09 Agustus 2016

Keagungan Al-Qur’an dan Sains


Oleh: Irfan Abu Naveed
(Staf STIBA Ar-Raayah Sukabumi)
Disampaikan dalam kajian rutin tafsir al-Qur'an di KPP Cianjur
Link Download Channel Telegram: Link
Link Download di FB: Link

B
erbicara mengenai al-Qur’an dan sains, memang pembicaraan menarik, mengingat al-Qur’an merupakan wahyu Allah ’Azza wa Jalla yang turun sempurna 1400 tahun yang lalu kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam-. Al-Qur’an itu sendiri bukan buku sains yang memuat hasil-hasil penelitian sains yang bisa terus berkembang dan diperbaharui. Namun tidak sedikit informasi yang disebutkan dalam al-Qur’an yang kemudian bersesuaian dengan hasil penelitian saintis, dimana manusia baru mengungkap itu semua belakangan setelah turunnya al-Qur’an.
Dan yang menjadi masalah ketika al-Qur’an dipertentangkan dengan apa yang diklaim sebagai ilmu pengetahuan padahal bukan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan khurafat. Atau sebaliknya yakni menjadikan ayat al-Qur’an sebagai dalih menjustifikasi hipotesa yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan umum, semisal kasus flat earth yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Pertentangan di antara keduanya bisa jadi timbul dari ketidakpahaman terhadap al-Qur’an, terhadap ilmu pengetahuan dan sains atau sikap tajâhul (pura-pura bodoh) terhadap keagungan informasi-informasi dalam al-Qur’an.

A.  Mendudukkan Persoalan Al-Qur’an & Sains
Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang utama bagi manusia, jelas tidak seperti buku sains yang akan terus berkembang dan tidak mustahil dikoreksi karena kekurangan-kekurangan yang ada di dalamnya sesuai dengan perkembangan penelitian atasnya. Al-Qur’an, sebagaimana didefinisikan oleh para ulama, salah satunya Dr. Samih ’Athif Al-Zayn:
القرآن هو الكتاب المنزل بلفظ عربي معجز، وحيًا تلقاه الرسول محمد-صلى الله عليه وسلم-. وهو كلام الله تعالى، نزل به الروح الأمين جبريل -عليه السلام- بألفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجة لمحمد -صلى الله عليه وسلم-على أنه رسول الله، وليكون مرجعًا للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته. وهو المدوَّن بين دفتَي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا نقلاً متواترًا
“Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan bahasa arab yang unggul[1], wahyu yang diterima oleh Rasulullah shallallâhu ‘alayhi wa sallam-, dan ia adalah firman Allah Ta’âlâ-, turun melalui perantaraan Ar-Rûh Al-Amîn Jibril ’alayhi al-salâm- dengan lafazh berbahasa arab dan makna-makna yang sesuai, sebagai bukti bahwa Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam- adalah utusan Allah, dan rujukan bagi manusia mengambil petunjuk dengan petunjuknya, dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya, tersusun di antara lembaran-lembaran mushhaf, diawali Surat al-Fâtihah, ditutup dengan Surat Al-Nâs, dan dinukil kepada kita secara mutawatir.”[2]

Al-Qur’an sesungguhnya seperti apa yang digambarkan dalam firman-Nya:
{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ}
“Dan Kami turunkan al-Qur’an, apa-apa yang merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 82)
Dan ia sebagaimana dikatakan dalam sya’ir –bahkan lebih dari apa yang diungkapkan-:
كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه * يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا
كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها * يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا
“Bagaikan rembulan kemanapun kau berpaling memerhatikannya * memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”
“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya * yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”[3]
Bahkan setiap huruf dari al-Qur’an mengandung rahasia (hikmah dan pelajaran), benar apa yang diungkapkan seorang doktor balaghah dari Al-Azhar Kairo, Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshouri al-Mishri, ketika kami berdiskusi mengenai tafsir al-Qur’an menuturkan:
لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ
“Setiap huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung pelbagai rahasia (kandungan makna).”[4]
Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i pun dalam buku Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âniy menegaskan bahwa setiap kosakata (mufradat) dalam al-Qur’an mengandung ilmu dan maksud yang sesuai dalam setiap tempatnya.[5]
Dimana keagungan al-Qur’an (i’jâz-nya) pun mencakup kandungan bahasa dan ungkapannya, maka tak mengherankan jika para pakar sastra arab, termasuk dari kalangan kaum kafirin salah satunya al-Walid bin al-Mughirah dari kalangan musyrikin Quraisyi tak bisa memungkirinya. I’jaz al-Quran itu terdapat dalam al-Quran itu sendiri. Orang yang telah mendengarkan Al-Qur’an, dan mendengarnya hingga hari kiamat akan terus merasa kagum dengan kekuatan daya tarik dan balaghah-nya, walaupun hanya sekedar mendengar satu kalimat saja dari al-Quran, sebagaimana ditegaskan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani.[6]
Namun, al-Qur’an bukan lah kitab sastra yang cukup dinikmati dengan sekedar dibaca, al-Qur’an pun bukan buku sains yang akan terus berkembang, namun bagi mereka yang memahami al-Qur’an, ia tidak bisa memungkiri bahwa al-Qur’an sebagai pedoman hidup utama manusia telah menjelaskan hal-hal yang dibutuhkan oleh manusia, hal ini sebagaimana penafsiran para ulama atas firman-Nya:
{وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
Makna frase (تبيانًا لكل شيء) adalah apa-apa yang dibutuhkan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H)[7], Imam al-Tsa’labi[8], Imam Abu Bakr al-Jazairi[9] dan selain mereka dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an.
Salah satunya memberikan petunjuk mengenai epistemologi (sumber ilmu), memberikan motivasi kuat untuk menuntut ilmu dan melakukan penelitian terhadap hal-hal yang empiris, sehingga menghasilkan apa yang disebut sebagai sains, hal itu berkenaan dengan tugas manusia di muka Bumi yang Allah jadikan sebagai pemimpin (khalifah) yang bertugas memakmurkan bumi dan menebarkan kebaikan di dalamnya yang tentu membutuhkan ilmu, salah satunya ilmu sains, Allah berfirman:
{وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً}
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.(QS. Al-Baqarah [2]: 30)
Istilah khalifah, jelas mengandung konotasi pemimpin sebagaimana disebutkan dalam kamus-kamus arab. Dan ini menjadi tambahan anugerah bagi umat manusia, dimana dalam ayat setelahnya pun Allah melebihkan Adam ’alayhi al-salâm- sebagai nenek moyang manusia dengan ilmu, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam kitab tafsirnya.[10] Syaikh Abdullah M al-Ruhaili pun menegaskan bahwa menurut al-Quran Nabi Adam ’alayhi al-salâm- diistimewakan melebihi malaikat dengan kebaikan pengetahuan yang diberikan Allah kepadanya.[11] Menurut al-Quran, kenyataan bahwa Nabi Adam diberi pengetahuan adalah sebuah tanda kehormatan.[12]
Banyak pula dalil-dalil Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk berilmu dan berpikir mengenai alam semesta (hal yang memang terindera), dimana alam semesta  semisal objek langit dan bumi merupakan aspek fisik yang bisa diteliti dengan kajian empiris. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ} 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang benar-benar terdapat ayat-ayat bagi ulil albâb.” (QS. Âli Imrân [3]: 190)
Ada dua kata kunci dalam ayat di atas yang berkaitan dengan aspek epistemologi (sumber ilmu); yakni kata âyât yang bisa diartikan tanda, pelajaran dan dikatakan pula yakni petunjuk kepada dalil sebagaimana disebutkan Imam Al-Raghib al-Ashfahani[13]. Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) mengatakan:
الآية : ج آيات، ومنه آيات العلامة,العبرة 
Al-Âyat, jamaknya âyât, diantara maknanya adalah tanda, pelajaran.”[14]
Di sisi lain ayat ini mengandung isyarat bahwa ilmu pengetahuan atau sains sudah semestinya menguatkan keimanannya kepada keberadaan dan keagungan Sang Pencipta, yakni Allah ’Azza wa Jalla, hal yang bertentangan dengan paradigma sains Barat. Hal itu digambarkan pula dalam ayat-ayat yang agung dalam QS. Al-Ghâsyiyyah [88]: 17-26:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ {١٧} وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ {١٨} وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ {١٩} وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ {٢٠} فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ {٢١} لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ {٢٢} إِلَّا مَنْ تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ {٢٣} فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ {٢٤} إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ {٢٥} ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ {٢٦}
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi siapa yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al-Ghâsyiyyah [88]: 17-26)
Syaikh Abdullah M. al-Ruhaili pun dalam buku This is The Truth: Newly Discovered Scientific Facts Revealed in the Quran & Authentic Sunnah menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi status ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu, menghormati mereka sebagai saksi setelah malaikat yang berhubungan dengan fakta baru tiada Tuhan selain Allah, sebagaimana yang telah Allah firmankan kepada kita:
{شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ}
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS. ÂIi Imrân [3]: 18)[15]
Maka tidak mengherankan jika kaum muslimin memiliki dorongan yang kuat untuk berilmu dan menyebarkan ilmunya, hal ini pun dibuktikan oleh banyaknya para ulama Islam -selama kurun waktu berabad-abad dalam naungan al-Khilafah al-Islamiyyah- yang menguasai berbagai disiplin ilmu syari’ah maupun ilmu sains secara bersamaan, dimana akidah Islam menjadi landasan kuat untuk meraih ilmu, sekaligus kerangka dan kaidah berpikir itu sendiri, atau dalam istilah al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani yakni al-qiyâdah wa al-qâ’idah al-fikriyyah.[16] Hal yang tidak dimiliki oleh dunia Barat.
Ilmu sains dalam Islam diraih dengan motivasi agung untuk menebarkan kebaikan bagi manusia dengan menyokong dakwah Islam dan menebarkan rahmat bagi semesta alam dengan tersebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia. Buktinya, kaum muslimin pernah menjadi mercusuar ilmu sains dimana peradaban Barat banyak mengambil manfaat yang besar darinya dan ini dibuktikan dalam catatan sejarah. Para ulama pun ketika merinci klasifikasi ilmu, menggolongkan ilmu yang dibutuhkan oleh umat semisal ilmu sains di bidang kesehatan, pangan dan militer (i’dâd jihâd) dan lain sebagainya yang dibutuhkan oleh umat sebagai ilmu yang hukumnya fardhu kifayah. Artinya wajib ada di antara umat ini yang melakukan penelitian dan menguasai sains di bidang-bidang tersebut. Ini satu pembahasan yang bisa kita rinci kembali. Artinya ilmu sains bisa menempati posisi yang tinggi dan krusial dalam Islam ketika ilmu itu benar asasnya dan benar aplikasinya.
Lalu bagaimana mendudukkan Al-Qur’an dan sains itu sendiri? Sudah saya tegaskan bahwa al-Qur’an bukan buku sains yang memuat hasil-hasil penelitian sains yang bisa terus berkembang dan diperbaharui. Namun tidak sedikit informasi yang disebutkan dalam al-Qur’an yang kemudian bersesuaian dengan hasil penelitian saintis. Misalnya mengenai proses kejadian manusia dalam al-Qur’an (salah satunya dalam QS. Al-‘Alaq), dimana ilmu sains dengan penelitian ilmiah yang dilakukan manusia bisa dikatakan baru mengetahui detail informasi mengenai proses ini belakangan setelah turunnya al-Qur’an seiring sejalan dengan perkembangan instrumen penelitian, termasuk mengenai proses kejadian alam semesta ini.
Syaikh Abdullah M. Al-Ruhaili menyebutkan:
Kami menghadirkan Profesor Emeritus Keith Moore, salah satu dari ilmuwan dunia yang terkemuka dalam bidang Anatomi dan Embriologi. Kami bertanya kepada Profesor Moore untuk memberikan analisis ilmiah dari beberapa versi al-Quran secara spesifik kepada kita dan hadis mengenai lapangannya secara khusus.
Profesor Moore adalah penulis buku yang berjudul "The Development Human". Dia adalah Profiesor Emeritus ahli Anatomi dan Sel Biologi Universitas Toronto, Kanada, di mana dia Ketua Jurusan Basic Sciences, Fakultas Kesehatan, dan selama 8 tahun Ketua Jurusan Anatomi. Prof. Moore sebelumnya juga mengabdi pada Universitas Winndipeg, Kanada, selama sebelas tahun. Dia mengepalai beberapa Internasional Associations of Anatomist and the Counalofthe Union of Biological Science. Profesor Moore juga terpilih anggota Royal Medical Associations of Canada, the Intemational Academy of Cytology, the Union of American Anatomist dan the Union of North dan South American Anatomist, dan pada tahun 1984 menerima penghargaan yang terkenal dalam bidang anatomi di Kanada, JCB Grant Award dari the Canadian Association of Anatomist. Dia menerbitkan beberapa buku di klinik Anatomi dan Embriologi, delapan dari buku ini digunakan sebagai referensi di sekolah medis dan talah diterjemahkaii ke dalam enam bahasa.
Ketika kami bertanya kepada Profesor Moore untuk memberikan analisis kepada kami tentang ayat al-Quran dan sabda nabi, maka dia terkejut. Dia heran bagaimana Nabi Muhammad -shallallâhu 'alayhi wa sallam- pada 14 abad yang lalu dapat mendeskripsikan embrio dan fase perkembangannya secara detail dan akurat, yang mana para ilmuwan untuk mengetahui hal itu baru tiga puluh tahun terakhir. Akan tetapi, keterkejutan Profesor Moore itu berkembang begitu cepat menjadi kekaguman terhadap wahyu dan petunjuk ini. Dia memperkenalkan sudut pandang ini secara intelektual dan lingkungan ilmiah. Dia juga memberi sebuah surat pada kesesuaian embriologi modern dengan al-Quran dan Sunnah, di mana dia menyatakan sebagai berikut: "Ini merupakan kesenangan yang besar bagi saya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan di dalam al-Quran tentang perkembangan manusia. Telah jelas bagi saya bahwa pernyataan yang datang kepada Nabi Muhammad pasti dari Allah atau Tuhan sebab hampir semua pengetahuan tidak ditemukan sampai beberapa abad terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. "
Pertimbangan yang terkenal dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas pembelajaran ayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa Nabi Muhammad -shallallâhu 'alayhi wa sallam- adalah utusan Allah.[17]

Fungsi informasi seperti ini sebenarnya menjadi salah satu bukti keagungan kandungan al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla yang turun kepada Rasul-Nya sekitar 1400 tahun lalu, yang sampai kepada kita dengan jalan periwayatan yang bisa dipastikan kebenarannya (qath’iy) yakni secara mutawatir.[18] Sehingga jelas bagi mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir untuk sampai kepada keyakinan kebenaran al-Qur’an dan keyakinan terhadap keberadaan Allah ’Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya.
Banyak pula ilmuwan barat yang tidak bisa menafikan kebenaran informasi-informasi sainstis yang telah diungkapkan dalam al-Qur’an 1400 tahun yang lalu dimana alat-alat penelitian ilmiah di masa itu belum seperti saat ini, penjelasan lebih mapan bisa dirujuk dalam pemaparan al-Qur’an dan sains yang dikompilasikan oleh Syaikh Abdullah M. Al-Ruhaili dalam buku This is The Truth, Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Quran & Authentic Sunnah (Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Alharamain Islamic Foundation, Third Edition, Riyadh, 1999).[19] Link download buku:

B.  Bagaimana Sikap & Pemahaman Umat Islam Terhadap Hasil Penelitian Sains Orang Barat?
Mengenai pemahaman mengadopsi penemuan-penemuan saintis yang ditemukan oleh orang-orang Barat yang berbasis empiris dan bersifat universal atau tidak terkait dengan worldview atau paradigma yang lahir dari akidah tertentu, semisal ilmu teknologi pangan atau teknologi-teknologi kekinian yang terus berkembang seperti elektronik, maka hukumnya boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-Qadi  Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah:
والأشكال المدنية التي تنتج عن العلم وتقدمه، والصناعة ورقيها، تكون عامة، ولا تختص بها أمة من الأمم، بل تكون عالمية
”Bentuk-bentuk produk (madaniyyah) yang dihasilkan dari sains dan perkembangannya, industri dan kemajuannya, bersifat umum, tidak dikhususkan untuk umat tertentu dari umat manusia, akan tetapi bersifat universal.”[20]
Maka dari itu, Imam Taqiyuddin bin Ibrahim pun menegaskan bahwa menggunakan bentuk-bentuk produk (madaniyyah) dari Barat yang dihasilkan dari sains atau industri tidak ada halangan bagi kita untuk menggunakannya[21], hal itu berbeda dengan bentuk-bentuk madaniyyah yang dihasilkan dari akidah atau paradigma khas peradaban Barat, ia tidak boleh diadopsi misalnya lukisan yang mengandung pornografi yang dianggap dalam peradaban Barat sebagai karya seni.
Bahkan dalam Islam, sebagaimana dirinci oleh al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani, mengenai pengambilan keputusan dalam perkara-perkara yang membutuhkan keahlian dan pengetahuan, dikembalikan kepada orang yang memang ahli dalam masalah ini. Untuk mengungkap obat apa yang paling mujarab untuk suatu penyakit misalnya, kita harus bertanya kepada dokter ahli. Pendapat dokter harus diutamakan dibandingkan dengan pendapat-pendapat orang yang tidak ahli. Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- pernah menganulir pendapat beliau sendiri dan mengikuti pendapat Khabab bin Mundzir. Sebab, Khubab adalah orang yang lebih ahli dalam menetapkan di posisi mana kaum muslimin harus bertahan. Maka dalam perkara-perkara semacam ini pengambilan keputusan dikembalikan kepada orang yang ahli. Prinsip suara mayoritas sebagaimana yang diberlakukan pada sistem demokrasi, tidak boleh diberlakukan dalam perkara-perkara semacam ini.[22]
Mengenai ilmu sains yang didasarkan pada pembuktian empiris, kita pun menemukan pembahasannya dalam hadits yang berbicara mengenai ilmu penyerbukan, yang sebenarnya mengandung dorongan pula untuk meraih ilmu tersebut: dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.:
أَنّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ، قَالَ: فَخَرَجَ شِيصًا، فَمَرَّ بِهِمْ، فَقَالَ : مَا لِنَخْلِكُمْ، قَالُوا : قُلْتَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ : أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ  
”Bahwa Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam- pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: ”Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik.” Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ”Ada apa dengan pohon kurma kalian?” Mereka menjawab: ”Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?” Beliau shallallâhu ‘alayhi wa sallam- lalu bersabda: ”Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim[23])
Yang dimaksud dengan ”urusan dunia kalian” dalam hadits di atas di antaranya ilmu teknologi. Ini satu pembahasan yang bisa kita rinci. Lalu bagaimana dengan pembahasan menyikapi teori-teori ”sains” Barat yang bertentangan dengan akidah Islam itu sendiri?

C.  Memahami Asas Kritik Para Ulama Terhadap Dunia Barat
Pembahasan mengenai al-Qur'an dan sains berkaitan pula dengan sumber epistemologi dalam Islam, struktur epistemologi Islam dan Barat jelas berbeda, jika Barat menolak al-Khabar al-Shâdiq (al-wahyu) sebagai sumber ilmu, dan hanya berkutat pada pembuktian empiris dan hal-hal yang materialistik (materialisme) belaka, maka berbeda dengan Islam yang menjadikan hal-hal yang empiris (terindera) dan al-khabar al-shâdiq (al-wahyu) sebagai sumber ilmu (epistemologi).
            Ini penting dipahami agar kita memahami asas kritik para ulama yang mengkritisi keras konsep materialisme, dimana para ulama ini menghadapi langsung para penganut materialisme, maupun para atheis dari kalangan orientalis pada masanya (misalnya pengalaman Dr. Mushthafa al-Siba’i yang beliau paparkan dalam buku-bukunya), perinciannya bisa kita cek dalam kritik-kritik mereka, misalnya kritik al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani terhadap asas materialisme dan ideologi komunisme salah satunya dalam kitab Nizhâm al-Islâm, Dr. Mushthafa al-Siba'i dalam kitab Min Rawâi’i Hadhâratinâ dan Syaikhul Azhar al-'Allamah Muhammad al-Khudhari Husain, ia pun menegaskan:  “Adapun orang-orang yang berpegangteguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai ajaran atheisme (termasuk liberalisme-pen.) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[24]
Dan banyak para ulama lainnya yang juga gencar mengkritisi konsep materialisme, komunisme dan yang semisalnya sebagai perwujudan sikap mencegah keburukan sampai kepada kaum muslimin. Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) menegaskan bahwa (salah satu) pokok agama adalah mencegah dari keburukan, mereka pun menyebutkan sya’ir:
عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”
“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya.[25]
Salah satu hipotes yang dikritisi para ilmuwan dan ulama muslim adalah hipotesa mengenai teori evolusi ”Teori Darwin” yang digagas oleh seorang naturalis (aliran filsafat naturalisme), Charles Darwin[26] yang sampai saat ini sepertinya masih diajarkan di tingkat Sekolah Menengah khususnya dalam bidang studi Biologi, yang ujung-ujungnya bisa mengarahkan pada keyakinan kufur menolak keberadaan penciptaan dan Sang Pencipta, yang bertolak belakang dengan  akidah Islam yang agung. Sehingga menuai banyak kritik dan bantahan dari para ulama dan ilmuwan muslim dimana mereka memang menghadapi langsung paham-paham materialisme, komunisme dan para penganutnya seperti yang tergambar dalam penjelasan para ulama abad ke-19 dalam buku-buku mereka. []




[1] Yakni mampu mengalahkan bantahan-bantahan atau tantangan-tantangan kaum penentang (kuffar) atasnya.
[2] Dr. Samih ‘Athif al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr al-Kitâb al-Mishri, Cet. I, 1410 H, hlm. 308.
[3] Abu al-Qâsim bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, juz I, hlm. 3.
[4] Salah seorang Dosen Tafsir (seorang doktor di bidang ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar) di tempat penyusun bekerja di Kuliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât Al-Islâmiyyah – Jâmi’atur-Râyah.
[5] Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i, Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âniy, Kairo: Syirkat al-‘Aatik, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 4.
[6] Ibid.
[7] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XVII, hlm. 278.
[8] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37
[9] Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar at-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabîr, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, Cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.
[10] ‘Atha’ bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 66.
[11] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Quran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999, hlm. 3.
[12] Ibid.
[13] Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Damaskus: Daar al-Qalam, cet. I, 1412 H, hlm. 102.
[14] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughatil Fuqahâ, Beirut: Dar al-Nafa’is, Cet. II, 1408 H.
[15] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Quran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999, hlm. 3.
[16] Lihat ulasan mengenai ini dalam kitab Nizhâm al-Islâm karya al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani, hlm. 11-29.
[17] Abdullah M. Al-Rehaili, Bukti Kebenaran al-Qur’an, Yogyakarta: Tajidu Press, cet. I, 1424 H/2003.
[18] Dr. Samih ‘Athif al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, hlm. 308.
[19] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Quran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999. Versi terjemah: Abdullah M. Al-Rehaili, Bukti Kebenaran al-Qur’an, Yogyakarta: Tajidu Press, cet. I, 1424 H/2003.
[20] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, Beirut: Daar al-Ummah, Cet. VII, 1372 H/ 1953, Bab. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah, hlm. 31.
[21] Ibid, hlm. 32.
[22] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, 1994, juz. I, hlm. 247-248.
[23] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (IV/1836, hadits no. 141, Bab. Wujûb Imtitsâli Mâ Qâlahu Syar’an Dûna Mâ Dzakarahu Min Ma’âyisy al-Dunyâ’).
[24] Muhammad al-Khudhari Husain, Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, cet. I, 1406 H, hlm. 3-4.
[25] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, juz I, hlm. 77.