18 November 2017

Launching & Bedah Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"



Undangan Bedah Buku

الحمدلله الذي بنعمته تتم الصالحات

Bedah Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah: Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat Qur'aniyyah & Hadits-Hadits Nabawiyyah"

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I [Penulis]

Jum'at, 24 November 2017
Pukul 09:00 - 11:00 WIB

Panggung 1, Jabar Islamic Book Fair, Kompleks Gedung Pusdai Jabar, Bandung, Jawa Barat

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

Silahkan yang dekat merapat, yang jauh mendekat.

13 November 2017

Petuah Mbah Hasyim Asy’ari: Jaga Persatuan Di Atas Asas Al-Qur’an & Al-Sunnah, Bukan Ashabiyyah


Editor & Penerjemah: 
Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

Sumber Teks :
Dr. HM Afif Hasan, M.Pd, Fragmentasi Ortodoksi Islam: Membongkar Akar Sekularisme, Malang: Pustaka Bayan, Cet. I, 2008, hlm. 207-210


Gambar terkait

المواعظ
لصاحب الفضيلة حضرة الشيخ الكيايي الحاج محمد هاشم أشعري ألقاها في مؤتمر نهضة العلماء الحادى عشر ببانجرماسين سنة ١٩٣٦م وبسورابايا سنة ١٩٤٠م
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

من أقل الخليقة بل لا شيء في الحقيقة محمد هاشم أشعري، عفا الله عنه وعن والديه وعن جميع المسلمين آمين. إلى إخواننا الكرام من أهل جاوى وما حواليها العلماء منهم والعوام.
Dari makhluk-Nya yang paling kecil (dihadapan-Nya), bahkan hakikatnya bukan apa-apa; Muhammad Hasyim Asy'ari -semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya dan semua kaum Muslim, Amin-, kepada saudara-saudara kami yang terhormat dari masyarakat jawa dan sekitarnya, baik kalangan ulama maupun awam.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
أما بعد، فقد بلغني أن بينكم إلى الآن إشتغال نار الفتن والمنازعة، فتأملت سبب ذلك فإذا هو ما عليه أهل هذا الزمان إنهم بدلوا وغيروا كتاب الله وسنة رسوله -صلى الله عليه وسلم-. قال الله تعالي: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {١٠}
وهم جعلواهم أعداء ولم يصلحواهم بل أفسدواهم. وقال سول الله -صلى الله عليه وسلم-: «وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا ، وَلاَ تَدَابَرُوا ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا» رواه البخاري ومسلم، لفظ مسلم . وهم يتحاسدون ويتباغضون ويتدابرون.
Telah sampai kepada saya, bahwa di antara kalian berkobar api fitnah dan perselisihan. Maka saya memikirkan penyebab hal tersebut, yakni apa yang terjadi dalam masyarakat saat ini, bahwa mereka telah mengganti Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya SAW. Allah SWT berfirman "Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah, mudah-mudahan kalian dirahmati.” tapi kenyataannya mereka menjadikan saudara-saudara mereka sesama orang beriman sebagai musuh. Mereka tidak berdamai dengan mereka, bahkan justru melakukan kerusakan terhadap saudara-saudaranya. Rasulullah saw bersabda: "janganlah kalian saling mendengki, membenci, berselisih, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara". (HR. Al-Bukhari dan Muslim, lafal Muslim). Tetapi kenyataannya mereka saling mendengki, membenci, berselisih, dan bermusuhan.

أيها العلماء والمتعصبون لبعض المذاهب أو لبعض الأقوال، دعوا تعصبكم في أمر الفروع الذي العلماء فيه على قولين: قائل كل مجتهد مصيب، وقائل المصيب واحد، ولكن المخطئ يؤجر. ذروا التعصب ودعوا هذه الأهوية المرضية ودافعوا عن دين الإسلام واجتهدوا في رد من يطعن في القرآن وصفات الرحمن ومن تدعى العلوم الباطلة والعقائد الفاسدة، والجهاد في هؤلآء واجب، فهلا شغلتم أنفسكم به.
Wahai para ulama dan mereka yang fanatik terhadap sebagian mazhab atau terhadap sebagian pendapat, tinggalkanlah kefanatikan kalian terhadap persoalan-persoalan cabang agama, dimana para ulama terbagi menjadi dua pendapat: pihak yang mengatakan bahwa setiap mujtahid adalah benar, dan pihak lain yang mengatakan bahwa yang benar hanya satu tetapi yang salah tetap diberi pahala. Jauhilah sifat fanatik dan tinggalkan lah hembusan-hembusan seruan penyakit ini, serta bela Din Islam. Berjihad lah terhadap orang yang melecehkan al-Qur'an dan sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih, juga terhadap siapa saja yang menyerukan (menganut dan menyerukan-pen) ilmu-ilmu batil dan akidah yang sesat. Berjihad terhadap mereka adalah wajib. Mengapa kalian tidak menyibukkan diri dengan jihad tersebut?

ويا أيها الناس، بينكم الكفار قد ملؤوا بقاع البلاد، فمن انتصب منكم للبحث معهم الاعتناء بإرشادهم؟
Wahai manusia, di tengah-tengah kalian orang-orang kafir telah merambah ke segala penjuru negeri-negeri, maka siapakah di antara kalian yang mampu bangkit tegak untuk peduli membimbing mereka ke jalan petunjuk?

فيا أيها العلماء في مثل هذا فاجتهدوا وتعصبوا. وأما تعصبكم في فروع الدين وحملكم الناس على مذهب واحد وقول واحد، فهو الذي لا يقبله الله تعالى منكم، ولا يرضاه رسول الله -صلى الله عليه وسلم-. ولا يحملكم على ذلك الأمحض التعصب والتنافس والتحاسد. ولو أن الشافعي وأبا حنيفة ومالكا وأحمد بن حنبل وابن حجر الرملي أحياء، لشددوا النكير عليكم وتبرؤوا منكم فيما تفعلون. أتنكر أمور العلماء فيها خلاف؟
Maka, wahai para ulama, dalam keadaan seperti ini kalian harus berjihad dan fanatik. Kefanatian kalian dalam persoalan-persoalan cabang agama, dan perbuatan kalian menggiring manusia kepada satu madzhab, dan kepada satu pendapat ulama, maka hal itu tidak diterima oleh Allah SWT dan tidak diridhai oleh RasuluLlah SAW. Tidak ada sebab yang menggiring kalian kepada sikap tersebut kecuali karena sikap fanatik, perselisihan dan saling mendengki. Seandainya Imam al-Syafi'i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hanbal, Ibn Hajar al-Ramli hidup, mereka pasti sangat kuat mengingkari kalian, dan berlepas diri atas apa yang kalian perbuat, lalu apakah kalian persoalan-persoalan dimana para ulama berselisih pendapat?

رأيتم من العوام ما لا يحصى عدده إلا الله تعالى يتركون الصلاة التي جزاء من تركها عند الشافعي ومالك وأحمد ضرب العنق بالسيف. ولا تنكرون عليهم، بل لو رأى الواحد منكم كثيرًا من جيرانه يتركون الصلاة وهو ساكت عنهم، ثم بالكم تنكرون مثل هذه الفروع التي للفقهاء فيها خلاف ولا تنكرون المحرمات المجمع عليها كالزنا والربا شرب الخمر وغيرها، ولا تأخذكم الغيرة لله تعالى فيها وإنما تأخذ الغيرة للشافعي وابن حجر، فيؤدي ذلك إلى افتراق كلمتكم وتقاطع رحمكم وتسلط الجهال عليكم وسقوط هيبتكم عند عامة الناس وقول السفهاء في إعراضكم ما لا يبقى فتهلكون السفهاء بكلامهم فيكم لأن لحومكم مسمومة على كل حال لأنكم علماء وتهلكون أنفسكم بما تركبون من العظام.
Kalian melihat banyak orang awam, dimana tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah SWT, mereka yang tidak melaksanakan shalat, dimana sanksi hukuman atas orang yang meninggalkan shalat menurut Imam al-Syafi'i, Malik, dan Ahmad adalah dipancung lehernya dengan pedang, namun kalian tidak mengingkari perbuatan mereka. Bahkan jika salah seorang dari kalian melihat banyak dari tetangganya tidak melaksanakan shalat, maka ia hanya diam, kemudian mengapa kalian mengingkari persoalan-persoalan cabang agama ini, dimana para ahli fikih berbeda pendapat, akan tetapi kalian tidak mengingkari berbagai keharaman yang disepakati keharamannya, seperti zina, judi, dan minum minuman keras. Jika demikian, maka kalian tidak memiliki ghirah (kecemburuan membela Din-pen.) untuk Allah didalamnya. Ghirah kalian hanya untuk al-Syafi'i dan Ibn Hajar, sehingga hal ini menyebabkan perpecahan kalian, terputusnya silaturrahim, dan penguasaan orang-orang jahil terhadap kalian, dan jatuhnya wibawa kalian di mata orang banyak. Hingga hal itu pun menyebabkan orang-orang jahil berani melecehkan kalian, maka mereka celaka dengan perkataan-perkataan mereka terhadap kalian, karena daging kalian beracun dalam setiap keadaannya, karena kalian adalah para ulama, sedangkan kalian celaka karena ”menunggangi” persoalan-persoalan besar (perdebatan, perpecahan-pen.).

أيها العلماء إذا رأيتم من يعمل عملا على قول من يجوز تقليده من أئمة أهل المذاهب المعتبرة ولو مرجوحا إن لم توافقواهم فلا تعنفواهم وارشدواهم بلطف، وإن لم يتبعواكم فلا تتخذواهم أعداء، فمثل من فعل ذلك كمثل من بنى قصرا وخرب مدينة، ولا تجعلوا ذلك سبب التفرق والشقاق والتنازع والخصام، فإنها من الجنايات العامة والجرائم الكبرى التي تهدم  بنيان الأمم وتغلق أمامها باب كل خير. وهذا نهى الله عباده المؤمنين عن التنازع وحذر ما من عواقبه السيئة ونتائجه المؤلمة. قال الله تعالى: وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ (الأنفال: ٤٦)
Wahai para ulama, jika kalian melihat ada seseorang yang mengamalkan suatu amalan berdasarkan pendapat seorang imam yang boleh diikuti dari imam mazhab yang mu'tabarah sekalipun pendapat tersebut lemah, jika kalian tidak sependapat dengan mereka, maka kalian tidak boleh bersikap kasar terhadap mereka, melainkan tunjukilah mereka dengan cara yang lembut, dan jika mereka tetap tidak bersedia mengikuti kalian maka jangan jadikan mereka sebagai musuh. Jika ini dilakukan maka ia bagaikan orang yang membangun sebuah istana, pada saat yang sama menghancurkan kota. Maka janganlah kalian menjadikan perbedaan tersebut sebagai sebab perpecahan, pertentangan, perselisihan dan permusuhan. Karena sungguh hal itu termasuk kejahatan umum dan dosa besar yang dapat menghancurkan bangunan umat dan menutup setiap pintu kebaikan. Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari perpecahan, dan Dia memperingatkan dari hal-hal yang berakibat buruk dan menyakitkan. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)

أيها المسلمون، إن في حوادث الأيام لعبرة جمة وعظات كثيرة يستفيد منها الرجل الرشد أكثر مما يستفيد من خطب الوعاظ ونصائح المرشدين. وها هي الحوادث تمرينات في كل لحظة، فهل آن لنا إن نعتبر ونتعظ؟ وهل آن لنا إن نفيق من سكرتنا وننتبه من غفلتنا ونعلم إن فلاحنا موقوف على تعاوننا واتحادنا وصفاء قلوبنا وإخلاص بعضنا لبعض؟ أو نحن نظل في التفرق والتخاذل والشقاق والنفاق والغل والحسد والضلال القديم مع إن ديننا واحد الإسلام ومذهبنا واحد الشافعية وقطرنا واحد جاوى، ونحن جميعنا من أهل السنة والجماعة، فوالله إن ذلك هو البلأ المبين والخسران العظيم.
Wahai kaum Muslim, sesungguhnya di balik peristiwa yang terjadi selama ini sungguh terdapat banyak pelajaran dan pesan mendalam, dimana seseorang mampu mengambil faidah petunjuk lebih banyak dari apa yang bisa diraih dari khuthbah dengan beragam petuah dan nasihat dari mereka yang memberikan petunjuk. Peristiwa-peristiwa itu sesungguhnya merupakan ujian dalam setiap saat. Apakah (bukankah-pen) sudah saatnya bagi kita mengambil pelajaran dan peringatan? Dan apakah sudah saatnya bagi kita kembali tersadar dari mabuk dan kelalaian, dan menyadari bahwa kemenangan kita bergantung kepada sikap saling tolong-menolong dan persatuan di antara kita, begitu pula ketulusan hati satu sama lain? Atau jika tidak, kita akan tetap dalam perpecahan, saling menghinakan, perselisihan, kemunafikan, kebencian, kedengkian serta kesesatan. Pada hal agama kita satu yaitu Islam, madzhab kita satu yaitu Syafi'iyah, daerah kita satu yaitu jawa, dan kita semua termasuk Ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Maka demi Allah sungguh ini adalah bencana yang nyata dan kerugian yang besar.

أيها المسلمون، اتقوا الله وارجعوا إلى كتاب ربكم واعملوا على سنة نبيكم واقتدوا بأسلافكم الصالحين تفلحوا كما فلحوا وتسعدوا كما سعدوا، اتقوا الله وأصلحوا ذات بينكم، وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان يشملكم الله برحمته ويعمكم بإحسانه، ولا تكونوا كالذين قالوا سمعنا وهم لا يسمعون.
Wahai kaum Muslim, bertakwalah kepada Allah, kembalilah kepada Kitab Rabb kalian (al-Qur’an), beramalah sesuai dengan Sunnah Nabi kalian. Teladani lah orang-orang shalih sebelum kalian, niscaya kalian akan beruntung sebagaimana mereka telah meraih keberuntungan, dan niscaya kalian akan berbahagia sebagaimana mereka berbahagia. Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian. Dan tolong-menolonglah kalian dalam menunaikan kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, niscaya Allah melimpahkan rahmat dan ihsan-Nya kepada kalian, janganlah kalian seperti orang-orang (kafir dan munafik-pen.) yang berkata: “kami mendengar” padahal mereka tidak mendengarkan.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
محمد هاشم أشعري
تبوإيرنغ جومبانغ
Muhammad Hasyim Asy’ari

Tebuireng, Jombang

11 November 2017

Konsepsi Ukhuwah Islamiyah


Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
[Penulis Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah: Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat Qur'aniyyah & Hadits-Hadits Nabawiyyah"]


B
erbagai tragedi memilukan yang menimpa kaum Muslim di berbagai penjuru dunia: Rohingya, Suriah, Palestina, dan lainnya, sudah seharusnya mengingatkan kembali kaum Muslim kepada urgensi ukhuwah Islamiyah yang menyokong persatuan, berpijak pada taujih Qur’ani dan Nabawi yang mensyari’atkan ukhuwah yang luhur nilainya, bagaikan cahaya di tengah gelapnya kehidupan individualistik produk kapitalisme.

A.  Pengertian Ukhuwah Islam: Lughawi & Syar’i
Al-Ukhuwwah al-Islâmiyyah terdiri dari dua kata: Pertama, Kata al-ukhuwwah, secara bahasa adalah mashdar dari kata akhâ, bermakna ikatan antara seseorang dengan saudaranya[1]. Kedua, Kata al-Islâmiyyah yang menjadi sifat al-ukhuwwah. Sifat Islami yang melekat kepada ukhuwah merupakan konsep rabbani al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga ia digambarkan sebagai ikatan persaudaraan agung di antara orang beriman yang diikat oleh keimanan (akidah Islam):

هي رابطة شرعيّة ربّانيّة، وثيقة دائمة، تجمع بين كلّ مسلم وجميع المسلمين في كل ناحية وجزء من العالم
Ukhuwah Islamiyah adalah ikatan syar’i nan rabbani, kokoh dan konsisten, yang menyatukan setiap muslim dengan seluruh kaum Muslim di seluruh sisi dan bagian dari dunia ini.[2]

Keimanan yang menjadi landasan ukhuwah ini, mendasari istilah semakna yang digunakan para ulama yakni al-ukhuwwah al-îmâniyyah.

B.  Konsepsi Ukhuwah Islamiyah Menurut Al-Qur’an & Al-Sunnah
Besarnya perhatian al-Qur’an dan al-Sunnah terhadap ukhuwah Islamiyah, ditunjukkan oleh banyaknya dalil-dalil yang mendasari konsep tersebut dalam dua klasifikasi: Pertama, Dalil-dalil yang menegaskan ukhuwah berasaskan akidah Islam dan memerintahkan persatuan. Kedua, Dalil-dalil yang mencela ashabiyyah, serta melarang perpecahan dan permusuhan. Allah Swt berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {١٠}
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kalian menjadi golongan yang dirahmati.” (QS. Al-Hujurât [49]: 10)

Allah SWT mengumpamakan hubungan di antara orang-orang yang beriman sebagai hubungan saudara senasab (ikhwah). Kata ikhwah (إخوة) adalah jamak dari akh[un] (أخ)[3], yang berkonotasi ikatan persaudaraan karena nasab atau sedarah, sebagaimana diisyaratkan dalam Mukhtâr al-Shihâh: “Kata al-ikhwân banyak digunakan untuk menggambarkan hubungan pertemanan, sedangkan kata al-ikhwah banyak digunakan untuk hubungan sedarah (saudara kandung).”[4]
Artinya, orang-orang beriman bagaikan saudara senasab dalam hal saling mengasihi.[5] Menurut Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, dalam ilmu balaghah ungkapan ini merupakan penyerupaan yang kuat (tasybîh balîgh), yang diungkapkan tanpa menyertakan perangkat penyerupaan (adat al-tasybîh) dan gambaran dari irisan kesamaannya (wajh al-syabah).[6] Imam al-Jurjani al-Nahwi (w. 474 H) dalam Dalâ’il al-I’jâz,[7] menjelaskan bahwa tasybîh berfaidah menguatkan makna dan pengaruhnya dalam benak pikiran.[8] Diperkuat adanya pengkhususan (qashr) dari ungkapan huruf innamâ (إِنَّمَا) yang mengawali topik informasi, yang menegaskan makna yang dimaksud, meringkas perkataan.[9]
Allah SWT mengaitkan persaudaraan dengan keimanan, menunjukkan bahwa ikatan persaudaraan tersebut lahir dari keimanan (akidah Islam), sehingga bisa disimpulkan bahwa akidah Islam menjadi pengikat satu sama lain. Ikatan ini yang ditegaskan al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1396 H) sebagai ikatan yang benar untuk mengikat kaum Muslim[10], ikatan ideologis yang kokoh, dilandasi oleh prinsip yang mengakar dan menghujam dalam dada-dada orang beriman.
Persaudaraan karena dîn ini (al-ukhuwwah fî al-dîn), ditegaskan al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) lebih kokoh daripada persaudaraan karena nasab[11], dan ia menjadi ’illat (alasan) perintah untuk mengadakan perbaikan (ishlâh), sehingga petunjuk terhadap ukhuwah ini dilanjutkan dengan perintah ishlâh.[12] Istimewanya, Allah Swt menutup ayat ini dengan perintah bertakwa, sekaligus menginformasikan hikmah dibaliknya pada kalimat la’allakum turhamûn, yakni agar dirahmati Allah. Perintah takwa di akhir ayat ini hukumnya fardhu, sehingga menjadi petunjuk tegas (qarînah jâzimah) atas kewajiban menegakkan ukhuwah Islamiyah.
Dr. Abdullah Nashih Ulwan pun menegaskan bahwa ukhuwah adalah konsekuensi keimanan dan buah agung ketakwaan, dimana tiada ukhuwah tanpa iman, tiada iman tanpa ukhuwah (lihat: QS. Al-Hujurât [49]: 10), dan tiada kedekatan (dengan saudara seiman) tanpa ketakwaan dan tiada ketakwaan tanpa kedekatan (lihat: QS. Al-Zukhruf [43]: 67).[13] Allah Swt. pun menjadikan pertaubatan, penegakkan shalat dan penunaian zakat sebagai syarat bagi persaudaraan dalam dîn ini (fa ikhwânukum fi al-dîn):

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ {١١}
“Dan jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu dalam Din ini.” (QS. Al-Taubah [9]: 11)

Dalam ayat lainnya, Allah SWT menyebut orang-orang yang beriman satu sama lain sebagai auliyâ’ (teman setia), yang direalisasikan dalam bentuk saling menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar (QS. Al-Taubah [9]: 71), serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3). Itu semua menunjukkan bahwa keimanan dan ketakwaan adalah landasan ukhuwah Islamiyah, dan dakwah adalah cerminan ukhuwah yang tak boleh dipandang sebelah mata. Diperjelas perintah untuk berpegang teguh kepada tali dînuLlâh dengan berdakwah, yang menyatukan qalbu, menjauhkan dari perpecahan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا {١٠٣}
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Âli Imrân [4]: 103)

Dalam ayat ini, Allah Swt. memerintahkan bersatu, berpegang teguh pada dînuLlâh, dimana hal tersebut menjauhkan dari perpecahan, menguatkan terjalinnya kalbu dan persaudaraan di antara orang beriman, yang Allah Swt sifati sebagai kenikmatan dari-Nya (lihat pula: QS. Al-Anfal [8]: 63), al-Hafizh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) menuturkan: “Ketahuilah bahwa kalimat bermakna yang menyatukan antara kaum Muslim adalah Islam, sungguh mereka meraih ukhuwah yang prinsipil dengan Islam, dimana Islam mewajibkan mereka dengan ukhuwah ini hak-hak satu sama lain.”[14] Ibn al-Jauzi lalu menukil hadits shahih:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
“Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling cinta, kasih sayang dan simpati di antara mereka seperti satu tubuh; jika salah satu organ sakit maka seluruh tubuh demam dan tak bisa tidur.” (HR Muslim dan Ahmad)

Diperindah dengan perumpamaan-perumpamaan Rasulullah Saw. yang menggambarkan kaum Muslim layaknya satu bangunan yang saling menguatkan, satu tubuh yang saling menyatu:

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Sesungguhnya orang beriman bagi orang beriman lainnya, bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, al-Nasai, al-Tirmidzi dan Ahmad)

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لأَهْلِ الإِيمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِى الرَّأْسِ»
“Sesungguhnya seorang Mukmin bagi Mukmin yang lain berposisi seperti kepala bagi tubuh. Seorang Mukmin akan merasakan sakitnya Mukmin yang lain seperti tubuh ikut merasakan sakit yang menimpa kepala.” (HR. Ahmad)

Hadits-hadits di atas, merupakan hadits yang kuat dan mendalam maknanya diungkapkan oleh semulia-mulianya insan dan sefasih-fasihnya lisan, yang mulia Rasulullah Saw., dalam bentuk tasybîh (penyerupaan) yang menegaskan maknanya dan membuahkan pengaruh kuat dalam benak pikiran. Diperkuat adanya taukîd huruf inna yang mengawali informasi, menegaskan kebenarannya dan menafikan keraguan atasnya.
Tuntutan penegakkan ukhuwah Islamiyah dipertegas al-Qur’an dan al-Sunnah yang mencela perpecahan di atas kesesatan, dan fanatisme terhadap kesesatan (ashabiyyah) yang membuahkan permusuhan (’adâwah). Allah Swt berfirman:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {٣١} مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ {٣٢}
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Al-Rûm [30]: 31-32)

Lihat pula QS. Al-Mu’minûn [23]: 52-53, QS. Âli Imrân [3]: 105. Dalam ayat-ayat di atas, disebutkan salah satu karakter dari kelompok-kelompok yang berpecah belah, menyimpang dari kebenaran adalah berbangga-bangga dengan kelompoknya masing-masing, dengan kesesatan yang ada di sisi mereka berupa kesesatan dan kekufuran. Kebanggaan ini merupakan ta’ashub yang dicela syari’ah. Rasulullah Saw. pun bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»
“Tidaklah termasuk golongan kami, siapa saja yang menyeru kepada ‘ashabiyyah, dan bukanlah termasuk golongan kami, siapa saja yang berperang di atas ‘ashabiyyah, dan bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang mati di atas ‘ashabiyyah.” (HR. Abu Dawud)

Frasa laysa minnâ, ”bukan golongan kami” merupakan ancaman serius bagi siapa saja yang terjangkit penyakit ashabiyyah, menjadi indikasi tegas keharaman atas keyakinan dan perilaku ashabiyyah, yang ditegaskan oleh al-Mulla al-Qari (w. 1014 H) sebagai semangat jahiliyah (hamiyyat al-jahiliyyah).[15] Ashabiyyah dalam hadits ini diungkapkan dalam bentuk nakirah, menunjukkan keluasan cakupannya, mencakup fanatisme buta terhadap ikatan-ikatan yang menyalahi dan merusak ukhuwah Islamiyah.

C.  Membangun Kembali Spirit Ukhuwah Islamiyah
Menegakkan ukhuwah Islamiyah merupakan konsekuensi keimanan, yang membuktikan kecintaan terhadap persatuan kaum Muslim di atas asas Islam, dan membenci perpecahan karena kesesatan. Berkaca dari proses tatsqif Rasulullah Saw., maka menegakkan ukhuwah:
Pertama, Dimulai dari meluruskan keyakinan dan memurnikan pemikiran dari berbagai unsur perusak, semisal keyakinan dan pemikiran jahiliyah yang mengunggulkan ikatan-ikatan lain di atas ikatan akidah Islam, berpijak dari konsep asas keimanan sebagai asas ukhuwah Islamiyah, dan keimanan yang mencakup prinsip al-walâ’ wa al-bara’.
Kedua, Dari asas yang jernih mengakar kokoh dalam jiwa seorang Mukmin, akan tumbuh buah manis ukhuwah Islamiyah yang mendorong kepeduliannya terhadap Mukmin lainnya, melampaui jauh sekat-sekat ’ashabiyyah. Ukhuwah ini harus dipupuk dengan ilmu dan amal, mengikuti pembinaan Islam, dan riyâdhah berdakwah untuk menumbuhkan kepedulian.
Dakwah yang juga harus menyentuh aspek keimanan, meluruskan keyakinan dan pemikiran umat dari berbagai kotoran dan debu jahiliyah, serta menyeru mereka untuk kembali bersatu: menjalin keterikatan kalbu dengan ikatan akidah dan pemikiran Islam, hingga bersatu dalam satu kepemimpinan Islam.
Ketiga, Mewujudkan persatuan kaum Muslim di bawah satu panji kepemimpinan Islam, berpegang teguh di atas tali dînuLlâh, yang kokoh dengan menerapkan Islam kâffah dalam kehidupan, membentuk masyarakat Islam: satu pemikiran, satu perasaan, satu sistem hukum yakni Islam. Wa biLlâhi al-taufîq. []



[1] Dr. Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-’Arabiyyah al-Mu’âshirah, ’Alam al-Kutub, cet. I, 1429 H, I/73.
[2] Prof. Dr. Isma’il Ali Muhammad, Al-Ukhuwwah al-Islâmiyyah, Dâr al-Kalimah, cet. II, 1433 H, hlm. 10.
[3] ‘Ali Ibn Sidah al-Mursi, Al-Mukhashshish, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts, cet. I, 1417 H, IV/145.
[4] Muhammad Abu Bakr al-Razi, Mukhtâr al-Shihâh, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet. V, 1420 H, hlm. 14.
[5] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. II, 1418 H, XXVI/235.
[6] Ibid.
[7] Abdul Qahir al-Jurjani, Dalâ’il al-I’jâz, Kairo: Maktabah al-Khanji, cet. V, 2004, hlm. 425.
[8] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, KSA: Univ. Islam Ibn Su’ud, hlm. 126-127.
[9] Dr. Abdul Aziz al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, Beirut: Dâr Ibn Hazm, cet. II, 1432 H, hlm. 37.
[10] Taqiyuddin al-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, Beirut: Dâr al-Ummah, hlm. 12.
[11] Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Kairo: Dâr al-Kutub al-Mishriyyah, cet. II, 1384 H, XVI/322.
[12] Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, XXVI/235.
[13] Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Al-Ukhuwwah al-Islamiyyah, Dâr al-Salâm, hlm. 4.
[14] Ibn al-Jauzi, Al-Tabshirah, Beirut: Dâr al-Kutub, cet. I, 1406 H, II/273.
[15] Abu al-Hasan Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, VII/3068.

18 Oktober 2017

Keistimewaan Potensi Bahasa Arab [KH. Drs. Hafidz Abdurrahman MA]


Mafahim Islamiyyah
Buku Mafahim Islamiyyah
Cuplikan dalam Buku Mafahim Islamiyyah: Pokok-Pokok Pemikiran Islam (hlm. 33-35)

Mengenai kedudukan bahasa Arab sebagai potensi yang tidak boleh dipisahkan dengan potensi Islam, atau dengan kata lain harus diintegrasikan menjadi satu kekuatan (mazj at-thaqah al-Iughawiyyah ma'a at-thaqah aI-Islamiyyah) ini ditegaskan oleh Amirul Mukminin, 'Umar bin al-Khatthab r.a.. Abu Bakar bin Abi Syibah menyatakan, “Kami telah diberitahu oleh 'Isa bin Yunus dari Tsaur dari 'Umar bin Yazid berkata, “Khalifah 'Umar telah menulis surat Abu Musa al-Asy’ari ra.

أَمَّا بَعْدُ فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ , وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ , وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ[1] ...وفي رواية: تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ، وَتَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ
“Amma ba’du, perdalamlah as-Sunnah, dan perdalamlah bahasa Arab. Kuasailah bahasa Arab aI-Qur'an, karena al-Qur'an adalah kitab berbahasa Arab.” Dalam riwayat lain, “Pelajarilah bahasa Arab, karena bahasa Arab itu bagian dari agama kalian. Pelajarilah berbagai kefardhuan, karena ia pun bagian dari agama kalian.”

Karena itu, di masa lalu, para sahabat menyebarkan Islam, dengan membawa al-Qur'an di tangan kanan, dan bahasa Arab di tangan kirinya. Imam as-Syafii (w. 204 H), hukum mempelajari bahasa Arab adalah fardhu “ain: “Wajib bagi tiap Muslim untuk mempelajari bahasa Arab hingga kemampuannya bisa mengantarkannya untuk menunaikan kefarduan (yang ditetapkan kepada)-nya.”[2]

Demikian halnya, Imam al-Mawardi (w. 450 H) juga mengatakan hal yang sama: “Mengetahui bahasa Arab hukumnya fardhu bagi tiap kaum Muslim, baik mujtahid maupun bukan.”[3]

Syaikh Islam, Ibn Taimiyyah, mengatakan: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama, dan mengetahuinya hukumnya fardhu yang diwajibkan. Sebab, memahami aI-Kitab dan as-Sunnah hukumnya fardhu. Sementara semuanya itu tidak bisa dipahami, kecuali dengan memahami bahasa Arab. “Suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna, kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib.“![4]

Meskipun ulama' kemudian memilah menjadi dua: Pertama, hukumnya fardhu ‘ain, bagi tiap Muslim agar bisa menjalankan kewajibannya dengan baik dan benar. Kedua, hukumnya fardhu kifayah, jika lebih dari kewajiban yang pertama, misalnya untuk berijtihad. Mengingat hukum ijtihad itu sendiri adalah fardhu kifayah.

Begitulah keistimewaan bahasa Arab, sebagai potensi yang tidak bisa dipisahkan dari potensi Islam. Keduanya ibarat dua sisi mata uang, yang saling terkait. ]ika Islam dipisahkan dari bahasa Arab, maka terjadilah apa yang terjadi sebelumnya. Sebaliknya, jika Islam disatukan dengan potensi bahasa Arab, maka berbagai kemajuan intelektual umat Islam akan berhasil diraih kembali, sebagaimana zaman kejayaannya. []

۝ Artikel Penting Terkait:
  • Mengenal Ilmu Bahasa Arab: Ilmu Nahwu: Link
  • Menggugah Nafsiyyah, Mendalami Al-Lughah al-‘Arabiyyah: Motivasi Al-Qur’an: Link
  • Menggugah Nafsiyyah, Mendalami Al-Lughah al-‘Arabiyyah: Motivasi Al-Sunnah: Link
  • Audio Motivasi Belajar Bahasa Arab: Dasar Memahami Ilmu Syar'i: Link
  • Audio: Motivasi Belajar Bahasa Arab: Bahasa Al-Qur'an Al-Karim: Link
  • Audio: Motivasi Belajar Bahasa Arab Bahasa Hadits Rasulullah SAW: Link




[1] Tambahan Irfan Abu Naveed: Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Syaibah dalam Mushannaf-nya (no. 30534, dan no. 26164 tanpa teks “وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ”).
[2] Lihat, al-Imam Muhammad ‘Ali as-Syaukani, Op. Cit., hal. 1232;
[3] Lihat, Ibid, hal. 1232;
[4] Lihat, Ibid, hal. 1232;