agung ini jelas mengandung bentuk kiasan (al-majaaz al-mursal bi al-’alâqah al-musabbabiyyah) dengan menyebutkan akibat (al-musabbab) namun yang dimaksud adalah sebab itu sendiri (al-sabab), yakni bahwa: jagalah dirimu dan keluargamu dari hal-hal yang bisa menyebabkan kalian disiksa dalam Jahannam. Bentuk penjagaan seperti apa? Jelasnya bisa dilakukan dengan mendidik diri dan keluarga dengan Islam.
Ali bin Abi Thalib r.a., sebagaimana dinukil al-Hâfizh Ibn al-Jauzi dalam tafsir QS. Al-Tahrîm [66]: 6, mengatakan:
علِّموهم وأدِّبوهم
“Ajari dan didiklah mereka.” [27]
Hal ini sejalan dengan perintah Allah untuk mendakwahi orang-orang terdekat di samping masyarakat secara luas, tak hanya istri dan anak, tapi termasuk kaum kerabat dari kalangan keluarga istri atau suami, mengingat pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga menghubungkan persaudaraan dan kekerabatan dua buah keluarga besar:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ {١٣٢}
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thâhâ [20]: 132)
Hal ini disebabkan karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga (lihat QS. Al-Nisâ’ [4]: 34 di atas), sejalan dengan pesan agung di balik pesan baginda Rasulullah yang bersabda:
«أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ»
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhârî, Muslim)[28]
Pesan agung dalam hadits yang mulia ini, diawali dengan huruf tanbih, alâ, dalam ilmu balaghah berfaidah menarik perhatian pendengar untuk menyimak perkataan sekaligus menegaskannya (tawkîd). Diungkapkan dengan gaya pengungkapan majazi (kiasan), dalam bentuk al-isti’ârah, yang menyerupakan pengurusan rakyat dengan penggembalaan.[29]
Imam al-Baghawi (w. 516 H) menjelaskan makna al-râ’i dalam hadits ini yakni pemelihara yang dipercaya atas apa yang ada padanya, Nabi memerintahkan mereka dengan menasihati apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan memperingatkan mereka dari mengkhianatinya dengan pemberitahuannya bahwa mereka adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka al-ri’âyah: adalah memelihara sesuatu dan baiknya pengurusan.
Artinya hadits yang mulia ini menegaskan besarnya kedudukan khalifah, namun tak hanya khalifah, hadits ini pun menegaskan besarnya kedudukan institusi keluarga; suami dan istri atas keluarganya. Hal itu ditunjukkan oleh teori dalam ilmu manthiq, yang memahamkan bahwa lafal kullukum (كلكم) adalah lafal kulli, sedangkan juz’i-nya adalah lafal al-imâm (الْإِمَامُ), al-rajul (الرَّجُلُ) dan al-mar’at (المَرْأَةُ).
Perhatian khusus Rasulullah menyebutkan tanggung jawab kepala negara (khalifah) atas rakyatnya, diikuti penyebutan tanggung jawab kepala keluarga (suami) dan ibu rumah tangga atas keluarganya, setelah penyebutan tanggung jawab manusia secara umum (كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ), menunjukkan besarnya tanggung jawab sekaligus keutamaan mereka yang secara khusus disebutkan oleh Rasulullah , yakni kedudukan kepala negara (khalifah) dan kepala keluarga (suami) berikut manajer rumah tangga (istri).
Dalam persepektif ilmu balaghah, ia termasuk bentuk al-ithnâb (dzikr al-khâsh ba'da al-'âm), yakni penyebutan kata yang khusus setelah kata yang umum, dengan fungsi menunjukkan urgensi perkara khusus tersebut (li al-tanbîh 'alâ fadhl al-khâsh). Dengan demikian, hadits yang mulia ini menunjukkan pentingnya kedudukan kepala negara (khalifah) sebagai penanggungjawab institusi negara dan kepala keluarga (disokong pasangan hidupnya) sebagai penanggungjawab institusi keluarga dalam memelihara masyarakat dari berbagai keburukan. Sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan besarnya kedudukan institusi negara dan institusi keluarga dalam memelihara masyarakat dari berbagai penyimpangan.




[1] Dipresentasikan dalam kajian ilmu balaghah Ngaji Shubuh, di Channel Youtube Ngaji Shubuh: https://bit.ly/3eeZmK7
[2] HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 1080), dalam keterangan disebutkan: Hadits Abu Ayyub hadits hasan gharib.; Al-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabîr (no. 4085).
[3] Abu Abdullah Muhammad al-Tihami al-Fasi, Qurrat al-‘Uyûn bi Syarh Nazhm Ibn Yâmûn fî Âdâb al-Nikâh, Beirut: Dar Ibn Hazm, cet. I, 1425 H, hlm. 19-20.
[4] Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli & Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalâlain, Kairo: Dar al-Hadits, cet. I, hlm. 787.
[5] Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, juz I, hlm. 92.
[6] Tentang pembahasan ini sudah dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Kamal Abdul Aziz dalam bukunya seputar keajaiban penciptaan manusia. Lihat: Muhammad Kamal Abdul Aziz, I’jâz al-Qur’ân fî Hawâs al-Insân, Kairo: Maktabah al-Qur’ân.
[7] Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Fairuz Abadi, Al-Qâmûs al-Muhîth, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. VIII, 1426 H, hlm. 1206.
[8] Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad Al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Damaskus: Dar al-Qalam, cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 417.
[9] Al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, hlm. 860.
[10] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 2677), ia berkata: “Ini adalah hadits shahih sesuai syarat Imam Muslim, meskipun al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.”; Al-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabîr (no. 10895); Abu Ya’la al-Moushuli (no. 1847), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth dkk mengomentari: “Hadits shahih”.
[11] Muhammad bin Abu Bakr Syamsuddin Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Raudhat al-Muhibbîn wa Nuzhat al-Musytâqîn, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H, hlm. 212.
[12] Abu Manshur Muhammad bin Ahmad, Tahdzîb al-Lughah, Beirut; Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, cet.I, 2001, juz V, hlm. 34.
[13] Al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, juz I, hlm. 347.
[14] Lihat QS. Yûnus [10]: 21; Ibrahim Mushthafa, dkk, Al-Mu’jam al-Wasîth, Dâr al-Da’wah, juz I, hlm. 335.
[15] ‘Abdul Halim Muhammad Qunabis, Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah, Beirut: Maktabah Lubnân, 1986, hlm. 55.
[16] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, dkk, Mu’jam Lughatil Fuqahâ’, Beirut: Dâr an-Nafâ’is, Cet.II, 1988, juz I, hlm. 430.
[17] Al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, juz I, hlm. 347
[18] HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 1924), ia mengomentari: “Ini adalah hadits hasan shahih”; Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4943); Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6494), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Shahih li ghairihi
[19] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 19169), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari:Isnad-nya shahih sesuai syarat al-syaikhain.
[20] HR. Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (no. 19608).
[21] HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 3087), Abu Isa al-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.”
[22] Husain bin Muhammad al-Mahdi, Shaid al-Afkâr fî al-Adab wa al-Akhlâq wa al-Hikam wa al-Amtsâl, Dar al-Kitab, 1430 H, hlm. 687
[23] HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3331); Al-Nasa’i dalam Al-Sunan Al-Kubrâ’ (no. 9095); Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (no. 19617).
[24] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, juz VI, hlm. 368.
[25] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 20027), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Isnad-nya hasan”; Ibn Majah dalam Sunan-nya (no. 1850); Ibn Hibban dalam Shahih-nya (no. 4175), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Isnad-nya shahih, para perawinya perawi al-Syaikhain kecuali Abi Quz’a ia termasuk perawi Muslim, dan selain Hakim bin Mu’awiyyah.”
[26] Jamaluddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali al-Jauzi, Zâd al-Muyassar fî ’Ilm al-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Kitâb al-Arabi, cet. I, 1422 H, jilid IV, hlm. 310.
[27] Ibid.
[28] HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya (VI/2611, hadits 6719); Muslim dalam Shahih-nya (VI/7, hadits 4751); Abu Dawud dalam Sunan-nya (III/91, hadits 2930); Ibn Hibban dalam Shahih-nya (X/342, hadits 4490).
[29] Cantiknya ungkapan hadits ini dalam persepektif ilmu balaghah (yakni ilmu al-bayan), mengandung ungkapan majazi (kiasan), jenis al-isti'arah (gaya pengungkapan dengan meminjam istilah (al-musta'ar minhu) untuk mewakili istilah lain (al-musta'ar lahu), kata kuncinya pada kata راع, yang menyerupakan bentuk pengurusan dan pemeliharaan urusan rakyat dengan penggembalaan.